DI Tangga Takat itu tak jauh beda dari pasar kaget ramai, riuh, dan penuh harap. Bedanya, yang diburu bukan diskon besar-besaran, tapi sebungkus takjil untuk berbuka.
Sejak matahari masih tinggi, warga sudah berdatangan ke kawasan Jalan KH Azhari. Ada yang santai, ada yang pasang strategi. Yang datang cepat pilih posisi, yang telat mulai melirik celah. Ramadan memang selalu punya cerita antre sendiri kadang sederhana, tapi selalu menarik.
Program berbagi takjil yang digelar Lazisnu PWNU Sumsel ini jadi magnet.
Gratis? Iya. Tapi lebih dari itu, ini soal momentum pulang kerja, perut mulai protes, lalu melihat ada harapan di ujung jalan.
Yang menarik, antrean di sini bukan cuma soal siapa cepat. Ada ibu-ibu yang rela mundur sedikit, kasih jalan ke anak kecil. Ada juga bapak-bapak yang pura-pura santai padahal matanya fokus ke arah pembagian.
Semua seperti ikut ‘ritual takjil’ tahunan yang tak pernah benar-benar tertulis.
Di sisi lain, relawan bergerak cepat, bungkusan demi bungkusan berpindah tangan, seperti estafet kecil yang tak boleh putus.
Mereka bukan sekadar membagikan makanan, tapi menjaga ritme biar semua kebagian, biar tak ada yang pulang dengan wajah kecewa.
Menariknya lagi, kegiatan seperti ini selalu punya dua lapis cerita.
Di permukaan, ini soal takjil gratis. Tapi di balik itu, ada realita yang tak bisa diabaikan masih banyak warga yang sangat terbantu dengan hal sesederhana ini. Bukan karena tak mampu sepenuhnya, tapi karena hidup di kota memang penuh hitung-hitungan.
“Lumayan, buat buka puasa hari ini,” kata seorang warga singkat. Kalimat sederhana, tapi cukup menjelaskan banyak hal.
Di tengah keramaian itu, sesekali terdengar candaan. Ada yang nyeletuk soal antrean, ada yang membandingkan dengan tahun lalu. Suasananya cair, tak tegang. Justru di situlah letak kehangatannya orang-orang yang mungkin tak saling kenal, tapi sore itu berdiri dalam kebutuhan yang sama.
Fenomena antre takjil ini seperti potret kecil kehidupan kota, ada strategi, ada solidaritas, ada juga sedikit kompetisi.
Tapi semuanya dibungkus dalam suasana Ramadan yang membuat segalanya terasa lebih ringan.
Dan ketika azan magrib akhirnya terdengar, antrean itu perlahan bubar. Warga pulang dengan bungkusan di tangan, dan mungkin sedikit cerita untuk dibawa pulang.
Karena pada akhirnya, yang dibawa bukan cuma takjil. Tapi juga pengalaman tentang bagaimana satu sore sederhana di Tangga Takat bisa mempertemukan banyak cerita dalam satu antrean.
Walikota Palembang Ratu Dewa turut mengapresiasi inisiatif berbagi tersebut.
Ia menyebut kegiatan seperti ini bukan hanya membantu warga yang membutuhkan, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan di tengah masyarakat selama Ramadan.
Karena pada akhirnya, yang dibawa pulang bukan cuma takjil. Tapi juga pengalaman tentang bagaimana satu sore sederhana di Tangga Takat bisa mempertemukan banyak cerita dalam satu antrean.(***)