Sabtu, 10 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Uncategorized » DKP dan Dulmuluk Menyiasati Pandemi

DKP dan Dulmuluk Menyiasati Pandemi

  • account_circle Nasir Nasir
  • calendar_month Senin, 27 Jul 2020
  • visibility 1.861
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Selama masa pandemi, kreativitas dan aktivitas seniman hanya tersalurkan melalui daring. Absen berkesenian secara tatap muka selama masa pandemi membuat rasa rindu membuncah di dada para seniman. Termasuk pelaku seni di Palembang. Buncahan kerinduan itu tak pelak direspon Dewan Kesenian Palembang (DKP). Sebuah gagasan untuk bersilaturahmi di penghujung masa pandemi pun terlontarkan. Tentu saja, dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Ketua DKP M Iqbal Rudianto mengemukakan, kegiatan dimaksud digagas secara daring dan  tatap muka. “Kita akan mengombinasikan antara kegiatan virtual dan tatap muka. Dengan mengacu protokol dan ketentuan yang berlaku,” ujarnya di sela-sela rapat membahas rencana menyelenggaraan kegiatan tersebut.

Menurut Iqbal Rudianto, yang akrab disapa Didit, pandemi ini adalah wabah dunia. Karenanya  harus menyikapi bijaksana dengan sabar. Selalu monitor perkembangan yang ada. Selalu Fokus dengan menjaga kesehatan dan mengatasi aktivitas seni yang terkendala. Pekerja kreatif tentu sangat terdampak. “Secara pribadi berharap para seniman menjaga semangatnya untuk terus berkarya dan beraktivitas sepeti biasa tetapi protokol yang, membatasinya. Dilarang berkumpul. Membuat keramaian. Ini membuat kita mengalah untuk menaati peraturan yang dibuat pemerintah.

Suasana ini, tentu saja, “Membangkitkan semangat seniman untuk mulai merapatkan barisan. Bagaimana kita menyikapi di era menuju kenormalan  baru ini. Kalaupun pandemi ini telah berakhir kita telah mendapat pengalaman, bahwa selama ini kita diajak untuk hidup sehat, menjaga kebersihan menjaga jarak,” ujarnya.

Artinya kita jadikan pandemi ini kita lihat sisi positifnya. Mengajarkan kita untuk hidup sehat. Ruang kegiatan ini, menampilkan beberapa karya yang sempat dan telah diciptakan selama pandemi. Ini menunjukkan, bahwa bagi sebagian seniman, barangkali pandemi ini tidak menjadi penghalang

Karenanya, sesuatu yang baik tentu saja, jika DKP mengagas kegiatan yang bisa mengobati kerinduan seninam untuk berkreativitas. Sekaligus membahas berbagai persoalan terkait aktivitas berkesenian. Kegiatan ini rencananya dilaksanakan secara daring (virtual) dan tatap muka. Direncanakan dilaksanakan di Guns Café. Dengan menghadirkan narasumber dari praktisi, akademisi,  pemerhati, dan pihak terkait lainnya. Masing-masing akan diupayakan mengupas tuntas persoalan di enam komite seni yang ada. Yakni, Komite Musik, Teater, Rupa, Sastra, Tari dan Film.

Khusus Dulmuluk, bagi Didit, telah memberikan gambaran bahwa di posisi bagaimana pun kondisi bisa membuat manusia lincah berkelit.

Kondisi sulit, sudah dihadapi para pemain Dulmuluk sebelum masa pandemi. Di masa pandemi, ternyata mereka ada yang bisa menyiasatinya.

Jurus Dulmuluk

Dulmuluk merupakan bagian dari teater tradisional. Selama ini, kehidupan pemain Dulmuluk sudah kembang kempis. Jarang diundang untuk tampil di keramaian gelaran masyarakat, seperti sedekah, perkawinan, ataupun sunatan, membuat napas mereka menjadi tersengal. Akibatnya, bukan sekadar susah bernapas. Tetapi juga sulit mencari sesuap nasi.

Seorang pemain Dul Muluk, Randi Putra Ramadan, mengakui hal itu. Putra pertama dari empat bersaudara pasangan Johar Saad dan Suharti Sani (alhmarhumah) ini merasakan langsung manis hingga getirnya lakon Dul Muluk yang sempat padat undangan hingga minim undangan.

Karenanya, alumnus FKIP Jurusan Sentratasik Prodi Musik ini pun punya kiat-kiat yang ditemukan secara tak sengaja saat Dul Muluk harus mengalami pasang surut.

Randi sendiri, kini selain tetap eksis di Dul Muluk, juga memiliki skill lain, yakni menguasai alat musik. Kini, suami dari Eva Dika Putriana ini dapat tetap bertahan dengan petikan gitar Irama Batanghari Sembilan-nya.

Lebih pas lagi, Randi menyebut jurusnya ketika memasuki masa pandemi ini sebagai rekondisi. “Mungkin kurang pas kalau disebut  revitalisasi atau apalah. Artinya, bagaimana seniman itu bisa menyesuaikan dengan kondisi,” ujar Randi yang sejak umur empat tahun sudah diajak ayahnya belajar men-Dul Muluk.

Dulu, namanya Dulcik. Dulmuluk Cilik. Belajarnya, ya di Pemulutan. “Kalau mau belajar, kami mudik ke sana,” tuturnya. Pemulutan, termasuk wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), dan setelah pemekaran, masuk wilayah Ogan Ilir (OI).

Dulu, papar Randi yang melanjutkan pendidikan di SMPN 45 dan SMAN 10 Palembang, dia merasakan bagaimana ramainya undangan. Dalam seminggu, hanya  malam Jumat, yang kosong.

Acara yang mengundang Dulmuluk, biasanya acara hajatan semisal perkawinan, khitanan, ataupun syukuran lainnya. Namun seiring berkembangnya zaman, dan semakin modernnya peradaban manusia maka kesenian teater Dul Muluk semakin ditinggalkan. Terutama, ketika di tahun-tahun organ tunggal mulai merebak.

Skill teaternya, selain didapat dari  Dul Muluk juga didapatnya dari teater di sekolah, baik SMP maupu SMA. Yang paling banyak dan saya mulai sangat aktif di Dul Muluk itu, antara tahun 2002 hingga 2007. “Sampai-sampai terkadang sering telat ke sekolah, Karena memang pementasan itu biasanya dimulai setelah Isya sampai sekitar jam 02-00 WIB. Jadi sekitar  6-7 jam setiap mentas,” ujarnya.

Honornya, berkisar Rp 15.000 sampai pernah Rp 25.000 per orang. “Kalau untuk makan, biasanya dapat dari tuan rumah. Lumayan, idak cukup honornyo tuh,” ujarnya berseloroh.

Kondisi ini pulalah yang membuat dirinya dipaksa menyesuaikan diri. Setamat SMA, dia bekerja di Studio Musik. Sesekali, dengan kebijakan pemilik studio, dia tetap main Dul Muluk. Walau memang sudah agak berkurang. Ayahnya sendiri ketika mulai sepi tanggapan,  merapat ke instansi-instansi. Dan sering diminta tampil untuk meramaikan kegiatan-kegiatan tertentu. Dan itu bertahan hingga sekarang.

Di Studio yang beralamat di Kancil Putih, sempat ngeband bersama teman-temannya, Madan, Aldo, Arif, Rahmat, dan Catur. Randi sendiri menjadivokalis. Band Piramid ini, sempat ikut perlombaan di Bandung, dan masuk 10 besar. Bahkan sempat  bergabung di label. Sayang  kemudian ternyata merupakan jaringan  mafia. Hingga akhirnya mereka kembali ke Palembang dan band itupun bubar.

Untuk urusan musik, Randi sendiri ternyata sempat menikmati profesi pengamen, di seputaran GOR Sriwijaya, yang waktu itu halamannya dibuka untuk tempat kuliner malam hari.

Artinya, rekondisi, bagi Randi senantiasa melekat di kesehariannya. Sampai akhirnya, dia pun melanjutkan pendidikan strata 1 di Universitas PGRI Palembamg, mengambil jurusan musik. Setamat itu sempat menjadi guru di Sekayu, di SMPN 6 Unggulan sebagai guru kesenian dan Eskul.

Namun, jiwa mudanya  tak mampu mengunci dirinya menghilang di dunia pendidikan. Dan, hanya setahun, dia disebut menghilang, lalu kembali ke habitatnya. Ke dunia musik dan Dul Muluk.

Ketika pandemi merebak, maka jurus rekondisinya pun seakan terusik. Protokol kesehatan yang membatasi aktivitas, membuat Dul Muluk dan juga petikan gitarnya menjadi tersendat.

Mau menamplkan Dulmuluk di daring dengan 15-20 pemain dengan durasi cerita yang panjang, tentu tidak memungkinkan.

Karenanya dia pun mengubah format Dulmuluk menjadi seperti sketsa yang pendek dan singkat, dengan durasi sekitar 3 sampai 5 menit. Kostum dan peran, tetap digunakan. Tapi cerita dimodifikasi sedemikian rupa.

Hingga    kini, sedikitnya sudah ada empat cerita yang dimainkan bersama dua temannya, Wong Gerot dan Wak Soleh.

Sejak  SD, Randi yang sempat tiga kali pindah sekolah, dari SDN 129 Lebak Keranji, Lalu SDN 96 Balap Sepeda, dan SDN 438 Plaju, sudah terbiasa bermain di istana negeri Barbari. Nama negeri cerita Dul Muluk bergulir. Dul Muluk sendiri, awalnya berupa pembacaan kisah petualangan Abdul Muluk Jauhari, anak dafi Sultan Abdul Hamid Syah yang bertahta di Negeri Barbari. Peran ini dimainkan saudagar-saudagar Arab pada malam hari sehabis berniaga di Palembang dan sekitarnya. Ternyata kisah yang dicuplik dari buku Syair (Sultan) Abdul Muluk karangan seorang perempuan bernama Saleha ini menarik perhatian  sebagian besar masyarakat Palembang. Sejak itulah pada berbagai kesempatan, sosok saudagar Gujarat itu kerap diundang untuk membacakan dongeng maupun pembacaan kisah Abdul Muluk dalam bahasa Melayu klasik ataupun pantun-pantun bertutur.

Berlanjut kemudian, cerita itu kemudian dimainkan oleh teater-teater tradisional. Termasuklah, Harapan Jaya milik ayah Randi. Atau Melati Jaya, Udin Kinjeng. Karunia, pimpinan Rustam. Begitu juga Citra Mandiri, Mat Gobok. Dan Dulmuluk Tunas Harapan.

Pemain Dulmuluk ini, semuanya lelaki. Kalaupun ada tokoh perempuan, pemainnya adalah lelaki. Biasanya, menurut Randi, pementasan Dulmuluk diiriingi oleh sedikitnya enam pemusik.  Terdiri dari biola,  bende (gong), jidur (beduk), dan bas senar. Karenanya, sekali naik panggung, pemain yang terlibat antara 15 sampai 20 orang termasuk pemusik.

Sempat ikut kegiatan mentas daring yang dibiayai oleh Kemendikbud, lalu juga dibiayai oleh Diknas Sumatera Barat. Dan terakhir, dengan dana bantuan dari Bank Indonesia, akan mementaskan lakon Dulmuluk dengan melibatkan tiga grup Dulmuluk lainnya, Melati Jaya dan Karunia. “Itu semua merupakan bagian dari jurus dan rekondisi yang bisa saling menyesuaikan,” ujar Randi yang kini juga menguasai irama batanghari sembilan.

“Saya dapat ilmu petikan irama batanghari sembilan, dari bangku kuliah,  karena ada mata kuliah khusus untuk itu. Ada lagu yang terbilang wajib, yakni Tiga Serangkai. Jadilah kini, Randi pun dikenal, sebagai pemetik gitar tunggal Irama Batanghari sembilan.

Diantara yang sedikit, Randi kini termasuk generasi milenial pelestari Dulmuluk dan Irama Batang Hari Sembilan. Kondisi telah mengajarkan dirinya untuk bisa selalui menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Bermain peran di panggung telah mengajari kami banyak pengalaman. Pentas di panggung dipelajari dari kehidupan sehari-hari.

“Barangkali itulah yang membuat kami bisa punya jurus bersisasat. Terbiasa bersandiwara di panggung, dan untuk bersandiwara dengan lakon-lakon itu, kami menyerap dari kehidupan sehari-hari,”   ujarnya sedikit serius.

 

Palembang, 27 Juli 2020

 

Muhamad Nasir

Penggiat Seni, anggota Komite Sastra DKP

 

 

 

 

  • Penulis: Nasir Nasir

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Terangkan Masalah Kekayaan Intelektual, Puluhan Penyuluh Siap Edukasi Pelajar

    Terangkan Masalah Kekayaan Intelektual, Puluhan Penyuluh Siap Edukasi Pelajar

    • calendar_month Minggu, 27 Mar 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 638
    • 0Komentar

    KANTOR Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sumatera Selatan (Kanwil Kemenkumham Sumsel) menyiapkan puluhan personel terbaik untuk menjadi guru pada program Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Mengajar di sekolah tingkat SD dan SMP pada April 2022. “Tim guru Program DJKI Mengajar disiapkan untuk mengedukasi hukum terutama mengenai kekayaan intelektual bagi pelajar sejak dini,” ujar Kepala Kanwil […]

  • Dari Lorong ke Lorong, Ketok Pintu, Bawa Asa untuk Bocah Palembang

    Dari Lorong ke Lorong, Ketok Pintu, Bawa Asa untuk Bocah Palembang

    • calendar_month Rabu, 19 Mar 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.051
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Di balik pintu-pintu rumah warga di Kecamatan Ilir Timur Satu, ada harapan yang sedang tumbuh. Senin (17/3/2025), Ketua TP PKK Kota Palembang, Dewi Sastrani Ratu Dewa, melangkah dari satu rumah ke rumah lainnya, membawa lebih dari sekadar bantuan—ia membawa kepedulian. Dan sedikit drama, karena kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi? Dewi dan […]

  • Pemkab Muba Jajaki Kerjasama dengan Petrotekno Technical School

    Pemkab Muba Jajaki Kerjasama dengan Petrotekno Technical School

    • calendar_month Sabtu, 29 Feb 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.205
    • 0Komentar

    KEKAYAAN sumber daya alam serta minyak dan gas (migas) di Bumi Serasan Sekate tentu harus diimbangi dengan kemampuan yang baik dalam pengelolaannya agar tetap berkelanjutan. Dalam kaitan ini Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) dibawah kepemimpinan Bupati Muba Dodi Reza dan Wakil Bupati Muba Beni Hernedi akan memfasilitasi pelatihan sumber daya manusia (SDM) Muba untuk bisa […]

  • Kasih Bantuan Sembako, Polsek PAU Juga Edukasi Warga Tentang Penanganan COVID-19

    Kasih Bantuan Sembako, Polsek PAU Juga Edukasi Warga Tentang Penanganan COVID-19

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.731
    • 0Komentar

    SEMBARI membagikan paaket sembako, Jajaran Kepolisian Sektor (Polsek) Pagaralam Utara [PAU]  memberikan edukasi kepada warga terkait penanganan dan pencegahan penularan, COVID-10 yang tengah mewabah. Kapolsek PAU Akp Herry Widodo SH mengatakan untuk pencegahan COVID-19, salah satunya  yang terpenting selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan, menghindari kerumunan, jaga jarak, serta mengurangi aktivitas di luar rumah. Herry […]

  • Rice Cooker Curhat, Dari Nasi & Cinta, hingga Kehidupan

    Rice Cooker Curhat, Dari Nasi & Cinta, hingga Kehidupan

    • calendar_month Rabu, 10 Sep 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 878
    • 0Komentar

    HALO, perkenalkan, aku adalah rice cooker, iya, penanak nasi yang selalu setia di pojokan dapur, walau tubuhku cuma kotak bulat berisi kabel, tugasku mulia, menanak nasi agar keluarga bisa makan dengan tenang. Pepatah bilang, “tak ada rotan, akar pun jadi”, kalau tak ada aku, ya panci dan kompor dipaksa kerja keras, tapi jujur, nasi matang […]

  • Gubernur Teguhkan Komitmen Tetap Selaraskan Pembangunan dengan Potensi Daerah

    Gubernur Teguhkan Komitmen Tetap Selaraskan Pembangunan dengan Potensi Daerah

    • calendar_month Senin, 18 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 604
    • 0Komentar

    PEMERATAAN pembangunan di kabupaten dan kota  tetap menjadi komitmen Gubernur Sumsel H Herman Deru dan Wakil Gubernur H Mawardi Yahya (HDMY). Melalui program Bantuan Gubernur Khusus (Bangubsus) ke  Kabupaten/kota diharapkan terjadi percepatan dan pemerataan pembangunan di Sumsel ini. Saat mendengarkan paparan Wali Kota Pagar Alam, Alfian Maskoni terkait dengan usulan pembangunan infrastruktur serta sarana dan […]

expand_less
WordPress Archive LearnDash LMS Stripe Integration LearnDash LMS Toolkit Addon LearnDash LMS Visual Customizer LearnDash LMS WooCommerce Integration Addon LearnDash LMS WordPress Plugin LearnDash LMS Zapier Integration LearnDash Notes LearnKit – e-Learning Elementor Template Kit Learnomatic – Udemy Affiliate Plugin for WordPress LearnPLUS | Education LMS Responsive Theme | Education