PM2.5 Palembang Tembus 409,2, Hotspot Sumsel Naik 38 Titik
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Minggu, 27 Sep 2026
- visibility 28
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto ;sy
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kualitas udara Palembang kembali menunjukkan kondisi yang perlu diwaspadai pada Minggu (27/9/2026).
Data BMKG mencatat konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 di Talang Betutu, Palembang, mencapai 409,2 mikrogram per meter kubik pada pukul 06.00 WIB. Angka tersebut masuk kategori berbahaya.
Kondisi ini terjadi ketika aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian di Sumatera Selatan. Data terbaru Kementerian Kehutanan menunjukkan jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence di Sumsel mengalami kenaikan.
Berdasarkan pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan hingga Sabtu (26/9) pukul 21.15 WIB, Sumatera Selatan tercatat memiliki 38 hotspot high confidence, meningkat dibandingkan sehari sebelumnya yang berada di angka 17 titik.
Secara nasional, Kementerian Kehutanan mencatat 331 hotspot high confidence, naik dari 213 titik pada hari sebelumnya.
Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa hotspot tidak bisa langsung disamakan dengan jumlah kebakaran maupun luas lahan yang terbakar. Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang dideteksi satelit, sehingga setiap titik tetap membutuhkan verifikasi di lapangan. Satu kejadian kebakaran juga dapat menghasilkan lebih dari satu hotspot.
PM2.5 Tinggi, Langit Tak Selalu Tampak Berkabut
Tingginya konsentrasi PM2.5 tidak selalu membuat kondisi langit terlihat gelap atau berkabut dari permukaan.
Partikel asap dapat berpindah mengikuti arah angin dan kondisi atmosfer. Karena itu, kondisi langit yang terlihat cukup terang tidak otomatis berarti konsentrasi partikulat di udara rendah.
Dalam laporan Kementerian Kehutanan berdasarkan pantauan meteorologi penerbangan BMKG, Palembang pada pengamatan dini hari tercatat berawan dengan jarak pandang sekitar 7 kilometer.
Kondisi ini menjelaskan jarak pandang dan konsentrasi PM2.5 merupakan indikator yang berbeda. Jarak pandang yang masih relatif baik tidak serta-merta berarti kualitas udara bebas dari partikulat halus.
Sementara itu, data BMKG pada pukul 06.00 WIB menunjukkan PM2.5 Talang Betutu berada di angka 409,2 µg/m³, jauh di atas ambang kategori berbahaya yang ditetapkan BMKG, yakni lebih dari 250,5 µg/m³.
Penanganan Karhutla Terus Diperkuat
Kementerian Kehutanan menyebut pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara untuk mendukung operasi karhutla.
Armada tersebut terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta 44 unit untuk operasi water bombing. Sebanyak 55 unit ditempatkan untuk mendukung enam provinsi prioritas pengendalian karhutla.
Operasi di lapangan dilakukan bersama unsur terkait melalui patroli, groundcheck, pemadaman, penyekatan penjalaran api, pembasahan hingga pendinginan.
Perhatian juga diberikan terhadap lahan gambut. Kementerian Kehutanan mengingatkan bara api dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali menyala ketika kondisi lahan mengering dan angin menguat.
Masyarakat di wilayah terdampak diminta terus memantau perkembangan kualitas udara. Ketika kondisi udara memburuk, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi dan masker digunakan apabila harus beraktivitas di luar.
Masyarakat juga diingatkan untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau aktivitas pembakaran.
Dengan PM2.5 Palembang mencapai 409,2 µg/m³ dan hotspot high confidence Sumsel meningkat menjadi 38 titik, kondisi kualitas udara serta perkembangan karhutla masih perlu dipantau secara berkala. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
