Senin, 19 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tekno » 150 Juta Gamer, Tapi Berapa yang Jadi Developer?

150 Juta Gamer, Tapi Berapa yang Jadi Developer?

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 21 Agt 2025
  • visibility 915
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

– Dari Bangsa Tukang Top-Up ke Bangsa Tukang Coding

COBA bayangin adegan ini, di sebuah warung kopi, ada dua kubu abadi, antara lain kubu push rank dan kubu nongkrong nunggu WiFi gratis. Yang satu duduk serius dengan jempol lincah kayak ayam jago aduan, yang satunya lagi pura-pura baca skripsi padahal layar HP-nya penuh notifikasi gacha gagal. Itulah potret kecil bangsa ini 150 juta orang main game, tapi yang bikin game? Bisa dihitung jari pakai kalkulator jadul.

Ibarat pesta hajatan, kita rame-rame datang, makan, joget, bahkan ada yang rela minjem sandal tetangga buat tampil gaya, tapi yang masak? Paling cuma satu dua orang. Nah, developer lokal itu posisinya kayak tukang masak hajatan, sibuk ngulek sambel, tapi tamu lebih heboh selfie sama tumpeng.

Indonesia ini memang top-up banget, dari pulsa, paket data, sampai diamond Mobile Legends, semua dilibas, gamer kita rela hemat lauk sehari-hari demi bisa beli skin baru. Nasi tempe masih oke, asal skin hero kesayangan kinclong kayak motor baru dicat.

Masalahnya, top-up doang nggak bikin kita naik kelas, sama kayak kalau hidup cuma nabung stiker Indomie tapi nggak pernah punya pabrik Indomie, kita jago beli, tapi nggak jago bikin.

Pepatah lama bilang, “Kalau rajin menabung, lama-lama jadi bukit”. Tapi pepatah gamer kita versi baru “Kalau rajin top-up, lama-lama jadi bokek”

Di balik layar, sebenarnya ada para developer lokal yang rajin ngoding, mereka bikin game horor, game edukasi, sampai game kocak ala-ala simulasi. Tapi seringnya, posisi mereka di mata gamer lokal itu kayak NPC (Non-Playable Character) di game ada, tapi nggak diperhatiin.

Misalnya, ada developer bikin game dengan riset sejarah kerajaan Sriwijaya, plotnya keren, ada kapal layar, ada strategi perang, bisa jadi Civilization rasa Palembang. Tapi pas dipromosiin, yang ditanya gamer Indonesia cuma “Bang, ada battle pass-nya nggak?”

Waduh, ini game edukasi, bro, bukan gacha karakter.

Bapak Gamer (40 tahun): “Nak, cepet isiin diamond ML, bapak mau push Mythic!”

Anak Developer (22 tahun): “Pak, mending support game buatan aku, lagi bikin prototipe, lho.”
Bapak: “Game kamu ada skin Gundala nggak?”
Anak: “Nggak, Pak. Tapi ada fitur belajar sejarah Majapahit.”
Bapak: “Ah, mending bapak nonton sinetron kolosal aja.”

Begitulah kira-kira, developer lokal jadi kayak pedagang sayur di pasar yang teriak-teriak nawarin kangkung segar, sementara pembeli lebih milih beli mi instan di minimarket.

Kalau Indonesia itu warung makan, pembelinya bejibun tiap hari, sampai antrean kayak jemaah haji, namun tukang masaknya cuma satu dua orang, itu pun sering dimaki karena kehabisan bahan, sementara bahan makanan mewah daging wagyu, salmon Norwegia malah diimpor.

Begitu juga industri game kita gamer banyak, tapi developer masih ngos-ngosan cari modal, kalau nggak segera dibenahi, lama-lama developer lokal bisa pindah profesi jadi tukang service HP, karena lebih cepet balik modal.

Padahal, kalau serius digarap, harta karun kita banyak banget, dari kisah mistis kuntilanak sampai mitos Danau Toba, semua bisa jadi bahan game kelas dunia. Bayangin bule main game dengan misi “Kabur dari Warteg Hantu,” atau RPG “Prajurit Majapahit vs Alien Mars” Dijamin unik, dan dunia bakal bilang “Wow, ini Indonesia banget!”.

Tapi syaratnya, ekosistem harus dikuatin. Jangan cuma developer disuruh kreatif, tapi modal dan dukungan nol besar, ibarat petani disuruh panen jagung, tapi dikasihnya cangkul patah sama lahan kering. Ya hasilnya jelas zonk.

Kita perlu sadar, bangsa besar bukan cuma bangsa yang punya gamer banyak, tapi bangsa yang bisa bikin game sendiri, Kalau kita terus bangga jadi “pasar nomor satu Asia Tenggara,” ya sama aja kayak orang kampung pamer sawah luas tapi hasil panennya malah dijual semua ke tetangga.

Bangsa ini harus naik level dari top-up diamond, jadi top-up developer lokal, dari konsumen, jadi produsen, dari tukang push rank, jadi tukang push ekonomi kreatif.

Hari ini, kita boleh bangga dengan 150 juta gamer, tapi kebanggaan itu jangan jadi selimut tidur. Kita harus bangun, melek, dan mulai berpikir berapa banyak dari 150 juta itu yang bisa diajak bikin, bukan cuma main?

Kalau semua energi cuma habis buat ngejar skin, maka developer kita akan terus jadi “pemain cadangan” di industri global. Tapi kalau ekosistem dibangun, gamer didorong jadi kreator, dan masyarakat diajak hargai karya lokal, maka kita bisa berharap suatu hari nanti bule-bule top-up ke game buatan Indonesia.

Dan ketika hari itu tiba, pepatah baru pun lahir “Siapa yang menanam coding, dia yang menuai cuan”

Sampai saat itu, ingatlah bangsa ini jangan puas jadi tukang top-up, tapi harus jadi tukang bikin game, karena masa depan bukan milik yang punya skin, tapi milik yang punya server.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tiga Tips OOTD Si Paling Games Warna Lime Yang Awesome

    Tiga Tips OOTD Si Paling Games Warna Lime Yang Awesome

    • calendar_month Kamis, 28 Sep 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 3.415
    • 0Komentar

    Dengan lensa 0.5x ultra-wide-angle di Galaxy A34 5G untuk perspektif yang lebih unik dan kreatif, ditambah warna Lime yang mencuri perhatian, OOTD versi gaming akan semakin awesome.   Sumselterkini.co.id, Samsung – Studi dari We Are Social1 mendapati bahwa 167 juta orang Indonesia (60,4% dari populasi) adalah pengguna aktif media sosial dan menghabiskan 3 jam 18 menit […]

  • Cinta Produk Lokal, Dongkrak Ekonomi Rakyat

    Cinta Produk Lokal, Dongkrak Ekonomi Rakyat

    • calendar_month Senin, 18 Apr 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 579
    • 0Komentar

    MENTERI Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM), Teten Masduki, menegaskan bahwa perekonomian nasional beberapa waktu ke depan akan sangat bergantung pada kekuatan domestik, atau produk dalam negeri sehingga cinta produk lokal berarti berperan serta dalam memajukan perekonomian nasional. Hal tersebut dikatakannya saat Showcase and Business Matching tahap kedua bertajuk “Produk IT dan Digital” yang […]

  • Tingkatkan Kesejahteraan Petani dengan Replanting Sawit

    Tingkatkan Kesejahteraan Petani dengan Replanting Sawit

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.509
    • 0Komentar

    SALAH satu komoditi andalan Kabupaten Ogan Komering Ilir [OKI] yakni perkebunan sawit, selama ini memang sawit telah merubah para petani di OKI. Meski demikian harga sawit beberapa tahun ini ini juga mulai jungkir balik, membuat pendapatan petani semakin tergerus. Tetapi Pemkab OKI tetap mendorong agar sawit menjadi salah satu andalan ekspor.Oleh sebab itu sebanyak 10.500 […]

  • Bantuan Pangan Tepat Sasaran, Koordinasi OPD & Sanksi Efektif

    Bantuan Pangan Tepat Sasaran, Koordinasi OPD & Sanksi Efektif

    • calendar_month Kamis, 11 Sep 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.042
    • 0Komentar

    DI tengah hingar-bingar janji bantuan sosial, kadang kita tersenyum getir membaca realitas di lapangan, beras untuk warga miskin yang seharusnya menjadi penyelamat perut, nyatanya bisa salah alamat, potensi itu bisa saja terjadi, seperti pepatah Minang bilang, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, seharusnya bantuan diberikan sesuai hak, bukan asal bagi. Namun, kenyataannya, koordinasi […]

  • Wow, Sampah di Palembang Capai 1.200 Ton Per hari

    Wow, Sampah di Palembang Capai 1.200 Ton Per hari

    • calendar_month Rabu, 4 Des 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.122
    • 0Komentar

    PEMERINTAH kota Palembang serius atasi masalah sampah menyusul sampah yang dihasilkan dari rumah tangga mencapai 1.200 ton per hari. Wakil Walikota Palembang, Fitrianti Agustinda ingin sampah tersebut dapat diatasi, apalagi Palembang sendiri merupakan salah satu kota yang selalu langganan mendapat Piala Adipura. “Coba jika sampah itu mencapai 1.200 ton per hari, artinya 36 ribu ton per […]

  • Muba Peroleh Penghargaan Bupati Inspiratif dan Inovatif

    Muba Peroleh Penghargaan Bupati Inspiratif dan Inovatif

    • calendar_month Minggu, 14 Apr 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 878
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Palembang- Setelah mendapatkan penghargaan Indonesian Best Hospital Service Inovation Award kategori The Best Hospital In Modern Emergency Installation Service dan Best of The Best Award kategori Indonesia Businness and Company Award dalam Best Hospital in Service dari 7sky Media & Majalah IM Indonesia, Jumat (12/4/2019) malam bertempat di Grand Zuri Hotel Palembang,  kembali memberikan penghargaan dan […]

expand_less
WordPress Archive Pearl - Corporate Business WordPress Theme Pearlsell WP – Jewelry Elementor WooCommerce Theme Pearson Specter | Lawyer & Attorney WordPress Theme Pediatra – Pediatrician Clinic & Healthcare Elementor Template Kit Peeboo – Pet Store WooCommerce WordPress Theme Peepso Unlimited Bundles Pegasus – Showcase Portfolio WordPress Theme Peggi – Multipurpose Children WordPress Theme Peint – Painting Services Elementor Template Kit Pejwan – SEO & Digital Marketing Agency Template Kit