Rambut: Peta Waktu Tak Pernah Bohong di Usia Kepala Lima
KEMARIN SORE, di antara hari yang tampak biasa, aku tidak menyangka akan menyadari sesuatu yang ternyata sudah lama terlihat oleh orang lain.
Aku berdiri di Warung Makan Padang yang tak jauh dari tempatku tinggal, kebetulan pemilik warung itu tinggal di dekat rumah. Seperti kebiasaan yang sering kulakukan tanpa tujuan besar di sore itu.
Hanya duduk sembari menikmati segelas kopi, lalu membiarkan waktu berjalan pelan tanpa tergesa.
Namun kali ini berbeda.
Ada satu dua tatapan yang terasa sedikit lebih lama dari biasanya.
Bukan tatapan asing. Tapi juga bukan tatapan yang benar-benar sama seperti dulu.
Seorang teman lama yang sudah cukup lama tidak bertemu menatapku sambil tersenyum kecil.
“Sekarang rambutmu sudah banyak putih ya,” katanya pelan.
Kalimat sederhana.
Tapi cukup untuk membuatku diam lebih lama dari biasanya.
Aku tidak langsung menjawab.
Karena di dalam kepala, aku sedang menyadari sesuatu yang perlahan tumbuh tanpa aku sadari, ternyata perubahan yang selama ini hanya kulihat di depan cermin, sudah lebih dulu dibaca oleh dunia di sekitarku.
Rambut.
Hal yang dulu tidak pernah kupikirkan terlalu dalam.
Tumbuh begitu saja, dipotong begitu saja, diatur begitu saja.
Tapi kini, rambut itu berubah menjadi sesuatu yang lain.
Ia seperti peta.
Peta waktu yang tidak bisa ditipu.
Di usia kepala lima ini, rambutku tidak lagi seragam hitam seperti masa muda.
Ada bagian yang mulai jujur berubah.
Uban muncul tanpa permisi, menyebar perlahan di sela rambut yang masih tersisa hitam.
Tidak cepat, tapi pasti.
Seperti waktu yang tidak pernah terburu-buru, tapi selalu sampai juga pada tujuannya.
Dan anehnya, aku tidak lagi merasa ingin melawannya.
Di perjalanan pulang, aku mulai memikirkan ulang banyak hal kecil yang selama ini mungkin terlewat.
Ternyata bukan hanya rambutku yang berubah.
Tapi juga cara orang memandangku.
Ada yang mulai memanggil dengan nada lebih sopan.
Ada yang berbicara lebih hati-hati.
Ada juga yang tanpa sadar memberi jarak kecil dalam cara mereka berinteraksi.
Bukan karena aku berubah menjadi orang lain.
Tapi karena rambutku sudah lebih dulu memberi tanda aku bukan lagi versi yang sama seperti dua puluh tahun lalu.
Aku mulai memahami satu hal yang sederhana tapi dalam bahwa tubuh manusia sering berbicara lebih jujur daripada kata-kata.
Dan rambut adalah salah satu bahasa paling jujur itu.
Ia tidak bisa berpura-pura muda.
Ia tidak bisa menunda waktu.
Ia hanya tumbuh mengikuti hidup yang dijalani pemiliknya.
Malamnya, aku duduk di rumah tanpa banyak bicara.
Suasana tenang.
Hanya ada suara kecil dari kipas angin dan pikiran yang berjalan pelan di kepala.
Aku kembali mengingat percakapan tadi sore.
Tentang rambut.
Tentang uban.
Tentang cara dunia mulai melihatku.
Aku jadi bertanya pada diriku sendiri
apakah aku masih orang yang sama seperti dulu?
Jawabannya ya.
Tapi juga tidak sepenuhnya.
Aku masih aku.
Namun versi yang lebih banyak diam, lebih banyak berpikir, dan lebih banyak menerima.
Rambut di kepalaku kini seperti catatan yang tidak pernah bisa diedit.
Ia mencatat tanpa izin.
Ia menulis tanpa suara.
Ia menunjukkan tanpa perlu penjelasan.
Setiap helai putih yang muncul adalah penanda ada bagian hidup yang sudah dilewati baik yang mudah, maupun yang tidak pernah benar-benar mudah.
Di usia ini, aku mulai melihat hidup itu bukan lagi tentang terlihat muda.
Bukan juga tentang terlihat hebat di mata orang lain.
Tapi tentang bagaimana seseorang berdamai dengan perubahan yang tidak bisa dihentikan.
Aku teringat anakku yang pernah bertanya dengan polos.
“Bapak kenapa rambutnya sekarang putih?”
Aku hanya tersenyum waktu itu.
Dan menjawab sederhana
“Supaya kamu tahu, waktu itu benar-benar berjalan.”
Ia mungkin belum mengerti sepenuhnya.
Tapi suatu hari nanti, aku yakin kalimat itu akan kembali padanya dengan makna yang berbeda.
Rambut bukan lagi hanya bagian dari penampilan.
Ia menjadi peta perjalanan hidup.
Ia mencatat masa muda yang tergesa.
Ia mencatat keputusan yang pernah diambil tanpa banyak pikir.
Ia mencatat jatuh dan bangun yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.
Dan dibalik semua itu, aku mulai merasa ada ketenangan yang aneh.
Tidak lagi ada keinginan untuk menyembunyikan usia.
Tidak lagi ada dorongan untuk terlihat seperti dulu.
Yang ada hanya usaha sederhana menjalani hari dengan lebih sadar.
Di warung sore itu, aku akhirnya tersenyum sendiri.
Bukan karena ingin terlihat kuat.
Tapi karena akhirnya aku mengerti sesuatu yang selama ini berjalan diam-diam di dalam hidupku.
Bahwa waktu tidak pernah berhenti.
Dan rambut hanyalah cara paling jujur untuk mengingatkannya.
Mungkin benar apa yang orang lihat hari ini.
Aku terlihat berbeda.
Tapi yang tidak mereka tahu, bukan hanya rambutku yang berubah.
Melainkan cara aku berdamai dengan waktu yang tidak pernah bisa dihentikan.
Dan akhirnya aku sadar satu hal sederhana rambut bukan cuma mahkota manusia.
Rambut adalah peta waktu yang paling jujur.
Dan aku hanya sedang belajar membacanya dengan lebih tenang. (***)/bersambung