Anak Krakatau Belum Jinak, Abu Vulkanik Mulai Mengusik Langit dan Penerbangan
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 19 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : bnpb.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda belum sepenuhnya tenang. Aktivitas erupsi kembali tercatat pada Minggu pagi, sementara abu vulkanik terlepas dari aktivitas gunung terus dipantau, menyusul sudah masuk ke ruang udara dengan ketinggian puluhan ribu kaki.
Erupsi terbaru terjadi sekitar 07.10 WIB. Berdasarkan laporan PVMBG Badan Geologi, erupsi tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 50 milimeter dan berlangsung selama sekitar 16 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati karena kondisi visual gunung.
Sebelumnya, erupsi juga tercatat pada Minggu dini hari sekitar pukul 03.53 WIB dengan durasi sekitar 30 detik.
Aktivitas tersebut menjadi bagian dari rangkaian peningkatan erupsi Anak Krakatau yang terjadi sejak Jumat malam, 4 September 2026.
Abu Vulkanik Bergerak di Dua Ketinggian
Persoalan yang kini menjadi perhatian bukan hanya aktivitas di sekitar kawah.
Sebaran abu vulkanik justru menjadi salah satu dampak terbesar erupsi Anak Krakatau hari ini.
BMKG berdasarkan analisis citra satelit pada Minggu pukul 08.00 WIB menemukan dua klaster sebaran abu yang mencakup wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.
Abu pada ketinggian hingga 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan. Pergerakannya mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat dan perairan di sekitarnya.
Sementara pada lapisan yang lebih tinggi, hingga sekitar 50.000 kaki, abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut, mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, bagian selatan Selat Sunda hingga Samudra Hindia.
Perbedaan arah ini membuat dampak abu tidak selalu dirasakan di wilayah yang sama.
Di permukaan, warga bisa menemukan abu tipis di lingkungan sekitar. Namun di atasnya, partikel abu dapat bergerak mengikuti pola angin dan menjadi persoalan tersendiri bagi penerbangan.
Penerbangan Ikut Terdampak
Sebaran abu vulkanik membuat sejumlah bandara harus melakukan penyesuaian operasional.
BMKG menyebutkan berdasarkan NOTAM yang diterbitkan AirNav Indonesia, terdapat penutupan sementara operasional di Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II dan Budiarto pada waktu yang berbeda. Status operasional dapat berubah mengikuti perkembangan sebaran abu dan kondisi keselamatan penerbangan.
Dampaknya cukup besar.
Reuters melaporkan gangguan erupsi Anak Krakatau telah memengaruhi 301 penerbangan, termasuk 58 penerbangan internasional. Lima bandara dilaporkan terdampak dalam perkembangan tersebut.
Sebelumnya, penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta juga menyebabkan ratusan penumpang harus menunggu kepastian perjalanan. Laporan lain menyebut sedikitnya 209 penerbangan dengan sekitar 22.800 penumpang terdampak pada fase awal gangguan.
Angka itu menggambarkan dampak erupsi sudah bergerak jauh dari lokasi gunung.
Orang yang berada ratusan kilometer dari Anak Krakatau mungkin tidak melihat letusan secara langsung, tetapi rencana perjalanannya bisa berubah karena abu berada di jalur penerbangan.
BMKG Terus Perbarui Peringatan untuk Penerbangan
Sejak aktivitas erupsi meningkat, BMKG terus menerbitkan SIGMET atau peringatan meteorologi khusus untuk penerbangan.
Hingga Minggu, BMKG telah menerbitkan 50 SIGMET untuk memperbarui informasi mengenai pergerakan abu vulkanik di ruang udara.
Langkah itu penting, karena posisi abu dapat berubah mengikuti arah dan kecepatan angin pada lapisan atmosfer yang berbeda.
Sementara penerbangan, abu vulkanik tak debu biasa. Material tersebut dapat membahayakan mesin pesawat dan mengganggu visibilitas, sehingga keberadaannya di jalur penerbangan harus diperhitungkan secara serius.
Sehingga penutupan sementara bandara bukan berarti bandara mengalami kerusakan. Kebijakan merupakan langka baik guna keselamatan ketika ruang udara dinilai belum aman untuk operasi penerbangan.
Bagaimana Kondisi Anak Krakatau Sekarang?
Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. Masyarakat maupun wisatawan diminta tidak mendekati kawah aktif dalam radius 3 kilometer.
Status ini menjadi penting karena aktivitas gunung masih dinamis. Erupsi yang terjadi pagi ini menunjukkan bahwa meskipun intensitas dapat berubah, aktivitas Anak Krakatau belum dapat dianggap selesai.
Badan Geologi sebelumnya juga mencatat adanya aktivitas visual berupa lontaran material pijar dan fenomena lava fountain selama periode peningkatan erupsi.
Tidak Ada Indikasi Tsunami dari Pemantauan BMKG
Aktivitas Anak Krakatau kembali mengingatkan masyarakat pada tsunami Selat Sunda 2018. Namun berdasarkan pemantauan BMKG hingga pukul 07.00 WIB, sebanyak 20 sensor tsunami gauge di sekitar Selat Sunda tidak menunjukkan anomali muka air laut.
BMKG juga menyebutkan pemantauan radar HF di Carita dan Tanjung Lesung menunjukkan probabilitas tsunami pada saat itu berada pada tingkat rendah, di bawah 40 persen, dengan tinggi gelombang laut sekitar satu meter.
Dengan demikian, hingga pembaruan tersebut belum ada indikasi tsunami yang berkaitan dengan aktivitas Anak Krakatau. Masyarakat tetap diminta waspada dan mengikuti informasi resmi, terutama yang tinggal atau beraktivitas di sepanjang pesisir Selat Sunda.
Warga Diminta Tidak Panik
Sebaran abu membuat masyarakat di sejumlah wilayah perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika abu mulai turun atau udara terlihat berkabut.
Masker dapat digunakan ketika berada di luar ruangan. Pelindung mata juga diperlukan apabila abu cukup pekat.
Masyarakat yang memiliki jadwal penerbangan hari ini sebaiknya mengecek kembali status penerbangannya melalui maskapai atau kanal resmi bandara sebelum berangkat.
Pasalnya, kondisi ruang udara masih dapat berubah mengikuti pergerakan abu vulkanik.
Anak Krakatau Belum Selesai
Erupsi pagi ini memperlihatkan aktivitas Anak Krakatau masih bergerak, yang berubah bukan hanya aktivitas di gunung, tetapi juga dampaknya.
Abu sudah terdeteksi di berbagai lapisan atmosfer, penerbangan terganggu, sejumlah bandara melakukan penutupan sementara, dan masyarakat di beberapa wilayah mulai berhadapan dengan abu vulkanik.
Sementara itu, pemantauan tsunami masih menunjukkan kondisi normal. Untuk saat ini, perhatian terbesar berada pada perkembangan aktivitas erupsi dan arah pergerakan abu vulkanik.
Selama dua hal tersebut masih berubah, situasi Anak Krakatau juga belum bisa dianggap benar-benar reda. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
