Bank Indonesia Bongkar Tantangan Baru: AI, Stablecoin hingga Risiko Siber, Ini Dampaknya
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 47 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : BI
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID -Bank Indonesia menilai tantangan menjaga stabilitas ekonomi kini semakin rumit, jika sebelumnya fokus bank sentral lebih banyak pada inflasi, suku bunga, dan nilai tukar, kini muncul ancaman baru yang tak kalah besar, mulai dari perkembangan artificial intelligence (AI), stablecoin, hingga risiko siber yang berpotensi mengganggu sistem keuangan.
Perubahan lanskap global tersebut membuat bank sentral tidak lagi bisa mengandalkan pendekatan kebijakan yang berjalan sendiri-sendiri, kebijakan moneter kini harus berjalan beriringan dengan kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, pasar keuangan, hingga koordinasi dengan pemerintah agar respons terhadap berbagai gejolak ekonomi menjadi lebih efektif.
Pandangan itu disampaikan Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti, saat membuka Konferensi Internasional Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) ke-20 di Bali. Menurut Destry, perkembangan teknologi dan meningkatnya fragmentasi geoekonomi membuat cara bank sentral bekerja ikut berubah.
“Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat ekosistem riset yang berkualitas dan relevan bagi kebijakan guna mendukung perumusan kebijakan berbasis bukti di tengah perubahan lanskap ekonomi dan keuangan global,” ujarnya.
Destry menjelaskan, ada empat fokus utama yang menjadi perhatian Bank Indonesia. Pertama, memperdalam pemahaman mengenai efektivitas kebijakan moneter di tengah perubahan kondisi ekonomi global. Kedua, mengkaji lebih jauh dampak digitalisasi terhadap sektor keuangan, termasuk perkembangan AI, fintech, aset kripto, sistem pembayaran digital, hingga mata uang digital bank sentral.
Selain itu, Bank Indonesia juga mendorong penguatan pengawasan terhadap berbagai risiko baru yang mulai bermunculan, seperti serangan siber, perubahan iklim, risiko likuiditas, hingga potensi guncangan yang berasal dari luar negeri. Di saat yang sama, kredibilitas lembaga dan komunikasi kebijakan dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menilai ketidakpastian global membuat koordinasi antarkebijakan semakin penting. Menurutnya, kebijakan moneter tidak bisa lagi bekerja sendiri dalam menjaga stabilitas ekonomi, melainkan perlu diperkuat dengan kebijakan fiskal, makroprudensial, dan pengelolaan likuiditas yang saling melengkapi.
Isu transformasi digital juga menjadi salah satu pembahasan utama dalam konferensi tersebut. Para akademisi dan pembuat kebijakan menilai perkembangan AI serta inovasi keuangan digital telah mengubah cara masyarakat bertransaksi sekaligus mengubah wajah sistem pembayaran.
Berbagai instrumen baru seperti stablecoin, tokenized deposits, hingga wholesale central bank digital currency (CBDC) diperkirakan akan semakin berperan dalam ekosistem keuangan di masa depan.
Oleh karena itu, para peserta konferensi menilai bank sentral perlu mempercepat adaptasi agar mampu membangun sistem keuangan digital yang lebih efisien, saling terhubung, sekaligus tangguh menghadapi berbagai risiko baru.
Konferensi BMEB tahun ini diikuti peneliti, akademisi, pembuat kebijakan, serta perwakilan lembaga internasional dari berbagai negara. Tercatat sebanyak 354 naskah ilmiah dari 34 negara masuk dalam Call for Papers, menunjukkan besarnya perhatian komunitas global terhadap perubahan peran bank sentral di tengah era digital dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
