Saat Algoritma dan AI Berebut Perhatian, Jurnalisme Diuji Jaga Kepercayaan Masyarakat
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 12
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : komdigi.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Setiap hari, masyarakat dibanjiri informasi dari berbagai arah, jika yang muncul di dunia maya itu, isunya salah bisa bikin kacau, bahkan cepat menyebar luas hanya dalam hitungan detik, apalagi disaat kondisi derasnya arus informasi, tetapi ada satu pertanyaan penting, apakah yang kita lihat itu benar-benar bisa dipercaya?
Nah, itulah tantangan yang muncul di ruang digital saat ini, pasalnya persaingan tidak lagi hanya tentang siapa yang paling cepat menyampaikan informasi, melainkan juga siapa yang mampu membentuk cara masyarakat melihat sebuah persoalan.
Oleh sebab itu, algoritma berbagai platform digital bekerja dengan mengutamakan perhatian pengguna, konten yang banyak mendapat respons cenderung lebih sering muncul kembali, sehingga tanpa disadari dapat membentuk pola konsumsi informasi masyarakat.
Hal itu mendapat perhatian, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria, menurutnya kondisi saat ini menjadi tantangan besar bagi dunia jurnalistik.
Saat menghadiri Radar Surabaya Awards 2026 di Surabaya, belum lama ini, ia mengatakan ruang digital kini, bukan hanya menjadi tempat pertarungan informasi, tetapi juga pertarungan membangun persepsi publik.
“Yang kita hadapi hari ini bukan hanya kompetisi informasi, tetapi juga kompetisi membentuk persepsi, masyarakat membutuhkan media yang bekerja berdasarkan verifikasi, bukan hanya mengejar viralitas,” ujar Nezar.
Dia menjelaskan, masyarakat membutuhkan media yang tidak hanya cepat dalam menyampaikan kabar, tetapi juga mampu memastikan informasi tersebut telah melalui proses pemeriksaan yang benar.
Tantangan Baru dari AI
Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) membuat tantangan tersebut semakin kompleks, sebab teknologi saat ini bisa menghasilkan tulisan, gambar, hingga video yang terlihat meyakinkan dalam waktu singkat.
Sementara AI juga mampu memberikan banyak peluang bagi dunia kreatif dan informasi, pada bagian lainnya, teknologi mampu membuka ruang baru guna menyebarkan konten palsu, termasuk deepfake yang semakin sulit dikenali.
Untuk itu, Nezar menilai saat ini peran jurnalisme profesional sangat dibutuhkan, karena ketika siapa pun bisa membuat dan menyebarkan konten, masyarakatlah yang membutuhkan media yang tetap berpegang pada proses verifikasi, etika, dan akurasi.
Jurnalisme, paparnya lagi seharusnya bisa menjadi ruang yang berfungi untuk menjernihkan informasi di tengah-tengah ramainya konten yang beredar.
“Jurnalisme harus mendapatkan satu momen yang tepat untuk bisa kembali merebut perhatian, pasalnya algoritma dari platform yang dipakai untuk menyebarkan informasi bekerja menarik atensi kita, maka jurnalisme dibutuhkan sebagai ruang penjernih informasi,” jelasnya.
Media Lokal Punya Peran Penting
Oleh sebab di tengah perubahan lanskap digital, media lokal juga memiliki posisi yang tidak kalah penting pasalnya kedekatan dengan masyarakat menjadi kekuatan utama media daerah. Bahkan berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar seperti mulai dari layanan publik, ekonomi, hingga kehidupan sosial masyarakat, dapat lebih cepat ditangkap media lokal.
Nezar menilai media lokal mampu menghadirkan percakapan publik yang lebih dekat dan autentik karena memahami konteks masyarakat yang diliput.
“Media lokal menghadirkan percakapan publik yang lebih autentik karena memiliki kedekatan dengan masyarakat, dari media lokal juga, masyarakat bisa membaca berbagai persoalan secara lebih utuh sebelum berkembang menjadi isu yang lebih besar,” katanya.
Kepercayaan masyarakat itu harus menjadi modal utama yang harus terus dijaga media di tengah perubahan teknologi.
Kepercayaan Tetap Menjadi Kekuatan Utama
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital terus mendorong terciptanya ruang digital yang aman dan berkualitas. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan tata kelola digital, peningkatan literasi masyarakat, penanganan disinformasi, serta pemanfaatan AI secara bertanggung jawab.
Namun, teknologi tetap membutuhkan manusia yang mampu menggunakannya secara bijak, lalu akhirnya kekuatan utama jurnalisme bukan hanya pada kecepatan menyampaikan berita, tetapi pada kemampuan menjaga kepercayaan.
Ketika algoritma berlomba merebut perhatian masyarakat, media seharusnya tetap menjaga fakta, akurasi, dan integritas akan menjadi tempat masyarakat mencari kepastian. “Selama media tetap memegang teguh kode etik jurnalistik, saya yakin jurnalisme akan tetap menjadi rujukan publik dan terus relevan di era digital,” tandas Nezar. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
