LAPANGAN Bumi Sriwijaya, Palembang, belum lama ini mendadak lebih semarak dari biasanya. Bukan karena laga tim profesional atau derby panas antarklub besar, melainkan karena digelarnya Turnamen Sepakbola Siti Fatimah Cup IV yang mempertemukan berbagai instansi di Sumatera Selatan.
Turnamen yang dibuka langsung oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan itu bukan sekadar ajang adu strategi di atas rumput hijau. Di balik riuh tepuk tangan dan sorak pemain, tersimpan misi besar Pemerintah Provinsi Sumsel untuk memperkuat solidaritas sekaligus mendorong sektor kesehatan dan pariwisata daerah.
Mengusung tema “Solidaritas dan Silaturahmi Melalui Sepakbola dalam Rangka Menuju Sumsel Health Tourism”, kegiatan ini menjadi ruang kebersamaan antarpegawai lintas instansi yang selama ini lebih sering bertemu di ruang rapat dibanding di lapangan sepakbola.
Sekda Sumsel dalam sambutannya menegaskan bahwa olahraga memiliki peran penting dalam membangun semangat persatuan dan gaya hidup sehat di tengah masyarakat.
“Pemerintah Provinsi Sumsel terus mendorong kemajuan olahraga di Sumatera Selatan. Ini juga menjadi bagian dari komitmen pemerintah, termasuk dengan hadirnya RSUD Siti Fatimah sebagai salah satu fasilitas kesehatan unggulan di Sumsel,” ujarnya.
Pernyataan itu seolah menjadi penegas bahwa sepakbola kini bukan hanya urusan mencetak gol atau mencari trofi. Olahraga mulai dijadikan pintu masuk memperkenalkan potensi besar Sumsel, termasuk sektor layanan kesehatan yang terus berkembang.
Ibarat sambil menyelam minum air, turnamen ini bukan cuma membuat badan berkeringat, tetapi juga menjadi cara halus mengenalkan program Sumsel Health Tourism kepada masyarakat luas.
Di tengah ketatnya persaingan daerah dalam menarik wisatawan, Sumsel mencoba mengambil jalur berbeda. Jika daerah lain sibuk menjual pantai dan pegunungan, Sumsel mulai melirik wisata kesehatan sebagai potensi baru yang menjanjikan.
Apalagi, RSUD Siti Fatimah kini menjadi salah satu rumah sakit unggulan dengan fasilitas modern yang terus dikembangkan pemerintah daerah. Kehadiran turnamen ini dinilai menjadi momentum tepat untuk memperkuat citra tersebut.
Atmosfer pertandingan pun terasa cair dan penuh keakraban. Para peserta tampak menikmati jalannya laga meski tetap bersaing ketat di lapangan. Sesekali terdengar gelak tawa dari pinggir lapangan ketika pemain gagal mencetak gol mudah atau terpeleset saat berebut bola.
Pemandangan seperti ini menjadi bukti bahwa olahraga masih menjadi bahasa paling ampuh untuk mencairkan sekat antarlembaga. Tak peduli jabatan atau instansi, semua melebur menjadi satu ketika peluit pertandingan dibunyikan.
Turnamen Siti Fatimah Cup sendiri kini telah memasuki edisi keempat. Konsistensi penyelenggaraan ini menunjukkan tingginya antusiasme peserta sekaligus dukungan pemerintah terhadap pengembangan olahraga di daerah.
Lebih dari sekadar kompetisi tahunan, ajang ini perlahan menjelma menjadi simbol kebersamaan sekaligus bagian dari strategi besar Sumsel menuju daerah yang sehat, aktif, dan memiliki daya tarik wisata berbasis layanan kesehatan.
Kalau kata pepatah, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Lewat sepakbola, Sumsel bukan hanya membangun solidaritas, tetapi juga sedang menendang bola menuju masa depan sektor kesehatan dan pariwisata yang lebih menjanjikan. (***)