Sabtu, 26 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tekno » Menuju Kemandirian AI, Indonesia Garap LLM Lokal Sendiri

Menuju Kemandirian AI, Indonesia Garap LLM Lokal Sendiri

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Sabtu, 20 Sep 2025
  • visibility 1.496
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

INDONESIA itu ibarat gudang rempah yang aromanya semerbak ke seluruh dunia, tapi anehnya masih suka beli bumbu instan dari luar negeri. Begitu pula dengan kecerdasan artifisial (AI), kita kaya bahasa, budaya, dan data, tapi sering kali masih mengandalkan teknologi impor. Kini, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) bertekad mengubah cerita itu lewat program AI Talent Factory dan pembangunan Large Language Model (LLM) lokal yang benar-benar berjiwa Indonesia.

Kenapa penting?, karena AI itu kayak otak digital, kalau cuma pakai otak bikinan orang lain, ya… jangan kaget kalau jawabannya suka ngaco soal budaya kita. Bayangkan minta AI bikin pantun Betawi tapi jawabannya malah pantun gaya Shakespeare. Kan bisa bikin orang bilang “Ini AI apa stand-up comedy?”.

Indonesia punya lebih dari 700 bahasa daerah, itu artinya, bahan baku kita untuk bikin AI lokal segunung, tapi kalau nggak dimanfaatkan, ya percuma, sama aja kayak punya sawah luas tapi tiap hari masih beli beras dari warung sebelah.

Ada pepatah bilang, “Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, kalau AI mau bermanfaat untuk rakyat, ya harus ngerti bahasa rakyat. Jangan sampai AI jago bahasa Inggris, tapi kalau disuruh jawab dalam bahasa Jawa halus, malah loading lama kayak sinyal di kampung halaman.

Mari kita lihat tiga contoh negara yang udah melangkah lebih jauh, Tiongkok, mereka punya Ernie Bot buatan Baidu, bahasa mandarin jadi raja di platform AI mereka. Hasilnya? rakyatnya bisa pakai AI tanpa harus minder sama buatan Barat, Korea Selatan, mereka dorong pengembangan AI dengan data bahasa Korea, supaya anak muda bisa belajar teknologi tanpa terjebak istilah asing.

Selain itu India, negeri Bollywood ini jagoan, mereka bikin AI yang bisa paham ratusan dialek lokal, misalnya orang desa bisa ngobrol dengan chatbot pakai bahasa sendiri tanpa harus kursus bahasa Inggris dulu.

Nah, kalau mereka bisa, kenapa kita harus puas jadi penonton? Indonesia bisa bikin AI yang ngerti logat Medan, bisa balas pantun Palembang, sampai ngerti guyonan khas Jogja.

Wamen Nezar Patria sudah wanti-wanti, kita butuh 9 juta talenta digital lagi, angka gede, tapi bukan mustahil, kalau generasi muda kita mau, mereka bisa jadi pengembang AI, bukan cuma user.

Seandainya mahasiswa Malang bikin AI khusus untuk bantu nelayan di pesisir Jawa, atau anak-anak Bandung bikin AI yang bisa bantu petani kopi. Itu bukan cuma keren, tapi bikin hidup masyarakat lebih gampang.

Sekarang banyak orang pakai AI impor buat bikin konten, desain, bahkan laporan. Sah-sah saja, tapi kalau semua hanya jadi pemakai, lama-lama kita kayak penonton konser yang cuma bisa jingkrak, sementara panggungnya diisi orang lain.

Pepatah bilang, “Kalau tidak bisa jadi tuan rumah, jangan selamanya jadi tamu”. Nah, di dunia AI, kita jangan selamanya jadi tamu. Sekali-kali harus bikin pesta sendiri, undang tamu, dan jadi tuan rumah yang disegani.

Peluangnya jelas, data bahasa dan budaya kita melimpah, pasar digital kita besar, anak muda kreatif bejibun,  tantangannya juga segede gaban, yakni infrastruktur, dana riset, dan keseriusan pemerintah untuk konsisten.

Kalau strategi nasional AI ini berhasil, kita bisa punya LLM lokal yang bukan cuma pintar, tapi juga berjiwa Indonesia. AI bisa kasih rekomendasi resep gudeg, kasih wejangan ala dalang wayang, atau bikin pantun ala anak Betawi, unik dan relevan.

AI itu, seperti pisau dapur, kalau dipakai masak, bisa bikin keluarga kenyang, kalau salah pakai, bisa bikin tangan berdarah. Makanya, pengembangan AI lokal harus diarahkan untuk kebaikan bangsa, seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan.

Indonesia tidak boleh puas jadi tukang ngekos di teknologi asing, kita punya sumber daya, punya anak muda cerdas, dan punya keberagaman budaya sebagai modal, belajarlah dari Tiongkok, Korea, dan India, kita harus berani bikin AI sendiri.

Jadi, kalau lain kali ada yang nanya, “AI Indonesia itu kayak gimana?” kita bisa jawab dengan bangga AI kita bukan cuma paham bahasa Inggris, tapi juga bisa ketawa kalau dengar dagelan Cak Lontong, karena pada akhirnya, AI terbaik adalah yang lahir dari tanah sendiri, tumbuh dengan bahasa sendiri, dan berakar pada budaya sendiri.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • SATGAS Covid Ingatkan Perketat Penjagaan, Antisipasi Lonjakan PMI, Termasuk Jabar

    SATGAS Covid Ingatkan Perketat Penjagaan, Antisipasi Lonjakan PMI, Termasuk Jabar

    • calendar_month Jumat, 30 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 723
    • 0Komentar

    KEPALA Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Letnan Jenderal TNI Dr. (H.C) Doni Monardo berkunjung ke Cerbon. Usai mengunjungi Cilacap (28/4), Rombongan melanjutkan perjalanan ke Cirebon dalam agenda Rapat Koordinasi Penanganan Covid-19. Catatan baik telah ditorehkan jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Jabar). Bagaimana tidak, sebelumnya tercatat Jabar dahulu masuk […]

  • Untung Ado Production Bikin Film Perjalanan Hidup ‘Anak Kampung’ Harnojoyo

    Untung Ado Production Bikin Film Perjalanan Hidup ‘Anak Kampung’ Harnojoyo

    • calendar_month Rabu, 7 Feb 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 998
    • 0Komentar

    saat ini proses penggarapan naskah cerita sudah selesai dan akan segera proses syuting

  • Usai Ikut Olimpiade, Azzahra Targetkan Pecahkan Rekornas di PON XX Papua

    Usai Ikut Olimpiade, Azzahra Targetkan Pecahkan Rekornas di PON XX Papua

    • calendar_month Senin, 23 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 885
    • 0Komentar

    PEKAN Olahraga Nasional atau PON XX 2021 di Papua dijadwalkan berlangsung mulai 2 Oktober sampai 15 Oktober di Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Merauke, dan Kabupaten Mimika. Ajang olahraga ini nantinya akan diikuti oleh 6.442 atlet dari seluruh provinsi di Indonesia pada 37 cabang olahraga. Para atlet pun sudah tidak sabar turun bertanding di tanah […]

  • Jubir TKN Prabowo-Gibran Ceritakan Pengalaman Jadi Penerima Makan Siang Gratis untuk Siswa di AS

    Jubir TKN Prabowo-Gibran Ceritakan Pengalaman Jadi Penerima Makan Siang Gratis untuk Siswa di AS

    • calendar_month Kamis, 7 Des 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 905
    • 0Komentar

    *Jubir TKN Prabowo-Gibran : Makan Siang Gratis Solusi Konkret Ringankan Beban Keluarga Tak Mampu Sumselterkini.co.id,  – Hamdan Hamedan, Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka menceritakan pengalamannya menjadi penerima program makan siang gratis untuk siswa di Amerika Serikat (AS). Di AS sendiri, menurut Hamdan, […]

  • FEATURE : Pemilihan Ketua RT Perum Pesona Harapan-Nirvana Berjalan Sukses, Warga Patuhi Protokes

    FEATURE : Pemilihan Ketua RT Perum Pesona Harapan-Nirvana Berjalan Sukses, Warga Patuhi Protokes

    • calendar_month Senin, 7 Des 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.214
    • 0Komentar

      MESKIPUN malam ba’da Isya terlihat mendung, namun tak menyurutkan puluhan Warga Perumahan Pesona Harapan-Nirvana, Jalan KH. Azhari, Kelurahan Kalidoni, Kecamatan Kalidoni, Palembang untuk berbondong-bondong menyaksikan pemilihan Ketua RT pemekaran [RT 36]. Warga terlihat antusias, keramaian Jalan menuju Perum Pesona tahap I, tepatnya di Masjid Fandi Al Akbar sebagai lokasi pencoblosan mulai dipadati warga. Meski […]

  • “Muba Minta Tambahan JarGas, Wong Deket Sumur Kok Mandinya Tetap Pakai Ember!”

    “Muba Minta Tambahan JarGas, Wong Deket Sumur Kok Mandinya Tetap Pakai Ember!”

    • calendar_month Minggu, 27 Jul 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 578
    • 0Komentar

    SAUDARA-saudara kita hidup di tengah ladang durian, tapi sarapannya tiap hari tetap nasi uduk pinjaman tetangga. Itulah nasib sebagian warga Musi Banyuasin (Muba) yang duduk manis di atas cadangan gas alam, tapi tungku dapurnya masih dicecap bau elpiji 3 kg yang makin sulit dipeluk karena antreannya lebih ramai dari konser BTS. Wakil Bupati Muba, Kyai […]

expand_less
WordPress Archive Sativaka – Medical Marijuana Dispensary WordPress Satka – Satellite TV & Internet Provider WordPress Theme Save for Later with WooCommerce Save Julia | Donation & Fundraising Charity WordPress Theme Save products for later, Save & Share WooCommerce Cart Savelife – Charity & Donation WordPress Theme Savoy – Minimalist AJAX WooCommerce Theme Saxon – Viral Content Blog & Magazine Marketing WordPress Theme Saxxy – Music Band & Musician Elementor Template Kit Sayahat – Travel Agency Elementor Template kit