Senin, 5 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pendidikan » Ketika Anak SMP Buktikan, Mimpi Nggak Butuh Ijazah Dulu

Ketika Anak SMP Buktikan, Mimpi Nggak Butuh Ijazah Dulu

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Minggu, 12 Okt 2025
  • visibility 1.567
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Misha, Si Kecil yang Main di Level Dunia”

BARU usia 13 tahun biasanya sebagian besar anak SMP masih sibuk nyari pensil 2B yang suka raib tiap kali ujian, atau debat kecil soal siapa yang paling jago bikin filter TikTok biar pipi kelihatan tirus. Tapi di pojokan Malang sana, ada satu anak yang malah sibuk bikin engine game. Namanya Adelia Misha, bocah yang kalau ngomongin coding, bikin kepala orang dewasa jadi error syntax.

Misha bukan anak orang kaya yang punya PC gaming dengan lampu RGB seharga motor, katanya, laptop yang dia pakai sering panas kayak teflon habis goreng tempe mendoan, namun semangatnya nggak ikut-ikutan ngehang, dengan modal nekat dan tutorial dari YouTube, dia bikin gim berjudul “Mocchi Mitten Bubble Revenge”. Jangan salah, ini bukan game tentang gosip sekolah atau balas dendam mantan, ini karya orisinal, buatan anak SMP yang belum punya KTP, tapi sudah punya visi besar yang bikin game, bukan drama.

Bahkan waktu teman-teman sebayanya masih sibuk ngitung luas trapesium, Misha sudah mikir soal logika collision detection dan game loop.
Kalau kita lihat timeline-nya, mungkin dari luar kelihatan absurd. Tapi di dunia kreatif, absurd itu justru bahan bakar.

Kata orang bijak, “Setinggi-tingginya bangau terbang, akhirnya mendarat juga di sawah”. Nah, kalau Misha, setinggi-tingginya mimpi dia terbang, malah mendarat di Bali, ikut ajang Indonesia Game Developer eXchange (IGDX) 2025.
Dan hebatnya, dia ke sana naik bus, bukan jet pribadi. Bayangin, perjalanan Malang – Bali yang biasanya buat wisata sekolah, dia manfaatkan buat pamer karya ke dunia.

Kalau ini bukan definisi dedikasi, entah apa lagi, di sekolah, mungkin nilai matematika Misha belum tentu sempurna, tapi siapa tahu, rumus logika pemrogramannya lebih canggih dari pelajaran aljabar.

Masalahnya, sistem pendidikan kita kadang masih ngotot semua anak harus muat di satu kotak. Padahal, ada anak kayak Misha yang kotaknya segitiga, bukan persegi.

Bukannya nggak bisa belajar, tapi cara belajarnya beda, lebih suka nyoba langsung daripada ngafal dulu.

Coba deh, kapan terakhir kali sekolah ngajarin bikin game engine?, yang ada, anak-anak kreatif kayak Misha justru belajar di luar kelas, di dunia maya yang penuh bug tapi juga penuh peluang.

Pepatah lama bilang, “Guru terbaik adalah pengalaman”  karena di zaman digital ini, guru terbaik juga bisa datang dari YouTube, Discord, atau bahkan forum Reddit.

Asal niat belajar kuat, bukan cuma sekadar scrolling sambil rebahan.

Presiden Asosiasi Game Indonesia (AGI) Shafiq Husein bilang, kualitas gim buatan anak bangsa sekarang udah naik kelas, menurutnya, karya-karya dari pengembang lokal bahkan dari tingkat pelajar  sudah mampu bersaing di pasar global, khususnya Asia Tenggara.

“Para peserta pameran di sini, bahkan dari tingkat pelajar pun sudah dapat bersaing dengan pasar global, khususnya pasar Asia Tenggara. Hal ini terbukti dengan tiga gim asal Indonesia yang meraih penghargaan di Kuala Lumpur, Malaysia. Dari lima kategori, tiga di antaranya dimenangkan oleh kita.

Itu bukti bahwa kita sudah siap dari segi kualitas dan industri, hanya perlu sedikit dorongan lagi dari para pemangku kepentingan agar semakin matang,” ujar Shafiq.

Ia menegaskan, AGI akan terus mendukung pengembang muda seperti Misha, serta memperkuat kerja sama dengan pemerintah untuk memajukan industri gim nasional. “Kami akan terus bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital. AGI berkomitmen melanjutkan perjuangan para pengembang gim dan menjadi jembatan bagi para pemangku kepentingan yang ingin berkolaborasi atau masuk ke industri gim di Indonesia,” tutupnya mengutip laman resmi komdigi, minggu.

Kata Shafiq ini jadi semacam save point bagi semangat industri kreatif Indonesia dari tangan-tangan muda seperti Misha, masa depan game lokal bisa benar-benar naik ke level berikutnya.

Dari Malang ke Dunia

IGDX 2025 di Bali jadi saksi betapa anak-anak muda Indonesia nggak cuma jago main game, tapi juga jago bikin game.
Dulu orang tua sering ngomel, “Main game terus, nanti nggak jadi apa-apa!”. Eh, sekarang malah banyak yang jadi apa-apa gara-gara game, dari DreadOut sampai Coral Island, karya anak bangsa udah nangkring di Steam dan digemari pemain dari seluruh dunia.

Misha bisa jadi generasi baru yang meneruskan estafet itu, dan yang bikin lucu, di tengah gegap gempita Bali, bocah ini tampil kalem, kayak nggak nyadar kalau karyanya bikin investor garuk-garuk kepala, bukan karena bingung, tapi karena kagum.

Kisah Misha adalah tamparan halus buat kita yang sering nyalahin umur atau ijazah sebagai alasan belum mulai.

Padahal, di zaman sekarang, batas antara belajar dan bekerja udah kabur.

Anak SMP bisa bikin startup, mahasiswa bisa jadi mentor, dan yang udah kerja pun masih bisa belajar dari bocah SMP.

Seperti kata pepatah Jawa, “Jer basuki mawa bea”, keberhasilan butuh biaya, tapi biaya itu bukan selalu uang, bisa waktu, tenaga, dan tekad,  dan Misha sudah bayar semua itu dengan ketekunan.

Jadi, kisah Misha bukan sekadar kisah anak jenius, tapi kisah tentang kemerdekaan berpikir.
Tentang bagaimana mimpi nggak harus nunggu ijazah, dan bahwa kreativitas sering lahir dari ruang-ruang yang dianggap “tidak penting”

Di dunia yang sibuk mengukur pintar dari nilai rapor, sebaliknya Misha datang membawa definisi baru yaitu cerdas adalah berani mencoba hal baru meski belum ada di buku pelajaran.

Oleh karena itu, kalau kamu masih takut mulai sesuatu karena belum siap,  lihatlah Misha, dia nggak nunggu diwisuda buat mulai berkarya, dia cuma butuh laptop setia, niat, dan kopi sachet  sisanya tinggal debug dan doa, apalagi dengan  di dunia yang serba cepat ini, ijazah mungkin masih penting, tapi mimpi yang dikerjakan, jauh lebih bernilai daripada mimpi yang cuma disimpan di catatan harian.

Seperti kata pepatah lama yang bisa kamu kutip ke anak cucu nanti “Kalau mau jadi legenda, jangan tunggu lulus dulu”.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Catatan Warna-warni dari Sumsel, Lari-lari Bahagia, Jangan Cuma Pas Dikejar Target!

    Catatan Warna-warni dari Sumsel, Lari-lari Bahagia, Jangan Cuma Pas Dikejar Target!

    • calendar_month Sabtu, 24 Mei 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 797
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, -Di tengah rutinitas birokrasi yang kadang lebih kaku dari lemari arsip kelurahan, Sumatera Selatan tiba-tiba bersiap menyambut sebuah hajatan ceria, yakni PLN Mobile Color Run 2025. Bukan acara seminar formal dengan sambutan tiga halaman, tapi ajang lari-larian penuh warna yang lebih mirip pesta bubuk bedak ketimbang lomba atletik. Dan siapa sangka, Gubernur Sumsel H. […]

  • Tertangkap Tangan Sengaja Membakar Hutan, Ini Lho Sanksinya Kata Wabup Muba

    Tertangkap Tangan Sengaja Membakar Hutan, Ini Lho Sanksinya Kata Wabup Muba

    • calendar_month Kamis, 25 Feb 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 757
    • 0Komentar

    PEMKAB Muba memerlukan tenaga ekstra dalam penanggulangan karhutlah dan bencana alam lainnya pada tahun ini. Hal itu disampaikan  Wakil Bupati Musi Banyuasin Beni Hernedi  saatmemimpin Apel Kesiapsiagaan Menghadapi Kebakaran Hutan dan Lahan dan Bencana Alam Tahun 2021, di Halaman Mapolres Muba, Kamis (25/2/2021). Menurutnya penegakan hukum tahun ini lebih ditingkatkan lagi apabila ada yang terbukti […]

  • Bibit Mantap, Petani Senyum Lebar! Bupati Turun Lapangan

    Bibit Mantap, Petani Senyum Lebar! Bupati Turun Lapangan

    • calendar_month Selasa, 21 Okt 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.732
    • 0Komentar

    BIASANYA Bupati cuma lewat di pinggir jalan sambil melambaikan tangan, kali ini beda, Sobat Tani! Bupati Musi Banyuasin (Muba) H M Toha Tohet SH nggak cuma lewat, tapi turun langsung ke kebun, pegang cangkul (eh, mungkin cuma lihat doang sih), dan ngobrol langsung sama petani. Lokasinya? Kebun Pembibitan Dinas Perkebunan Muba di Km 11 Kelurahan […]

  • Tingkatkan Profesional, Muba Bakal Latih Ribuan Satpam

    Tingkatkan Profesional, Muba Bakal Latih Ribuan Satpam

    • calendar_month Rabu, 13 Jan 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.074
    • 0Komentar

    TERCATAT ada sekitar 4 ribuan tenaga satpam yang bekerja di wilayah Kabupaten Musi Banyuasin, Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin bakal melatih satpam. Dalam kesempatan menerima Pengurus Badan Pimpinan Daerah Asosiasi Badan Usaha Jasa Pengamanan Indonesia (BPD ABUJAPI) Provinsi Sumatera Selatan, di Kantor Mess Perwakilan Muba, Wakil Bupati Muba Beni Hernedi SIP berencana akan melatih ribuan security […]

  • Bybit Luncurkan Kontrak Perpetual USDC, Ini Kelebihan Uang Kripto Ini

    Bybit Luncurkan Kontrak Perpetual USDC, Ini Kelebihan Uang Kripto Ini

    • calendar_month Kamis, 24 Feb 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.346
    • 0Komentar

    SINGAPURA – Bybit, salah satu bursa mata uang kripto dengan pertumbuhan tercepat di dunia, akan segera merilis kontrak abadi USDC. Produk baru ini akan memungkinkan pengguna untuk berdagang menggunakan saldo USDC mereka di bursa derivatif Bybit. Kontrak abadi USDC baru Bybit pertama-tama akan dibuka untuk pedagang yang masuk daftar putih, memungkinkan mereka untuk menggunakan USDC […]

  • Menlu, KTT ASEAN akan Sepakati Koridor Perjalanan

    Menlu, KTT ASEAN akan Sepakati Koridor Perjalanan

    • calendar_month Selasa, 5 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 998
    • 0Komentar

    MENTERI Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi mengatakan Kerangka Pengaturan Koridor Perjalanan ASEAN (ATCAF), akan segera disepakati dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN pada 26-28 Oktober 2021. Hal itu disampaikan Menlu Retno seperti dilansir laman Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Senin (4/10/2021). “Saya sampaikan perlunya segera mengimplementasikan ACTAF ini untuk membuka perbatasan kita dengan tetap […]

expand_less
WordPress Archive Revo – Multipurpose Elementor WooCommerce WordPress Theme (25+ Homepages & 5+ Mobile Layouts) Revo - Multipurpose Elementor WooCommerce WordPress Theme Revo Studio – Multipurpose WordPress Theme Revolution Lightbox Revolution Lightbox WordPress & WooCommerce Plugin Revolution Multimedia Gallery WordPress & WooCommerce Plugin Revy Import – Data Import Utility for Revy plugin Revy – WordPress booking system for repair service industries Rex – Minimal WordPress Portfolio Theme Rexbiz – Corporate Agency Elementor Template Kit