Kamis, 15 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Seni & Budaya » Cerita Lama, Gaya Baru : Lutung Kasarung Bukan Dongeng Biasa, Kok Bisa!

Cerita Lama, Gaya Baru : Lutung Kasarung Bukan Dongeng Biasa, Kok Bisa!

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
  • visibility 1.417
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id, – Di era ketika anak-anak lebih kenal Elsa ketimbang Cindelaras, lebih apal nama idol Korea daripada pahlawan nasional, siapa sangka ada seekor lutung yang bisa bikin kita bangga lagi sama kisah sendiri? Bukan lutung yang main lempar-lempar pisang di kebun binatang, tapi Lutung Kasarung, kisah klasik dari tanah Sunda yang kini tampil mentereng dalam bentuk drama musikal di panggung mewah Ciputra Artpreneur, Jakarta.

Pertunjukan ini bukan cuma soal nyanyi dan joget, tapi soal bagaimana caranya sebuah dongeng dari zaman nenek moyang bisa disulap jadi tontonan yang bikin anak muda rela lepas ponsel sejenak. Bahkan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar  saat menyaksikan pertunjukan belum lama ini sampai terharu, kalau bisa, mungkin beliau langsung nyumbang kostum. Tapi tenang, beliau cukup menyumbang apresiasi dan komitmen dukungan.

Kata beliau, ini ibarat sekali mendayung dua tiga monyet terlampaui. Pertunjukan ini melestarikan budaya sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif. Ya betul juga sih, kalau dulu seni dianggap urusan pengangguran dan pelipur lara, sekarang seni justru bisa bikin lara jadi lara yang berdaya.

Sama seperti Broadway punya The Lion King yang menampilkan kisah si Simba dengan efek panggung yang bikin bulu kuduk berdiri, kita sekarang punya Lutung Kasarung, pangeran yang dikutuk jadi monyet dan tetap laku dicintai. Kisah ini relatable banget, apalagi buat para jomblo yang lagi merasa dikutuk nasib.

Coba bayangkan, Lutung Kasarung tampil di luar negeri dibikin versi Jepang, judulnya mungkin Saruwatashi Kiseki no Hutan. Atau kalau dibikin versi Korea, jadi Oppa Lutung Saranghaeyo. Bisa jadi viral, trus fansnya bikin fandom Lutungers. Merchandise-nya laris boneka lutung unyu-unyu dan baju bertuliskan Kasarung But Not Forgotten.

Tapi semua ini butuh ekosistem yang solid. Bukan cuma semangat 45 dan modal seplastik rujak, tapi dukungan dari pemerintah, swasta, dan masyarakat. Harus ada jembatan antara seniman dan pasar, bukan cuma jembatan yang dibangun buat peresmian terus ditinggal longsor.

Kalau monyet bisa nyanyi, berdandan, dan tampil di bawah cahaya spotlight, masak kita masih nunggu panggilan kerja sambil nonton reels motivasi? Pertunjukan ini jadi bukti bahwa cerita lokal, jika dikemas kreatif, bisa jadi kendaraan prestise dan prestasi.

Bayangkan kalau semua daerah meniru konsep ini. Kalimantan bikin Legenda Batu Menangis the Musical, Jawa Tengah bikin Jaka Tarub & the 7 Angels Live in Concert, atau Sumsel bikin Si Pahit Lidah Got Talent. Tiket ludes, UMKM laris, warung bakso depan gedung pertunjukan ikut naik omzet. Ini baru namanya ekonomi kreatif yang merakyat.

Sudah saatnya kita berhenti memperlakukan budaya seperti sepupu jauh diakui saudara tapi nggak pernah diajak kondangan. Cerita seperti Lutung Kasarung itu seperti warisan nenek yang lama disimpan di peti kayu, padahal isinya berlian. Jangan cuma disimpan dan ditulis di buku pelajaran yang dilem sambil ngantuk.

Kita harus belajar dari pertunjukan ini. Bahwa kekayaan lokal kita itu bisa bersaing, bukan cuma soal heritage, tapi juga branding. Bayangkan kalau semua cerita lokal bisa dipoles dan dipasarkan dengan gaya modern, bukan cuma anak-anak kita yang bangga, tapi juga dunia yang ternganga.

Ekonomi kreatif bukan cuma tentang membuat karya, tapi juga membuka jalan jalan ke panggung dunia, ke dompet rakyat, bahkan ke hati investor. Kalau ini terus kita dukung, bukan tidak mungkin di masa depan kita punya Broadway versi Nusantara dengan cerita yang lebih banyak makan sambal dan pakai batik, tapi bikin dunia kagum dan penonton tepuk tangan sambil bilang, “This is genius! I cried when the monkey sang!”

Maka mari kita jadikan budaya sebagai kendaraan ekonomi, bukan sekadar ornamen 17-an. Biar lutung tidak lagi kasarung, tapi jadi bintang yang bersinar bukan di pohon, tapi di panggung internasional. Dan kalau nanti kita melihat Lutung Kasarung tampil di New York, jangan lupa semua berawal dari cinta pada cerita sendiri, dan keberanian menjadikannya panggung dunia.

Dan terakhir, ingatlah pepatah baru dari rakyat Indonesia modern “Yang megang budaya, kelak akan megang dunia. Yang nonton sambil nyinyir, kelak tetap jadi penonton saja.”[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sore Ini Lawan Tuan Rumah SEA Games, Ujian Mental Garuda Nusantara

    Sore Ini Lawan Tuan Rumah SEA Games, Ujian Mental Garuda Nusantara

    • calendar_month Rabu, 10 Mei 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 3.897
    • 0Komentar

    Sore ini [rabu, 10/5/2023] Garuda Nusantara akan menghadapi tuan rumah SEA Games 2023, Kamboja. Laga Pamungkas tersebut merupakan salah satu ujian mental tim U-22. Meski sudah dipastikan lolos ke babak semifinal, Indonesia tetap ingin meraih hasil terbaik pada laga ini. Perjuangan tim U-22 akan digelar di Stadion Nasional Olimpiade, Phnom Penh itu menjadi modal percaya diri untuk […]

  • Pekan Depan FIFA Inspeksi Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring

    Pekan Depan FIFA Inspeksi Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring

    • calendar_month Kamis, 6 Feb 2020
    • account_circle Yosep Indra Praja
    • visibility 1.177
    • 0Komentar

    PELUANG Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring Palembang untuk menghelat tuan rumah Piala Dunia U20 pada tahun 2021 mendatang masih terbuka. Hal itu dibenarkan Ketua Asprov PSSI Sumsel H Ucok Hidayat. Pasalnya, Federasi Sepak Bola Internasional atau FIFA, akan melakukan inspeksi ke Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring (GSJ) Palembang pada Kamis (13/2/2020) nanti. FIFA diagendakan akan meninjau Stadion […]

  • Mahasiswa Unsri Bicara Geostatistik Lingkungan di Queen’s University Belfast – Irlandia Utara

    Mahasiswa Unsri Bicara Geostatistik Lingkungan di Queen’s University Belfast – Irlandia Utara

    • calendar_month Jumat, 6 Jul 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 923
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.ID, BELFAST – Muhammad Rifky mahasiswa Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya (Unsri), Kamis (5/6/2018) petang waktu Indonesia tampil sebagai pembicara pada “the 12th International Conference on Geostatistics for Environmental Applications” atau geoENV 2018 yang berlangsung Queen’s University Belfast, Irlandia Utara pada 4 – 6 Juli 2018. “Pada konferensi kemarin tentang Geostatistical Analysis on cleat […]

  • “Wak Bek & Mang Zenal, Dari Gandus yang Sunyi ke Pasar Modern Bikin Dompet Ikut Joget”

    “Wak Bek & Mang Zenal, Dari Gandus yang Sunyi ke Pasar Modern Bikin Dompet Ikut Joget”

    • calendar_month Minggu, 10 Agt 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.110
    • 0Komentar

    DI Gandus, Palembang, angin sore membawa kabar baru Pasar Modern Grand Citra Mandiri resmi dibuka oleh Gubernur Sumatera Selatan, H. Herman Deru. Wak Bek, yang biasanya cuma keluar rumah kalau ada undangan kawinan atau kabar dapur tetangga kebakaran, langsung melirik Mang Zenal yang lagi ngipasin diri di teras. “Eh, Zenal, katanya Gandus sekarang udah kayak […]

  • Pasangan Pengantin Akan Dapat Kartu Nikah Digital, Kapan Ya ?

    Pasangan Pengantin Akan Dapat Kartu Nikah Digital, Kapan Ya ?

    • calendar_month Jumat, 23 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 614
    • 0Komentar

    KEMENTERIAN Agama akan meluncurkan Kartu Nikah Digital. “Dalam waktu yang tidak terlalu lama, digitalisasi kartu nikah akan kita berikan kepada pasangan pengantin,” tutur Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah Kemenag Muharam Marzuki, di Jakarta, belum lama ini. Layanan ini, lanjut Muharam, diharap dapat memberikan kemudahan bagi masyarakat yang telah menikah. Kartu tersebut bisa langsung didapatkan […]

  • Raih 2 Penghargaan Top 21 Inovasi Pelayanan Publik 2020, Walkot Palembang : Komit Wujudkan Zero Anak Putus Sekolah & Entaskan Kemiskinan

    Raih 2 Penghargaan Top 21 Inovasi Pelayanan Publik 2020, Walkot Palembang : Komit Wujudkan Zero Anak Putus Sekolah & Entaskan Kemiskinan

    • calendar_month Rabu, 25 Nov 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.776
    • 0Komentar

    PEMERINTAH (Pemkot) Palembang meraih dua penghargaan Top 21 Inovasi Pelayanan Publik  dan  Pelayanan Publik  Penanganan Covid 19 Penanganan 2020 dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia. Dua penghargaan  yang diraih Pemkota Palembang itu, pertama yakni, Poltabes (Program Layanan Tidak  Boleh  Berhenti Sekolah ) melalui sekolah anak jalanan dan anak putus sekolah Kota […]

expand_less
WordPress Archive Snakepit – A Rock and Metal Oriented Music WordPress Theme Snapcase – Responsive WordPress Photoblog Theme SnapScan Payment Gateway For WooCommerce Snapster – Photography WordPress Snax – Viral Content Builder SNEWS | Eye-catching Magazine, Reviews & Newspaper WordPress Theme Sngine – The Ultimate PHP Social Network Platform Snow Mountain | Ski Resort & Snowboard School WP Snowy – Ski & Snowboarding Resort WordPress Theme SNS Anton - Furniture WooCommerce WordPress Theme