DULU, gerobak pempek di pinggir jalan cuma rame pas jam makan siang, kadang pelanggan ngantri sambil bertanya-tanya, “Ini enak nggak ya?” Sekarang? Izzu Pempek sudah kantongi SNI, dan adonan harus rapi. Katanya, kalau adonan belepotan, pelanggan bisa ngamuk, dan sertifikat SNI… mungkin ikut bete.
Sambal kentang Dapoe Nineng juga nggak kalah heboh. Pedas tetap juara, tapi higienis. Orang-orang yang dulu panik takut sambal bikin perut protes sekarang bisa santai makan sambil nonton sinetron favorit tanpa drama.
Yang paling bikin geleng-geleng kepala adalah kain jumputan dari Roemah Jumpoetan Palembang (RJP). Misalnya aja kain tradisional bisa kantongi SNI pertama di Indonesia! Dari warna, teknik pewarnaan, sampai rapi nggak kusut, semua dicek ketat.
Jadi kalau ada yang bilang “kain tradisional nggak bisa go internasional,” RJP cuma bisa senyum sambil bilang, “Coba liat lagi dong.”
Kalau dilihat, yang bikin UMK ini sukses bukan cuma soal enak atau pedasnya produk, tapi konsistensi, keseriusan, dan sedikit keberanian untuk serius sama standar.
Sehingga banyak gerobak kecil yang potensial, tapi ogah ribet sama aturan. Padahal, SNI itu semacam tiket emas buat nyebrang ke pasar lebih luas.
Dari pempek empuk, sambal pedas, sampai kain jumputan, semua nunjukkin kalau UMK lokal bisa bersaing di tingkat nasional, asal mau belajar, konsisten, dan dibimbing dengan benar.
Pepatah Palembang bilang, “Air tenang menghanyutkan, tapi pempek yang konsisten membawa rezeki.”
Jadi, buat UMK lain pedesin sambal, rapihin adonan, warnain kain dengan hati-hati… siapa tahu SNI berikutnya bisa dari kamu juga!. (***)