SETIAP peringatan Hari Kebangkitan Nasional, publik biasanya disuguhi pidato tentang persatuan, sejarah perjuangan, dan semangat cinta tanah air. Tahun ini suasananya sedikit berbeda. Dalam acara “Gema Langkah Alam” yang digelar Kementerian Kehutanan di Jakarta, isu yang diangkat justru berkaitan dengan hutan, perubahan iklim, dan masa depan lingkungan hidup.
Pilihan tema itu sebenarnya menarik karena ada upaya menghadirkan wajah baru nasionalisme Indonesia. Jika dulu semangat kebangkitan identik dengan perjuangan melawan penjajahan, kini pemerintah mencoba menggesernya menjadi perjuangan menjaga bumi dan hutan.
Pesan itu terlihat dalam sambutan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang dibacakan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kehutanan, drh. Indra Exploitasia. Dalam rilis dilaman resmi kehutanan, ia menjelaskan tantangan generasi muda hari ini bukan lagi merebut kemerdekaan, tetapi menjaga masa depan bumi dan lingkungan hidup.
Memang benar yang diungkapkan itu, namun masalahnya, realitas yang dihadapi generasi muda hari ini tidak sesederhana slogan penyelamatan bumi.
Anak-anak muda memang menjadi kelompok yang paling sering diajak bicara soal perubahan iklim. Mereka diminta peduli lingkungan, mengurangi sampah plastik, menjaga hutan, sampai menanam mangrove. Namun di saat bersamaan, banyak dari mereka justru masih sibuk memikirkan cara bertahan hidup.
Harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja makin ketat, biaya tempat tinggal mahal, sementara penghasilan sering kali tidak bergerak secepat kebutuhan hidup.
Di tengah situasi seperti itu, isu lingkungan akhirnya terasa seperti kemewahan yang hanya bisa dipikirkan setelah urusan hidup sehari-hari selesai.
Masalah itu menjadi ironi besar bagi generasi muda, apalagi negara bicara soal penyelamatan bumi, sementara sebagian generasi mudanya masih berjuang menyelamatkan hidupnya sendiri.
Oleh karena, ajakan menjaga lingkungan tidak bisa hanya berhenti sebagai kampanye moral yang terdengar bagus di atas panggung. Anak muda perlu melihat bahwa isu lingkungan juga punya hubungan nyata dengan masa depan ekonomi mereka.
Pemerintah sebenarnya mulai mengarah ke sana lewat program FOLU Net Sink 2030 yang disebut dalam acara tersebut. Program ini mendorong rehabilitasi hutan dan mangrove, pemulihan gambut, perlindungan kawasan hutan, hingga pengembangan ekonomi berbasis lingkungan.
Dalam sambutannya, Indra juga menambahkan berbagai program itu telah melahirkan aksi nyata dan peluang green jobs di berbagai daerah.
Masalahnya, istilah green jobs masih terdengar jauh bagi banyak anak muda, terutama di daerah. Tidak sedikit yang bahkan lebih akrab dengan pilihan kerja berbasis eksploitasi alam karena dianggap lebih cepat menghasilkan uang.
Di berbagai daerah di Indonesia tentu, hutan masih dipandang sebagai sumber ekonomi jangka pendek. Kayunya bisa dijual, lahannya bisa dibuka, atau sumber daya alamnya bisa ditambang. Ketika kebutuhan hidup makin mendesak, menjaga lingkungan sering kalah oleh logika perut.
Itulah sebabnya menjaga hutan tidak cukup hanya dengan slogan tanam pohon atau seminar perubahan iklim. Lingkungan baru benar-benar dijaga ketika masyarakat merasa ada masa depan yang bisa mereka dapatkan dari sana.
Program FOLU
Kerja sama Indonesia dan Norwegia dalam program FOLU juga memperlihatkan perubahan cara dunia memandang hutan. Duta Besar Norwegia untuk Indonesia, Rut Krüger Giverin, menerangkan pemerintahnya memberikan kontribusi sebesar 216 juta dolar AS atas keberhasilan Indonesia menurunkan emisi karbon selama periode 2016–2020.
Angka itu bukan hanya bantuan biasa, hal itu menunjukkan bahwa hutan kini sudah menjadi bagian dari diplomasi global dan pertarungan menghadapi krisis iklim dunia.
Dulu, negara-negara maju datang ke hutan tropis untuk mengambil hasil alamnya, kini mereka datang membawa dana karena hutan dianggap penting untuk menahan laju kerusakan iklim.
Indonesia tentu layak mendapat apresiasi karena berhasil menekan angka deforestasi dalam beberapa tahun terakhir. Namun masyarakat juga tahu persoalan lingkungan belum benar-benar selesai. Kebakaran hutan masih terjadi, kerusakan kawasan gambut belum sepenuhnya hilang, dan konflik lahan tetap muncul di sejumlah daerah.
Oleh sebabitu, tantangan terbesar pemerintah sebenarnya bukan membuat acara bertema lingkungan atau meluncurkan film pendek inspiratif. Tantangan yang jauh lebih sulit adalah membuat masyarakat percaya menjaga lingkungan memang sejalan dengan masa depan hidup mereka.
Sebab, bagi banyak anak muda, isu lingkungan belum terasa mendesak dibanding kebutuhan mencari pekerjaan dan penghasilan.
Padahal ancaman perubahan iklim tidak menunggu kondisi ekonomi membaik lebih dulu. Krisis itu sudah hadir lewat cuaca ekstrem, banjir yang makin sering, suhu yang makin panas, hingga kualitas lingkungan yang terus menurun.
Ironisnya, generasi yang hari ini paling sibuk bertahan hidup juga akan menjadi generasi yang paling lama menerima dampak kerusakan lingkungan di masa depan.
Mungkin karena itu, makna kebangkitan nasional hari ini memang mulai berubah bentuk. Cinta tanah air tidak lagi cukup diwujudkan lewat pidato heroik dan romantisme sejarah perjuangan. Dalam situasi ketika ancaman lingkungan semakin nyata, menjaga hutan dan memastikan bumi tetap layak dihuni juga menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan Indonesia.
Persoalannya, perjuangan itu akan sulit berhasil jika generasi mudanya terus diminta menyelamatkan bumi, sementara hidup mereka sendiri masih belum benar-benar aman. (***)
