Monyet Ekor Panjang Serang Warga Tembilahan, BBKSDA Riau Ungkap Pola Serangan
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Serangan Monyet Ekor Panjang di Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, membuat 19 warga mengalami luka. BBKSDA Riau yang turun menangani konflik satwa liar ini menduga aksi tersebut dilakukan satu individu monyet dewasa dan kini tengah mengungkap pola serangan satwa tersebut.
Konflik antara warga dan satwa liar itu terjadi di sejumlah kawasan di Kelurahan Tembilahan Kota, Kecamatan Tembilahan, yakni Parit 12, Parit 13, Parit 14, dan Parit 15, Jalan Malagas. Laporan pertama diterima pada 23 Juli 2026, dan hingga 5 Agustus 2026 tercatat sebanyak 19 warga mengalami luka akibat serangan.
Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) BBKSDA Riau Bidang KSDA Wilayah I yang melakukan pemantauan di lokasi menduga serangan tersebut berasal dari satu individu Monyet Ekor Panjang dewasa berjenis kelamin jantan.
Satwa tersebut memiliki ciri khusus berupa bekas luka pada bagian pipi. Ciri itu menjadi salah satu petunjuk bagi petugas untuk mengenali individu yang diduga terlibat dalam konflik dengan masyarakat.
Dari hasil pengamatan sementara, serangan umumnya terjadi ketika korban berada seorang diri atau dalam kondisi lengah. Satwa diduga mendekati korban dan melakukan gigitan pada bagian kaki sebelum kemudian meninggalkan lokasi.
Kepala Balai Besar KSDA Riau, Supartono, mengatakan penanganan konflik satwa liar harus dilakukan secara terukur dengan melibatkan berbagai pihak. Keselamatan masyarakat menjadi perhatian utama, namun upaya penyelesaian tetap harus memperhatikan prinsip-prinsip konservasi.
“Keselamatan masyarakat merupakan prioritas utama dalam setiap penanganan konflik satwa liar. Namun demikian, upaya mitigasi juga harus tetap mengedepankan prinsip konservasi,” ujar Supartono.
Sebelum Tim WRU BBKSDA Riau turun melakukan penanganan, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) telah melakukan berbagai langkah untuk mengurangi risiko bertambahnya korban.
Penyisiran lokasi sebelumnya dilakukan dengan melibatkan unsur TNI, Polri, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, pemerintah kecamatan, kelurahan, relawan, serta masyarakat. Namun hingga kini individu satwa yang diduga menjadi penyebab konflik belum berhasil diamankan.
Dalam koordinasi terbaru bersama Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir dan pihak terkait, disepakati bahwa penanganan akan dilakukan dengan mengutamakan keselamatan warga sekaligus menjaga agar proses evakuasi satwa tetap sesuai prinsip konservasi.
BBKSDA Riau menyiapkan langkah lanjutan, termasuk penggunaan kandang perangkap apabila individu satwa berhasil diidentifikasi dan dievakuasi secara aman.
Masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di lokasi yang menjadi jalur pergerakan satwa. Warga juga diimbau tidak memberikan pakan kepada satwa liar maupun melakukan tindakan yang dapat membahayakan manusia dan satwa.
Apabila menemukan Monyet Ekor Panjang dengan ciri bekas luka pada bagian pipi, masyarakat diminta segera melaporkan kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan dengan tepat. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
