“Saya Pun Anak Kampung”, Ratu Dewa Bicara Perjuangan di Depan Ribuan Wisudawan PGRI
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 49 menit yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – “Saya pun anak kampung.” Kalimat itu terlontar dari Ratu Dewa di hadapan ribuan wisudawan Universitas PGRI Palembang. Bukan hanya pengakuan tentang tempat ia tumbuh, tetapi cara itu yang digambarkan Ratu Dewa, yaitu bagaimana seseorang bisa menempuh jalan hidup yang panjang sebelum sampai pada titik yang diimpikan.
Di hadapan para lulusan yang baru saja menyelesaikan pendidikan tinggi, Wali Kota Palembang itu tidak sedang bercerita tentang jalan yang selalu mulus.
Ia justru mengajak mereka melihat kembali satu hal yang sering luput ketika seseorang terlalu sibuk mengejar hasil, yaitu proses.
“Saya pun anak kampung yang selalu percaya bahwa setiap perjalanan memiliki prosesnya masing-masing. Tidak semua orang memulai dari tempat yang sama, tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama, tetapi setiap orang mempunyai kesempatan untuk terus berusaha dan memperbaiki diri,” ujar Ratu Dewa saat Wisuda ke-67 Universitas PGRI Palembang di Hotel Wyndham OPI Jakabaring, Selasa (29/9/2026).
Cerita itu seperti sengaja ditempatkan dekat dengan para wisudawan yang hari itu sedang berdiri di satu titik penting dalam hidup mereka.
Setelah bertahun-tahun duduk di ruang kuliah, mengerjakan tugas, menghadapi ujian, hingga akhirnya mengenakan toga, mereka kini berhadapan dengan dunia yang tidak menyediakan silabus untuk setiap persoalan. Di situlah, menurut Ratu Dewa, perjuangan berikutnya dimulai.
Titik Awal Boleh Berbeda
Ratu Dewa melihat perjalanan setiap orang tidak pernah benar-benar sama, ada yang memperoleh kesempatan lebih cepat, ada yang harus menunggu dan ada pula yang harus bekerja lebih keras hanya untuk mendapatkan ruang yang sama.
Namun, perbedaan itu bukan alasan untuk menyerah. Pengalaman hidup itulah yang ingin ditanamkan Ratu Dewa kepada para lulusan.
Ia meminta mereka tidak terlalu sibuk membandingkan dari mana seseorang memulai, melainkan fokus pada langkah yang masih bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan. Baginya, keberhasilan bukan hanya soal siapa yang lebih dulu berada di depan.
Kemauan untuk terus bergerak, belajar dari kesalahan, dan bangkit ketika gagal juga menjadi bagian penting dari perjalanan.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan, karena para wisudawan kini memasuki fase kehidupan yang berbeda.
Gelar akademik sudah didapat. Tetapi dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat akan menghadirkan tantangan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan nilai di atas kertas.
Ketika Nilai A Tak Lagi Cukup
Ratu Dewa kemudian menggeser pembicaraan dari keberhasilan akademik menuju sesuatu yang lebih luas. Ia mengingatkan bahwa kuliah tidak seharusnya hanya menghasilkan ijazah.
Ada karakter yang harus terbentuk, kedisiplinan yang harus dibawa, kemampuan bekerja sama yang harus terus diasah, serta keberanian menghadapi kegagalan.
“Setelah hari ini, tantangan kalian bukan lagi sekadar mendapatkan nilai A. Tantangan berikutnya adalah bagaimana menjadi manusia yang bernilai,” katanya.
Kalimat tersebut menjadi semacam penanda bahwa kehidupan setelah wisuda akan memiliki ukuran keberhasilan yang berbeda.
Ijazah membuktikan seseorang pernah menempuh pendidikan. Tetapi bagaimana seseorang menggunakan ilmu, bersikap kepada orang lain, memegang kejujuran, dan menghadapi persoalan kehidupan akan menjadi ujian berikutnya.
Oleh karena itu, Ratu Dewa mengajak para lulusan membawa lebih banyak bekal dari kampus daripada sekadar selembar ijazah.
Jangan Hanya Menunggu Pekerjaan
Satu pesan lain yang ditekankan Ratu Dewa berkaitan dengan masa depan para lulusan. Ia berharap mereka tidak berhenti pada keinginan untuk mendapatkan pekerjaan.
Lebih jauh, ia ingin para alumni memiliki keberanian untuk menciptakan kesempatan dan membuka jalan bagi orang lain.
“Saya berharap para lulusan Universitas PGRI Palembang tidak hanya menjadi orang yang mencari pekerjaan, tetapi juga menjadi orang yang menciptakan kesempatan, memberi manfaat, dan membuka jalan bagi orang lain,” ungkapnya.
Harapan itu sekaligus menempatkan pendidikan pada makna yang lebih luas. Ilmu yang diperoleh selama bertahun-tahun di bangku kuliah tidak berhenti ketika wisuda selesai. Pengetahuan tersebut baru benar-benar terasa manfaatnya ketika dibawa keluar kampus dan digunakan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Ratu Dewa juga mengapresiasi Universitas PGRI Palembang yang dinilainya memiliki peran dalam menyiapkan generasi muda, baik dari sisi keilmuan maupun pembentukan karakter.
Di Ujung Perjalanan, Ada Orang Tua
Ada satu bagian lain dari pesan Ratu Dewa yang membawa suasana wisuda kembali kepada keluarga.
Ia mengingatkan para lulusan, keberhasilan menyelesaikan kuliah bukanlah hasil perjuangan seorang diri. Di belakang setiap toga, ada orang tua yang mungkin selama bertahun-tahun menunggu, mendoakan, bekerja, dan berkorban agar anaknya bisa sampai ke hari wisuda.
“Hari ini doa dan perjuangan orang tua kalian menjadi sebuah hasil yang tidak ternilaikan,” ujar Ratu Dewa.
Ia meminta para lulusan tetap menjaga nama baik almamater, menjunjung tinggi kejujuran, bekerja keras, dan tidak lupa untuk rendah hati. Hari wisuda akhirnya bukan hanya tentang gelar yang berhasil diraih.
Bagi ribuan lulusan Universitas PGRI Palembang, hari itu menjadi awal dari perjalanan yang baru. Dan dari cerita seorang yang mengaku “anak kampung”, ada satu pesan yang mungkin akan tetap relevan jauh setelah toga disimpan: seseorang tidak selalu bisa memilih dari mana ia memulai, tetapi masih memiliki kesempatan untuk menentukan ke mana ia akan melangkah. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
