Literasi Keuangan Generasi Muda, Jangan Buru-buru Investasi Sebelum Punya 5 Hal Ini
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 28 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ilutrasi/OJK
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Investasi sekarang bukan lagi sesuatu yang terdengar asing bagi anak muda. Cukup membuka media sosial, berbagai ajakan membeli saham, reksa dana, aset digital, hingga produk investasi lainnya bisa muncul hampir setiap hari.
Masalahnya, mudahnya akses investasi justru bisa membuat orang terburu-buru memasukkan uang ke sebuah produk tanpa benar-benar memahami apa yang dibeli.
Ada yang ikut karena melihat teman mendapat keuntungan. Ada yang takut ketinggalan tren. Ada pula yang tergoda janji hasil besar dalam waktu singkat.
Padahal, sebelum bicara soal investasi, ada pertanyaan yang jauh lebih penting: seberapa siap kondisi keuangan sendiri?
Literasi keuangan generasi muda bukan sekadar kemampuan mengenali produk investasi. Yang tidak kalah penting adalah kemampuan mengatur uang, membaca risiko, dan mengambil keputusan tanpa sekadar ikut-ikutan.
Setidaknya ada lima hal yang perlu dimiliki sebelum mulai berinvestasi.
1. Tahu ke mana uang pergi
Punya penghasilan bukan berarti otomatis mampu mengelola keuangan.
Langkah pertama justru sederhana: ketahui berapa uang yang masuk dan ke mana saja uang tersebut keluar.
Pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari perlu dibedakan dari keinginan. Dari sini baru terlihat apakah memang ada dana yang bisa disisihkan untuk investasi.
Jangan sampai uang untuk makan, membayar kebutuhan rutin, atau kewajiban lainnya justru digunakan mengejar keuntungan investasi.
Investasi seharusnya menjadi bagian dari perencanaan keuangan, bukan alasan untuk mengorbankan kebutuhan yang lebih penting.
2. Dana darurat jangan dilupakan
Keuntungan investasi memang menarik, tetapi kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Kebutuhan mendadak bisa muncul kapan saja. Karena itu, dana darurat menjadi salah satu fondasi yang perlu disiapkan sebelum terlalu agresif mengejar investasi.
Tanpa dana cadangan, seseorang bisa terpaksa menjual investasi ketika sedang membutuhkan uang.
Kondisi seperti itu tentu berbeda dengan investasi menggunakan dana yang memang sudah disiapkan untuk tujuan jangka panjang.
Jadi, jangan buru-buru bertanya, “Investasi apa yang paling menguntungkan?”
Pertanyaan awalnya justru, “Kalau besok ada kebutuhan mendadak, saya punya uang cadangan atau tidak?”
3. Investasi harus menggunakan uang dingin
Istilah uang dingin sering muncul ketika membahas investasi. Sederhananya, uang tersebut bukan uang yang masih dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan penting dalam waktu dekat.
Konsep ini penting bagi investor pemula karena nilai investasi dapat bergerak naik dan turun.
Kalau uang yang digunakan sebenarnya masih diperlukan untuk membayar kebutuhan sehari-hari, tekanan ketika nilai investasi turun bisa membuat keputusan menjadi semakin buruk.
Karena itu, jangan memaksakan investasi hanya karena ingin terlihat sudah mulai membangun aset.
Kemampuan investasi bukan diukur dari seberapa cepat seseorang membeli produk keuangan, tetapi dari seberapa siap ia menanggung risikonya.
4. Jangan biarkan FOMO mengatur uang
Salah satu jebakan terbesar bagi anak muda datang dari media sosial.
Ketika seseorang memamerkan keuntungan investasinya, muncul dorongan untuk ikut. Ketika sebuah produk ramai dibicarakan, muncul kekhawatiran akan kehilangan kesempatan.
Inilah yang dikenal sebagai Fear of Missing Out atau FOMO.
OJK mengingatkan bahwa generasi muda rentan mengambil keputusan investasi secara impulsif karena mengikuti tren. Anggota Komisi XI DPR RI Annisa M. A. Mahesa juga menyoroti kerentanan anak muda terhadap FOMO dan aktivitas keuangan ilegal.
Masalahnya, orang yang menunjukkan keuntungan belum tentu menunjukkan seluruh risiko yang dihadapinya.
Karena itu, jangan menjadikan unggahan media sosial sebagai satu-satunya dasar mengambil keputusan finansial.
Cari informasi. Pahami produknya. Kenali risikonya. Dan yang paling penting, sesuaikan dengan kondisi keuangan sendiri.
Apa yang cocok untuk orang lain belum tentu cocok untuk kita.
5. Pastikan produknya legal dan masuk akal
Semakin mudah layanan keuangan diakses secara digital, semakin besar pula peluang masyarakat berhadapan dengan berbagai modus penipuan.
Phishing, tautan palsu, akun media sosial yang menyamar sebagai lembaga keuangan, investasi ilegal, pinjaman online ilegal hingga penyamaran sebagai petugas lembaga keuangan merupakan sejumlah modus yang perlu diwaspadai.
Karena itu, jangan hanya melihat angka keuntungan yang ditawarkan.
Ada dua hal sederhana yang perlu diingat: legal dan logis.
Pastikan pihak yang menawarkan produk memang memiliki legalitas sesuai ketentuan. Setelah itu, pikirkan apakah tawaran tersebut masuk akal.
Kalau keuntungan yang dijanjikan terdengar terlalu indah untuk menjadi kenyataan, justru saat itulah kewaspadaan harus dinaikkan.
Akses keuangan sudah tinggi, tapi literasinya belum sejalan
Tantangan literasi keuangan bukan sekadar anggapan.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang diselenggarakan OJK bersama Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia tercatat 69,57 persen.
Sementara itu, indeks inklusi keuangan sudah mencapai 93,61 persen.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat sudah semakin mudah mengakses produk dan layanan jasa keuangan, tetapi kemampuan memahami dan menggunakannya secara tepat masih perlu diperkuat.
Kondisi tersebut juga terlihat pada kelompok pelajar dan mahasiswa.
SNLIK 2026 mencatat indeks literasi keuangan pelajar dan mahasiswa berada di angka 62,72 persen, sedangkan indeks inklusi keuangannya mencapai 92,76 persen.
Artinya, aksesnya sudah tinggi, tetapi tingkat literasinya masih berada di bawah angka nasional.
Di sinilah persoalannya.
Bisa mengakses produk keuangan tidak otomatis berarti bisa menggunakannya dengan benar.
OJK dorong anak muda lebih siap menghadapi dunia keuangan
Penguatan kemampuan finansial generasi muda menjadi salah satu perhatian OJK melalui program Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT).
Program tersebut kembali digelar di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Selasa (8/9), melalui LIKE IT Series #6 tahun 2026 dengan tema Money Moves: Invest Today, Build Your Future.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku, Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK Dicky Kartikoyono menekankan bahwa kedekatan generasi muda dengan teknologi digital tidak otomatis membuat mereka memiliki kecakapan finansial.
Menurut Dicky, semakin mudah akses terhadap produk dan layanan keuangan, semakin besar pula kebutuhan masyarakat untuk memahami risiko dan meningkatkan kualitas pengambilan keputusan.
Ia menyederhanakan prinsip pengelolaan keuangan menjadi tiga kata: kelola, lindungi, dan tumbuhkan.
Uang perlu dikelola sebelum justru mengendalikan pilihan. Aset yang sudah dimiliki perlu dilindungi dengan memastikan produk yang digunakan legal dan masuk akal. Setelah itu, aset dapat ditumbuhkan berdasarkan tujuan yang jelas.
Bukan cuma soal investasi
Gubernur Banten Andra Soni menilai penguatan literasi keuangan bagi generasi muda tidak cukup diarahkan agar mereka siap memasuki dunia kerja.
Anak muda juga perlu memiliki kemampuan mengelola penghasilan, membangun usaha, berinvestasi, sekaligus melindungi diri dari kejahatan keuangan.
Perkembangan teknologi digital membuat transaksi keuangan menjadi semakin praktis. Namun, kemudahan tersebut harus diimbangi pengetahuan dan kehati-hatian.
Sementara itu, Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Muhammad Ishom mengapresiasi kegiatan edukasi keuangan yang menyasar mahasiswa.
Pesannya sederhana: semakin luas pilihan produk keuangan yang tersedia, semakin penting pula kemampuan untuk memahami sebelum menggunakan.
Mulai dari mengatur uang, bukan mengejar tren
Kebiasaan finansial yang sehat tidak harus dimulai dengan nominal besar.
Bisa dimulai dengan mencatat pengeluaran. Menyisihkan uang secara rutin. Menyiapkan dana darurat. Menghindari utang konsumtif. Kemudian mempelajari produk investasi sebelum mengeluarkan uang.
Investasi boleh menjadi bagian dari rencana membangun masa depan.
Namun, jangan sampai keinginan mengejar keuntungan membuat fondasi keuangan justru rapuh.
LIKE IT sendiri telah berjalan sejak 2021 sebagai kolaborasi Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Bank Indonesia, OJK, dan LPS untuk mendorong peningkatan literasi keuangan.
Dalam kegiatan di Banten tersebut, sebanyak 1.000 mahasiswa dari civitas academica UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten dan sejumlah perguruan tinggi lainnya mengikuti kegiatan secara langsung. Sebanyak 2.473 mahasiswa dan masyarakat umum lainnya mengikuti kegiatan melalui siaran langsung YouTube OJK.
Pada akhirnya, membangun masa depan finansial bukan soal siapa yang paling cepat berinvestasi.
Yang lebih penting adalah siapa yang paling siap memahami uangnya sendiri, menghitung risikonya, dan tidak mudah mengambil keputusan hanya karena ikut tren.
Sebab sebelum uang ditumbuhkan, uang harus lebih dulu dikelola dan dilindungi. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
