Senin, 28 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Musik & Film » Gowok, Gonggong Tradisi dari Tanah Jawa yang Siap Go International

Gowok, Gonggong Tradisi dari Tanah Jawa yang Siap Go International

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 5 Jun 2025
  • visibility 1.029
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id, -Suasana di Plaza Senayan  baru -baru ini mendadak kayak pesta pernikahan anak keraton penuh senyum, sorot lampu, dan tentu saja orang-orang penting berdatangan dengan wajah bahagia level dapat undangan gala dinner, bukan undangan nyicil kulkas. Di tengah gegap gempita itu, muncullah film Gowok, karya Hanung Bramantyo, yang sukses menyulap warisan budaya Jawa jadi tontonan yang bukan cuma bikin melek budaya, tapi juga melek hati nurani.

Yang datang pun bukan orang sembarangan. Ada Wamen Ekraf Irene Umar yang senyumnya setajam kritik netizen, Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang tampil semangat kayak mau lomba baca puisi, Yovie Widianto yang tukar piano dengan popcorn, dan Ario Bayu yang setia dengan tatapan tajam-tajam ngademin. Semua ngumpul demi satu hal menyaksikan Gowok film yang kalau disimak baik-baik, bisa bikin kita sadar bahwa budaya itu bukan barang antik, tapi aset masa depan.

Gowok itu ibarat nasi liwet tampil sederhana, tapi gurihnya merasuk ke jiwa. Film ini ngangkat tradisi gowokan Jawa, yang selama ini cuma dibisikkan dari mulut ke kuping seperti rahasia nenek tentang ramuan awet muda. Tapi Hanung, alih-alih menyembunyikan, justru nyorot tradisi itu pakai lampu sorot seterang tagihan listrik kos-kosan akhir bulan.

Bukan buat sensasi, tapi buat edukasi. Karena Gowok bukan cuma cerita tentang masa lalu, tapi juga refleksi zaman sekarang tentang relasi, tubuh, peran perempuan, dan budaya yang sebetulnya kaya raya tapi sering disepelekan. Kalau budaya itu pohon, Gowok adalah orang yang rela nyiram tiap hari walau nggak masuk InstaStory.

Coba deh tengok negara tetangga, Korea Selatan udah ekspor budaya lewat film dan drakor sampai bikin anak muda lebih lancar ngomong  oppa daripada Pak RT. Film Parasite bahkan bikin sejarah di Oscar. India? Jangan ditanya. RRR sampe Gully Boy udah mendunia, meski penontonnya nggak ngerti semua dialognya. Bahkan Bhutan, negara yang lebih kecil dari Jawa Timur, bisa bikin film Lunana: A Yak in the Classroom dan dapet nominasi Oscar. Mereka jualan cerita lokal, kita? Masih sibuk debat, “Ending-nya perlu plot twist atau nggak, ya?”

Padahal kita punya segudang kisah yang bisa disulap jadi film  dari legenda Si Pahit Lidah di Sumsel sampai drama kolosal rebutan tanah warisan di kampung semua tinggal dikemas. Tapi kalau semua sibuk nunggu biar viral dulu baru dibuat film, ya selamanya kita cuma jadi penonton di festival orang.

Wamen Irene Umar dan Menteri Fadli Zon udah kasih kode keras  film lokal ini bisa jadi tambang emas budaya, asal didukung. Tapi jangan dukungan level like and share doang. Kita butuh lebih pembinaan buat sineas daerah, insentif pajak buat produser nekat, dan promosi yang nggak kalah dari promo odol di bulan puasa.

Bayangin kalau tiap daerah bikin satu film lokal per tahun. Bisa ada Avengers-nya Indonesia bukan pahlawan berkostum, tapi pahlawan budaya yang berjuang lewat layar. Bioskop pun bukan cuma tempat nonton horor berisi suara bisikan dan hantu joget, tapi jadi panggung besar budaya.

Karena kalau film lokal hanya jadi pelengkap layar, ya kita selamanya cuma jadi penonton kehormatan di negeri sendiri.

Gowok adalah gong budaya. Ia diketok keras bukan buat cari sensasi, tapi buat bangunin kita yang udah lama ketiduran di ranjang modernitas. Film ini ngajak kita mikir, Kalau bukan kita yang angkat budaya sendiri, masa harus nunggu Hollywood ngelirik dulu baru bangga?

Jangan biarkan budaya kita jadi kayak tanaman bonsai cantik tapi disimpan di pojokan. Saatnya dibawa ke panggung besar. Ke layar lebar. Ke dunia!

Seperti pepatah yang dimodifikasi ala anak bioskop “Yang menonton film lokal, sedang menanam pohon budaya. Tapi yang hanya menonton film luar, sedang beli benih orang lain”.

Kalau selama ini kita sibuk membanggakan film luar, mungkin sekarang saatnya tepuk tangan untuk film sendiri. Dan bukan cuma tepuk tangan, tapi juga beli tiket, ajak keluarga, ajak mantan kalau perlu biar sama-sama sadar bahwa budaya kita layak tampil di layar lebar, bukan cuma di lemari museum.

Karena seperti kata pepatah modifikasi “Yang tidak menonton film lokal, akan jadi penonton abadi di bioskop global”. Jika di kemudian hari film ini melanglang buana hingga Oscar atau Golden Globe, kita tak bisa lagi bilang, “Ah, itu mah kebetulan”. Karena sesungguhnya, kebetulan hanya datang pada yang bersungguh-sungguh. Dan Gowok adalah bukti, bahwa budaya yang dibungkus dengan cinta dan keberanian, akan selalu menemukan jalannya ke hati siapa pun di mana pun.

Mari kita tepuk tangan bukan hanya buat akting Ario Bayu, tapi juga buat Gowok, buat Hanung, buat seluruh tim produksi, dan buat bangsa ini yang semoga, makin sadar bahwa kekayaan budaya bukan buat dikenang, tapi buat dijual… dengan harga tinggi dan penuh cinta. Hidup budaya! Hidup film lokal! Dan hidup penonton yang mau beli tiket, bukan cuma nonton bajakan sambil makan kerupuk!. Bravo, Gowok. Tabuh terus gongnya. Biar dunia tahu  budaya Indonesia bukan cerita yang selesai tapi baru dimulai.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dari Startup, Pemerintah akan Mendukung Adanya Business Matching

    Dari Startup, Pemerintah akan Mendukung Adanya Business Matching

    • calendar_month Sabtu, 9 Des 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.146
    • 0Komentar

    Partisipasi dari para pelaku startup sangat penting untuk memanfaatkan peluang yang diberikan agar startup Indonesia menjadi The Next Indonesian Unicorns

  • Ada Tempat Swafoto Gratis di Muba, Penasaran ? Coba Main Yuk Ditaman Belakang Rumdin Bupati

    Ada Tempat Swafoto Gratis di Muba, Penasaran ? Coba Main Yuk Ditaman Belakang Rumdin Bupati

    • calendar_month Sabtu, 19 Jan 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.762
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Sekayu – Meski belum diberi nama secara resmi, namun taman yang baru dibangun tepat di belakang rumah dinas (rumdin) Bupati Muba atau yang dikenal Griya Pendopoan Serasan Sekate mulai diserbu warga jadi tempat spot swafoto terbaru warga Bumi Serasan Sekate. Pantauan dilokasi tampak muda-mudi di Sekayu riang gembira swafoto bersama, bahkan taman yang saat […]

  • Positif Covid-19 di Sumsel Mendekati Angka 1.500 Kasus

    Positif Covid-19 di Sumsel Mendekati Angka 1.500 Kasus

    • calendar_month Selasa, 16 Jun 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 894
    • 0Komentar

    POSITIP Covid-19 di Sumsel mendekati angka 1.500 kasus, pasalnya hingga Senin kemarin total mencapai 1.448 orang yang dinyatakan positif. Jumlah ini meningkat setelah ada 52 kasus  positip covid-19. Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumsel Yusri mengatakan, 52 kasus baru meliputi Kabupaten Muba 12 orang, Palembang 39 orang, dan Kabupetn Banyuasin 1 orang. “Penambahan […]

  • Belajar Dari Pengalaman Gempabumi, Apa Yang Perlu Dipersiapkan ?

    Belajar Dari Pengalaman Gempabumi, Apa Yang Perlu Dipersiapkan ?

    • calendar_month Sabtu, 1 Mei 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.032
    • 0Komentar

    GEMPA BUMI dengan magnitudo (M) 6,1 menguncang beberapa wilayah di Provinsi Jawa Timur (Jatim) pada 10 April 2021 lalu. Guncangan gempa dirasakan di 33 Kabupaten Kota mengakibatkan sebanyak 10 orang meninggal dunia, 2 orang luka berat, 6 orang luka sedang dan 97 orang luka ringan. Dampak gempabumi juga menyebabkan sejumlah kerusakan dengan kategori sedang hingga […]

  • He..he, Gak Bisa Pacaran Lagi Dong ! Pemkot Bengkulu Bakal Pasang 45 Unit CCTV

    He..he, Gak Bisa Pacaran Lagi Dong ! Pemkot Bengkulu Bakal Pasang 45 Unit CCTV

    • calendar_month Sabtu, 13 Okt 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.373
    • 0Komentar

    Oleh : Antara SUMSELTERKINI.CO.ID, BENGKULU – Pemerintah Kota Bengkulu berencana memasang sebanyak 45 unit televisi sirkuit tertutup atau CCTV di ruang publik, yakni di taman-taman dan di jalan-jalan di ibu kota Provinsi Bengkulu itu. Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian Kota Bengkulu, Medi Pebriansyah, mengatakan seluruh televisi sirkuit yang dipasang, akan terhubung langsung pada pusat […]

  • Ingatkan Warga Bahaya COVID-19 di Safari Jumat

    Ingatkan Warga Bahaya COVID-19 di Safari Jumat

    • calendar_month Sabtu, 29 Agt 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 718
    • 0Komentar

    PEMKAB Musi Banyuasin Terus Gencar Mensosialisasikan gerakan Wajib Pake Masker kali ini Wakil Bupati Musi Banyuasin Beni Hernedi melakukan kunjungan kerja di Desa Cinta Damai (C1) Kecamatan Sungai dalam rangka Safari Jumat. Sebelum Shalat Jum’at berjamaah dengan masyarakat di Masjid An-Nur, Jumat (28/8/2020), Wabup menyampaikan tujuan kunjungan kerjanya sengaja untuk bersilaturahmi dan meninjau langsung kondisi […]

expand_less
WordPress Archive Maldives – Business & Agency Elementor Template Kit Malmö – A Charming Multi-concept WordPress Theme Malo – Beekeeping & Honey Shop WordPress Theme Malta – Windsurfing, Kitesurfing & Wakesurfing Center WordPress Theme Mamo – Creative Portfolio / Multipurpose WordPress Theme Mana – Responsive Multi-Purpose Theme ManageOrder – WooCommerce Quick Order manage, Invoices, Packing Slips PDF & Print, Shipment Tracking Manaka – Architecture & Interior Elementor Template Kit Mangan – Restaurant Elementor Template Kit Manggis – Creative Portfolio WordPress Theme