Senin, 28 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tekno » 150 Juta Gamer, Tapi Berapa yang Jadi Developer?

150 Juta Gamer, Tapi Berapa yang Jadi Developer?

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 21 Agt 2025
  • visibility 902
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

– Dari Bangsa Tukang Top-Up ke Bangsa Tukang Coding

COBA bayangin adegan ini, di sebuah warung kopi, ada dua kubu abadi, antara lain kubu push rank dan kubu nongkrong nunggu WiFi gratis. Yang satu duduk serius dengan jempol lincah kayak ayam jago aduan, yang satunya lagi pura-pura baca skripsi padahal layar HP-nya penuh notifikasi gacha gagal. Itulah potret kecil bangsa ini 150 juta orang main game, tapi yang bikin game? Bisa dihitung jari pakai kalkulator jadul.

Ibarat pesta hajatan, kita rame-rame datang, makan, joget, bahkan ada yang rela minjem sandal tetangga buat tampil gaya, tapi yang masak? Paling cuma satu dua orang. Nah, developer lokal itu posisinya kayak tukang masak hajatan, sibuk ngulek sambel, tapi tamu lebih heboh selfie sama tumpeng.

Indonesia ini memang top-up banget, dari pulsa, paket data, sampai diamond Mobile Legends, semua dilibas, gamer kita rela hemat lauk sehari-hari demi bisa beli skin baru. Nasi tempe masih oke, asal skin hero kesayangan kinclong kayak motor baru dicat.

Masalahnya, top-up doang nggak bikin kita naik kelas, sama kayak kalau hidup cuma nabung stiker Indomie tapi nggak pernah punya pabrik Indomie, kita jago beli, tapi nggak jago bikin.

Pepatah lama bilang, “Kalau rajin menabung, lama-lama jadi bukit”. Tapi pepatah gamer kita versi baru “Kalau rajin top-up, lama-lama jadi bokek”

Di balik layar, sebenarnya ada para developer lokal yang rajin ngoding, mereka bikin game horor, game edukasi, sampai game kocak ala-ala simulasi. Tapi seringnya, posisi mereka di mata gamer lokal itu kayak NPC (Non-Playable Character) di game ada, tapi nggak diperhatiin.

Misalnya, ada developer bikin game dengan riset sejarah kerajaan Sriwijaya, plotnya keren, ada kapal layar, ada strategi perang, bisa jadi Civilization rasa Palembang. Tapi pas dipromosiin, yang ditanya gamer Indonesia cuma “Bang, ada battle pass-nya nggak?”

Waduh, ini game edukasi, bro, bukan gacha karakter.

Bapak Gamer (40 tahun): “Nak, cepet isiin diamond ML, bapak mau push Mythic!”

Anak Developer (22 tahun): “Pak, mending support game buatan aku, lagi bikin prototipe, lho.”
Bapak: “Game kamu ada skin Gundala nggak?”
Anak: “Nggak, Pak. Tapi ada fitur belajar sejarah Majapahit.”
Bapak: “Ah, mending bapak nonton sinetron kolosal aja.”

Begitulah kira-kira, developer lokal jadi kayak pedagang sayur di pasar yang teriak-teriak nawarin kangkung segar, sementara pembeli lebih milih beli mi instan di minimarket.

Kalau Indonesia itu warung makan, pembelinya bejibun tiap hari, sampai antrean kayak jemaah haji, namun tukang masaknya cuma satu dua orang, itu pun sering dimaki karena kehabisan bahan, sementara bahan makanan mewah daging wagyu, salmon Norwegia malah diimpor.

Begitu juga industri game kita gamer banyak, tapi developer masih ngos-ngosan cari modal, kalau nggak segera dibenahi, lama-lama developer lokal bisa pindah profesi jadi tukang service HP, karena lebih cepet balik modal.

Padahal, kalau serius digarap, harta karun kita banyak banget, dari kisah mistis kuntilanak sampai mitos Danau Toba, semua bisa jadi bahan game kelas dunia. Bayangin bule main game dengan misi “Kabur dari Warteg Hantu,” atau RPG “Prajurit Majapahit vs Alien Mars” Dijamin unik, dan dunia bakal bilang “Wow, ini Indonesia banget!”.

Tapi syaratnya, ekosistem harus dikuatin. Jangan cuma developer disuruh kreatif, tapi modal dan dukungan nol besar, ibarat petani disuruh panen jagung, tapi dikasihnya cangkul patah sama lahan kering. Ya hasilnya jelas zonk.

Kita perlu sadar, bangsa besar bukan cuma bangsa yang punya gamer banyak, tapi bangsa yang bisa bikin game sendiri, Kalau kita terus bangga jadi “pasar nomor satu Asia Tenggara,” ya sama aja kayak orang kampung pamer sawah luas tapi hasil panennya malah dijual semua ke tetangga.

Bangsa ini harus naik level dari top-up diamond, jadi top-up developer lokal, dari konsumen, jadi produsen, dari tukang push rank, jadi tukang push ekonomi kreatif.

Hari ini, kita boleh bangga dengan 150 juta gamer, tapi kebanggaan itu jangan jadi selimut tidur. Kita harus bangun, melek, dan mulai berpikir berapa banyak dari 150 juta itu yang bisa diajak bikin, bukan cuma main?

Kalau semua energi cuma habis buat ngejar skin, maka developer kita akan terus jadi “pemain cadangan” di industri global. Tapi kalau ekosistem dibangun, gamer didorong jadi kreator, dan masyarakat diajak hargai karya lokal, maka kita bisa berharap suatu hari nanti bule-bule top-up ke game buatan Indonesia.

Dan ketika hari itu tiba, pepatah baru pun lahir “Siapa yang menanam coding, dia yang menuai cuan”

Sampai saat itu, ingatlah bangsa ini jangan puas jadi tukang top-up, tapi harus jadi tukang bikin game, karena masa depan bukan milik yang punya skin, tapi milik yang punya server.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menteri ESDM Resmikan Proyek Kelistrikan di Provinsi Sumsel

    Menteri ESDM Resmikan Proyek Kelistrikan di Provinsi Sumsel

    • calendar_month Minggu, 31 Mar 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.722
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Palembang –  Usai  meresmikan beroperasinya pipa transmisi gas open access Grissik-PUSRI (GrisPus) sekaligus meresmikan jaringan gas kota (Jargas) kota Palembang, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, Ignasius Jonan meresmikan Proyek kelistrikan di Provinsi Sumsel, bertempat di lokasi GIS Kota Barat Lorok Pakjo, Ilir Barat I Palembang, Minggu (31/3/2019). Dengan didampingi  Wakil […]

  • Lantik Ketua Koni Sumsel, Gubernur Sumsel : Pagu Anggaran Rp29 Miliar, Jika Tidak Ada Prestasi Bisa Di Rem

    Lantik Ketua Koni Sumsel, Gubernur Sumsel : Pagu Anggaran Rp29 Miliar, Jika Tidak Ada Prestasi Bisa Di Rem

    • calendar_month Minggu, 26 Jan 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.549
    • 0Komentar

    KETUA KONI yang baru H.Hendri Zainuddin dilantik oleh Ketua Umum KONI Pusat Letjen Purn Marciano Norman disaksikan oleh Gubernur Sumsel H.Herman Deru., minggu [26/1/2020]. Usai pelantikan Gubernur Sumsel Herman Deru menitipkan pesan agar  dapat memperbaiki  prestasi Sumsel di PON Papua padaOktober 2020 mendatang. Tantangan Ketua KONI tidak mudah di PON Papua nanti. Karena banyak cabor […]

  • Insya Allah, Desember Pipa Induk Air Bersih PDAM & SR Sudah Terpasang di Perum Pesona Harapan Kalidoni Sekitarnya, Kata PJ Walkot Palembang : Harus, Ada Inpresnya !  

    Insya Allah, Desember Pipa Induk Air Bersih PDAM & SR Sudah Terpasang di Perum Pesona Harapan Kalidoni Sekitarnya, Kata PJ Walkot Palembang : Harus, Ada Inpresnya !  

    • calendar_month Jumat, 30 Agt 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 3.341
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id,- Keluhan Warga Perum Pesona RT 50 Kelurahan Kalidoni, Kecamatan Kalidoni Palembang terkait air bersih yang belum mengalir mendapat tanggapan serius Penjabat (Pj) Wali Kota Palembang Ucok Abdulrauf Damenta. Ia menegaskan, keluhan warga segera direalisasikan menyusul ada Inpres yang mengaturnya. “Harus dilaksanakan karena sudah ada Inpres No 1 tahun 2024, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) […]

  • Open House Gubernur Sumsel dengan Bupati/Wako Se-Sumsel   

    Open House Gubernur Sumsel dengan Bupati/Wako Se-Sumsel   

    • calendar_month Jumat, 7 Jun 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.401
    • 0Komentar

    KEAKRABAN begitu nampak terlihat dengan jelas antara Gubernur Sumatera Selatan H Herman Deru dengan para kepala daerah di 17 Kabupaten Kota di Sumatera Selatan. Suasana hangat dan penuh akrab tersebut terlihat jelas saat acara open house Gubernur H.Herman Deru dan Ketua TP PKK Prov. Sumatera Selatan  Hj. Febrita Lustia dan keluarga besarnya pada  hari kedua, Kamis […]

  • Sarip Petir, Kisah TKI Antargalaksi [BAB 7, Demo Buruh Lintas Planet: Sarip Orasi, Robot Mogok & Tahu Bulat Revolusioner]

    Sarip Petir, Kisah TKI Antargalaksi [BAB 7, Demo Buruh Lintas Planet: Sarip Orasi, Robot Mogok & Tahu Bulat Revolusioner]

    • calendar_month Selasa, 1 Jul 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.101
    • 0Komentar

    PAGI-pagi, Sarip sudah bangun, padahal semalam tidur larut gara-gara ngitung bintang sambil makan sisa lodeh. Kali ini, ia nggak ngeluh. Hari ini bukan hari biasa. Hari ini demo akbar lintas planet! Di dapur kontrakan orbitnya, Sarip lagi goreng tahu bulat. Bukan tahu bulat biasa. Ini Tahu Bulat Revolusioner, isinya sambal bawang dan sejumput semangat perjuangan […]

  • Belanja APBD Palembang Diarahkan ke Produk Ekonomi Kreatif Lokal

    Belanja APBD Palembang Diarahkan ke Produk Ekonomi Kreatif Lokal

    • calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 25
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Belanja APBD Palembang mulai diarahkan untuk memperbesar serapan produk ekonomi kreatif lokal. Kebijakan ini mendorong perangkat daerah tak hanya memenuhi kebutuhan kegiatan pemerintahan, tetapi juga ikut menggerakkan omzet UMKM dan pelaku usaha kreatif di Kota Palembang. Arah kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran Wali Kota Palembang Nomor 36 Tahun 2026 tentang Penguatan Penggunaan […]

expand_less
WordPress Archive Pearl - Corporate Business WordPress Theme Pearlsell WP – Jewelry Elementor WooCommerce Theme Pearson Specter | Lawyer & Attorney WordPress Theme Pediatra – Pediatrician Clinic & Healthcare Elementor Template Kit Peeboo – Pet Store WooCommerce WordPress Theme Peepso Unlimited Bundles Pegasus – Showcase Portfolio WordPress Theme Peggi – Multipurpose Children WordPress Theme Peint – Painting Services Elementor Template Kit Pejwan – SEO & Digital Marketing Agency Template Kit