Selasa, 6 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pemerintahan » “Ngejar Ekonomi Tapi Lupa Warisan: Antara Beton Bertingkat & Gamelan Terpinggirkan”

“Ngejar Ekonomi Tapi Lupa Warisan: Antara Beton Bertingkat & Gamelan Terpinggirkan”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Jumat, 8 Agt 2025
  • visibility 918
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

ADA sebuah kota kecil misalnya, yang dulu terkenal dengan irama gamelan sore dan aroma jenang dari dapur-dapur tua, kini yang terdengar hanyalah deru beton molen dan denting palu godam membangun apartemen. Lurahnya bangga bukan kepalang, katanya “Kota kita maju! Pendapatan daerah naik, hotel tumbuh, dan kafe berderet!” Tapi tak sadar, patung penari yang dulu jadi simbol kota malah digeser buat tempat parkir mobil pengunjung pusat perbelanjaan.

Nah, di sinilah kita mulai masuk ke persoalan besar ketika pembangunan ekonomi dikebut, seperti anak kos ngejar bus jurusan akhir bulan, sementara budaya ditinggal di halte, sendirian, bawa koper berisi sejarah yang makin berat.

Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, dalam Rakernas XI Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) 2025 di Yogyakarta, sudah memberi peringatan manis tapi menohok. Kata beliau, pelestarian kota pusaka bukan sekadar urusan selfie di bangunan tua, tapi bagian penting dari Asta Cita, mimpi besar Indonesia untuk jadi negara maju, sejahtera, dan tetap punya akar budaya yang kuat.

“Kalau kita satu frekuensi,” kata Bima, “urusan budaya dan pusaka ini jadi modal luar biasa menuju Indonesia Emas 2045.” Ibaratnya, ekonomi itu nasi, budaya itu sambel. Nasi banyak tapi nggak ada sambel, hidup terasa hambar. Tapi sambel doang tanpa nasi, ya… bikin perut panas, kudu seimbang.

Misalnya kamu punya rumah tua bergaya kolonial yang instagramable, tapi karena dianggap usang dan gak “cuan-able”, malah dibongkar jadi minimarket. Padahal kalau dikelola kreatif, bisa jadi homestay bersejarah atau museum tematik.

Lihat aja di luar negeri, kota-kota seperti Kyoto di Jepang atau Bruges di Belgia justru jadi kaya bukan karena mal megah, tapi karena mereka merawat sejarah dengan cermat.

Bima menyebut tiga hal penting Kota pusaka bukan hanya cantik, tapi punya nilai ekonomi, pelestarian itu harus berkelanjutan lintas pemimpin bukan sekadar proyek pas kampanye, dan warisan budaya itu penguat identitas dan karakter kota.

Kalau boleh nambahin, saya tambahkan satu “Kota pusaka itu seperti nenekmu yang suka ngelus-elus cucunya sambil bercerita tentang masa lalu. Kelihatan tua, tapi penuh makna dan pelajaran hidup”

Bima menyoroti banyak Pemda cuma ngejar angka pertumbuhan ekonomi. Dikit-dikit PDB, investasi, target pertumbuhan, dan proyeksi grafik Excel. Tapi ketika ditanya, “Masih ingat nggak tari tradisional asli daerahmu?” Mereka cuma cengar-cengir kayak mahasiswa ditanya dosen killer.

“Ngejar angka-angka cepat, tapi pelestarian budayanya dikorbankan,” ujar Bima.

Pepatah bilang “Karena mengejar layangan, sapi ditinggal masuk sawah” Lah, ini malah budaya ditinggal masuk jurang.

Di tengah kritik, Bima memberi harapan, ia memuji Kabupaten Buton Tengah (Buteng) yang mulai mengembangkan potensi laut dan wisata unik berbasis budaya. Artinya, ada cara kok buat mendongkrak ekonomi tanpa harus membongkar warisan sejarah, bahkan bisa dijadikan sinergi budaya naik, ekonomi pun makin mantap.

Jangan pembangunan terus diisi kontraktor dan konsultan, tapi juga ajak budayawan, sejarawan, dan arsitek ngobrol bareng. Bukannya makin ribet, justru makin kaya perspektif.

Seperti kata Albert Einstein, bukan tetangga kita di RT sebelah “Imagination is more important than knowledge.” (The Saturday Evening Post, 1929). Einstein bilang  imajinasi lebih penting dari pengetahuan, karena pengetahuan itu terbatas, tapi imajinasi bisa menjangkau seluruh dunia. Lah iya, itu bukan kalimat endorse iklan kopi, tapi pernyataan fisikawan dunia yang jenius itu sendiri.

Kalau pembangunan cuma fokus pada angka pertumbuhan ekonomi, sementara budaya dilupakan, kita sedang membangun rumah megah di atas fondasi yang rapuh. Indonesia tidak hanya butuh gedung tinggi, tapi juga cerita panjang. Cerita yang bisa dibacakan ke cucu-cucu kita kelak, sambil duduk di beranda rumah pusaka yang masih berdiri.

Karena budaya bukan sekadar acara 17-an. Budaya adalah napas, akar, dan suara masa lalu yang masih membimbing masa depan.

Jadi kalau kamu Pejabat, Lurah, atau Kepala Dinas, tolong deh, jangan cuma bangga ngebangun flyover baru. Lihat juga jembatan tua yang punya cerita cinta rakyat. “Jangan bangun kota seperti orang masak mie instan, cepat jadi tapi cepat lupa.

Bangunlah seperti nenek masak opor lama, penuh bumbu, dan bikin semua generasi betah ngumpul di meja makan.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hasil Cukup Baik, PPKM Jawa Bali Kembali Diperpanjang

    Hasil Cukup Baik, PPKM Jawa Bali Kembali Diperpanjang

    • calendar_month Selasa, 7 Sep 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 778
    • 0Komentar

    SEIRING situasi penanganan COVID-19 di Indonesia yang semakin baik dan menjadi lebih efektif lagi, Pemerintah kembali memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali berlevel 4, 3, 2 dan 1 hingga 13 september 2021 mendatang. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Panjaitan, menyampaikan seiring dengan situasi COVID-19 yang makin baik, serta implementasi […]

  • Resmikan Rusun Ponpes, Kementerian PUPR Dorong Santri Tinggal di Rusun

    Resmikan Rusun Ponpes, Kementerian PUPR Dorong Santri Tinggal di Rusun

    • calendar_month Kamis, 20 Jan 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.714
    • 0Komentar

    KETUA DPR RI Dr. (H.C) Puan Maharani meresmikan dua rumah susun (Rusun) Pondok Pesantren Al-Quran Az-Zayadiy, Sukoharjo, Jawa Tengah, Rabu (19/1/2022). Hunian vertikal itu dibangun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di Desa Sanggrahan, Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah yang akan diperuntukkan bagi para santri. Rusun tersebut sudah dilengkapi dengan fasilitas meubelair serta […]

  • Cegah Kekerasan Seksual, Kemenag Buat Regulasi

    Cegah Kekerasan Seksual, Kemenag Buat Regulasi

    • calendar_month Jumat, 4 Feb 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 737
    • 0Komentar

    KEMENTERIAN Agama sedang menyiapkan regulasi pencegahan kekerasan seksual di lembaga pendidikan keagamaan. Dirjen Pendidikan Islam Muhammad Ali Ramdhani mengatakan bahwa regulasi dalam bentuk Peraturan Menteri Agama (PMA) ini disusun sebagai langkah mitigatif atas terjadinya sejumlah kasus kekerasan seksual di lembaga pendidikan keagamaan dalam beberapa tahun terakhir ini. “Kami sudah mulai susun regulasinya. Kami jaring saran […]

  • Ampun Bang Jago!

    Ampun Bang Jago!

    • calendar_month Sabtu, 5 Des 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 4.591
    • 0Komentar

    JANGAN kendor #PakaiMasker walaupun kamu merasa sehat. Kalau dipakai dengan benar masker bisa menahan droplet sehingga diri dan orang lain terlindungi! Eitss, jangan lupa tetap #JagaJarak dan #CuciTanganPakaiSabun biar makin mantaaap deh perlindungannya! .[***] covid.go.id/irwan wahyudi  

  • OPD Muba Diminta Segera Umumkan RUP

    OPD Muba Diminta Segera Umumkan RUP

    • calendar_month Rabu, 28 Nov 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 912
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, SEKAYU –  Bupati Musi Banyuasin H Dodi Reza Alex Noerdin melalui Sekretaris Kabupaten Musi Banyuasin Drs H Apriyadi MSi menghimbau kepada seluruh Kepala Perangkat Daerah untuk segera mengumumkan Rencana Umum Pengadaan (RUP) pada Aplikasi Sirup. Himbauan tersebut disampaikan Sekda saat memimpin Rapat Percepatan Kegiatan Tahun Anggaran 2019, di Ruang Rapat Randik Pemkab Muba, Rabu […]

  • BPPD Kembali Terapkan E-Tax Demi Kejar Target PAD

    BPPD Kembali Terapkan E-Tax Demi Kejar Target PAD

    • calendar_month Minggu, 16 Feb 2020
    • account_circle Yosep Indra Praja
    • visibility 1.054
    • 0Komentar

    PENERAPAN sistem Transaction Monitoring Device (TMD) masih menjadi cara yang dianggap efisien oleh Badan Pengelolaan Pajak Daerah (BPPD) Kota Palembang, dalam memantau wajib pajak, khususnya restoran, pusat hiburan dan hotel. Bahkan, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang sebelumnya bernama Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) tersebut, akan menambah 100 alat e-Tax yang selama ini sudah terpasang. Kepala BPPD Kota Palembang, […]

expand_less
WordPress Archive Reco – Minimal Theme for Freebies Recode - Coding Bootcamp Elementor Template Kit Recort – Recording Studio Elementor Template Kit Recruitment Management module for Perfex CRM Rectangle Max (Admob + GDPR + Android Studio) Recycle – Environmental & Green Business WordPress Theme Redboa – Steakhouse Restaurant WordPress RedChili – Restaurant WordPress Theme Reddrop Buddies – Multi-Concept Activism & Blood Donation Campaign WordPress Theme RedHelp – Startup Showcase Elementor Template Kit