BENCANA datang tanpa bisa diprediksi, tanpa undangan, tanpa permisi, bahkan tanpa aba-aba. Terkadang hujan baru turun sebentar, sungai belum meluap, tetapi grup WhatsApp sudah lebih dulu dipenuhi pesan kepanikan. Ada yang mengirim foto banjir, menginformasikan bendungan jebol dan lain lainnya, sementara informasi yang di dapat tidak valid.
Nah, disinilah masalahnya, saat bencana datang, masyarakat harus bijaksana dalam hal menerima informasi.
Bencana yang ditambahkan atau dibumbui berita hoax, dampaknya bisa sangat bahaya, ibarat hujan deras ditambah atap bocor, lengkap sudah penderitaan.
Banyak orang mengira mitigasi bencana itu kerja petugas yang pakai rompi, helm, dan handy talky.
Warga cukup pasrah dan berdoa, padahal mitigasi justru dimulai dari rumah sendiri, dari kepala sendiri, dari kebiasaan sehari-hari yang sering dianggap sepele.
Mitigasi itu sederhananya begini, tahu risiko di sekitar kita. Tinggal dekat sungai, siap-siap banjir. Tinggal di lereng bukit, waspada longsor.
Di daerah yang rawan bencana, kesiapsiagaan adalah hal yang utama, ini bukan menakut-nakuti, tapi antisipasi sejak dini, supaya masyarakat bisa mengurangi dampaknya. Ibarat naik motor pakai helm, bisa lebih preventif jika mengalami kecelakaan
Oleh karena itu sebelum bencana datang, yang perlu disiapkan bukan hanya doa, namun juga tindakan supaya bisa meminimalisir adanya korban akibat bencana.
Dan yang tidak kalah penting, biasakan mengakses informasi dari sumber resmi seperti BPBD, BNPB, BMKG, atau pemerintah daerah, jangan cuma percaya begitu saja karena di era digital, kepanikan sering viral lebih cepat dari pada klarifikasi.
Bencana Datang, Akal Sehat Jangan Pulang
Jadi seandainya bencana benar-benar terjadi, panik itu manusiawi, namun panik berlebihan itu bisa berbahaya, kadang ada yang teriak tsunami padahal hanya ombak tinggi. Ada yang bilang gempa susulan pasti lebih besar, padahal belum tentu terjadi.
Dampak informasi liar seperti itu bikin orang salah langkah dan salah mengambil keputusan yang membuat masyarakat awam bingung, inilah yang harus diingatkan.
Pada prinsipnya sederhana, tips ini bisa jadi pengingat, seperti dengarkan petugas, ikuti arahan resmi. Kalau belum yakin, lebih baik diam daripada ikut bikin suasana makin kacau. Tidak semua informasi harus dibagikan, apalagi kalau isinya cuma bikin panik.
Bencana boleh reda, tapi berita hoax terus menyebar, bahkan pesan berantai pun mulai muncul dengan kalimat yang tidak valid.
Misalnya “info dari orang dalam”, “tolong sebarkan demi keselamatan bersama”, atau “ini sudah banyak korban tapi ditutupi” sehingga di titik ini, logika biasanya sering kalah dengan rasa kasihan akibat panik mendengar berita hoax.
Padahal niat baik tanpa verifikasi bisa berubah jadi petaka, sehingga menyebar kabar palsu itu ibarat memberi obat tanpa resep, niat menolong, tapi bisa bikin kondisi dan situasi tambah tidak kondusif.
Karena itu, penting untuk tetap bijak, dengan menerima informasi dari sumber yang terpercaya, dan bandingkan dengan informasi resmi. Kadang, tidak menyebarkan apa-apa justru bisa membuat situasi lebih kondusif dan menyelamatkan banyak orang.
Mitigasi bencana pada akhirnya bukan kerja individual melainkan kerja gotong royong, guna menjaga lingkungan tetap bersih, drainase lancar, warga saling mengingatkan, dan informasi dijaga tetap sehat. Artinya semua punya peran, jika masyarakat siap, risiko bisa ditekan. Bencana memang tidak bisadi cegah, tapi dampaknya bisa dikurangi.
Yang sering bikin keadaan makin parah justru bukan alamnya, tapi kepanikan dan kabar bohongnya. Bencana menguji kesiapan, hoax menguji akal sehat.
Hidup di wilayah rawan bencana bukan alasan untuk ketakutan yang berlebihan. Yang dibutuhkan adalah kesiapsiagaan, dan pada akhirnya bisa lebih menyelamatkan masyarakat di daerah tersebut.(***)