Jumat, 16 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Properti » Hunian Vertikal Gen Z, Gaya Hidup City Living Kekinian

Hunian Vertikal Gen Z, Gaya Hidup City Living Kekinian

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 10 Sep 2025
  • visibility 1.073
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PERNAH nggak sih, kamu lagi ngopi di lantai 20 apartemen terus mikir, “Wah, dari sini Jakarta kayak miniatur Monopoli.” Itulah sensasi city living ala hunian vertikal yang sekarang jadi incaran Generasi Z. Mereka lebih memilih view skyline daripada halaman belakang yang luas tapi penuh jemuran. Pertanyaannya, kenapa sih Gen Z kepincut sama hunian vertikal? Apakah biar keren di Instagram, atau memang solusi hidup di kota besar yang makin sempit kayak sisa gaji tanggal tua?

Dulu, rumah idaman orang tua kita sederhana, ada pagar, garasi buat mobil, plus halaman belakang buat nanam pohon mangga. Tapi sekarang, coba deh cari tanah kosong di pusat kota, susahnya kayak nyari charger Type-C di rumah kosan penuh colokan USB lawas. Lahan makin terbatas, harga tanah melambung, dan akhirnya hunian vertikal jadi jawaban.

Gen Z, dengan segala mobilitasnya, lebih memilih apartemen yang dekat transportasi publik daripada rumah tapak yang harus ditempuh dua jam pakai motor plus drama macet. Ibaratnya, mereka rela punya dapur mungil asal bisa berangkat kerja cuma 10 menit.

Hunian vertikal bukan cuma soal bangunan tinggi, tapi soal gaya hidup, bayangin kamu tinggal di apartemen yang punya gym, kolam renang, co-working space, dan kafe di lantai bawah. Jadi nggak perlu lagi ribet cari tempat nongkrong, cukup turun lift, langsung bisa update story dengan caption “Ngopi di lantai 1, view rooftop.”

Gen Z suka efisiensi, waktu adalah aset paling berharga, mereka lebih memilih bayar service charge bulanan tapi punya fasilitas lengkap daripada harus keluar bensin, bayar parkir, dan macet-macetan buat cari hiburan di luar. Fenomena ini bukan cuma terjadi di Jakarta atau Bandung, di luar negeri, konsep hunian vertikal untuk anak muda sudah jadi budaya.

Contohnya Tokyo, Jepang, anak muda di Shibuya atau Shinjuku banyak memilih apartemen studio mungil, ruangannya kecil, tapi lokasinya strategis banget, mereka rela tinggal di ruang 18 meter persegi asal bisa jalan kaki ke kantor atau stasiun kereta.

Singapura, pemerintah lewat HDB (Housing Development Board) sukses bikin jutaan warga termasuk generasi mudanya tinggal di apartemen vertikal dengan harga terjangkau. Fasilitasnya lengkap, mulai dari food court sampai taman, bikin hidup nyaman meski tinggal di “kotak beton”.

New York City, AS, Gen Z di Brooklyn atau Manhattan lebih suka nyewa atau beli unit kecil di gedung tinggi. Alasannya sederhana, biar dekat dengan subway, kantor, dan… Starbucks tiap dua blok. Mereka tahu, hidup di kota besar berarti kompromi, lebih kecil ruang pribadi, tapi lebih besar akses ke kesempatan.

Program FLPP

Nah, pola ini mirip dengan yang mulai direncanakan pemerintah lewat program FLPP di Indonesia guna mendorong generasi muda supaya nyaman dengan rumah vertikal, bukan cuma mimpi rumah tapak yang makin susah dicapai.

Masalahnya, banyak Gen Z sering dihantui kalimat “Gaji UMR, tapi cita-cita tinggal apartemen premium”, di sinilah program pemerintah kayak FLPP masuk sebagai juru selamat. Dengan DP cuma 1%, anak muda udah bisa punya hunian vertikal subsidi. Kalau harga unit Rp185 juta, DP-nya cuma Rp1,85 juta lebih murah dari harga iPhone baru!

Tinggal pilih, mau update status “Punya rumah vertikal pertama” atau “Cicilan gadget terbaru.” Dua-duanya keren, tapi satu lebih tahan lama dan bisa diwariskan. Moral of the story rumah itu aset, bukan sekadar konten.

Hunian vertikal sekarang juga mulai dipoles dengan teknologi smart home, dari kunci pintu digital, lampu bisa dikontrol lewat HP, sampai aplikasi buat bayar iuran. Gen Z yang sudah akrab dengan segala macam aplikasi tentu merasa ini kayak main game The Sims versi nyata. Bedanya, kalau di game lupa bayar listrik tinggal restart, kalau di dunia nyata, ya siap-siap gelap-gelapan.

Tapi intinya, teknologi ini bikin mereka betah tinggal di apartemen, nggak cuma modern, tapi juga efisien.

Tentu saja, masih ada pro kontra, ada yang bilang hunian vertikal bikin hubungan sosial dingin karena nggak ada tetangga yang suka nyapa di pagar. Tapi coba dipikir lagi, Gen Z justru lebih suka interaksi di dunia digital daripada gosip pagar depan rumah. Jadi jangan heran kalau mereka lebih nyaman “halo-halo” lewat grup WhatsApp apartemen daripada ngobrol tatap muka di warung.

Hunian vertikal buat Gen Z bukan cuma atap buat berteduh, ini simbol cara hidup baru, cepat, praktis, efisien, dan terkoneksi. Mereka nggak lagi mengejar rumah luas di pinggiran, tapi lebih ke hunian yang dekat dengan pusat aktivitas, transportasi, dan punya fasilitas gaya hidup.

Pesannya sederhana, jangan takut punya rumah vertikal, karena rumah itu bukan soal besar atau kecil, melainkan bagaimana kita mengisinya dengan cerita, mimpi, dan masa depan.

Hunian vertikal adalah jawaban zaman ketika lahan semakin terbatas, harga tanah melambung, dan gaya hidup Gen Z makin dinamis. Dari Tokyo sampai New York, generasi muda sudah membuktikan bahwa apartemen mungil di pusat kota lebih berharga daripada rumah luas di pinggiran yang bikin hidup habis di jalan.

Jadi, buat kamu yang masih galau mendingan terus ngekos sambil update story di rooftop orang lain, atau mulai cicil hunian vertikal sendiri dan bikin cerita baru dari balkonmu?

Ingat!, apartemen bukan sekadar gedung tinggi, aa adalah simbol bahwa generasi muda siap menatap masa depan dari ketinggian secara harfiah maupun finansial.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • “Prangko Balikan Sama Bangsa, Surat Cinta dari Zaman Amplop”

    “Prangko Balikan Sama Bangsa, Surat Cinta dari Zaman Amplop”

    • calendar_month Selasa, 21 Okt 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.646
    • 0Komentar

    ZAMAN sekarang, anak muda pacaran cukup kirim emoji atau stiker kucing peluk bantal, dulu? Cinta itu dikirim lewat amplop, ditempel prangko, dilempar ke kotak surat, terus harap-harap cemas kayak nelayan nunggu umpan dimakan ikan. Nah, siapa sangka, prangko, si kecil bergigi pinggir ini tiba-tiba comeback!, dan bukan comeback kaleng-kaleng, tapi dibuka langsung oleh Menteri Kebudayaan […]

  • Gubernur Ingatkan Kepala Daerah Harus Angkat Ciri Khas Daerah Untuk Dijadikan Ikon

    Gubernur Ingatkan Kepala Daerah Harus Angkat Ciri Khas Daerah Untuk Dijadikan Ikon

    • calendar_month Senin, 1 Feb 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.192
    • 0Komentar

    Gubernur Sumatera Selatan H Herman Deru mengingatkan kepala daerah mengangkat ciri khas daerah untuk dijadikan Ikon.   Gubernur menginstruksikan para kepala daerah ditingkat  Kabupaten/kota di Bumi Sriwijaya  untuk dapat memprioritaskan mengangkat potensi daerah setempat menjadi Ikon  andalan, kata dia saat menerima Bupati Empat Lawang, Senin. Hal ini penting karena  terkait dengan  jumlah anggaran yang akan dialokasikan Pemprov Sumsel kedaerah […]

  • Bukan Sukawinatan, Truk Sampah Palembang Kini Punya Tujuan Baru

    Bukan Sukawinatan, Truk Sampah Palembang Kini Punya Tujuan Baru

    • calendar_month Senin, 28 Sep 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 24
    • 0Komentar

    ADA yang berubah dari perjalanan sampah di Kota Palembang, lantaran truk-truk pengangkut sampah yang selama ini identik dengan perjalanan menuju tempat pembuangan akhir, Saat ini secara bertahap memiliki tujuan baru. Sebagian sampah yang sebelumnya dibawa ke TPA Sukawinatan mulai diarahkan ke sebuah fasilitas di kawasan Keramasan, Kecamatan Kertapati. Di sana, sampah tidak cukup diturunkan lalu ditinggalkan. […]

  • Muba, Tekonfirmasi Positif Covid-19  Hari Ini  2 Orang

    Muba, Tekonfirmasi Positif Covid-19 Hari Ini 2 Orang

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.212
    • 0Komentar

    TIM Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) merilis data, bahwa hari ini (9/5) terkonfirmasi  dua kasus PDP Positif Covid-19, bertambahnya dua kasus ini menambah daftar kasus di Daerah Kita Musi Banyuasin  penularan Covid-19  dengan total menjadi 4 orang tetapi dari Total 4 orang tersebut Kasus 01 telah dinyatakan Sembuh dan telah kembali kerumah […]

  • Pemprov Sumsel Salurkan Anggaran untuk Pembangunan Infrastruktur di Empat Lawang Senilai Rp144 Miliar

    Pemprov Sumsel Salurkan Anggaran untuk Pembangunan Infrastruktur di Empat Lawang Senilai Rp144 Miliar

    • calendar_month Minggu, 27 Sep 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.193
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Prov.Sumsel menyalurkan dana senilai Rp144 miliar untuk pembangunan infrastruktur di Kabupaten Empat Lawang.Dana senilai Rp144 miliar itu dipergunakan untuk pembangunan Stadion Mini senilai Rp9 miliar, sementara Rp134 miliar untuk pembangunan dan peningkatan infrastruktur jalan dan jembatan. “Ada Rp144 miliar dan provinsi yang diberikan untuk kabupaten ini. Namun, saya rasa itu belum cukup dibanding dengan […]

  • Gubernur Tinjau Vaksinisasi, Bangkitkan Ekonomi, Pemprov Gencarkan Vaksinasi Bagi Pelaku Usaha Digencarkan 

    Gubernur Tinjau Vaksinisasi, Bangkitkan Ekonomi, Pemprov Gencarkan Vaksinasi Bagi Pelaku Usaha Digencarkan 

    • calendar_month Kamis, 9 Sep 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 608
    • 0Komentar

    GUBERNUR Sumatera Selatan (Sumsel) H Herman Deru meninjau langsung pelaksanaan vaksinasi covid 19 bagi 4400  masyarakat Sumsel yang digelar di Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Palembang, Kamis (9/9). Dimana vaksinasi yang di fasilitasi oleh Poltekpar Palembang tersebut  bekerjasama dengan Gojek Indonesia itu diberikan untuk para driver Gojek di Sumsel baik pengemudi ojek online roda dua maupun roda […]

expand_less
WordPress Archive Responsive Zoom In/Out Slider WordPress Plugin REST API Module for Worksuite SAAS CRM Resta – Restaurant Elementor Template Kit Restate – Construction Builder Elementor Template Kit Restaurant WP – Responsive WooCommerce Theme Restoca – Restaurant & Cafe Elementor Template Kit Restorja – Restaurant & Food Elementor Template Kit Restrict Content By Token For Walogin (WordPress & WooCommerce) Restrict Content for Elementor Restrict Content Pro