Minggu, 1 Nov 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pendidikan » “Coding di Sekolah, Kerja di Industri: Jangan Sampai Anak Bisa Bikin Game tapi Bingung Cari Gaji”

“Coding di Sekolah, Kerja di Industri: Jangan Sampai Anak Bisa Bikin Game tapi Bingung Cari Gaji”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 21 Agt 2025
  • visibility 932
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DI sebuah warung kopi pinggir jalan, saya pernah mendengar percakapan absurd tapi penuh makna, seorang bapak tua bertanya ke anaknya yang baru pulang sekolah, “Nak, belajar apa tadi?” Sang anak dengan bangga menjawab, “Belajar bikin game, Pak. Karakter game-nya bisa loncat-loncat kayak kucing tetangga.” Si bapak bengong, lalu nyeletuk, “Bagus sih, tapi kalau nanti bapak pensiun, kamu bisa bikin aplikasi bayar listrik murah gak?”

Nah, di situlah titik pentingnya, jangan sampai pelajaran coding dan kecerdasan buatan (AI) di sekolah cuma jadi ajang anak-anak bikin animasi lucu, tapi begitu masuk dunia kerja tahun 2030, mereka bengong kayak kambing masuk mall. Dunia usaha butuh tenaga kerja yang siap pakai, bukan cuma siap bikin karakter kartun.

Bayangkan sekolah itu seperti dapur, dan dunia kerja itu seperti restoran besar, kalau di dapur anak-anak cuma diajari bikin sambal terasi tapi restoran mintanya spaghetti carbonara, jelas pelanggan kabur. Dunia usaha maunya tenaga kerja yang bisa coding untuk solusi nyata aplikasi keuangan, big data analitik, sistem manajemen logistik, atau bahkan AI buat mendeteksi penipuan.

Pertanyaannya apakah apa yang dipelajari anak SD, SMP, hingga SMA nanti nyambung ke situ? Atau malah berhenti di level “bisa bikin game ular-ularan”?

Pepatah bilang, belajar tanpa tujuan itu seperti dayung tanpa perahu, anak-anak bisa pinter coding, tapi kalau arahnya gak jelas, bisa-bisa cuma jadi koleksi file.exe di laptop sekolah.

World Economic Forum sudah kasih spoiler, tahun 2030, sepuluh keterampilan yang paling dicari salah satunya adalah analytical thinking dan tech design. Dunia usaha butuh orang yang bisa berpikir analitis, ngerti data, tahu gimana bikin sistem yang efisien, dan mampu beradaptasi sama teknologi yang terus berubah.

Artinya, industri gak cuma butuh programmer yang jago ngetik kode panjang-panjang kayak mantra dukun, tapi juga butuh tenaga kerja yang paham logika bisnis. Coding itu penting, tapi kalau gak nyambung ke kebutuhan pasar, ya cuma kayak jago gitar tapi gak pernah manggung.

Sekolah harus bisa menyiapkan anak-anak untuk naik sepeda “roda dua” dunia kerja, jangan terus-terusan pakai roda tiga yang lucu tapi lambat. Misalnya, kalau di SD anak belajar bikin animasi kucing loncat, di SMP mereka harus naik level ke aplikasi yang berguna sehari-hari, kayak aplikasi absensi kelas. Nah, di SMA harus lebih serius, Python untuk data analitik, AI untuk prediksi, atau bahkan simulasi bisnis digital sederhana.

Perumpamaannya, belajar coding itu kayak belajar masak, kalau dari kecil cuma bisa goreng telur, ketika kerja diminta bikin rendang bisa panik. Makanya, kurikulumnya harus nyambung, ada escalation dari “telur ceplok” ke “rendang juara dunia”.

Yang jadi masalah, seringkali ada jurang antara dunia pendidikan dengan dunia usaha, sekolah punya semangat, industri punya kebutuhan, tapi jembatannya bolong, akhirnya banyak lulusan pintar teori tapi bingung praktik.

Contoh banyak anak bisa bikin aplikasi “kalkulator cinta” di sekolah, tapi ketika kerja, perusahaan butuh “aplikasi manajemen keuangan”. Itu kayak orang latihan renang di bak mandi, lalu disuruh berenang di lautan lepas.

Di sinilah peran kolaborasi lintas sektor pemerintah, perusahaan teknologi, universitas, dan dunia industri harus sering ngobrol. Jangan kayak tetangga yang ketemu cuma pas ada hajatan kalau intens komunikasi, kurikulum sekolah bisa sinkron dengan kebutuhan kerja.

Ada istilah kocak tapi menohok ngoding tanpa nganggur. Maksudnya, jangan sampai lulusan yang sudah jago coding malah jadi pengangguran karena skill-nya gak nyambung ke dunia usaha, kalau tahun 2030 banyak anak Indonesia yang bisa bikin animasi naga terbang, tapi perusahaan butuh aplikasi logistik untuk kirim cabe rawit, itu tragedi nasional.

Makanya, coding harus diposisikan bukan hanya “keren-kerenan” tapi juga sebagai alat solusi. Kalau bisa bikin aplikasi buat petani cek harga pupuk, nelayan tahu cuaca, atau UMKM bisa promosi online, itu baru namanya coding yang ngasih manfaat nyata.

Kita harus ingat pepatah lama, ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah, belajar coding itu mulia, tapi harus dibarengi dengan visi besar: membekali anak bangsa dengan keterampilan yang bisa langsung dipakai untuk menghadapi tantangan global.

Anak-anak jangan cuma diajari “cara bikin game”, tapi juga diajak mikir “Game ini bisa jadi peluang bisnis gak? Aplikasi ini bisa bantu siapa?” Dengan begitu, mereka terbiasa berpikir solusi, bukan sekadar hobi.

Kebijakan memasukkan coding dan AI dalam kurikulum sekolah adalah langkah maju. Tapi langkah maju tanpa arah bisa bikin kita jalan di tempat. Dunia usaha 2030 menunggu tenaga kerja yang bukan hanya jago nulis kode, tapi juga bisa mengaitkannya dengan kebutuhan nyata.

Kalau sekolah dan industri bisa seiring sejalan, anak-anak kita gak cuma jago bikin animasi kucing lompat, tapi juga siap bikin aplikasi yang mendatangkan gaji, bahkan devisa, karena pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan hanya mencetak lulusan yang pintar, tapi juga yang berguna, mandiri, dan mampu bersaing di pasar global.

Atau kalau kata pepatah Belajar coding itu penting, tapi lebih penting lagi memastikan coding itu menghasilkan makan nasi, bukan cuma makan waktu.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ini Cara Ampuh, Murah dan Mudah  dari drh. Indro Cahyono, untuk Melawan Covid-19

    Ini Cara Ampuh, Murah dan Mudah dari drh. Indro Cahyono, untuk Melawan Covid-19

    • calendar_month Kamis, 2 Sep 2021
    • account_circle Nasir Nasir
    • visibility 930
    • 0Komentar

    SUPAYA masyarakat mampu berdaulat dan mandiri mencegah pandemik Covid-19, drh. Indro Cahyono memberikan saran untuk melepas virus di rongga hidung dan mulut dengan cara mencuci hidung dan meminum ramuan 131 untuk mengatasi gejala infeksi Covid19. Hal itu diungkapkannya saat menjadi narasumber pada Konferensi Nasional Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) tentang ‘Perlindungan Diri Menghadapi Covid-19’ melalui zoom […]

  • Bobol Rumah Warga, Polsek Kayuagung Ringkus 2 ABG

    Bobol Rumah Warga, Polsek Kayuagung Ringkus 2 ABG

    • calendar_month Sabtu, 21 Des 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.483
    • 0Komentar

    JAJARAN Kepolisian Polres OKI, berhasil meringkus Dody (15) dan Subarno (16) asal Kelurahan Tanjung Rancing Kecamatan Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir(OKI), lantaran nekat melakukan pencurian disalah satu rumah warga Kelurahan yang sama disaat pemiliknya M Parisal sedang tak berada ditempat, Jumat (13/12/2019) lalu. Kapolres OKI AKBP Donni Eka Saputra didampingi Kapolsek Kota Kayuagung AKP Nasharuddin […]

  • Mengenal Kanker Nasofaring

    Mengenal Kanker Nasofaring

    • calendar_month Selasa, 2 Okt 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.802
    • 0Komentar

    KANKER Nasofaring merupakan sel-sel kanker yang berkembang di area nasofaring, atau setidaknya mulai berkembang dari area tersebut, sebelum akhirnya menyebar ke bagian tubuh lain. Kanker nasofaring merupakan jenis kanker pada mulut dan kepala yang tergolong langka. Nasofaring? Apa itu? Kebanyakan dari Anda tentunya belum terlalu mengerti istilah bagian tubuh yang satu ini. Belum lagi jika […]

  • ASN OKI Dilarang Terima & Minta Gratifikasi Hari Raya Keagamaan, Benarkah ?

    ASN OKI Dilarang Terima & Minta Gratifikasi Hari Raya Keagamaan, Benarkah ?

    • calendar_month Senin, 10 Mei 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.285
    • 0Komentar

    APARATUR Sipil Negara (ASN) Lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ogan Komering Ilir (OKI), dilarang menerima gratifikasi hari raya baik berupa bingkisan maupun bentuk lainnya yang berhubungan dengan jabatan atau berlawanan dengan fungsi tugasnya. Hal itu dipertegas dengan Surat Edaran Bupati Ogan Komering Ilir tentang Pencegahan Gratifikasi Terkait Hari Raya Keagamaan dengan Nomor Surat 700/03/UPG.OKI/2021 tanggal 7 […]

  • April, Train Set LRT Sumsel Tiba di Palembang

    April, Train Set LRT Sumsel Tiba di Palembang

    • calendar_month Jumat, 16 Mar 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.074
    • 0Komentar

    Keseluruhan train set akan dikirim sampai dengan akhir Mei hingga awal Juni nanti. Keseluruhan ada 8 train set dengan total gerbong sebanyak 24 gerbong.

  • ASN di Pemkot Palembang Wajib Gunakan Pakaian Adat

    ASN di Pemkot Palembang Wajib Gunakan Pakaian Adat

    • calendar_month Jumat, 19 Jan 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.357
    • 0Komentar

    Dapat membantu pengembangan UKM di Palembang

expand_less
WordPress Archive GamiPress Birthdays GamiPress BuddyBoss Notifications GamiPress BuddyPress Notifications GamiPress Conditional Emails GamiPress Conditional Notifications GamiPress Congratulations Popups GamiPress Coupons GamiPress Credly Gamipress Daily Login Rewards GamiPress Easy Digital Downloads Discounts