Gempa Flores M7,7, Peringatan Tsunami Berakhir, Warga Diminta Tetap Tenang
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 21 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : blmg.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Warga di sejumlah wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), diminta tetap tenang setelah peringatan dini tsunami akibat gempa M7,7 dinyatakan berakhir pada Sabtu (15/8/2026) pukul 07.30 WIB. BMKG masih meminta masyarakat waspada karena aktivitas gempa susulan belum berhenti.
Gempa kuat mengguncang wilayah Flores pada pukul 04.58 WIB. Guncangan tersebut sempat memicu tsunami yang terpantau di sejumlah pesisir, dengan gelombang tertinggi mencapai 0,94 meter di Maurole, Ende, pada pukul 05.27 WIB.
Selain Maurole, gelombang tsunami juga tercatat di Sikka 0,20 meter, Pelabuhan Kewapante-Sikka 0,38 meter, Flores Timur 0,25 meter, Labuan Bajo 0,36 meter, Dompu 0,17 meter, Bakalang-Alor 0,14 meter, Baubau 0,30 meter, Bulukumba 0,54 meter, dan Kolaka 0,23 meter.
BMKG kemudian menyatakan ancaman tsunami telah berakhir setelah hasil pemantauan menunjukkan tidak ada lagi kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di pesisir terdampak.
Hasil pemutakhiran parameter menunjukkan gempa tersebut berpusat di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, NTT. Episenter berada pada koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur Timur dengan kedalaman 15 kilometer.
BMKG mengidentifikasi gempa terjadi akibat aktivitas Flores Back-Arc Thrust dengan mekanisme sesar naik atau thrust fault. Kondisi tersebut menyebabkan guncangan kuat di sejumlah wilayah.
Intensitas VI MMI tercatat di Wolowae, Kabupaten Nagekeo, dan Kota Bajawa. Sementara itu, masyarakat di Kota Ende, Borong, serta Ruteng merasakan guncangan hingga intensitas V MMI.
Dampak guncangan juga terlihat pada sejumlah bangunan. Beberapa bagian tembok rumah sederhana dilaporkan roboh di Maumere, Manggarai Barat, dan Labuan Bajo. Kerusakan juga terjadi pada fasilitas Pelabuhan Maumere serta bangunan Hotel Jayakarta Bajo.
BNPB melaporkan dua orang meninggal dunia dalam kejadian tersebut. Data mengenai korban maupun kerusakan masih diverifikasi bersama BMKG, BPBD, pemerintah daerah, dan instansi terkait.
Di sisi lain, gempa susulan masih terjadi setelah gempa utama. Hingga pukul 07.07 WIB, BMKG mencatat 37 aktivitas gempa susulan dengan magnitudo antara 3,6 hingga 6,2. Satu gempa susulan dilaporkan dirasakan masyarakat.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan Flores Back-Arc Thrust memiliki potensi gempa maksimum sekitar M7,8 hingga M7,9. Kawasan tersebut juga memiliki catatan gempa besar sebelumnya, termasuk gempa M7,5 pada 1992 yang menimbulkan kerusakan dan tsunami.
BMKG meminta masyarakat tidak panik dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Warga yang berada di sekitar bangunan rusak diminta menjauh dan tidak memaksakan diri masuk sebelum kondisi bangunan dipastikan aman.
Masyarakat juga diminta tetap waspada terhadap gempa susulan serta mengikuti perkembangan informasi melalui kanal resmi BMKG. Pemantauan aktivitas gempa dan kondisi tinggi muka laut masih dilakukan secara real-time. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
