Ketika Desain Tak Lagi Cuma Tampilan, DKV dan Masa Depan Ekonomi Kreatif Indonesia
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Sabtu, 1 Agt 2026
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ekraf.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Selama bertahun-tahun, desain sering dipandang sebagai urusan mempercantik tampilan. Sebuah kemasan dibuat lebih menarik, sebuah poster dirancang lebih memikat, atau sebuah merek dibangun agar mudah dikenali.
Namun, perkembangan industri kreatif menunjukkan desain memiliki peran yang jauh lebih besar guna menciptakan nilai, membangun identitas, dan menggerakkan ekonomi.
Desain Komunikasi Visual (DKV) kini berada di posisi strategis dalam ekosistem ekonomi kreatif. Hampir tidak ada subsektor kreatif yang berjalan tanpa dukungan desain, mulai dari fesyen, film, musik, kuliner, kriya, hingga industri aplikasi dan gim.
Di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat, termasuk hadirnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), peran desainer juga mengalami transformasi. Tantangan bagi dunia desain bukan hanya menghasilkan karya yang menarik secara visual, tetapi menciptakan gagasan yang memiliki pesan, konteks, dan nilai kemanusiaan.
Hal ini tentu menjadi salah satu sorotan dalam penyelenggaraan Re International Poster Biennale 2026 di Universitas Paramadina, Jakarta.
Mengusung tema “Re, Re, Re”, pameran ini mengajak publik melihat desain bukan hanya sebagai produk visual, melainkan sebagai medium untuk membaca ulang berbagai persoalan sosial, budaya, dan lingkungan.
Kehadiran karya dari berbagai negara membuktikan desain telah menjadi bahasa universal yang mampu mempertemukan banyak perspektif. Poster, misalnya, tak hanya gambar dan tulisan, tetapi dapat menjadi ruang menyampaikan kritik, gagasan, bahkan perubahan sosial.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menilai penguatan sektor desain merupakan bagian penting dalam membangun ekonomi kreatif berbasis kekayaan intelektual.
Menurutnya, karya kreatif Indonesia memiliki peluang besar untuk bersaing di tingkat global karena didukung oleh talenta yang semakin berkembang.
Potensi tersebut terlihat dari semakin banyaknya kreator Indonesia yang terlibat dalam proyek-proyek internasional, termasuk mengerjakan karya untuk berbagai intellectual property (IP) dunia bahwa kreativitas lokal memiliki daya saing apabila didukung oleh ekosistem yang tepat.
Namun, perjalanan menuju industri desain yang kuat masih membutuhkan banyak penguatan. Kreativitas perlu berjalan bersama dengan perlindungan kekayaan intelektual, akses pasar, kolaborasi industri, serta pendidikan yang mampu menjawab kebutuhan zaman.
Di era ketika teknologi mampu menghasilkan gambar dan konsep dalam hitungan detik, nilai seorang desainer tidak hanya terletak pada kemampuan membuat visual. Lebih dari itu, desainer dituntut mampu memahami manusia, membaca perubahan, dan menghadirkan perspektif yang tidak bisa digantikan oleh mesin.
Oleh sebab itu, desain bukan hanya tentang bagaimana sesuatu terlihat, tetapi bagaimana sebuah gagasan dapat diterima, dipahami, dan memberi dampak. Dari sebuah poster hingga identitas sebuah produk global, desain menjadi jembatan antara kreativitas dan nilai ekonomi.
Jika ekosistemnya terus diperkuat, Indonesia tidak hanya akan menjadi tempat lahirnya karya kreatif, tetapi juga menjadi salah satu pusat percakapan desain dunia. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
