Sabtu, 31 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Features » Tangis Sunyi di Laut Kendawangan

Tangis Sunyi di Laut Kendawangan

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 2 Jul 2025
  • visibility 1.067
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Air tenang jangan disangka tak dalam, laut tenang jangan dikira tak menyimpan duka”

MUNGKIN begitu bunyi pepatah baru yang lahir dari perairan Kendawangan, Kalimantan Barat, setelah dua ekor dugong si pemalu penjaga padang lamun ditemukan tak bernyawa hanya dalam hitungan hari beberapa hari lalu.

Dugong, Mamalia laut yang tak suka keramaian, makannya pun vegetarian, dan konon termasuk pendiam kelas berat di dunia bahari. Tapi justru dari diamnya, laut bisa bicara bahwa kini sedang terjadi sesuatu yang tidak baik-baik saja.

Bayangkan, dalam waktu tiga hari saja, dua ekor dugong ditemukan mati. Yang pertama tersangkut jaring nelayan. Yang kedua menyusul, terdampar di sekitar Pulau Cempedak. Dugong bukan satwa biasa, ia dilindungi penuh. Masuk dalam daftar Apendiks I CITES dan digolongkan vulnerable alias rentan oleh IUCN. Tapi sayang, perlindungan di atas kertas kadang kalah cepat dari nasib di lapangan.

Perairan di sekitar Lagan Belanda, Kendawangan, sebetulnya tenang dan mempesona, tapi tenang di permukaan seringkali menipu.

Laut ini menyimpan cerita duka dari mamalia laut yang diam-diam menjaga ekosistem. Dugong makan lamun, lamun menjaga pasir pantai tetap tak hanyut, pasir pantai membuat laut tetap ramah. Semua terhubung. Tapi siapa yang peduli?

Kadang kita manusia ini seperti tamu pesta yang seenaknya datang, bikin rusuh, lalu pulang tanpa pamit. Sementara si tuan rumah, dalam hal ini dugong dan kawannya, harus membereskan semuanya atau malah tak sempat membereskan apa-apa karena sudah keburu mati terjerat jaring.

Begitu informasi masuk dari Yayasan IAR (Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia), semua pihak langsung tancap gas. Tim dari Pokdarwis angkat bangkai dugong, dermaga Pulau Cempedak jadi posko darurat, dan nekropsi dilakukan bareng YIARI, Lanal Ketapang, dan Pemdes setempat.

Yang bikin miris, bahkan penguburan dilakukan di markas militer, seolah dugong ini veteran perang yang gugur demi menjaga bumi. Ya, mungkin memang begitu, ia gugur melindungi ekosistem, tapi manusialah yang membuatnya mati.

Tiga hari berselang, kejadian serupa terulang. Dugong kedua terdampar dengan tubuh tak bernyawa. Kali ini tim WeBe Konservasi ikut turun tangan. Nekropsi kedua, penguburan kedua, dan pertanyaan besar yang sama masih menggantung kenapa ini bisa terjadi? dan… sampai kapan?

Dugong bukan paus pembunuh yang bisa lompat indah atau lumba-lumba yang bisa salto minta ikan, ia makhluk pemalu, lebih suka menyendiri, dan hidupnya tergantung pada padang lamun yang kini makin tergerus. Ia tidak protes, tidak bikin kerusuhan, tidak bikin konten. Tapi justru karena itulah, keberadaannya nyaris tak terdengar.

Padahal, kalau boleh bicara, mungkin dugong akan berkata, “Aku cuma mau makan lamun, nyantai di pasir, dan hidup damai, kenapa susah amat, sih?”

KKP sudah betul edukasi masyarakat soal penanganan biota laut yang dilindungi harus terus digencarkan. Tapi lebih dari itu, perlu ada solusi konkret di lapangan. Edukasi tanpa pengawasan, itu seperti ceramah tanpa nasi kotak didengarkan sebentar, lalu dilupakan.

Nelayan perlu diajak bicara, bukan dimarahi, kalau jaring mereka membahayakan dugong, cari solusi bersama. Ganti alat tangkapnya? Boleh. Tapi jangan sampai itu jadi beban berat bagi nelayan kecil. Pemerintah harus hadir, bukan hanya saat nekropsi, tapi saat solusi dibentuk.

Syarif Iwan Taruna Alkadrie, Kepala BPSPL Pontianak, benar kolaborasi adalah kunci, dari Pokdarwis, Yayasan, TNI, desa, semua bergerak, tapi ini baru respons. Belum preventif, ke depan, perlu sistem deteksi dini, zonasi konservasi yang ketat, dan yang tak kalah penting empati kolektif.

Empati itu bukan sekadar ikut sedih lihat bangkai dugong namun ikut berubah. Berubah cara menangkap ikan, cara membuang sampah, cara memperlakukan laut sebagai sahabat, bukan sekadar lapak rezeki.

Kematian dua dugong ini bukan akhir cerita, akan tetapi alarm keras yang mengetuk nurani. Dugong tak bisa demo. Ia hanya bisa diam dan mati.

Seperti kata orang bijak, “Bukan karena mereka tak bersuara maka kita diam, tapi karena kita diam, mereka tak bersuara lagi”.

Jadikan kematian mereka sebagai awal dari gerakan besar menyelamatkan laut, menyelamatkan padang lamun, menyelamatkan dugong, dan kalau boleh jujur menyelamatkan diri kita sendiri.

Karena kalau dugong punah, jangan harap pantai tetap utuh, kalau lamun rusak, jangan salahkan abrasi. Kalau laut mati, jangan pura-pura kaget waktu ikan hilang dari piring. Mari bergerak, sebelum dugong jadi kenangan, dan laut tinggal dongeng.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kurangi Kerumunan Massa, Adminduk OKI Gunakan Posindo

    Kurangi Kerumunan Massa, Adminduk OKI Gunakan Posindo

    • calendar_month Rabu, 27 Jan 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.004
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Kabupaten Ogan Komering Ilir menggandeng PT Pos Indonesia untuk pengiriman dokumen administrasi kependudukan. Langkah terobosan tersebut merupakan salah satu upaya untuk menekan penyebaran Covid-19, sekaligus mengurangi terjadinya kerumunan. Penandatanganan kesepakatan dilaksanakan  antara Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten OKI, Hendri, SH, MM dan Kepala Kantor Pos Palembang Risda disaksikan oleh Bupati OKI yang […]

  • Antisipasi Penyebaran COVID-19, Sumsel Tetapkan Status Siaga, Kucurkan Anggaran Rp100 Miliar   

    Antisipasi Penyebaran COVID-19, Sumsel Tetapkan Status Siaga, Kucurkan Anggaran Rp100 Miliar   

    • calendar_month Selasa, 24 Mar 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 936
    • 0Komentar

    SETELAH mendengarkan arahan Presiden RI Joko Widodo melalui Video Conference, Gubernur Sumsel Herman Deru dengan cepat mengambil langkah dengan menggelar rapat terbatas bersama Forkompimda Provinsi Sumsel terkait persoalan Coronavirus Disease (Covid-19) di Ruang Rapat Bina Praja Sumsel, Selasa (24/3/2020). Rapat yang dipimpin langsung Gubernur Herman Deru ini tentang kesiapsiagaan secara Nasional dan mempertajam kerja antisipasi […]

  • Sambut kedatangan jamaah haji Kloter pertama Embarkasi Palembang

    Sambut kedatangan jamaah haji Kloter pertama Embarkasi Palembang

    • calendar_month Senin, 24 Jun 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.361
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, -Penjabat (Pj) Gubernur Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Agus Fatoni menyambut langsung kedatangan jamaah haji Kloter pertama Embarkasi Palembang, di Asrama Haji Palembang, Minggu (23/6/2024) Siang. Kloter pertama Embarkasi Palembang terdiri atas jamaah dari Kabupaten Musi Banyuasin dan Kota Palembang tiba di tanah air sekitar pukul 10.00 WIB, dari Jeddah, Arab Saudi. Fatoni mengucapkan selamat […]

  • PN Kayuagung Diminta Tingkatkan Layanan

    PN Kayuagung Diminta Tingkatkan Layanan

    • calendar_month Selasa, 19 Jul 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 893
    • 0Komentar

    BUPATI Ogan Komering Ilir, H. Iskandar, SE beserta Wakil bupati Ogan Ilir, H. Ardani SH., MH hadiri Peresmian Peningkatan Kenaikan Kelas Pengadilan Negeri Kayuagung Kelas II menjadi Pengadilan Negeri Kelas I B yang diresmikan langsung oleh Ketua Pengadilan Tinggi Palembang, Dr. Moh. Eka Kartika EM, S.H., M.Hum. Iskandar mengungkap, 45 tahun PN Kayuagung baru menorehkan […]

  • Pemprov Sumsel Bantu Bangun Infrastruktur Jalan OKUT

    Pemprov Sumsel Bantu Bangun Infrastruktur Jalan OKUT

    • calendar_month Kamis, 6 Agt 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.354
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Prov. Sumsel membantu pembangunan dan perbaikan jalan OKUT guna mendorong meningkatnya produktifitas masyarakat dalam meningkatkan perekonomian. Diketahui, bantuan gubernur yang diambil dari anggaran APBD senilai Rp76.968 miliar digelontorkan untuk pembangunan infrastruktur di Kabupaten OKU Timur serta Rp4,914 miliar digelontorkan untuk peningkatan jalan Margotani – Banban Rejo, Mekar Jaya – Pelita Jaya – Bangsa Negara […]

  • Aktif dan Tergiat, Kwarcab Pramuka Muba Borong Penghargaan

    Aktif dan Tergiat, Kwarcab Pramuka Muba Borong Penghargaan

    • calendar_month Selasa, 18 Jun 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 762
    • 0Komentar

    KWATIR Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) terus menuai prestasi dan apresiasi dan berbagai pihak. Setelah pada Agustus 2018 lalu tepat pada rangkaian HUT Gerakan Pramuka ke-57 Bupati Muba Dodi Reza yang juga Ketua Mabicab Gerakan Pramuka di Muba disematkan Lencana Darma Bakti, kini capaian prestasi dan apresiasi terus mengalir. Kali ini, Kwarcab Gerakan […]

expand_less
WordPress Archive MedicPress — Medical WordPress Theme for Clinics and Private Doctors Mediczop – Responsive WordPress Theme MediDove – Health & Medical WordPress Theme Medific – Medical Elementor Template Kit Medify – Health & Clinic WordPress Theme Mediguss – Medical WordPress Theme MediKit – Medical Template Kit Mediko – Health Medical WordPress Theme Medikor – Medical Healthcare Elementor Template Kit Mediku – Health Medical Elementor Template Kit