HALAMAN Masjid Raya Taqwa Palembang sabtu akhir pekan saat pagi terlihat bukan hanya sebagai ruang ibadah, halaman itu menjelma menjadi lautan manusia yang datang dengan satu tujuan, menutup ramadan dengan khusyuk, lalu membuka lembar baru dengan saling memaafkan.
Di tengah saf yang rapat, Sekretaris Daerah Sumatera Selatan, Edward Candra, ikut larut dalam suasana, tak ada sekat antara pejabat dan warga. Semua berdiri sejajar, bahu membahu, menengadahkan tangan yang sama—memohon ampunan.
Usai salat Idul Fitri, suasana bergeser dari hening ke hangat. Senyum mulai merekah, pelukan terjadi di sana-sini. Momen yang tiap tahun terasa sederhana, tapi selalu punya makna yang dalam.
Dalam sambutannya, Sekda tidak sekadar menyampaikan formalitas. Ia mengajak masyarakat melihat Idul Fitri sebagai titik lanjut, bukan garis akhir. Ramadan boleh usai, tapi nilai-nilainya jangan ikut pamit.
Ia menekankan kebiasaan baik selama sebulan penuh dari berbagi, menahan diri, hingga peduli sesama harus tetap hidup dalam keseharian.
Menurutnya, lebaran bukan hanya soal kembali ke nol, tapi juga soal menjaga agar angka itu tidak kembali ternoda.
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, lanjutnya, akan terus mendorong pembangunan yang tidak hanya berbicara soal fisik, tetapi juga memperkuat toleransi dan kerukunan.
Ia percaya, daerah yang damai bukan hanya dibangun dengan beton, tapi juga dengan hati yang saling memahami.
Di tengah arus modernisasi dan dinamika sosial yang cepat berubah, pesan itu terasa relevan. Sebab, yang sering hilang bukan fasilitas, melainkan rasa saling peduli.
Momentum Idul Fitri, kata dia, harus dimanfaatkan untuk mempererat kembali hubungan yang mungkin renggang. Baik itu antar tetangga, rekan kerja, maupun sesama warga.
“Semangat kebersamaan dan kepedulian yang tumbuh selama Ramadan jangan berhenti hari ini. Kita jaga, kita rawat, dan kita bawa dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak ragu saling memaafkan. Sebab, menurutnya, tidak ada manusia yang luput dari salah. Justru dengan saling membuka pintu maaf, kehidupan akan terasa lebih ringan.
Di akhir pesannya, Sekda menyelipkan harapan sederhana namun dalam: agar semua yang hadir hari itu pulang bukan hanya dengan perut kenyang setelah bersilaturahmi, tapi juga dengan hati yang lapang.
“Semoga kita semua kembali menjadi pribadi yang lebih baik di hadapan Allah SWT,” tutupnya.
Lebaran pun akhirnya bukan hanya soal hari raya. Ia menjadi pengingat setelah sebulan ditempa, manusia diuji bukan saat berpuasa, tapi setelahnya: apakah tetap mampu menjaga kebaikan, atau kembali seperti semula. (***)