Musik & Film

“Budak” Lorong Baru Merambah Platform Digital & Daring

Sejak Jumat 5 September 2020, resmi Budak Lorong dirilis melalui media sosial. Lagu ini bisa dinikmati di JOOX, Spotfify, Deezer, Youtube, Facebook, dan Instagram. Proses produksi video klipnya dikerjakan  di studio rekaman sendiri di rumahnya di Jalan Candi Angsoko Palembang. Kini, karyanya telah berlayar di dunia maya.

Dia memang belum memrpoduksi melalui bentuk fisik, cakram. Masih melalui jalur platform digital dan dunia daring. Dunia yang lagi tren dan mudah diakses serta berbiaya miring. “Secara belum ada pemodal yang bersedia memback up,” tuturnya.

“Alhamdulihhal, hingga hari ini, untuk di Youtube, hampir tembus 2000 penonton, itu untuk yang edisi bahasa Palembang. Sementara yang versi bahasa Jawa, masih proses editing. Khusus bahasa Melayu, liriknya masih dikerjakan teman di Malaysia. Kami mencoba liriknya digarap orang Melayu, supaya rasa Melayunya bisa lebih pas,” ujar Andi Liso, pemilik tembang Budak Lorong.

Bahasa Palembang

 

Karya Andi, untuk yang berbahasa Palembang, ini single kedua. Selama ini ia telah menelurkan  lima single. Tapi yang pertama, kedua, dan ketiga bahasa Indonesia.

“Baru yang keempat dan yang kelima ini yang berbahasa Palembang,” kata seniman asli Palembang ini.

Menjadi pemusik, baginya tak menuruni bakat dari keluarga. Dia merasa dan menemukan sendiri nalar musiknya secara naluri. Meski diakuinya tak ada bakat dari orang tuanya, baik dari garis ibu maupun ayah yang pernah menggeluti dunia musik maupun tarik suara.

Mahar menjadi single pertamanya, yang bercerita tentang songket. Single ini dilucurkan saat ulang tahunnya 29 November 2019.

Lagu inilah yang dibawa ke ajang pencarian bakat di Malaysia. Di sana, ia berhasil menjadi juara tiga pada 2019. Secara pribadi, singel pertama ini memberi banyak hikmah baginya meski belum bisa disebut sukses. “Secara pribadi, singel ini membuka pintu bagi saya untuk bisa meniti akses masuk ke dunia hiburan ini,” ujarnya. Meski secara kuantitas, barangkali belum memberikan respon sesuai harapan.

Lalu single berikutnya yang dirilis, Bukan Malaikat dan Bukan Sekadar Cinta. Hingga singel ketiga, menceritakan tentang cinta. Baru di single keempat Andi merilis lagu berbahasa Palembang, lagu Uji Buyut.

“Lagu Uji Buyut ini semi religi. Pesannya, bagaimana kita tidak boleh melupakan pesan-pesan dan ajaran orang-orang tua kita. Kalau lagi rezeki macet, kalau lagi banyak problem, pesan orang tua, coba periksa salat kita, periksa hubungan dengan Allah, lancar atau mandeg. Niscaya, semuanya akan ada jalannya kalau kewajiban dan hubungan dengan Sang Pencipta terjaga baik. Dan singel kelima juga berbahasa Palembang. Judulnya Budak Lorong,” kata seniman 38 tahun ini.

Lagu Uji Buyut sendiri, ketika dirilis mendapat suport full dari Ketua DKP, Ms Iqbal Rudianto. Saya merilisnya di Guns cafe,  dan didukung oleh pemilik cafe itu.

“Karenanya, saya berterimakasih kepada DKP dan juga pihak-pihak lain yang banyak memberi dukungan,” tambah ayah dua anak ini.

Lebih lanjut ia mengatakan, proses produksi lagu Budak Lorong memakan waktu dua bulan. Mulai dari penulisan sampai produksi. Cukup lama, memang. Genrenya pun berbeda dengan lagu Palembang pada umumnya, yang lebih berirama Melayu.

“Konsep lagu saya bukan Melayu. Ini tidak ada sebelumnya. Genrenya Pop Dangdut. Baru pertama kali saya buat,” tukas seniman yang sehari-hari menyediakan jasa sound sistem dan bikin aplikasi di Playstore dan Juara NK Jewelry Singing Contest (2020) ini.

Dalam proses produksi, ia bekerja sama dengan sejumlah musisi. Salah satunya dari Yogyakarta. Sebab di sana lagu bergenre pop dangdut lebih dulu hits. Seperti lagunya Didi Kempot dan Hendra Kumbara.

Dikatakannya, dalam pengerjaannya lagu ini melibatkan sejumlah musisi. Yakni, Bagus dari Kamar Studio Yogyakarta (gendang dan gitar kentrung). Lalu talent local Hilman Muhammad (gitar), dan Iwek (saksofon) dari komunitas dangdut.

Lagu Budak Lorong,  memang bersetting dan idenya berawal dari kehidupan remaja Palembang. Namun, segmentasi pasarnya umum untuk remaja dimana pun berada. Karenanya lagu ini kemudian dirilis dalam tiga bahasa. Bahasa Palembang, Jawa, dan Melayu.

Bagi alumnus Fakultas Ekononi Unsri ini, alunan melodi itu bersifat universal. Bisa dinikmati semua orang. Karenanya, bahasanya boleh saja punya Palembang, tapi dihrapkan bisa dinikmati semua orang.

“Itulah keunggulan dan kelebihan musik yang bisa diterima dan dinikmati oleh semua orang. Universalnya itu yang membuat saya suka dengan musik. Dengan keuniversalannya itu, kita bisa menitipkan pesan-pesan moral,” ujar aluknus SMA Bina Warga Palembang ini.

Pemusik kelahiran 29 November 1982 ini menjelaskan Lagu Budak Lorong ternyata bukan semata menceritakan kisah budak lorong yang papa, dan kemudian gagal dalam bercinta.

“Cintanya patah arang, karena ternyata tak disetujui oleh orang tua si gadis pujaan. Sebagai seorang anak yang tinggal di lorong dan pekerjaannya serabutan, diantaranya jadi badut, ternyata menjadi alasan sang pemuda untuk tak dapat melanjutkan percintaannya,” jelas Andi yang menjadi Juara 2 Jingle KPU PALI (2019).

Dilanjutkan alumnus SMA Binawarga ini, itu mungkin yang ada dalam pemikiran sang pemuda atau juga orang lain yang mengetahui kisah cinta yang kandas tersebut.

Padahal, pesan moralnya bukan di situ. Orang tua gadis ternyata tidak melihat siapa pemuda calon menantunya. Bagi mereka, justru ajaran Islam lah yang menjadi patokan, bahwa sebagai gadis, tak boleh membina hubungan yang terlalu terbuka.

Dalam Islam kan ada istilah taaruf. Jadi, orang tua gadis memandang tak perlu ada percintaan remaja.

“Kalau memang jodoh, taaruf dan langsung meningkat ke jenjang pernikahan,” jelas peraih Juara 3 Spotlight Malaysia 2019 ini.

Hanya saja ternyata ada miskomunikasi. Sehingga, yang terbaca adalah percintaan itu kandas karena kondisi yang tak punya masa depan, madesu.

“Itulah pesan yang ingin disampaikan, bahwa sebagai budak lorong, harus punya semangat. Cinta itu perlu diperjuangkan, tetap berjuang untuk sukses jauh lebih baik. Jodoh dan maut, ada di tangan Sang Kuasa,” ungkapnya.

Budak Lorong versi bahasa Palembang telah hadir di dunia maya, pencinta musik dan pencinta Palembang silakan mainkan jarinya di medsos yang berisi konten lagu itu. Sementara versi bahasa Jawanya, sedang proses penyelesian di studio. Dan, edisi  bahasa Melayu sedang digarap liriknya oleh orang Melayu. “Ditargetkan sebelum akhir tahun semuanya sudah bisa meramaikan telinga pencinta musik, khususnya  kalangan milenial.

Pekan lalu, Andi mendapat kesempatan tampil live dan disiarkan langsung d RRI pro4. “Sehingga, selain melayang di dunia maya, lagunya kini telah juga mengudara melalui media penyiaran plat merah itu. Dan nanti, juga akan memberi warna layar kaca, televisi. Doakan semoga sukses ya,” pintanya. (muhamad nasir)

Comments

Terpopuler

To Top