Palembang Cuma Punya 3 Titik Karhutla, PM2.5 Tembus 743,4, Asap Tetap Mencekik
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 29 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Sumber asap pekat yang mengepung Kota Palembang terjawab sudah, ternyata, biang keroknya bukan dari dalam ibu kota Provinsi Sumatera Selatan ini.
Dari total 66 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terpantau di Sumatera Selatan hari ini, hanya 3 titik yang berada di wilayah Kota Palembang. Sisanya, 63 titik api berasal dari luar daerah.
Fakta ini mempertegas pernyataan Wali Kota Palembang Ratu Dewa, yang menyebut asap pekat yang menyelimuti Palembang adalah kiriman dari luar. “Jadi bukan dari kebakaran lahan di dalam kota Palembang,” tegas Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, yang juga Kadis Kominfo Kota Palembang, Kemas Haikal, Rabu (7/10/2026) sore.
Haikal memastikan, 3 titik karhutla di dalam kota sudah berhasil dipadamkan. Petugas berjibaku sejak kemarin sore. “Petugas kami terus berjibaku memadamkan lahan yang terbakar, sejak kemarin sore,” ujarnya.
Berdasarkan data update pemadaman per Rabu 7 Oktober 2026, tiga lokasi tersebut adalah, pukul 09.22 – 10.35 WIB di Perumahan Orison View, Kel. Talang Jambe, Kecamatan Sukarami. Dipadamkan Unit 05 Pos AAL dan 01 Pos Kemuning. Pukul 13.22 – 14.12 WIB di Perumahan Putramas Residence 2, Jl. Gotong Royong, Kelurahan Talang Jambe, Kecamatan Sukarami. Dipadamkan Unit 05 Pos Alang Alang Lebar. Dan pukul 13.34 – 16.35 WIB di Jl. Mayor Jend. Satibi Darwis, Kelurahan Karya Jaya, Kecamatan Kertapati. Dipadamkan Unit 20 dan P2 Pos Gandus serta Unit 23 Pos Kertapati.
Meski api di dalam kota padam, warga Palembang tetap jadi korban. Kiriman asap dari luar membuat kualitas udara memburuk secara ekstrem.
Data ISPUnet KLHK Stasiun Palembang Bukit Kecil per 7 Oktober 2026 pukul 17.00 WIB mencatat Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) menyentuh angka 717 dengan kategori Berbahaya. Artinya, tingkat kualitas udara dapat merugikan kesehatan serius bagi seluruh populasi dan wajib penanganan cepat.
Tren karhutla Sumsel dalam 7 hari terakhir masih fluktuatif dan tinggi. Berdasarkan data Pusdalops BPBD Provinsi Sumsel, setelah sempat turun ke 53 kejadian pada 5 Oktober, angka kembali naik menjadi 66 kejadian pada 6 Oktober. Rinciannya, 30 September (70 kejadian), 1 Oktober (76), 2 Oktober (70), 3 Oktober (68), dan 4 Oktober (58). Total akumulasi karhutla di Sumsel sejak Januari hingga 6 Oktober 2026 tercatat sudah mencapai 4.602 kejadian.
Pengendalian Karhutla Nasional
Kementerian Kehutanan terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan yang pada pemantauan terbaru mencatat konsentrasi titik panas (hotspot) tertinggi di antara enam provinsi prioritas. Secara nasional, jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi menunjukkan penurunan tipis dibandingkan sehari sebelumnya.
Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan hingga Rabu (7/10) pukul 21.00 WIB, terdeteksi 1.176 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) berdasarkan satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20. Jumlah tersebut turun 25 titik dibandingkan Selasa (6/10) yang mencatat 1.201 hotspot.
Dinamika di enam provinsi prioritas menunjukkan perkembangan hotspot high confidence sebagai berikut:
Kalimantan Tengah: 225 titik, meningkat dari 182 titik;
Sumatera Selatan: 224 titik, meningkat dari 71 titik;
Kalimantan Barat: 47 titik, meningkat dari 34 titik;
Kalimantan Selatan: 31 titik, meningkat dari 18 titik;
Jambi: 16 titik, turun dari 21 titik; dan
Riau: nihil, tetap nihil.
Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit, sehingga tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas areal yang terbakar. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, setiap indikasi tetap harus diverifikasi melalui pemeriksaan langsung untuk mengetahui kondisi sebenarnya dan menentukan tindakan penanganan di lapangan.
Operasi Darat dan Udara Terus Diperkuat
Pengendalian karhutla dilakukan secara terpadu oleh Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, serta para pihak terkait. Pemerintah tetap menyiagakan 61 unit armada udara, yang terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta 44 unit untuk operasi water bombing.
Operasi udara berjalan bersama penguatan penanganan di darat melalui patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, mopping up, serta pendinginan. Perhatian khusus tetap diberikan pada kawasan gambut, di mana bara api dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan meskipun api di atas tanah sudah tidak terlihat. Karena itu, pembasahan dan pendinginan dilakukan hingga lokasi benar-benar aman.
Pemerintah juga terus memantau kondisi udara berdasarkan konsentrasi PM2,5 sebagai bagian dari upaya perlindungan kesehatan masyarakat. Pantauan terkini menunjukkan sebagian wilayah Indonesia berada pada kategori baik hingga sedang, namun sejumlah wilayah masih menunjukkan kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, terutama pada beberapa bagian Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Papua. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
