Selasa, 15 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pemerintahan » “Ngejar Ekonomi Tapi Lupa Warisan: Antara Beton Bertingkat & Gamelan Terpinggirkan”

“Ngejar Ekonomi Tapi Lupa Warisan: Antara Beton Bertingkat & Gamelan Terpinggirkan”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Jumat, 8 Agt 2025
  • visibility 911
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

ADA sebuah kota kecil misalnya, yang dulu terkenal dengan irama gamelan sore dan aroma jenang dari dapur-dapur tua, kini yang terdengar hanyalah deru beton molen dan denting palu godam membangun apartemen. Lurahnya bangga bukan kepalang, katanya “Kota kita maju! Pendapatan daerah naik, hotel tumbuh, dan kafe berderet!” Tapi tak sadar, patung penari yang dulu jadi simbol kota malah digeser buat tempat parkir mobil pengunjung pusat perbelanjaan.

Nah, di sinilah kita mulai masuk ke persoalan besar ketika pembangunan ekonomi dikebut, seperti anak kos ngejar bus jurusan akhir bulan, sementara budaya ditinggal di halte, sendirian, bawa koper berisi sejarah yang makin berat.

Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, dalam Rakernas XI Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) 2025 di Yogyakarta, sudah memberi peringatan manis tapi menohok. Kata beliau, pelestarian kota pusaka bukan sekadar urusan selfie di bangunan tua, tapi bagian penting dari Asta Cita, mimpi besar Indonesia untuk jadi negara maju, sejahtera, dan tetap punya akar budaya yang kuat.

“Kalau kita satu frekuensi,” kata Bima, “urusan budaya dan pusaka ini jadi modal luar biasa menuju Indonesia Emas 2045.” Ibaratnya, ekonomi itu nasi, budaya itu sambel. Nasi banyak tapi nggak ada sambel, hidup terasa hambar. Tapi sambel doang tanpa nasi, ya… bikin perut panas, kudu seimbang.

Misalnya kamu punya rumah tua bergaya kolonial yang instagramable, tapi karena dianggap usang dan gak “cuan-able”, malah dibongkar jadi minimarket. Padahal kalau dikelola kreatif, bisa jadi homestay bersejarah atau museum tematik.

Lihat aja di luar negeri, kota-kota seperti Kyoto di Jepang atau Bruges di Belgia justru jadi kaya bukan karena mal megah, tapi karena mereka merawat sejarah dengan cermat.

Bima menyebut tiga hal penting Kota pusaka bukan hanya cantik, tapi punya nilai ekonomi, pelestarian itu harus berkelanjutan lintas pemimpin bukan sekadar proyek pas kampanye, dan warisan budaya itu penguat identitas dan karakter kota.

Kalau boleh nambahin, saya tambahkan satu “Kota pusaka itu seperti nenekmu yang suka ngelus-elus cucunya sambil bercerita tentang masa lalu. Kelihatan tua, tapi penuh makna dan pelajaran hidup”

Bima menyoroti banyak Pemda cuma ngejar angka pertumbuhan ekonomi. Dikit-dikit PDB, investasi, target pertumbuhan, dan proyeksi grafik Excel. Tapi ketika ditanya, “Masih ingat nggak tari tradisional asli daerahmu?” Mereka cuma cengar-cengir kayak mahasiswa ditanya dosen killer.

“Ngejar angka-angka cepat, tapi pelestarian budayanya dikorbankan,” ujar Bima.

Pepatah bilang “Karena mengejar layangan, sapi ditinggal masuk sawah” Lah, ini malah budaya ditinggal masuk jurang.

Di tengah kritik, Bima memberi harapan, ia memuji Kabupaten Buton Tengah (Buteng) yang mulai mengembangkan potensi laut dan wisata unik berbasis budaya. Artinya, ada cara kok buat mendongkrak ekonomi tanpa harus membongkar warisan sejarah, bahkan bisa dijadikan sinergi budaya naik, ekonomi pun makin mantap.

Jangan pembangunan terus diisi kontraktor dan konsultan, tapi juga ajak budayawan, sejarawan, dan arsitek ngobrol bareng. Bukannya makin ribet, justru makin kaya perspektif.

Seperti kata Albert Einstein, bukan tetangga kita di RT sebelah “Imagination is more important than knowledge.” (The Saturday Evening Post, 1929). Einstein bilang  imajinasi lebih penting dari pengetahuan, karena pengetahuan itu terbatas, tapi imajinasi bisa menjangkau seluruh dunia. Lah iya, itu bukan kalimat endorse iklan kopi, tapi pernyataan fisikawan dunia yang jenius itu sendiri.

Kalau pembangunan cuma fokus pada angka pertumbuhan ekonomi, sementara budaya dilupakan, kita sedang membangun rumah megah di atas fondasi yang rapuh. Indonesia tidak hanya butuh gedung tinggi, tapi juga cerita panjang. Cerita yang bisa dibacakan ke cucu-cucu kita kelak, sambil duduk di beranda rumah pusaka yang masih berdiri.

Karena budaya bukan sekadar acara 17-an. Budaya adalah napas, akar, dan suara masa lalu yang masih membimbing masa depan.

Jadi kalau kamu Pejabat, Lurah, atau Kepala Dinas, tolong deh, jangan cuma bangga ngebangun flyover baru. Lihat juga jembatan tua yang punya cerita cinta rakyat. “Jangan bangun kota seperti orang masak mie instan, cepat jadi tapi cepat lupa.

Bangunlah seperti nenek masak opor lama, penuh bumbu, dan bikin semua generasi betah ngumpul di meja makan.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Panduan Isolasi Mandiri Anak dengan COVID-19

    Panduan Isolasi Mandiri Anak dengan COVID-19

    • calendar_month Kamis, 8 Jul 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 784
    • 0Komentar

    IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) menerbitkan Buku Diary Panduan Isolasi Mandiri Anak dengan COVID-19. Isi dari Buku Diary ini mencakup syarat isolasi mandiri (isoman), gejala COVID-19, bayi lahir dengan Ibu tersangka/terkonfirmasi COVID-19, obat dan alat yang harus disiapkan, protokol isoman, logbook, dan hal yang bisa dilakukan setelah menyelesaikan isoman. Buku ini dapat diunduh di https://s.id/isomananak Situasi […]

  • Repli Agustiar Influencer Asal Palembang Beri Dedikasi kepada Masyarakat yang Ada di Pedesaan Terkait UMKM Berbasis e- commerce

    Repli Agustiar Influencer Asal Palembang Beri Dedikasi kepada Masyarakat yang Ada di Pedesaan Terkait UMKM Berbasis e- commerce

    • calendar_month Selasa, 18 Jul 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.165
    • 0Komentar

    Repli Agustiar seorang Mahasiswa Universitas Sriwijaya Prodi Ilmu Komunikasi FISIP, merupakan influencer yang berasal dari Palembang ini sudah tidak asing lagi, yang selalu menginspirasi kita semua. Pada saat ini Repli Agustiar sedang pengabdian selama 40 hari Bersama masyarakat Desa Berkat, Kecamatan Sirah Pulau Padang, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan pegiat ekonomi skala kecil dan menengah yang melakukan produksi barang atau jasa dan akan diperjual belikan secara komersial. Repli sendiri telah melakukan observasi dan menemukan berbagai potensi UMKM yang […]

  • Tingkatan Ekonomi Rakyat, Pemerintah Daerah Utamakan Belanja Produk Dalam Negeri

    Tingkatan Ekonomi Rakyat, Pemerintah Daerah Utamakan Belanja Produk Dalam Negeri

    • calendar_month Selasa, 14 Jun 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 705
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Provinsi Sumatera Selatan terus mendorong pulihnya ekonomi melalui  cinta dan bangga dengan  produk lokal hasil produksi IKM, UKM dan UMKM yang dinilai kualitasnya tidak kalah dari produk impor. Gubernur Sumsel  H Herman Deru melalui dinas dan OPD terkait akan terus berupa memajukan produk lakal Sumsel  agar masuk dalam pasar nasional dengan menyalin kerjasama dengan […]

  • Mahasiswa dan Forum Masyarakat Gelar Aksi Damai, Pemkab OKI Ajak Dialog

    Mahasiswa dan Forum Masyarakat Gelar Aksi Damai, Pemkab OKI Ajak Dialog

    • calendar_month Senin, 27 Jul 2020
    • account_circle Aan
    • visibility 1.406
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menerima dengan hangat dan mengajak dialog mahasiswa dan Forum Masyarakat Buruh Tani OKI yang menggelar aksi damai di Kantor Bupati OKI, pada Senin (27/7/2020). Sekda OKI, H. Husin, S. Pd, MM mengatakan kepada massa aksi, pemkab OKI siap menerima masukan, berdialog, serta mendengar masukan dari masyarakat untuk kemajuan Bumi […]

  • Karhutla Sumsel: Hotspot Naik dari 46 Jadi 104 Titik, BNPB Kembali Kerahkan OMC

    Karhutla Sumsel: Hotspot Naik dari 46 Jadi 104 Titik, BNPB Kembali Kerahkan OMC

    • calendar_month Rabu, 5 Agt 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 26
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Lonjakan titik panas kembali menjadi perhatian di Sumatera Selatan (Sumsel), data satelit NASA NOAA20 mencatat jumlah hotspot di wilayah tersebut meningkat dari 46 titik pada 2 Agustus 2026 menjadi 104 titik pada 3 Agustus 2026. Kenaikan ini menjadi sinyal meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta potensi munculnya kabut asap saat musim […]

  • Tokopedia Tawarkan Kerjasama Ke Pemkot Palembang

    Tokopedia Tawarkan Kerjasama Ke Pemkot Palembang

    • calendar_month Selasa, 15 Okt 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.761
    • 0Komentar

    PT Tokopedia tawarkan kerjasama kepada Pemerintah Kota Palembang dalam bentuk jasa pembayaran pajak secara online guna memudahkan masyarakat Palembangbertransaksi dengan cepat. Hal ini dibenarkan Walikota Palembang Harnojoyo bahwa kunjungan dari pihak Tokopedia sendiri menawarkan kemudahan wajib pajak untuk melakukan pembayaran pajak secara cepat waktu. “Saya sangat menyambut baik kedatangan mereka menawarkan kerjasama untuk mempercepat melakukan […]

expand_less
WordPress Archive Reco – Minimal Theme for Freebies Recode - Coding Bootcamp Elementor Template Kit Recort – Recording Studio Elementor Template Kit Recruitment Management module for Perfex CRM Rectangle Max (Admob + GDPR + Android Studio) Recycle – Environmental & Green Business WordPress Theme Redboa – Steakhouse Restaurant WordPress RedChili – Restaurant WordPress Theme Reddrop Buddies – Multi-Concept Activism & Blood Donation Campaign WordPress Theme RedHelp – Startup Showcase Elementor Template Kit