Kamis, 29 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pemerintahan » “Ngejar Ekonomi Tapi Lupa Warisan: Antara Beton Bertingkat & Gamelan Terpinggirkan”

“Ngejar Ekonomi Tapi Lupa Warisan: Antara Beton Bertingkat & Gamelan Terpinggirkan”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Jumat, 8 Agt 2025
  • visibility 930
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

ADA sebuah kota kecil misalnya, yang dulu terkenal dengan irama gamelan sore dan aroma jenang dari dapur-dapur tua, kini yang terdengar hanyalah deru beton molen dan denting palu godam membangun apartemen. Lurahnya bangga bukan kepalang, katanya “Kota kita maju! Pendapatan daerah naik, hotel tumbuh, dan kafe berderet!” Tapi tak sadar, patung penari yang dulu jadi simbol kota malah digeser buat tempat parkir mobil pengunjung pusat perbelanjaan.

Nah, di sinilah kita mulai masuk ke persoalan besar ketika pembangunan ekonomi dikebut, seperti anak kos ngejar bus jurusan akhir bulan, sementara budaya ditinggal di halte, sendirian, bawa koper berisi sejarah yang makin berat.

Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, dalam Rakernas XI Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) 2025 di Yogyakarta, sudah memberi peringatan manis tapi menohok. Kata beliau, pelestarian kota pusaka bukan sekadar urusan selfie di bangunan tua, tapi bagian penting dari Asta Cita, mimpi besar Indonesia untuk jadi negara maju, sejahtera, dan tetap punya akar budaya yang kuat.

“Kalau kita satu frekuensi,” kata Bima, “urusan budaya dan pusaka ini jadi modal luar biasa menuju Indonesia Emas 2045.” Ibaratnya, ekonomi itu nasi, budaya itu sambel. Nasi banyak tapi nggak ada sambel, hidup terasa hambar. Tapi sambel doang tanpa nasi, ya… bikin perut panas, kudu seimbang.

Misalnya kamu punya rumah tua bergaya kolonial yang instagramable, tapi karena dianggap usang dan gak “cuan-able”, malah dibongkar jadi minimarket. Padahal kalau dikelola kreatif, bisa jadi homestay bersejarah atau museum tematik.

Lihat aja di luar negeri, kota-kota seperti Kyoto di Jepang atau Bruges di Belgia justru jadi kaya bukan karena mal megah, tapi karena mereka merawat sejarah dengan cermat.

Bima menyebut tiga hal penting Kota pusaka bukan hanya cantik, tapi punya nilai ekonomi, pelestarian itu harus berkelanjutan lintas pemimpin bukan sekadar proyek pas kampanye, dan warisan budaya itu penguat identitas dan karakter kota.

Kalau boleh nambahin, saya tambahkan satu “Kota pusaka itu seperti nenekmu yang suka ngelus-elus cucunya sambil bercerita tentang masa lalu. Kelihatan tua, tapi penuh makna dan pelajaran hidup”

Bima menyoroti banyak Pemda cuma ngejar angka pertumbuhan ekonomi. Dikit-dikit PDB, investasi, target pertumbuhan, dan proyeksi grafik Excel. Tapi ketika ditanya, “Masih ingat nggak tari tradisional asli daerahmu?” Mereka cuma cengar-cengir kayak mahasiswa ditanya dosen killer.

“Ngejar angka-angka cepat, tapi pelestarian budayanya dikorbankan,” ujar Bima.

Pepatah bilang “Karena mengejar layangan, sapi ditinggal masuk sawah” Lah, ini malah budaya ditinggal masuk jurang.

Di tengah kritik, Bima memberi harapan, ia memuji Kabupaten Buton Tengah (Buteng) yang mulai mengembangkan potensi laut dan wisata unik berbasis budaya. Artinya, ada cara kok buat mendongkrak ekonomi tanpa harus membongkar warisan sejarah, bahkan bisa dijadikan sinergi budaya naik, ekonomi pun makin mantap.

Jangan pembangunan terus diisi kontraktor dan konsultan, tapi juga ajak budayawan, sejarawan, dan arsitek ngobrol bareng. Bukannya makin ribet, justru makin kaya perspektif.

Seperti kata Albert Einstein, bukan tetangga kita di RT sebelah “Imagination is more important than knowledge.” (The Saturday Evening Post, 1929). Einstein bilang  imajinasi lebih penting dari pengetahuan, karena pengetahuan itu terbatas, tapi imajinasi bisa menjangkau seluruh dunia. Lah iya, itu bukan kalimat endorse iklan kopi, tapi pernyataan fisikawan dunia yang jenius itu sendiri.

Kalau pembangunan cuma fokus pada angka pertumbuhan ekonomi, sementara budaya dilupakan, kita sedang membangun rumah megah di atas fondasi yang rapuh. Indonesia tidak hanya butuh gedung tinggi, tapi juga cerita panjang. Cerita yang bisa dibacakan ke cucu-cucu kita kelak, sambil duduk di beranda rumah pusaka yang masih berdiri.

Karena budaya bukan sekadar acara 17-an. Budaya adalah napas, akar, dan suara masa lalu yang masih membimbing masa depan.

Jadi kalau kamu Pejabat, Lurah, atau Kepala Dinas, tolong deh, jangan cuma bangga ngebangun flyover baru. Lihat juga jembatan tua yang punya cerita cinta rakyat. “Jangan bangun kota seperti orang masak mie instan, cepat jadi tapi cepat lupa.

Bangunlah seperti nenek masak opor lama, penuh bumbu, dan bikin semua generasi betah ngumpul di meja makan.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • TUA : Wudhu [Skincare Spiritual Tanpa Paraben]

    TUA : Wudhu [Skincare Spiritual Tanpa Paraben]

    • calendar_month Sabtu, 12 Jul 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.290
    • 0Komentar

    BRO, SIS…, kalau  sujud itu puncak curhat spiritual, maka wudhu itu kayak make-up remover jiwa. Iya… semacam skincare halal yang fungsinya bukan buat glowing di depan mantan, tapi biar wajah kita pantes ngadep ke Yang Maha Ganteng, eh, [maaf] Maha Segalanya [KUASA], Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wudhu itu perawatan kulit rohani. Basuh muka, bukan cuma […]

  • Pentingnya Orientasi Hasil Pada Kabinet Indonesia Maju

    Pentingnya Orientasi Hasil Pada Kabinet Indonesia Maju

    • calendar_month Minggu, 3 Nov 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.245
    • 0Komentar

    MENARIK untuk mencermati 7 (tujuh) pesan Presiden Jokowi pada Menteri Kabinet Indonesia Maju yang baru saja dilantik beberapa waktu lalu untuk periode 2019 – 2024: (1) Jangan korupsi; (2) Tidak ada visi menteri, yang ada visi presiden dan wakil presiden; (3) Harus kerja cepad dan produktif; (4) Jangan terjebak pada rutinitas; (5) Kerja beriorientasi hasil nyata; (6) Selalu mengecek […]

  • Ajak Aktivis Komitmen Cintai Daerah

    Ajak Aktivis Komitmen Cintai Daerah

    • calendar_month Jumat, 18 Mar 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 731
    • 0Komentar

    Plt Bupati Muba Beni Hernedi SIP menerima audensi para aktivis dalam Kabupaten Muba dalam kesempatan tersebut Plt Bupati mengajak bersama-sama untuk berkomitmen dan berkontribusi untuk mencintai daerah Bumi Serasan Sekate. “Mari kita bersama-sama untuk melakukan perubahan, kita cintai daerah kita Kabupaten Muba ini dengan tidak melakukan kegiatan pelanggaran hukum, baik itu dalam kegiatan pemerintahan maupun […]

  • Perlu Transparan, Nama Hasil Seleksi KPU Perlu Diumumkan

    Perlu Transparan, Nama Hasil Seleksi KPU Perlu Diumumkan

    • calendar_month Selasa, 11 Jan 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.469
    • 0Komentar

    DIREKTUR Democracy and Electoral Partnership (DEEP) Neni Nur Hayati mengimbau tim seleksi Komisi Pemilihan Umum dan Badan Pengawas Pemilihan Umum Bawaslu (Timsel KPU Bawaslu) masa jabatan 2022-2027 dapat membuka nama-nama peserta hasil seleksi tersebut. Hal ini sebagai upaya memicu partisipasi publik dalam proses seleksi. “Agar publik juga bisa melakukan pengawalan terhadap proses seleksi dan memastikan […]

  • Pengadilan Kota Moskow akhiri perselisihan antara Sconnect & Entertainment One

    Pengadilan Kota Moskow akhiri perselisihan antara Sconnect & Entertainment One

    • calendar_month Jumat, 12 Agt 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.052
    • 0Komentar

      HA NOI, VIETNAM –  Pengadilan Kota Moskow (Rusia) secara resmi mengeluarkan definisi penghentian proses dalam kasus perdata No. 3-473/2022 menurut klaim Entertainment One UK Ltd. (selanjutnya disebut sebagai EO) terhadap Sconnect Vietnam Investment Technology and Services Company Limited (disebut sebagai Sconnect) atas perlindungan hak eksklusif atas karakter karya animasi “Svinka Peppa” (“Peppa Pig”). Dari […]

  • Bangun Inovasi Sosial Jadi Kunci Subholding Upstream Pertamina Raih Proper

    Bangun Inovasi Sosial Jadi Kunci Subholding Upstream Pertamina Raih Proper

    • calendar_month Jumat, 25 Feb 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 987
    • 0Komentar

    PRESTASI membanggakan terus diperoleh Subholding Upstream Pertamina, kali ini dari kegiatan CSR yang dilakukan sepanjang tahun 2021 dengan meraih 9 Proper Emas dengan 24 Proper Hijau, 5 Penghargaan Subroto Award, 9 Penghargaan Internasional, 22 Desa Predikat Proklim secara akumulatif dari KLHK, dan puluhan desa potensial Proklim. “Mengimplementasikan kompetensi inti dalam program inovasi sosial menjadi kunci […]

expand_less
WordPress Archive Reco – Minimal Theme for Freebies Recode - Coding Bootcamp Elementor Template Kit Recort – Recording Studio Elementor Template Kit Recruitment Management module for Perfex CRM Rectangle Max (Admob + GDPR + Android Studio) Recycle – Environmental & Green Business WordPress Theme Redboa – Steakhouse Restaurant WordPress RedChili – Restaurant WordPress Theme Reddrop Buddies – Multi-Concept Activism & Blood Donation Campaign WordPress Theme RedHelp – Startup Showcase Elementor Template Kit