Menteri Jumhur Serukan Peran Aktif Kaum Intelektual Hadapi Krisis Lingkungan
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 20 menit yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : Kemenlh.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Menteri Lingkungan Hidup (LH) Moh Jumhur Hidayat menyerukan kaum intelektual ikut menghadapi krisis lingkungan yang ditandai perubahan iklim, degradasi hutan, krisis air, dan pencemaran. Ia meminta kalangan akademik tak hanya mengkritik kerusakan lingkungan, tetapi ikut mengambil bagian dalam menghadirkan solusi.
Pesan itu disampaikan Jumhur saat memberikan kuliah umum kepada mahasiswa baru Program Doktor, Magister, Sub Spesialis, Spesialis, dan Profesi Universitas Airlangga (Unair) di Surabaya, belum lama ini.
Jumhur menilai persoalan lingkungan membutuhkan keterlibatan orang-orang memiliki pengetahuan dan kemampuan guna mencari jalan keluar.
Sebab, mahasiswa pascasarjana tidak cukup hanya berada pada posisi sebagai pengamat atau pengkritik ketika berhadapan dengan persoalan ekologis.
“Saya ingin menyampaikan sesuatu yang mungkin sederhana, tetapi penting. Jadilah generasi yang kritis. Tetapi jangan berhenti pada kritik. Jadilah generasi yang mampu menawarkan solusi,” kata Jumhur.
Menurut dia, keberanian menyampaikan sesuatu keliru harus diikuti keberanian untuk ikut memperbaikinya.
Sikap kritis, dengan demikian, tidak berhenti pada pernyataan atau kritik, tetapi berlanjut menjadi gagasan dan tindakan.
Jumhur juga mengingatkan upaya menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari kebijakan berskala besar.
Perubahan dapat dibangun, ungkapnya dari kebiasaan dan keputusan dilakukan sehari-hari, termasuk penggunaan energi, pengelolaan sampah, serta cara manusia memperlakukan alam.
“Dari cara kita menggunakan energi. Dari cara kita memperlakukan sampah. Dari cara kita menghormati alam. Perubahan besar selalu membutuhkan manusia yang bersedia memulai dari dirinya sendiri,” ujarnya.
Persoalan lingkungan juga tidak dipisahkan Jumhur dari arah pembangunan nasional. Ia menambahkan, agar Indonesia tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi memastikan pertumbuhan tersebut berjalan secara inklusif, berkelanjutan, dan memiliki ketahanan.
“Kita tidak ingin menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi, kita juga ingin menjadi negara dengan pertumbuhan yang inklusif, berkelanjutan, dan berketahanan,” tegas Jumhur.
Menurutnya lagi, ukuran keberhasilan pembangunan juga harus dilihat dari kondisi ditinggalkan untuk generasi berikutnya.
Pembangunan, paparnya dihasilkan hari ini, tidak seharusnya dibayar dengan hilangnya kualitas lingkungan dan menurunnya kelayakan hidup pada masa mendatang.
“Kita tidak ingin hanya mewariskan pembangunan; kita ingin mewariskan kehidupan yang layak,” katanya.
Dalam konteks ini, Jumhur melihat perguruan tinggi memiliki posisi penting. Kampus tidak hanya menjadi tempat mengembangkan teori dan pengetahuan, tetapi juga ruang untuk mempertemukan riset dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Ia berharap ilmu pengetahuan dan teknologi dapat digunakan untuk menjawab persoalan lingkungan, sementara kebebasan akademik tetap berjalan bersama tanggung jawab terhadap kepentingan publik.
Pesan itu juga ditujukan kepada para mahasiswa yang nantinya akan bekerja dan mengambil keputusan di berbagai bidang.
Jumhur, menjelaskan ilmu, kekuasaan, dan kemajuan harus digunakan dengan mempertimbangkan kepentingan manusia sekaligus keberlanjutan lingkungan.
“Bangunlah ilmu dengan integritas. Gunakan ilmu untuk kemanusiaan. Gunakan kekuasaan untuk kepentingan publik. Dan gunakan kemajuan untuk merawat bumi,” pungkasnya.
Jumhur mengingatkan, persoalan lingkungan pada akhirnya bukan hanya tentang kondisi bumi saat ini, tetapi juga tentang kehidupan yang akan diterima generasi mendatang.
Oleh sebab itu, pembangunan dan kemajuan perlu berjalan bersama tanggung jawab untuk menjaga agar udara, air, dan alam tetap layak dinikmati di masa depan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
