Bukan Lagi Angkat Senjata, Generasi Muda Sumsel Hadapi “Perang Baru” di Era Global
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Selasa, 18 Agt 2026
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Delapan puluh satu tahun setelah Indonesia merdeka, medan perjuangan generasi muda Sumatera Selatan (Sumsel) berubah. Tidak lagi berhadapan dengan penjajah dan mengangkat senjata, anak muda saat ini dituntut harus mampu memenangkan persaingan di era global melalui pengetahuan, keterampilan, karakter dan prestasi.
Tantangan itu terasa semakin besar karena persaingan saat ini tidak mengenal batas wilayah. Anak muda Sumsel bukan hanya berkompetisi dengan sesama daerah, tetapi juga harus siap menghadapi dunia yang bergerak cepat dan semakin terbuka.
Pesan tentang tantangan generasi muda tersebut mendapat perhatian dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Halaman Griya Agung Palembang, Senin (17/8/2026).
Pemerintah Provinsi Sumsel menggelar upacara dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari jajaran Forkopimda, TNI/Polri, ASN, organisasi wanita hingga pelajar.
Para siswa SMA dari sejumlah wilayah di Sumsel juga mengambil bagian dalam kegiatan tersebut. Mereka tampil membawakan lagu-lagu kebangsaan dan atraksi marching band yang ikut mewarnai peringatan kemerdekaan.
Keterlibatan pelajar menjadi bagian penting dari momen tersebut, sebab, setelah generasi sebelumnya berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan, tanggung jawab berikutnya berada di tangan generasi yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan perubahan global.
Perjuangan generasi sekarang pun memiliki bentuk yang berbeda. Pendidikan dan penguasaan pengetahuan menjadi modal, sementara karakter dan keberanian mengambil peluang menjadi bekal untuk menghadapi kompetisi.
Untuk Sumsel sendiri, tantangan itu juga berkaitan dengan bagaimana menyiapkan anak muda agar tidak hanya menjadi penonton perubahan.
Bahkan mereka perlu memiliki kemampuan untuk menciptakan prestasi dan membawa nama daerah ke tingkat yang lebih luas.
Semangat kemerdekaan, karena itu, tidak cukup berhenti pada upacara setiap 17 Agustus. Nilai perjuangan perlu diterjemahkan ke dalam tindakan yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
Gubernur Sumsel H. Herman Deru dalam kesempatan tersebut mengingatkan cara mengisi kemerdekaan memang sudah berubah dibandingkan masa perjuangan para pahlawan.
Menurutnya, perubahan zaman tidak boleh membuat nilai patriotisme ikut hilang. Semangat tersebut harus tetap menjadi dorongan bagi masyarakat untuk bekerja keras, menjaga persatuan dan membangun semangat gotong royong.
“Cara mengisi kemerdekaan saat ini berbeda dengan era perjuangan dulu, roh serta nilai-nilai patriotisme para pahlawan tidak boleh luntur,” kata Herman Deru.
Ia juga menaruh harapan besar kepada generasi muda Sumsel, agar memperkuat pengetahuan dan karakter sehingga berani bersaing di tingkat global.
Oleh sebab itu, “perang baru” generasi muda bukanlah perang dengan senjata. Medannya adalah kompetisi, dan kemenangan ditentukan dengan seberapa siap mereka membekali diri dengan kemampuan untuk menghadapi dunia yang terus berubah. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
