Gempa 7,7 Guncang Flores, Hotel Jayakarta Rusak, Papita Mbay Parah, 986 Wisatawan Sempat Tertahan
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
- visibility 20
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ilustrasi/kemenpar.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) dini hari, mulai berdampak pada aktivitas pariwisata di sejumlah wilayah. Dua akomodasi, yakni Hotel Jayakarta di Manggarai Barat dan Hotel Papita Mbay di Nagekeo, dilaporkan mengalami kerusakan, sementara 986 wisatawan sempat tertahan di Pulau Padar akibat penghentian sementara pelayaran.
Gempa utama terjadi sekitar pukul 05.58 WITA dengan pusat gempa berada di sekitar wilayah Mbay, Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer. Guncangan kemudian diikuti sejumlah gempa susulan yang turut dirasakan di Labuan Bajo dan daerah sekitarnya.
Di Labuan Bajo, Hotel Jayakarta menjadi salah satu fasilitas pariwisata yang mengalami kerusakan. Beberapa bagian struktur bangunan dilaporkan roboh. Seluruh tamu dan karyawan hotel disebut berada dalam kondisi aman dan telah dipindahkan ke akomodasi lain yang dinilai lebih aman.
Sementara itu, Hotel Papita Mbay di Nagekeo mengalami kerusakan parah. Penanganan dan pendataan terhadap kondisi bangunan masih dikoordinasikan dengan pihak terkait.
Sejumlah hotel lain di Labuan Bajo sejauh ini masih dapat beroperasi. Hotel Ayana, Ta’aktana Marriott, Crown, Menjaga Bay, Luwansa, Sudamala, dan Meurorah dilaporkan dalam kondisi umum aman, meski terdapat beberapa retakan ringan pada bangunan.
Dampak juga ditemukan pada fasilitas wisata. Tembok papan nama kawasan Loh Liang di Pulau Komodo dilaporkan roboh. Pemeriksaan terhadap sarana pendukung destinasi masih dilakukan untuk memastikan kondisi fasilitas sebelum aktivitas wisata kembali berjalan normal.
Sementara itu, 986 wisatawan yang sebelumnya berada di Pulau Padar sempat tertahan setelah aktivitas pelayaran dihentikan sementara. Setelah otoritas pelabuhan menerbitkan maklumat pembukaan kembali pelayaran, seluruh wisatawan tersebut berhasil kembali ke Labuan Bajo dengan selamat.
Kondisi penerbangan di Bandara Komodo masih berjalan dengan pembatasan setelah dilakukan pemeriksaan teknis. Aktivitas pelayaran juga mulai dibuka secara bertahap.
Di sektor restoran, La Moringga dan Escape Bajo dilaporkan hanya mengalami kerusakan ringan. Kedua usaha tersebut tetap berada dalam kondisi kondusif dengan staf dan pengunjung dinyatakan aman.
Gangguan tidak hanya terjadi pada bangunan usaha pariwisata. Sejumlah jalur yang menjadi akses penting menuju kawasan wisata Flores juga terdampak. Longsor dan robohnya tiang listrik dilaporkan terjadi di jalur Labuan Bajo–Ruteng, Bajawa–Ende, Ruteng–Borong, serta Ende–Moni.
Pelabuhan Maumere di Kabupaten Sikka juga mengalami kerusakan fisik. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi konektivitas perjalanan wisata antardaerah di Flores.
Di tengah penanganan dampak gempa, rangkaian penutupan Festival Golo Koe di Manggarai Barat dihentikan demi keselamatan. Agenda tersebut mencakup misa, konser, dan pameran UMKM.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mencabut peringatan dini tsunami pada pukul 08.30 WITA. Namun, masyarakat dan wisatawan tetap diminta waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.
Hingga Sabtu siang, pendataan korban mencatat empat orang meninggal dunia, masing-masing satu orang di Terang, Manggarai Barat, dua orang di Reo, Manggarai, dan satu orang di Maumere, Sikka. Dua orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka di Maumere.
Pemantauan terhadap kondisi destinasi dan industri pariwisata Flores masih berlangsung. Pemerintah bersama BPOLBF, BMKG, Basarnas, KSOP, BPBD, dan pemerintah daerah terus memperbarui informasi mengenai keamanan wisatawan serta perkembangan fasilitas pariwisata yang terdampak gempa. (***0
- Penulis: Irwan Wahyudi
