Ratusan Ribu Pohon Kopi Wonosobo Bisa Bernilai Uang, Ini Sinyal Menteri Jumhur soal Karbon
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 23 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemenlh.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Ratusan ribu pohon kopi yang ditanam masyarakat di lereng Gunung Sindoro dan Sumbing, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, berpotensi memiliki nilai ekonomi baru melalui perdagangan karbon. Potensi tersebut menjadi perhatian Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Moh Jumhur Hidayat saat melakukan kunjungan kerja ke Wonosobo pada 8-9 Agustus 2026.
Menurut Jumhur, vegetasi yang tumbuh di Wonosobo tidak hanya penting untuk menjaga keseimbangan lingkungan, tetapi juga dapat membuka peluang ekonomi apabila potensi karbonnya dikelola secara tepat. Ia menyebut perdagangan karbon sebagai salah satu instrumen yang dapat memberikan nilai ekonomi terhadap aktivitas penanaman dan pemeliharaan pohon.
“Ada perdagangan karbon yang nilainya besar sekali. Perdagangan karbon sama dengan perdagangan oksigen. Yakni, oksigen yang dihasilkan dari kegiatan penanaman pohon bisa dikompensasikan dengan nilai uang,” ujar Jumhur saat berdialog dengan masyarakat dalam rangkaian Peringatan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo, Sabtu (8/8/2026).
Menurutnya sinyal penghijauan di Wonosobo dapat dilihat dari perspektif yang lebih luas. Pohon yang selama ini berfungsi sebagai penyangga ekosistem juga berpotensi menjadi bagian dari skema ekonomi hijau, sepanjang pengelolaan dan mekanisme perdagangan karbon dilakukan sesuai ketentuan.
Di Wonosobo, upaya penghijauan juga berjalan beriringan dengan pengembangan komoditas pertanian. Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat mendorong masyarakat menanam ratusan ribu pohon kopi di kawasan lereng Sindoro dan Sumbing. Penanaman tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga menjaga kondisi ekologis kawasan pegunungan.
Potensi ekonomi dari karbon menjadi semakin menarik karena manfaatnya dapat bersinggungan dengan kepentingan masyarakat yang selama ini menjaga vegetasi di wilayahnya. Namun, nilai ekonomi tersebut tidak otomatis muncul hanya karena adanya pohon. Diperlukan pengelolaan, pengukuran, dan mekanisme perdagangan karbon yang jelas agar manfaatnya benar-benar dapat diterima masyarakat.
KLH/BPLH menyatakan akan mendorong agar proses perdagangan karbon berlangsung secara transparan. Pemerintah ingin memastikan potensi ekonomi dari aktivitas menjaga lingkungan tidak berhenti sebagai nilai di atas kertas, tetapi dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang terlibat dalam upaya pelestarian.
Peluang tersebut membuka kemungkinan baru dalam mengembangkan ekonomi berbasis lingkungan di Wonosobi. Perkebunan kopi, kawasan hutan, vegetasi pegunungan, dan aktivitas penghijauan masyarakat dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi hijau yang saling berkaitan.
Pariwisata Wonosobo Tak Hanya Jual Pemandangan
Potensi ekonomi berbasis lingkungan di Wonosobo tidak berhenti pada karbon. Dalam kunjungan berikutnya pada Minggu (9/8/2026), Jumhur menyaksikan Festival Balon Udara yang berlangsung di Alun-alun Wonosobo.
Festival tersebut dinilai memiliki daya tarik wisata yang kuat karena mampu menghadirkan atraksi khas daerah sekaligus menarik perhatian wisatawan. Dari kegiatan itu, Jumhur melihat peluang pengembangan pariwisata yang tidak hanya mengandalkan keramaian acara, tetapi juga mengangkat kekayaan alam dan kepedulian terhadap lingkungan.
“Saya lagi berpikir dan tadi sudah ngobrol-ngobrol dengan Bupati Wonosobo dan tokoh Wonosobo tentang eco-tourism yaitu pariwisata yang terkait dengan pemuliaan lingkungan,” kata Jumhur.
Gagasan eco-tourism atau ekowisata tersebut menempatkan lingkungan sebagai bagian dari nilai jual pariwisata. Artinya, keindahan alam bukan hanya menjadi objek yang dikunjungi, tetapi juga aset yang harus dirawat agar terus memberikan manfaat ekonomi.
Konsep ini dapat mempertemukan dua kepentingan sekaligus, menjaga lingkungan dan menggerakkan ekonomi lokal. Alam yang terpelihara dapat mendukung pariwisata, sementara aktivitas ekonomi dari pariwisata dapat menciptakan insentif bagi masyarakat untuk mempertahankan kelestarian kawasan.
Jumhur berharap sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat dapat memperkuat model pembangunan yang menempatkan kelestarian lingkungan sebagai bagian dari strategi ekonomi. Dengan begitu, potensi Wonosobo tidak hanya berhenti pada sektor pertanian dan wisata, tetapi berkembang ke ekonomi hijau yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Di tengah peluang tersebut, tantangan utamanya adalah memastikan nilai ekonomi dari lingkungan tetap berjalan beriringan dengan fungsi ekologisnya. Sebab, baik perdagangan karbon maupun eco-tourism pada akhirnya bergantung pada satu modal yang sama, lingkungan Wonosobo yang tetap terjaga. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
