Sabtu, 10 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pemerintahan » “Hijau di Ujung Kabel, Hitam di Ujung Pabrik”

“Hijau di Ujung Kabel, Hitam di Ujung Pabrik”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Selasa, 23 Des 2025
  • visibility 1.551
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

GUBERNUR Sumatera Selatan H. Herman Deru menerima tamu penting di ruang kerjanya kemarin. Bukan tamu yang datang membawa pempek atau tekwan, melainkan rombongan serius dengan map tebal dan rencana panjang, yaitu kendaraan listrik, charging station, dan masa depan hijau.

Topik ini terdengar modern, bahasanya juga meyakinkan, kata kuncinya satu ‘ramah lingkungan,’ pas banget dengan narasi ‘bumi rumah kita’ katanya makin kepanasan.

Pembahasan itu memang terasa segar, seperti kita membuka jendela di pagi hari yang sejuk membuat udara masuk, kepala jadi adem, pikiran ikut terang sehingga di atas meja rapat, masa depan itu tampak hijau dan rapi.

Secara logika di jalanan, ide kendaraan listrik memang menyenangkan untuk dibaca. Seandainya, jika suatu hari kendaraan listrik benar-benar mendominasi jalan raya di Sumatera Selatan, pasti, hidung tak lagi dipaksa menghirup bau solar.

Bahkan tak terdengar lagi knalpot yang batuk-batuk, dan asap hitam tak sempat bikin mata perih sebelum berkedip.

Selain itu, mobil melaju dengan senyap, motor tak meraung, dan paru-paru akhirnya bisa istirahat tanpa lembur akhirnya tidur malam pun terasa lebih nyenyak.

Namun, logika jalanan juga jujur, sebab begitu keluar dari ruang tamu yang sejuk, ceritanya sering berubah.

Di jalan raya, truk-truk besar yang uzur masih sliwar-sliwer menenggak solar, kalau mogok, sopirnya sering lebih dulu pasrah daripada mesinnya. Bau solar masih rajin menyapa hidung, terutama di jam sibuk.

Di titik ini, publik cuma bisa senyum kecut sambil bertanya pelan yang hijaunya di bagian mana?

Mobil listrik memang tak berasap itu faktanya, namun jangan lupa, listriknya datang dari mana.

Di Sumatera Selatan, struktur kelistrikan masih bertumpu pada pembangkit berbasis batubara. PLTU Bukit Asam, Banjarsari, Keban Agung, Simpang Belimbing, hingga Sumsel-5 masih menjadi tulang punggung pasokan listrik regional.

Artinya sederhana, ketika kendaraan listrik dicolokkan, besar kemungkinan yang mengalir di kabel itu adalah energi dari batubara.

Dari sini lahirlah ironi modern, mobil listrik memang tak berasap, tetapi asapnya pindah alamat, dari knalpot ke cerobong PLTU. Kita tak benar-benar menghilangkan asap, hanya memindahkannya.

Seperti menyapu debu ke kolong sofa ruang tamu, dari luar tampak bersih, tapi kolongnya tetap batuk.

Data bauran energi Sumatera Selatan, berdasarkan kajian Institute for Essential Services Reform (IESR) dipublikasikan pada 2024 dan mengolah data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sumatera Selatan tahun 2022 menyebutkan energi fosil masih mendominasi bauran energi daerah.

Batubara mengambil porsi terbesar, disusul gas bumi dan minyak bumi. Sementara energi terbarukan air, surya, panas bumi, dan bioenergy memang sudah ada, tetapi porsinya belum menjadi pemeran utama,  ibarat masih figuran yang sering terlupa dialognya.

Di sinilah kendaraan listrik berdiri sebagai simbol yang manis, namun belum sepenuhnya tuntas. Karena ia tampak hijau di brosur, tetapi di balik layar, hitamnya masih terasa. Bukan salah mobilnya. Bukan pula salah niatnya. Yang perlu dibenahi adalah urutan mainnya.

Kita boleh mencontoh negara lain dan bukan contoh setengah-setengah, seperti Norwegia, misalnya. Lebih dari 90 % listriknya berasal dari energi terbarukan, terutama tenaga air.

Ketika mobil listrik melaju, ia benar-benar hijau dari hulu ke hilir, tak heran jika kendaraan listrik mendominasi penjualan mobil baru. Di sana, mobil listrik bukan gimmick, melainkan konsekuensi logis.

Sementara di Islandia bahkan lebih ekstrem lagi, sebab hampir seluruh listriknya berasal dari panas bumi dan tenaga air.

Mobil listrik disana nyaris tak meninggalkan jejak emisi, tak ada drama pindah asap, karena dari awal memang tak ada asap.

Lalu Costa Rica. negara kecil yang jarang disebut di tongkrongan ini, tapi unggul dalam urusan energi bersih, pasalnya lebih dari 98 % listriknya berasal dari energi terbarukan. Mereka tak sekadar berbicara hijau, tetapi hidup di dalamnya.

Di negara-negara itu, mobil listrik adalah hasil akhir dari sistem energi yang sudah beres. Sementara di sini, kita baru di bab pembuka, tetapi sudah ingin pamer epilog.

Persoalan lain adalah soal keadilan, apalagi harga mobil listrik masih mahal dan penggunanya terbatas. Sementara mayoritas warga Sumatera Selatan masih setia pada motor lama, mobil diesel, dan angkutan umum yang usianya lebih senior dari kalender dinding.

 

Pengingat ringan & senyum

Ironisnya, sektor inilah yang menyumbang emisi terbesar, tetapi justru paling jauh dari sentuhan kebijakan hijau.

Oleh karena itu, pertanyaannya pelan-pelan berubah, apakah kebijakan ini ingin membersihkan udara, atau sekadar membersihkan citra?

Tulisan ini tentu bukan untuk mematahkan niat baik, justru sebaliknya sebagai pengingat ringan dengan senyum, dan bukan dengan telunjuk, bahwa transisi energi bukan sprint, melainkan maraton. Butuh napas panjang, urutan yang tepat, dan konsistensi yang tak mudah goyah.

Jika ingin benar-benar hijau, mungkin langkah awalnya bukan dari mobil pribadi, melainkan dari kendaraan publik.

Misalnya bus uzur, angkutan umum uzur, truk peti kemas uzur, kendaraan itu masih diperdayakan. Lalu pembangkitnya juga harus dibenahi, energi terbarukan diperkuat, dan peran batubara pelan-pelan dikurangi. Di situlah kendaraan listrik menemukan konteksnya.

Memang membangun charging station sangat penting, disaat bumi semakin panas ini, sebab menjadi tanda bahwa kita menyiapkan masa depan yang lebih bersih dan nyaman untuk anak cucu kita.

Namun masa depan tak cukup disiapkan dengan colokan saja, ia butuh keberanian mengubah sistem, bukan sekadar mengganti wajah.

Mobil listrik hari ini mungkin belum sepenuhnya hijau. Tetapi bisa menjadi sebuah asa, asal komitmennya itu utuh, bukan setengah-setengah jalan.

Asa bahwa suatu hari nanti, kabel yang kita banggakan benar-benar mengalirkan energi bersih, bukan sekadar memindahkan hitam dari satu tempat ke tempat lain.

Sebab jika tidak, kita akan terus hidup dalam ironi yang sama, yaitu bangga pada mobil tanpa knalpot, sambil pura-pura lupa pada cerobong yang terus mengepul.

Semoga Sumatera Selatan kelak benar-benar hijau dari hulu ke hilir, bukan hanya ramah di ujung kabel, tetapi juga bersih di ujung pabrik, dan semoga juga hanya menjadi fase, bukan warisan.(***)

 

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Inilah Wajah Jalan Perum Pesona Harapan Jaya di Kalidoni Akibat Diguyur Hujan, Miris..!!!

    Inilah Wajah Jalan Perum Pesona Harapan Jaya di Kalidoni Akibat Diguyur Hujan, Miris..!!!

    • calendar_month Sabtu, 11 Apr 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.429
    • 0Komentar

    Curah hujan tinggi selama dua pekan ini membuat beberapa Jalan di Perum Perumahan Harapan Jaya Jalan KH. Azhari, Kelurahan Kalidoni, Kecamatan Kalidoni terendam banjir, bahkan hujan turun subuh pagi yang cukup deras, sabtu [11/4/2020] membuat jalan-jalan di perumahan makin terendam banjir.   Hujan Deras turn beberapa pekan ini membuat sebagian  Jalan Lingkungan Perum Pesona Harapan […]

  • Ternyata Masih Rindu, Saat Sarapan Pagi di Pasar Tradisional Lahat, Alex Jadi Rebutan Pedagang untuk Swafoto

    Ternyata Masih Rindu, Saat Sarapan Pagi di Pasar Tradisional Lahat, Alex Jadi Rebutan Pedagang untuk Swafoto

    • calendar_month Kamis, 10 Jan 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.051
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Lahat – Mengenakan jaket kuning dan celana berbahan dasar hitam, mantan gubernur Sumsel dua periode Alex Noerdin membuat heboh suasana pagi di pasar tradisional Bunga Mas Kecamatan Kikim Timur Kabupaten Lahat,Kamis (10/1/2019). Kedatangan suksesor perhelatan Asian Games 2018 ini tak pelak membuat puluhan pedagang di pasar tersebut berlari kocar-kacir hanya ingin mengabadikan swafoto bersama […]

  • Dorong Industri Sawit Berkelanjutan, Muba Ajak Petani dan Perusahaan Diskusi

    Dorong Industri Sawit Berkelanjutan, Muba Ajak Petani dan Perusahaan Diskusi

    • calendar_month Jumat, 20 Sep 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 810
    • 0Komentar

    “Selain itu juga pembentukan pusat unggulan komoditi lestari dengan fokus pada karet dan kelapa sawit. Pusat unggulan tersebut diharapkan akan mendorong peningkatan produksi, pengolahan dan pemasaran dari komoditas dengan bertumpu pada penerapan platform good agricultural practices (GAP) dan verified sourching area (VSA),”

  • Sektor UMKM Akan Semakin Bergairah

    Sektor UMKM Akan Semakin Bergairah

    • calendar_month Jumat, 25 Mar 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 709
    • 0Komentar

    PRESIDEN mengungkapkan sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dalam negeri akan terus bergelora. Hal ini karena Pemerintah pun memberi perhatian besar, di antaranya dengan alokasi anggaran stimulus bagi UMKM sebesar Rp400 triliun pada 2022. Kepala Negara mengungkapkan, bergolaranya UMKM dipengaruhi oleh tiga faktor pendukung dari sisi pembiayaan, yakni anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), […]

  • Bukan Cuma Pedas, Sambal Nanas Khas Palembang Punya Rasa Manis yang Bikin Nagih

    Bukan Cuma Pedas, Sambal Nanas Khas Palembang Punya Rasa Manis yang Bikin Nagih

    • calendar_month Selasa, 18 Agt 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 50
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Mendengar kata sambal, yang langsung terbayang biasanya rasa pedas. Tapi di Palembang ada sambal yang punya sensasi berbeda karena cabai pedas dipadukan dengan nanas yang manis dan segar. Namanya sambal nanas khas Palembang. Rasanya memang pedas, tetapi tidak berhenti di situ. Manisnya nanas membuat sambal terasa lebih segar dan cocok dijadikan teman makan […]

  • Ketika Tradisi Bekarang di Danau Siarak Mendadak Populer di Muba

    Ketika Tradisi Bekarang di Danau Siarak Mendadak Populer di Muba

    • calendar_month Minggu, 29 Sep 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.188
    • 0Komentar

    DANAU Siarak, Desa Tanah Abang, Batanghari Leko, Kabupaten Musi Banyuasin sejak pagi sudah dipenuhi masyarakat. Mereka sengaja datang ramai-ramai untuk menjalankan tradisi yang dinamakan Bekarang [menangkul ikan]. Masyarakat setempat tak lupa membawa alat Tangkul atau Anco yang digunakan untuk menangkap ikan. Konon tradisi ini sudah ada turun menurun dari nenek moyang masyarakat Muba. Acara ini merupakan […]

expand_less
WordPress Archive Mediku – Health Medical Elementor Template Kit Medilab – Healthcare & Clinical Laboratory Elementor Template Kit Medilazar – Pharmacy Medical WooCommerce WordPress Theme Medilink – Health & Medical WordPress Theme Medina – Medical & Health Elementor Template Kit Medina – Medical WordPress Theme Mediphar – Pharmacy & Medical Elementor Template Kit MediPharma – Pharmacy & Medical Elementor Template Kit MediPoint – Doctor WordPress Theme mediPress – Health and Doctor Medical WordPress Theme