Menag: Al-Qur’an Bukan Hanya Dilagukan, tapi Dihayati sebagai “Kitab Modern” Penuntun Zaman
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemenag.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan peserta Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) VIII Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) Tingkat Nasional 2026 agar tidak berhenti pada keindahan membaca Al-Qur’an.
Pesan itu disampaikan Nasaruddin saat membuka MTQ VIII Korpri Tingkat Nasional 2026 di Makassar, Senin (24/8/2026). Baginya, kemampuan melantunkan ayat dengan suara merdu bukan satu-satunya ukuran dari sebuah MTQ.
Lebih jauh, ia ingin peserta benar-benar memahami pesan yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan membawanya ke dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita datang di sini bukan hanya untuk memperlombakan suara-suara yang sangat merdu, melainkan seberapa besar ayat demi ayat itu merasuk di dalam benak kita untuk kita jadikan suluh di dalam menjalani kehidupan kita di dunia ini,” ujar Nasaruddin.
Dari gagasan itu, Nasaruddin bahkan mendorong agar MTQ ke depan memiliki ruang perlombaan yang lebih luas. Ia membuka kemungkinan adanya cabang baru yang tidak hanya menguji kemampuan membaca, tetapi juga penghayatan dan pendalaman kandungan Al-Qur’an.
“Kalau perlu nanti ada tambahan perlombaan baru, penghayatan, pendalaman, bagaimana mengkaji ayat-ayat sains dalam Al-Qur’an,” katanya.
Usulan tersebut tak lepas dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Nasaruddin melihat kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), dapat membuka ruang baru untuk memahami ayat-ayat Al-Qur’an, terutama ayat kauniyah yang berkaitan dengan fenomena alam.
Menurut dia, selama ini perhatian terhadap Al-Qur’an masih banyak diarahkan pada ayat-ayat hukum. Padahal, terdapat banyak bagian lain yang bisa dikaji melalui beragam disiplin ilmu.
“Kita bangga dengan hadirnya AI, tapi AI ini justru semakin mengungkapkan rahasia-rahasia besar yang tersimpan di dalam Al-Qur’an,” ucapnya.
Nasaruddin menilai perkembangan teknologi justru bisa menjadi momentum untuk memperluas kajian terhadap Al-Qur’an. Semakin maju ilmu pengetahuan, menurut dia, semakin banyak pula ruang yang terbuka untuk memahami kandungan ayat-ayatnya.
Menag berharap MTQ tidak berhenti sebagai ajang mencari pemenang. Interaksi peserta dengan Al-Qur’an, kata dia, jauh lebih penting daripada sekadar hasil perlombaan.
“Di sini nanti tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah. Semuanya menjadi pemenang,” tuturnya.
Oleh sebab itu, Nasaruddin ingin Al-Qur’an tetap hadir sebagai pedoman di tengah perubahan zaman. Ia meminta masyarakat tidak hanya menikmati keindahan lantunan ayat, tetapi juga menggali manfaat dan pesan yang terkandung di dalamnya.
“Jangan hanya kita mengandalkan keindahan melagukan Al-Qur’an, tapi hayati, jiwai, dan lihat manfaatnya. Betapa Al-Qur’an itu benar-benar sebagai kitab modern, kitab penuntun zaman,” pesan Nasaruddin.
- Penulis: Irwan Wahyudi
