DI TENGAH ketatnya persaingan industri perbankan nasional, kabar baik justru datang dari bank-bank daerah. Saat bank besar sibuk berebut pasar, industri Bank Pembangunan Daerah (BPD) justru masih mampu menunjukkan pertumbuhan yang solid dan tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga Maret 2026 total aset BPD mencapai Rp1.036,51 triliun atau tumbuh 3,20 persen secara tahunan (yoy). Ketahanan permodalan industri BPD juga masih kuat dengan rasio CAR sebesar 26,19 persen.
Tak hanya itu, penyaluran kredit BPD ikut tumbuh menjadi Rp656,87 triliun, didukung pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 4,74 persen yoy menjadi Rp782,04 triliun. Di tengah persaingan yang makin panas, angka ini menunjukkan bank daerah belum kehilangan tenaga untuk tetap bergerak.
Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae dilaman resmi OJK, OJK terus memperkuat industri BPD melalui Roadmap Penguatan BPD 2024-2027 agar semakin resilien, kompetitif, dan mampu menjadi penggerak ekonomi daerah.
Persaingan industri perbankan memang bukan perkara ringan. Bank digital tumbuh agresif, layanan keuangan makin cepat, sementara masyarakat kini makin selektif memilih tempat menyimpan uang maupun mencari pembiayaan. Dalam situasi seperti ini, banyak yang mengira bank daerah akan sulit bersaing. Namun faktanya, BPD justru masih bisa bertahan bahkan terus tumbuh.
Salah satu kekuatan utama BPD ialah kedekatan mereka dengan daerah dan pelaku usaha lokal. Bank daerah memahami karakter masyarakatnya sendiri, mulai dari kultur usaha, potensi ekonomi, hingga kebutuhan UMKM yang sering kali tidak tersentuh maksimal oleh perbankan nasional.
Hal itu pula yang kini terus diperlihatkan Bank Sumsel Babel. Di tengah persaingan industri yang semakin ketat, BSB mencoba menjaga perannya bukan hanya sebagai lembaga keuangan, tetapi juga bagian dari penggerak ekonomi rakyat.
Salah satu langkah yang dilakukan ialah melalui kolaborasi bersama Pemerintah Provinsi Sumsel baru-baru ini mengadakan kegiatan Undian Super Grand Prize Tabungan Pesirah 2026 yang digelar di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring Palembang.
Kegiatan ini mungkin hanya terlihat sebagai hiburan rakyat atau program apresiasi nasabah. Namun di balik itu, ada efek ekonomi yang cukup menarik. Ribuan masyarakat yang datang otomatis menciptakan keramaian ekonomi baru bagi pelaku UMKM lokal. Pedagang kuliner, usaha kerajinan, hingga produk unggulan daerah mendapat ruang untuk menjual produknya langsung kepada masyarakat.
Oleh sebab itu peran BPD sebenarnya terasa, bank daerah bukan hanya mengejar angka kredit atau simpanan, tetapi ikut menciptakan perputaran ekonomi dar akar rumput. Ketika acara besar digelar dan UMKM dilibatkan, maka uang ikut berputar di tengah masyarakat.
Pedagang kecil mendapat pembeli, produk lokal makin dikenal, dan usaha kecil punya peluang bertahan di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.
Komitmen
Pemimpin Divisi Pengembangan Produk dan Pemasaran Bank Sumsel Babel, Rozali Anton mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen BSB dalam mendukung ekonomi kerakyatan sekaligus membuka ruang lebih luas bagi UMKM lokal untuk berkembang.
Langkah seperti ini memang tidak langsung mengubah ekonomi daerah dalam semalam. Namun setidaknya ada rangsangan ekonomi yang muncul. UMKM yang biasanya hanya mengandalkan pembeli harian mendapat pasar lebih besar ketika ribuan orang berkumpul dalam satu kegiatan. Dari sini, usaha kecil bisa mendapatkan tambahan pemasukan, memperluas jaringan pelanggan, bahkan memperkenalkan produknya kepada pasar yang lebih luas.
Di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan, stimulus seperti ini penting agar UMKM tidak kehilangan napas. Sebab harus diakui, UMKM adalah sektor yang paling cepat merasakan tekanan ketika daya beli masyarakat melemah.
Karena itu, ketika bank daerah mulai aktif menghadirkan kegiatan yang berdampak langsung pada ekonomi masyarakat, langkah tersebut layak diapresiasi. Minimal ada upaya menjaga denyut ekonomi lokal tetap bergerak.
OJK sendiri terus mendorong BPD mengambil peran strategis dalam pengembangan ekonomi hijau, hilirisasi produk unggulan daerah, pariwisata berkelanjutan, hingga digitalisasi pedesaan. Dengan kedekatan geografis dan kultural yang dimiliki, BPD dinilai punya peluang besar menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru di daerah.
Persaingan industri perbankan boleh semakin keras, namun selama bank daerah tetap dekat dengan masyarakat dan tidak meninggalkan UMKM, peluang untuk terus tumbuh masih terbuka lebar. Dan di Sumsel, langkah ini dilakukan Bank Sumsel Babel menjadi salah satu contoh bank daerah masih bisa tetap perkasa di tengah tekanan persaingan nasional.(***)
