Jumat, 9 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pendidikan » “Coding di Sekolah, Kerja di Industri: Jangan Sampai Anak Bisa Bikin Game tapi Bingung Cari Gaji”

“Coding di Sekolah, Kerja di Industri: Jangan Sampai Anak Bisa Bikin Game tapi Bingung Cari Gaji”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 21 Agt 2025
  • visibility 924
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DI sebuah warung kopi pinggir jalan, saya pernah mendengar percakapan absurd tapi penuh makna, seorang bapak tua bertanya ke anaknya yang baru pulang sekolah, “Nak, belajar apa tadi?” Sang anak dengan bangga menjawab, “Belajar bikin game, Pak. Karakter game-nya bisa loncat-loncat kayak kucing tetangga.” Si bapak bengong, lalu nyeletuk, “Bagus sih, tapi kalau nanti bapak pensiun, kamu bisa bikin aplikasi bayar listrik murah gak?”

Nah, di situlah titik pentingnya, jangan sampai pelajaran coding dan kecerdasan buatan (AI) di sekolah cuma jadi ajang anak-anak bikin animasi lucu, tapi begitu masuk dunia kerja tahun 2030, mereka bengong kayak kambing masuk mall. Dunia usaha butuh tenaga kerja yang siap pakai, bukan cuma siap bikin karakter kartun.

Bayangkan sekolah itu seperti dapur, dan dunia kerja itu seperti restoran besar, kalau di dapur anak-anak cuma diajari bikin sambal terasi tapi restoran mintanya spaghetti carbonara, jelas pelanggan kabur. Dunia usaha maunya tenaga kerja yang bisa coding untuk solusi nyata aplikasi keuangan, big data analitik, sistem manajemen logistik, atau bahkan AI buat mendeteksi penipuan.

Pertanyaannya apakah apa yang dipelajari anak SD, SMP, hingga SMA nanti nyambung ke situ? Atau malah berhenti di level “bisa bikin game ular-ularan”?

Pepatah bilang, belajar tanpa tujuan itu seperti dayung tanpa perahu, anak-anak bisa pinter coding, tapi kalau arahnya gak jelas, bisa-bisa cuma jadi koleksi file.exe di laptop sekolah.

World Economic Forum sudah kasih spoiler, tahun 2030, sepuluh keterampilan yang paling dicari salah satunya adalah analytical thinking dan tech design. Dunia usaha butuh orang yang bisa berpikir analitis, ngerti data, tahu gimana bikin sistem yang efisien, dan mampu beradaptasi sama teknologi yang terus berubah.

Artinya, industri gak cuma butuh programmer yang jago ngetik kode panjang-panjang kayak mantra dukun, tapi juga butuh tenaga kerja yang paham logika bisnis. Coding itu penting, tapi kalau gak nyambung ke kebutuhan pasar, ya cuma kayak jago gitar tapi gak pernah manggung.

Sekolah harus bisa menyiapkan anak-anak untuk naik sepeda “roda dua” dunia kerja, jangan terus-terusan pakai roda tiga yang lucu tapi lambat. Misalnya, kalau di SD anak belajar bikin animasi kucing loncat, di SMP mereka harus naik level ke aplikasi yang berguna sehari-hari, kayak aplikasi absensi kelas. Nah, di SMA harus lebih serius, Python untuk data analitik, AI untuk prediksi, atau bahkan simulasi bisnis digital sederhana.

Perumpamaannya, belajar coding itu kayak belajar masak, kalau dari kecil cuma bisa goreng telur, ketika kerja diminta bikin rendang bisa panik. Makanya, kurikulumnya harus nyambung, ada escalation dari “telur ceplok” ke “rendang juara dunia”.

Yang jadi masalah, seringkali ada jurang antara dunia pendidikan dengan dunia usaha, sekolah punya semangat, industri punya kebutuhan, tapi jembatannya bolong, akhirnya banyak lulusan pintar teori tapi bingung praktik.

Contoh banyak anak bisa bikin aplikasi “kalkulator cinta” di sekolah, tapi ketika kerja, perusahaan butuh “aplikasi manajemen keuangan”. Itu kayak orang latihan renang di bak mandi, lalu disuruh berenang di lautan lepas.

Di sinilah peran kolaborasi lintas sektor pemerintah, perusahaan teknologi, universitas, dan dunia industri harus sering ngobrol. Jangan kayak tetangga yang ketemu cuma pas ada hajatan kalau intens komunikasi, kurikulum sekolah bisa sinkron dengan kebutuhan kerja.

Ada istilah kocak tapi menohok ngoding tanpa nganggur. Maksudnya, jangan sampai lulusan yang sudah jago coding malah jadi pengangguran karena skill-nya gak nyambung ke dunia usaha, kalau tahun 2030 banyak anak Indonesia yang bisa bikin animasi naga terbang, tapi perusahaan butuh aplikasi logistik untuk kirim cabe rawit, itu tragedi nasional.

Makanya, coding harus diposisikan bukan hanya “keren-kerenan” tapi juga sebagai alat solusi. Kalau bisa bikin aplikasi buat petani cek harga pupuk, nelayan tahu cuaca, atau UMKM bisa promosi online, itu baru namanya coding yang ngasih manfaat nyata.

Kita harus ingat pepatah lama, ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah, belajar coding itu mulia, tapi harus dibarengi dengan visi besar: membekali anak bangsa dengan keterampilan yang bisa langsung dipakai untuk menghadapi tantangan global.

Anak-anak jangan cuma diajari “cara bikin game”, tapi juga diajak mikir “Game ini bisa jadi peluang bisnis gak? Aplikasi ini bisa bantu siapa?” Dengan begitu, mereka terbiasa berpikir solusi, bukan sekadar hobi.

Kebijakan memasukkan coding dan AI dalam kurikulum sekolah adalah langkah maju. Tapi langkah maju tanpa arah bisa bikin kita jalan di tempat. Dunia usaha 2030 menunggu tenaga kerja yang bukan hanya jago nulis kode, tapi juga bisa mengaitkannya dengan kebutuhan nyata.

Kalau sekolah dan industri bisa seiring sejalan, anak-anak kita gak cuma jago bikin animasi kucing lompat, tapi juga siap bikin aplikasi yang mendatangkan gaji, bahkan devisa, karena pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan hanya mencetak lulusan yang pintar, tapi juga yang berguna, mandiri, dan mampu bersaing di pasar global.

Atau kalau kata pepatah Belajar coding itu penting, tapi lebih penting lagi memastikan coding itu menghasilkan makan nasi, bukan cuma makan waktu.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Masih Dalam Pembahasan, Pemerintah Belum Tetapkan Harga Booster Vaksin

    Masih Dalam Pembahasan, Pemerintah Belum Tetapkan Harga Booster Vaksin

    • calendar_month Rabu, 5 Jan 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 701
    • 0Komentar

      PEMERINTAH Indonesia akan memulai vaksinasi booster COVID-19 pada 12 Januari 2022. Namun khusus untuk vaksinasi non-program pemerintah atau mandiri diberlakukan pembayaran. Untuk tarif yang beredar saat ini bukanlah tarif vaksinasi dalam negeri, melainkan tarif vaksinasi di luar negeri. Tarif tersebut masih berupa perkiraan rentang harga yang berlaku di beberapa negara. Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 […]

  • Kerjurda Upaya Cari Bibit Atlet Berprestasi, Potensi Petenis Sumsel Cukup Menjanjikan

    Kerjurda Upaya Cari Bibit Atlet Berprestasi, Potensi Petenis Sumsel Cukup Menjanjikan

    • calendar_month Senin, 7 Jun 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 755
    • 0Komentar

    KETUA Persatuan Tenis Meja Indonesia (PTMSI) Provinsi Sumsel, H. MA. Gantada mengatakan, Kejurda Tenis Meja ini digelar untuk membina para bibit-bibit atlit sehingga mejadi atlit yang berkualitas. Mudahan kedepan muncul kembali bibit petenis meja yang akan menjadi juara di level nasional. Dan kami harap Kejurda ini menjadi agenda tahunan, kata dia saat menutup Kejuaraan Daerah […]

  • Istri Bupati OKI Gagas Gerakan Jahit Masker Sendiri di Rumah

    Istri Bupati OKI Gagas Gerakan Jahit Masker Sendiri di Rumah

    • calendar_month Rabu, 8 Apr 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.003
    • 0Komentar

    Kelangkaan masker di tengah kekhawatiran penularan virus corona (COVID-19) membuat Ketua TP PKK Kab. Ogan Komering Ilir (OKI) berinisiatif membuat gerakan Jahit Masker di rumah.   TP PKK Kab.OKI  membagikan masker hasil jahit sendiri kepada masyarakat umum    GERAKAN ini digagas Ketua TP PKK OKI, Hj. Lindasari Iskandar dengan mengkampanyekan  menjahit masker sendiri dari  kain […]

  • Alasan Ini Bikin BRIN Teliti Biosimilar Insulin

    Alasan Ini Bikin BRIN Teliti Biosimilar Insulin

    • calendar_month Selasa, 25 Okt 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 839
    • 0Komentar

      Sumselterkini.co.id, Cibinong –  Jumlah penderita diabetes diperkirakan akan terus meningkat di seluruh dunia hingga 2045. Hal ini karena ada perubahan pola hidup. Indonesia sendiri termasuk negara dengan jumlah penderita diabetes peringkat 5 terbesar di dunia. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi diabetes di Indonesia mencapai 8,5% dan biaya obat Diabetes Mellitus membebani BPJS. […]

  • Hadiri Wisuda Harapan USS, Ini Harapan Wagub Sumsel  

    Hadiri Wisuda Harapan USS, Ini Harapan Wagub Sumsel  

    • calendar_month Selasa, 17 Sep 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 873
    • 0Komentar

    “Adik-adik sekarang sudah menyandang  gelar sarjana. Karena itu  gunakankan ilmu yang telah didapat selama ini  sebagai bekal dalam menapaki kehidupan lebih baik lagi kedepan,”

  • Survei Jakpat: 78% Gen Z dan Milenial, Tertarik untuk Melakukan Zero Waste Movement

    Survei Jakpat: 78% Gen Z dan Milenial, Tertarik untuk Melakukan Zero Waste Movement

    • calendar_month Sabtu, 16 Des 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.316
    • 0Komentar

      Sumselterkini.co.id  – Menurut Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3), Rosa Vivien Ratnawati, anak muda memiliki peran strategis dalam pencapaian target zero waste, zero emission. Terlebih, saat ini Indonesia memiliki 70,72% penduduk usia produktif, yang diharapkan dapat membantu Indonesia mencapai masa keemasan di tahun 2045 mendatang.   Zero waste adalah konsep […]

expand_less
WordPress Archive GamiPress Birthdays GamiPress BuddyBoss Notifications GamiPress BuddyPress Notifications GamiPress Conditional Emails GamiPress Conditional Notifications GamiPress Congratulations Popups GamiPress Coupons GamiPress Credly Gamipress Daily Login Rewards GamiPress Easy Digital Downloads Discounts