Jumat, 30 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Seni & Budaya » “Kupik Mandi ke Ayek”, Tradisi Sungai yang Kini Mendunia

“Kupik Mandi ke Ayek”, Tradisi Sungai yang Kini Mendunia

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 4 Sep 2025
  • visibility 1.376
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DI tepian sungai, suara gemericik air berpadu dengan tawa bocah-bocah, dari dulu sampai sekarang, sungai bukan hanya tempat mandi atau mencuci, tapi juga “panggung kehidupan”. Dan di Muara Enim, Sumatera Selatan, ada satu tradisi unik bernama “Kupik Mandi ke Ayek”, ritual memandikan bayi di sungai yang kini resmi mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Eh, siapa sangka, kegiatan yang bagi orang luar mungkin terlihat sederhana itu sekarang sudah naik kelas, bahkan layak dipromosikan dalam panggung Karang Asam Festival 2025.

Kalau dipikir-pikir, hidup memang mirip air sungai: mengalir, kadang deras, kadang tenang. Nah, tradisi “Kupik Mandi ke Ayek” ini ibarat pepatah lama “Dimana bumi dipijak, di situ air harus diminum”. Bedanya, di sini bukan diminum, tapi dipakai buat “baptisan lokal” ala urang dusun.

Jujur saja, mendengar HAKI untuk tradisi ini bikin saya senyum-senyum sendiri. Lha wong dulu, kalau bayi dimandikan di sungai, itu hal biasa saja. Tapi sekarang, sudah jadi kebanggaan budaya. Mirip seperti lagu lawas yang dulu diputar di kaset butut, eh tiba-tiba di-remix jadi trending TikTok. Bedanya, ini bukan gimmick, melainkan identitas asli masyarakat.

Di tengah gempuran budaya pop, orang Muara Enim berhasil membuktikan pepatah “Tak lapuk oleh hujan, tak lekang oleh panas”. Kupik mandi ke ayek bukan hanya tradisi, tapi simbol ikatan manusia dengan alam. Air sungai jadi medium penyucian, doa, sekaligus harapan agar si bayi tumbuh sehat, kuat, dan “sejernih aliran ayek”.

Coba bayangkan suasana ritualnya. Ada bayi mungil, ada ibu bapak yang deg-degan, ada kakek-nenek yang cerewet kasih nasihat, dan ada sungai yang kadang lebih ramai dari pasar minggu. Jangan kaget kalau ada yang nyeletuk “Kalau bayi nangis waktu dimandikan, tandanya rejekinya deras kayak arus sungai!”. Atau yang lebih kocak “Kalau bayinya anteng, berarti nanti jodohnya orang jauh, ikut arus sungai sampai ke hulu entah kemana”.

Humor-humor semacam ini yang bikin tradisi terasa hidup. Karena apa? Budaya tanpa tawa, ibarat ikan asin tanpa garam, tetap bisa dimakan, tapi hambar.

Tahun ini, Karang Asam Festival 2025 jadi panggung resmi untuk merayakan tradisi ini. Gubernur Sumatera Selatan, H. Herman Deru, sampai hadir langsung. Ia mengapresiasi warga Muara Enim yang berhasil mengangkat ritual “Kupik mandi ke ayek” menjadi warisan budaya. Bahkan festival ini masuk dalam Karisma Event Nusantara,  daftar bergengsi acara budaya nasional.

Di festival ini, bukan cuma soal budaya. Ada 106 stan dari UMKM, kuliner, BUMN, BUMD, sampai swasta. Jadi, jangan heran kalau habis nonton ritual, perut langsung digoda aroma pempek lenjer, kopi semendo, atau sambal tempoyak yang pedasnya bisa bikin air mata ngalir kayak sungai.

Kalau ditarik lebih dalam, festival ini bukan sekadar seremonial, ia adalah bukti bahwa tradisi bisa jadi motor ekonomi. UMKM lokal dapat pasar, wisatawan punya pengalaman unik, dan warga setempat mendapat kebanggaan.

Ini yang disebut “ekonomi sungai” mengalir dari hulu budaya, melewati arus wisata, lalu bermuara pada kesejahteraan. Kalau tradisi hanya jadi cerita, ia akan hanyut. Tapi kalau dijaga dan dikemas, ia bisa jadi sumber rejeki.

Orang tua dulu bilang, “Air yang tenang menghanyutkan”, jangan diremehkan. Sama halnya dengan “Kupik mandi ke ayek”. Dari luar tampak sederhana, tapi nilainya dalam sekali. Ia mengajarkan  bahwa manusia harus akrab dengan alam, anak yang lahir perlu disambut dengan doa, bukan hanya pesta  dan kebudayaan tidak harus mewah, cukup tulus dan bermakna.

Dan yang paling penting, tradisi ini mengingatkan kita  jangan sampai generasi muda lebih hafal lagu viral daripada adat leluhurnya sendiri.

“Kupik Mandi ke Ayek”, kini bukan sekadar ritual kampung, tapi simbol budaya Sumatera Selatan yang mendunia. Dari sungai Karang Asam, gema tradisi ini bisa melintas sampai ke mancanegara.

Muara Enim berhasil membuktikan bahwa ketika masyarakat bersatu menjaga kearifan lokal, hasilnya bisa luar biasa, ekonomi terangkat, wisata hidup, dan identitas terjaga.

Pepatah mengatakan, “Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui” melalui Karang Asam Festival, bukan cuma budaya yang dilestarikan, tapi juga ekonomi yang digerakkan.

Jadi, kalau nanti ada orang bertanya “Apa oleh-oleh terbaik dari Muara Enim?” Jawabannya bukan sekadar kopi atau kain songket, tapi cerita tentang Kupik mandi ke ayek, tradisi sungai yang kini mendunia.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Maulid Nabi Muhammad SAW 2021, DPK FK TPQ Kalidoni Gelar Beragam Lomba,  TPQ Nurdini Sabet Juara Umum

    Maulid Nabi Muhammad SAW 2021, DPK FK TPQ Kalidoni Gelar Beragam Lomba,  TPQ Nurdini Sabet Juara Umum

    • calendar_month Senin, 1 Nov 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.047
    • 0Komentar

    DEWAN Pimpinan Kecamatan Forum Komunikasi Taman Pendidikan Qur’an [DPK FK TPQ] Kecamatan Kalidoni Palembang menggelar beragam lomba. Lomba tersebut diselenggarakan, guna mensyiarkan Maulid Nabi Muhammad 2021 [12 Rabiul Awal 1443 Hijriah], minggu [31/10/2021]. Gebyar Lomba sehari tersebut dipusatkan di Masjid Nurul Falah, Kapling II Jalan May Zen 1/2 No 01 RT. 12 RW 04, Kelurahan […]

  • PEMIRA FKM ?, KPU Mengkerut Suasana Carut Marut

    PEMIRA FKM ?, KPU Mengkerut Suasana Carut Marut

    • calendar_month Sabtu, 26 Des 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.767
    • 0Komentar

    DINAMIKA PEMIRA di UNSRI sering kali terjadi baik itu sebelum mendaftar, ketika proses pendaftaran, dan disaat berjalannya Pemira. Seperti yang terjadi pada Fakultas Kesehatan Masyarakat terdapat sebuah masalah yang sedang diterpa PEMIRA FKM. Lantas apa masalah? Adanya usaha dari pihak KPU untuk menggagalkan salah satu dari paslon yg mendaftar. Cara penggagalan ini sudah sering terjadi […]

  • Pasca-konflik, Pulau Haruku Sekarang Sudah Kondusif

    Pasca-konflik, Pulau Haruku Sekarang Sudah Kondusif

    • calendar_month Kamis, 17 Feb 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 586
    • 0Komentar

    Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol. M. Roem Ohoirat menjelaskan hingga saat ini kondisi di Pulau Haruku sudah kondusif pascaterjadinya konflik beberapa waktu lalu. Pasukan gabungan TNI dan Polri juga disiagakan di sana. “Ya Alhamdulillah sampai dengan pagi ini kondisinya kondusif di sana juga sudah banyak pasukan dari TNI dan Polri, serta Dansat Brimob juga […]

  • Kapolda Sumsel Irjen Pol Eko Indra Heri Diganti

    Kapolda Sumsel Irjen Pol Eko Indra Heri Diganti

    • calendar_month Kamis, 26 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.207
    • 0Komentar

    KAPOLDA Sumsel Irjen Pol Prof Eko Indra Heri S, MM resmi diganti. Pergantian tersebut berdasarkan TR Kapolri bernomor ST : 1701/VIII/KEP/2021, tertanggal 25 Agustus 2021. Irjen Pol sendiri digantikan oleh Irjen Pol Drs Toni Harmanto MH, yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolda Sumbar. Irjen Pol Eko mendapatkan jabatan baru sebagai Koorsahli Kapolri. Sedangkan pengganti Irjen Pol […]

  • Awal yang baik, timnas wanita Indonesia imbangi  Arab Saudi pada Laga FIFA Women’s A Match 

    Awal yang baik, timnas wanita Indonesia imbangi  Arab Saudi pada Laga FIFA Women’s A Match 

    • calendar_month Minggu, 26 Feb 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 6.124
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id -Timnas Wanita Indonesia menghadapi Arab Saudi pada laga FIFA Women’s A Match yang berlangsung di stadion Prince Mohamed Bin Fahd, Arab Saudi pada Rabu (22/2) malam. Ini menjadi pertemuan perdana bagi kedua tim di semua kompetisi. Safira Ika dan kolega sempat memimpin di awal laga tepatnya pada menit ke-7, setelah sepakan Baiq Amiatun tak […]

  • AAPI Heritage Month ke-19, Konjen RI San Francisco : Kekayaan Budaya RI Perkaya Corak Keberagaman Masyarakat AS

    AAPI Heritage Month ke-19, Konjen RI San Francisco : Kekayaan Budaya RI Perkaya Corak Keberagaman Masyarakat AS

    • calendar_month Senin, 22 Mei 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 3.528
    • 0Komentar

    San Francisco, Amerika Serikat – Konsul Jenderal RI San Francisco, Prasetyo Hadi, mengemukakan kekayaan budaya Indonesia telah memperkaya corak keberagaman masyarakat AS, khususnya di Pantai Barat bagian Utara AS. “Masyarakat dan diaspora Indonesia, bersama dengan masyarakat Asia Amerika lainnya, kenyataannya telah ikut memperkaya pluralitas masyarakat AS serta menjaga reputasi San Francisco yang terkenal dengan keberagamannya, bahkan […]

expand_less
WordPress Archive Voevod – WooCommerce Store WordPress Theme Vogal – Multipurpose Shopify Theme OS 2.0 Voice – Clean News/Magazine WordPress Theme Voice messages form for WordPress – Contacter Voice – News Magazine WordPress Theme Voicer – Text to Speech Plugin for WordPress Voifone | Multipurpose VOIP WordPress Theme VOIP Pricing Calculator | VOIP Calling Rates, SMS Rates, Mobile Top Up Rates Table/Calculator Voisen – WooCommerce Responsive Fashion Theme Vokial – Creative Agency WordPress Theme