Uncategorized

Lapangan Hijau Jadi Pelarian ASN Sumsel?

ist

MINGGU pagi di Lapangan Bumi Sriwijaya tidak sepenuhnya dipenuhi aroma kompetisi. Tidak ada wajah tegang seperti di ruang rapat. Tidak pula terdengar suara formal yang biasanya akrab di kantor pemerintahan. Yang muncul justru tawa, sorakan kecil, hingga obrolan santai antaraparat yang sehari-harinya lebih sering bertemu dalam suasana birokrasi.

Rumput hijau pagi itu seperti sedang mengambil alih satu hal yang perlahan hilang dari rutinitas banyak pegawai pemerintahan: rasa akrab.

Di lapangan itulah Turnamen Sepakbola Siti Fatimah Cup IV resmi dibuka Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan, Minggu (9/5/2026). Namun bagi banyak orang yang hadir, acara itu terasa lebih dari sekadar turnamen antarinstansi.

Ada suasana yang berbeda.

Biasanya, nama-nama pejabat hanya terdengar lewat podium acara, tanda tangan dokumen, atau pembahasan program yang tak pernah sepi target. Tetapi pagi itu, sekat-sekat formal seperti mendadak mencair. Seragam olahraga menggantikan pakaian dinas. Suara peluit menggantikan bunyi ketukan meja rapat.

Sepakbola, entah bagaimana caranya, membuat semua terasa lebih dekat.

Barangkali memang itu yang diam-diam sedang dicari banyak orang di tengah ritme kerja yang semakin padat: ruang untuk bernapas.

Sekda Sumsel dalam sambutannya menegaskan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan terus mendukung kemajuan olahraga di daerah. Menurutnya, olahraga bukan hanya soal menjaga kebugaran tubuh, tetapi juga menjadi sarana memperkuat kebersamaan dan semangat persatuan.

“Pemerintah Provinsi Sumsel terus mendorong kemajuan olahraga di Sumatera Selatan. Ini juga menjadi bagian dari komitmen pemerintah, termasuk dengan hadirnya RSUD Siti Fatimah sebagai salah satu fasilitas kesehatan unggulan di Sumsel,” ujarnya.

Pernyataan itu terdengar sederhana. Namun di tengah kehidupan kerja yang semakin cepat, olahraga memang mulai terasa bukan lagi sekadar aktivitas fisik. Ia berubah menjadi semacam tempat singgah dari penat yang diam-diam menumpuk.

Tema yang diangkat dalam turnamen kali ini pun terasa cukup dekat dengan suasana tersebut: “Solidaritas dan Silaturahmi Melalui Sepakbola dalam Rangka Menuju Sumsel Health Tourism.”

Kalimat itu mungkin terdengar formal di atas spanduk acara. Tetapi di lapangan, maknanya terlihat lebih nyata.

Ada yang saling bercanda sebelum pertandingan dimulai. Ada yang tertawa saat rekannya gagal mengontrol bola. Ada pula yang tetap memberi tepuk tangan meski berasal dari instansi berbeda.

Pemandangan kecil seperti itu mungkin terdengar biasa. Namun di tengah birokrasi yang identik dengan ritme serius dan target pekerjaan, suasana cair seperti itu justru terasa mahal.

Siti Fatimah Cup yang kini memasuki edisi keempat tampaknya mulai menemukan maknanya sendiri. Bukan hanya menjadi agenda olahraga tahunan, tetapi juga ruang pertemuan yang lebih hangat antarpegawai lintas instansi.

Sebab pada akhirnya, banyak hal besar tidak selalu lahir dari ruang rapat yang tegang. Kadang, hubungan yang baik justru tumbuh dari obrolan ringan di pinggir lapangan.

Dan mungkin itu pula yang membuat olahraga selalu punya tempat tersendiri.

Ia mampu mempertemukan orang tanpa banyak formalitas.

Di tengah dunia kerja yang sering dipenuhi tekanan, olahraga menjadi cara sederhana untuk mengingatkan bahwa manusia tidak bisa hidup hanya dengan target dan pekerjaan. Ada kebutuhan untuk tertawa, bergerak, dan merasa dekat satu sama lain.

Turnamen itu turut dihadiri sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumsel, di antaranya Kepala Dinas Kesehatan Sumsel Trisnawarman, Kasatpol PP Sumsel Mahendra Resi Tama, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Herdi Apriansyah, Kepala Dinas Kehutanan Koimudin, serta Direktur RSUD Siti Fatimah dr. Syamsuddin Isaac.

Suasana pembukaan berlangsung meriah dan penuh keakraban. Tidak terlalu formal, namun tetap hangat.

Dan pagi itu, Lapangan Bumi Sriwijaya seolah memberi satu pesan sederhana, kadang-kadang, manusia memang hanya butuh sedikit ruang hijau untuk melepaskan penat yang terlalu lama disimpan sendiri. (***)

To Top