Rabu, 2 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Seni & Budaya » Melawan Lupa dengan Dongeng, Cara Sunyi Menceritakan Sejarah

Melawan Lupa dengan Dongeng, Cara Sunyi Menceritakan Sejarah

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
  • visibility 1.155
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ketika pendongeng lokal menghadirkan sejarah Nusantara lewat cerita yang dekat, lucu, dan membekas diingatan anak-anak

TAWA anak-anak memenuhi ruangan, mengalir tanpa jeda, mengikuti alur cerita tentang pala, cengkeh, dan perjalanan jauh Nusantara.

Mereka tak ada yang merasa sedang belajar sejarah, padahal di situlah sejarah sedang bekerja, pelan-pelan, lewat dongeng.

Apalagi di era digital terkadang sejarah sering kalah sebelum bercerita. Kalah dengan cara penyampaiannya sendiri. Terkadang juga terlalu kaku, terlalu jauh, terlalu sibuk mengejar hafalan.

Nah, di Palembang sendiri, sebuah panggung kecil justru menunjukkan sejarah itu bisa hidup, jika disampaikan dengan cara yang lebih manusiawi.

Misalnya di sabtu pagi kemarin Gedung Kesenian Palembang, diadakan Festival Dongeng Internasional Indonesia (FDII) Main Riang Roadshow 2025 bertema “Kisah Rempah”.

Di acara itu, dongeng menjadi pilihannya, karena bukan sekadar cerita pengantar tidur, dongeng pun menjelma menjadi senjata sunyi dan  tanpa teriakan.

Bahkan  tanpa spanduk, selain itu dongeng juga tanpa jargon literasi yang biasanya panjang tapi sering lupa dipraktikkan.

Di sanalah sejarah dilawan dari satu musuh paling berbahaya yaitu kata lupa, sebab dongeng bekerja persis seperti itu.

Dongeng ibaratnya pelan, tapi masuk dan santai, namun mengendap,  kata pepatah “Kalau cerita ditinggalkan, jalan akan kehilangan penunjuk arah

Oleh sebab itu dongeng menjaga agar arah itu tetap ada. Tidak mencolok, namun setia,  dari panggung kecil dengan tujuan cerita terus berjalan menuju masa depan.

Jujur saja, anak saat ini (dan juga orang dewasa), sejarah sering terasa seperti makanan tanpa garam, penting, tapi hambar.

Kita hafal tahun, nama tokoh, dan peristiwa, tapi lupa rasanya. Lupa emosinya. Lupa kenapa cerita itu penting bagi hidup hari ini.

Padahal sejarah nusantara itu penuh warna. Ada rempah yang memikat bangsa “biji mata biru” (bangsa asing) datang jauh-jauh naik kapal, ada intrik dagang, ada perjumpaan budaya.

Semua itu sering disampaikan seperti membaca buku petunjuk lemari plastik bongkar pasang yang biasa dibeli mahasiswa yang baru nge-kos.

Sebenarnya anak-anak kita bukan tak suka sejarah, mereka cuma tak suka cara kita menceritakannya.

Di sinilah dongeng masuk pelan-pelan. Tanpa kapur tulis, tanpa ujian dan  tanpa ancaman nilai merah.

 

Dongeng sebagai Perlawanan Sunyi

Di panggung kecil itu, para pendongeng lokal Palembang tidak sedang berorasi tentang nasionalisme.

Mereka hanya bercerita tentang pala, cengkeh, lada hingga perjalanan bahkan tentang manusia. Justru inilah letak perlawanannya yang bikin kita menarik mendengarnya.

Ketika dunia ribut dengan algoritma, tren, dan konten 15 detik, malah sebaliknya dongeng itu menjadi penghibur dan mengajak anak berhenti sejenak dan ikut membayangkan dari cerita dalam dongeng tersebut.

Bahkan di saat banyak program literasi sibuk mengejar laporan dan angka, dongeng bekerja tanpa laporan, tapi hasilnya nyata yang bikin anak-anak menjadi betah duduk berjam-jam.

Inilah disebut perlawanan tanpa teriak, seperti pepatah Palembang, “ Biar besak ngawak, asal bermanfaat, itu yang penting”

Yang menariknya lagi, dongeng rempah di Palembang tidak disampaikan dengan gaya museum, dingin dan jauh, serta dibumikan dengan logat local, dimbubui humoris serta interaksi sehingga bikin anak- anak menjadi betah tak membosankan.

Misalnya anak-anak diajak menebak, menirukan suara, tertawa bareng. Sejarah yang biasanya terasa punya orang pusat mendadak jadi cerita dari kampung sendiri.

Inilah yang sering luput dari kebijakan kebudayaan, sebenarnya jika kita sadari bahwa sejarah itu akan hidup, jika terasa dekat, bukan karena disuruh menghafal, namun harus bisa dirasakan.

Kita sadarin memang sering lupa, apalagi budaya itu bukan benda mati, sejarah bisa hidup jika bisa dipraktikkan.

Sebaliknya jika hanya disimpan di buku, sejarah akan pelan-pelan menjadi arsip yang dipajang di rak buku perpustakaan dengan kulit buku nampak kusam oleh debu.

Namun di tengah panggung itu tanpa kita sadari,  satu momen simbolik yang terasa diam tetapi sangat penting manfaatnya,  yaitu bocah mungil Bernama Akifa, ia pendongeng cilik Palembang, berdiri bercerita dihadapan ratusan orang.

Ia bukan sekadar lucu-lucuan seorang bocah tampil di depan umum. Tapi ber tanda dongeng memiiki regenerasi bahwa cerita tidak berhenti di satu generasi saja. Bak pepatah bilang, “tak lapuk dek hujan, tak lekang dek panas”. Tapi itu hanya terjadi kalau ada yang meneruskan.

Kalau hari ini Akifa bisa berdongeng dengan menarik perhatian ratusan orang yang hadir, itu karena adanya ruang untuk Akifa, misalnya dikasih panggung dan ada orang dewasa yang menonton penampilannya sehingga tidak sibuk meremehkannya.

Mengapa cara sunyi itu justru efektif? sebab anak belajar bukan dari siapa yang paling pintar bicara, namun juga siapa yang paling dekat. Dongeng tidak datang sebagai guru yang menggurui, tapi sebagai teman bermain.

Inilah ironinya, terlalu sering ingin hasil instan, tapi lupa bahwa nilai paling dalam tersebut justru tumbuh dengan pelan.

Dongeng tidak menjanjikan ranking PISA, akan tetapi menanamkan rasa ingin tahu dan juga  tidak menjual angka literasi, tapi membangun kebiasaan mendengar dan membayangkan, begitulah semua kecakapan itu lahir.

Jadi hidup di zaman yang gemar membesarkan hal-hal yang besar dan mengecilkan sederhana, perlu adanya renungan, sebab sering kali perubahan itu justru lahir dari hal yang kecil ke yang paling konsisten.

Oleh karena dongeng mengajarkan satu hal yang sangat penting dalam kehidupan yaitu, melawan lupa, kita tidak selalu perlu teriak, cukup cerita yang jujur, dekat, dan manusiawi.

Apalagi sejarah nusantara tidak kekurangan cerita, sejarah hanya kekurangan cara kita bercerita yang bisa bikin anak-anak betah.

Para pendongeng local di acara itu, dengan segala kesederhanaannya, telah menunjukkan jalan lain, yaitu

Jalan sunyi….

jalan pelan……

Namun jalan yang sampai dan penuh makna….

Jadi, ketika anak-anak pulang membawa tawa dan ingatan tentang rempah, sesungguhnya mereka juga membawa sesuatu yang lebih penting, yaitu rasa memiliki.

Mungkin, disinilah disebut kepuasan dan kemenangan yang paling besar dari sebuah dongeng.

Karena dongeng tidak mengubah dunia hari ini, tapi menyiapkan manusia yang esok hari tak mudah lupa.

“Cak kato nenek aku dulu waktu aku masih kecik (kelas limo SD). Nak tedo perut aku gosok-gosoknyo biar cepet tedo,  katonyo nak jauh jalannyo itu, ceritolah dulu asal-usulnyo.”

Nah, dengan dongeng ini, setidaknya dengan segala kelucuan telah melakukan itu, diam-diam, tapi pernuh makna, bisa bikin betah dan menyenangkan.(***)

 

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Telah Lahir PP, Keamanan Laut Kembali Diperketat

    Telah Lahir PP, Keamanan Laut Kembali Diperketat

    • calendar_month Rabu, 6 Apr 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 722
    • 0Komentar

    KINI telah lahir omnimbuslaw keamanan laut berupa Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 13 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Keamanan, Keselamatan, dan Penegakan Hukum di Wilayah Perairan Indonesia dan Wilayah Yurisdiksi Indonesia (PKKPH) dimana mempertegas peran Badan Keamanan Laut (Bakamla) sebagai koordinator penegak hukum di wilayah laut Indonesia. Memang sebelumnya ada tujuh kementerian lembaga yang mengurusi tata kelola […]

  • Hadir Dalam Peluncuran Kerangka Ekonomi Indo-Pasifik, Ini Empat Pesan Mendagri

    Hadir Dalam Peluncuran Kerangka Ekonomi Indo-Pasifik, Ini Empat Pesan Mendagri

    • calendar_month Selasa, 24 Mei 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 515
    • 0Komentar

    MENTERI Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mewakili Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menghadiri Peluncuran Kerangka Ekonomi Indo-Pasifik atau Indo-Pacific Economic Framework (IPEF), secara virtual, dari Jakarta, Senin (23/05/2022) dan ada empat pesan yang perlu dilaksanakan. Dalam pidatonya, Mendag menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia menyambut baik upaya untuk memperkuat hubungan ekonomi dan kerja sama di kawasan Indo-Pasifik melalui […]

  • CATATAN PINGGIR : Qodrat 2 “Ketika Setan Ketiban Durian Runtuh di Libur Lebaran”

    CATATAN PINGGIR : Qodrat 2 “Ketika Setan Ketiban Durian Runtuh di Libur Lebaran”

    • calendar_month Minggu, 13 Apr 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.030
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Libur lebaran itu emang momen sakral dan umat manusia juga  berlomba-lomba mudik untuk  Lebaran,  dengan tujuan  silaturahmi, makan ketupat bersama  besar di kampung halaman, bahkan sedikit drama keluarga. Tapi tahun ini, ada satu tren baru,  yakni nobar horor bareng keluarga besar. Apa lagi yang bisa menyatukan tante, sepupu, dan om yang jarang ngomong […]

  • Asyiik Dong, Boleh Coba,  Naik Air Asia Ada WIFI -Nya

    Asyiik Dong, Boleh Coba, Naik Air Asia Ada WIFI -Nya

    • calendar_month Selasa, 14 Nov 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.459
    • 0Komentar

    Langkah perusahaan menghadirkan ROKKI sebagai tuntutan terhadap kebutuhan pasar yang terus berkembang dengan senantiasa mengedepankan inovasi.

  • 34 Kasus Haji-Umrah Diserahkan ke Bareskrim, Kemenhaj Catat 137 Aduan

    34 Kasus Haji-Umrah Diserahkan ke Bareskrim, Kemenhaj Catat 137 Aduan

    • calendar_month Kamis, 20 Agt 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 14
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menyerahkan 34 kasus terkait penyelenggaraan haji dan umrah kepada aparat penegak hukum (APH), yakni Bareskrim Polri. Langkah tersebut dilakukan setelah proses pengawasan dan penanganan aduan yang dinilai membutuhkan tindak lanjut hukum. Dari 34 kasus tersebut, 19 di antaranya berkaitan dengan penyelenggaraan umrah, 14 kasus haji khusus, dan satu kasus […]

  • Video Call, Kontingen Indonesia Ditunggu Di Istana, Kata Presiden

    Video Call, Kontingen Indonesia Ditunggu Di Istana, Kata Presiden

    • calendar_month Senin, 6 Sep 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 801
    • 0Komentar

    PRESIDEN Republik Indonesia menyampaikan ucapan selamat kepada kontingen tim nasional Indonesia, khususnya kepada cabang olahraga Bulutangkis yang berhasil menyumbangkan dua medali emas pada Paralimpiade Tokyo 2020. Hal ini disampaikan secara langsung Presiden Jokowi saat melakukan video call dengan Ketua NPC Indonesia Senny Marbun yang didampingi atlet paragames peraih medali emas Leani Ratri Oktila, Khalimatus Sadiyah […]

expand_less
WordPress Archive StudioPress Studio Pro Genesis WordPress Theme StudioPress Wellness Pro Genesis WordPress Theme StudioPress Workstation Pro Genesis WordPress Theme Studyhub – Education WordPress Theme Stunning 3D Off Canvas Menu WordPress Plugin – 3D Menu Awesome Styler – Elementor Fashion Store eCommerce Theme StyleShop – Responsive Clothing/ Fashion Store WordPress WooCommerce Theme (Mobile Layout Ready) Stylish Links Pro Stylishion Fashion Store Elementor Template Kit Stynirk – Single Property WordPress Theme