Minggu, 18 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Seni & Budaya » Melawan Lupa dengan Dongeng, Cara Sunyi Menceritakan Sejarah

Melawan Lupa dengan Dongeng, Cara Sunyi Menceritakan Sejarah

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
  • visibility 1.175
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ketika pendongeng lokal menghadirkan sejarah Nusantara lewat cerita yang dekat, lucu, dan membekas diingatan anak-anak

TAWA anak-anak memenuhi ruangan, mengalir tanpa jeda, mengikuti alur cerita tentang pala, cengkeh, dan perjalanan jauh Nusantara.

Mereka tak ada yang merasa sedang belajar sejarah, padahal di situlah sejarah sedang bekerja, pelan-pelan, lewat dongeng.

Apalagi di era digital terkadang sejarah sering kalah sebelum bercerita. Kalah dengan cara penyampaiannya sendiri. Terkadang juga terlalu kaku, terlalu jauh, terlalu sibuk mengejar hafalan.

Nah, di Palembang sendiri, sebuah panggung kecil justru menunjukkan sejarah itu bisa hidup, jika disampaikan dengan cara yang lebih manusiawi.

Misalnya di sabtu pagi kemarin Gedung Kesenian Palembang, diadakan Festival Dongeng Internasional Indonesia (FDII) Main Riang Roadshow 2025 bertema “Kisah Rempah”.

Di acara itu, dongeng menjadi pilihannya, karena bukan sekadar cerita pengantar tidur, dongeng pun menjelma menjadi senjata sunyi dan  tanpa teriakan.

Bahkan  tanpa spanduk, selain itu dongeng juga tanpa jargon literasi yang biasanya panjang tapi sering lupa dipraktikkan.

Di sanalah sejarah dilawan dari satu musuh paling berbahaya yaitu kata lupa, sebab dongeng bekerja persis seperti itu.

Dongeng ibaratnya pelan, tapi masuk dan santai, namun mengendap,  kata pepatah “Kalau cerita ditinggalkan, jalan akan kehilangan penunjuk arah”

Oleh sebab itu dongeng menjaga agar arah itu tetap ada. Tidak mencolok, namun setia,  dari panggung kecil dengan tujuan cerita terus berjalan menuju masa depan.

Jujur saja, anak saat ini (dan juga orang dewasa), sejarah sering terasa seperti makanan tanpa garam, penting, tapi hambar.

Kita hafal tahun, nama tokoh, dan peristiwa, tapi lupa rasanya. Lupa emosinya. Lupa kenapa cerita itu penting bagi hidup hari ini.

Padahal sejarah nusantara itu penuh warna. Ada rempah yang memikat bangsa “biji mata biru” (bangsa asing) datang jauh-jauh naik kapal, ada intrik dagang, ada perjumpaan budaya.

Semua itu sering disampaikan seperti membaca buku petunjuk lemari plastik bongkar pasang yang biasa dibeli mahasiswa yang baru nge-kos.

Sebenarnya anak-anak kita bukan tak suka sejarah, mereka cuma tak suka cara kita menceritakannya.

Di sinilah dongeng masuk pelan-pelan. Tanpa kapur tulis, tanpa ujian dan  tanpa ancaman nilai merah.

 

Dongeng sebagai Perlawanan Sunyi

Di panggung kecil itu, para pendongeng lokal Palembang tidak sedang berorasi tentang nasionalisme.

Mereka hanya bercerita tentang pala, cengkeh, lada hingga perjalanan bahkan tentang manusia. Justru inilah letak perlawanannya yang bikin kita menarik mendengarnya.

Ketika dunia ribut dengan algoritma, tren, dan konten 15 detik, malah sebaliknya dongeng itu menjadi penghibur dan mengajak anak berhenti sejenak dan ikut membayangkan dari cerita dalam dongeng tersebut.

Bahkan di saat banyak program literasi sibuk mengejar laporan dan angka, dongeng bekerja tanpa laporan, tapi hasilnya nyata yang bikin anak-anak menjadi betah duduk berjam-jam.

Inilah disebut perlawanan tanpa teriak, seperti pepatah Palembang, “ Biar besak ngawak, asal bermanfaat, itu yang penting”

Yang menariknya lagi, dongeng rempah di Palembang tidak disampaikan dengan gaya museum, dingin dan jauh, serta dibumikan dengan logat local, dimbubui humoris serta interaksi sehingga bikin anak- anak menjadi betah tak membosankan.

Misalnya anak-anak diajak menebak, menirukan suara, tertawa bareng. Sejarah yang biasanya terasa punya orang pusat mendadak jadi cerita dari kampung sendiri.

Inilah yang sering luput dari kebijakan kebudayaan, sebenarnya jika kita sadari bahwa sejarah itu akan hidup, jika terasa dekat, bukan karena disuruh menghafal, namun harus bisa dirasakan.

Kita sadarin memang sering lupa, apalagi budaya itu bukan benda mati, sejarah bisa hidup jika bisa dipraktikkan.

Sebaliknya jika hanya disimpan di buku, sejarah akan pelan-pelan menjadi arsip yang dipajang di rak buku perpustakaan dengan kulit buku nampak kusam oleh debu.

Namun di tengah panggung itu tanpa kita sadari,  satu momen simbolik yang terasa diam tetapi sangat penting manfaatnya,  yaitu bocah mungil Bernama Akifa, ia pendongeng cilik Palembang, berdiri bercerita dihadapan ratusan orang.

Ia bukan sekadar lucu-lucuan seorang bocah tampil di depan umum. Tapi ber tanda dongeng memiiki regenerasi bahwa cerita tidak berhenti di satu generasi saja. Bak pepatah bilang, “tak lapuk dek hujan, tak lekang dek panas”. Tapi itu hanya terjadi kalau ada yang meneruskan.

Kalau hari ini Akifa bisa berdongeng dengan menarik perhatian ratusan orang yang hadir, itu karena adanya ruang untuk Akifa, misalnya dikasih panggung dan ada orang dewasa yang menonton penampilannya sehingga tidak sibuk meremehkannya.

Mengapa cara sunyi itu justru efektif? sebab anak belajar bukan dari siapa yang paling pintar bicara, namun juga siapa yang paling dekat. Dongeng tidak datang sebagai guru yang menggurui, tapi sebagai teman bermain.

Inilah ironinya, terlalu sering ingin hasil instan, tapi lupa bahwa nilai paling dalam tersebut justru tumbuh dengan pelan.

Dongeng tidak menjanjikan ranking PISA, akan tetapi menanamkan rasa ingin tahu dan juga  tidak menjual angka literasi, tapi membangun kebiasaan mendengar dan membayangkan, begitulah semua kecakapan itu lahir.

Jadi hidup di zaman yang gemar membesarkan hal-hal yang besar dan mengecilkan sederhana, perlu adanya renungan, sebab sering kali perubahan itu justru lahir dari hal yang kecil ke yang paling konsisten.

Oleh karena dongeng mengajarkan satu hal yang sangat penting dalam kehidupan yaitu, melawan lupa, kita tidak selalu perlu teriak, cukup cerita yang jujur, dekat, dan manusiawi.

Apalagi sejarah nusantara tidak kekurangan cerita, sejarah hanya kekurangan cara kita bercerita yang bisa bikin anak-anak betah.

Para pendongeng local di acara itu, dengan segala kesederhanaannya, telah menunjukkan jalan lain, yaitu

Jalan sunyi….

jalan pelan……

Namun jalan yang sampai dan penuh makna….

Jadi, ketika anak-anak pulang membawa tawa dan ingatan tentang rempah, sesungguhnya mereka juga membawa sesuatu yang lebih penting, yaitu rasa memiliki.

Mungkin, disinilah disebut kepuasan dan kemenangan yang paling besar dari sebuah dongeng.

Karena dongeng tidak mengubah dunia hari ini, tapi menyiapkan manusia yang esok hari tak mudah lupa.

“Cak kato nenek aku dulu waktu aku masih kecik (kelas limo SD). Nak tedo perut aku gosok-gosoknyo biar cepet tedo,  katonyo nak jauh jalannyo itu, ceritolah dulu asal-usulnyo.”

Nah, dengan dongeng ini, setidaknya dengan segala kelucuan telah melakukan itu, diam-diam, tapi pernuh makna, bisa bikin betah dan menyenangkan.(***)

 

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dorong Pasarkan Produk Sentra UMKM Dapur Herbal “Bunga Tanjung”

    Dorong Pasarkan Produk Sentra UMKM Dapur Herbal “Bunga Tanjung”

    • calendar_month Jumat, 5 Nov 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.530
    • 0Komentar

    TP PKK Muba, Plt Ketua TP PKK Muba Susi Imelda Beni Hernedi mengunjungi Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) di Desa Jirak Kecamatan Jirak Jaya, Kamis (4/11/2021). Plt Ketua TP PKK Musi Banyuasin Susi Imelda Beni mengunjungi Sentra UMKM Dapur Herbal “Bunga Tanjung” Desa Jirak Kecamatan Jirak Jaya didampingi  Sekretaris TP PKK Kabupaten Musi Banyuasin […]

  • DI Muba Kemarin Bertambah 5 Kasus Sembuh, 11 Positif

    DI Muba Kemarin Bertambah 5 Kasus Sembuh, 11 Positif

    • calendar_month Sabtu, 24 Okt 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.075
    • 0Komentar

    GUGUS Tugas Penanganan COVID-19 Muba, mengkonfirmasi penambahan 5 kasus sembuh dan 11 terkonfirmasi positif. “Ada penambahan 5 kasus sembuh dan 11 positif COVID-19 hari ini,” ungkap Jubir Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Muba, Seftiani Peratita SS MKes. Sefti merinci, adapun penambahan 11 kasus positif yakni diantaranya kasus 378 perempuan usia 21 tahun Desa Macang Sakti, kasus […]

  • Motif Batik Muara Enim Diminta Segera Dilindungi HaKI, Ini Alasannya

    Motif Batik Muara Enim Diminta Segera Dilindungi HaKI, Ini Alasannya

    • calendar_month Jumat, 21 Agt 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 44
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Motif batik Muara Enim diminta segera didaftarkan untuk mendapatkan perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI). Langkah ini dinilai penting untuk menjaga identitas karya daerah sekaligus memberikan perlindungan bagi para perajin agar motif khas yang mereka hasilkan tidak mudah ditiru atau digunakan pihak lain. Dorongan tersebut disampaikan Ketua TP PKK Sumatera Selatan, Hj. Feby […]

  • Tempoyak, Tanjak Bawa Palembang Terima Penghargaan Warisan Budaya

    Tempoyak, Tanjak Bawa Palembang Terima Penghargaan Warisan Budaya

    • calendar_month Rabu, 9 Okt 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.345
    • 0Komentar

    SAMBAL Tempoyak dan Tanjak memperoleh penghargaan sebagai warisan budaya. Penghargaan itu diberikan Kota Palembang dalam kegiatan Apresiasi Penetapan Warisan Budaya Takbenda diwakili Pemprov Sumatera Selatan di Istora Senayan Jakarta, kemarin. Selain itu juga sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Selatan, tentunya Palembang masih banyak potensi warisan budaya yang akan membawa kota empek-empek tersebut dikenal se Indonesia dan […]

  • Januari, HD Terbitkan Pergub Tenaga Kerja Lokal 

    Januari, HD Terbitkan Pergub Tenaga Kerja Lokal 

    • calendar_month Minggu, 2 Des 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.293
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, PALEMBANG – Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru memastikan paling lambat Januari 2019 Pergub tentang pemanfaatan tenaga kerja lokal terbit. Hal itu diungkapkannya saat menghadiri Syukuran Grand Opening Hotel Santika Premiere Bandara Palembang, Jumat (30/11/2018). Acara tersebut juga dihadiri oleh Ketua TP PKK Provinsi Sumsel Hj. Febrita Lustia Herman Deru, Presiden Direktur PT. Mutiara […]

  • Percepat Penanganan Pandemi, Menkominfo Ajak Bersama Lawan Hoaks Covid-19, Ini Situs Resminya

    Percepat Penanganan Pandemi, Menkominfo Ajak Bersama Lawan Hoaks Covid-19, Ini Situs Resminya

    • calendar_month Jumat, 30 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.028
    • 0Komentar

    BADAN Kesehatan Dunia (WHO) sejak awal pandemi Covid-19 pada 2020 silam, menegaskan tantangan yang dihadapi masyarakat dunia bukan hanya virus penyakit, tetapi “virus informasi” berupa rumor dan stigma dalam bentuk disinformasi atau hoaks. Kementerian Komunikasi dan Informatika hingga saat ini telah mencatat dan melabel tak kurang dari 1.556 konten hoaks terkait Covid-19 dan 177 konten […]

expand_less
WordPress Archive StudioPress Studio Pro Genesis WordPress Theme StudioPress Wellness Pro Genesis WordPress Theme StudioPress Workstation Pro Genesis WordPress Theme Studyhub – Education WordPress Theme Stunning 3D Off Canvas Menu WordPress Plugin – 3D Menu Awesome Styler – Elementor Fashion Store eCommerce Theme StyleShop – Responsive Clothing/ Fashion Store WordPress WooCommerce Theme (Mobile Layout Ready) Stylish Links Pro Stylishion Fashion Store Elementor Template Kit Stynirk – Single Property WordPress Theme