SUMSELTERKINI.CO.ID – Program KITA SEHAT menjadi babak baru kerja sama Indonesia dan Australia dalam memperkuat sistem kesehatan nasional.
Tak hanya menghadirkan investasi hingga AUD100 juta atau sekitar Rp1 triliun lebih, Program KITA SEHAT dirancang untuk memastikan layanan kesehatan primer semakin kuat sehingga masyarakat bisa memperoleh pelayanan yang lebih mudah, cepat, dan merata, mulai dari Puskesmas hingga daerah terpencil.
Selama ini, layanan kesehatan primer masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari belum meratanya tenaga kesehatan, cakupan imunisasi yang belum optimal, hingga tingginya angka stunting di sejumlah wilayah.
Melalui kemitraan bertajuk Indonesia–Australia Health Transformation Partnership ini, kedua negara berupaya memperkuat fondasi sistem kesehatan agar lebih siap menghadapi berbagai ancaman penyakit di masa depan.
Program yang akan berlangsung sepanjang 2025–2033 tersebut diluncurkan di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Senin (20/7).
Pelaksanaannya melibatkan Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Pertanian dengan dukungan Pemerintah Australia melalui Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT), serta organisasi internasional seperti WHO, UNICEF, dan UNFPA.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan setiap dukungan internasional harus menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat, bukan sekadar menambah daftar kegiatan.
Menurutnya, penguatan layanan kesehatan primer harus menjadi prioritas karena merupakan garda terdepan dalam menjaga kesehatan masyarakat sebelum pasien membutuhkan layanan rumah sakit.
“Fokus utama harus berada pada layanan primer, baru kemudian layanan rujukan. Saya meminta dukungan agar layanan primer berjalan baik, termasuk memastikan cakupan imunisasi meningkat hingga di atas 90 persen, pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis, penurunan stunting, serta pengendalian faktor risiko penyakit,” ujar Budi.
Selain memperkuat pelayanan dasar, Program KITA SEHAT juga mengusung pendekatan One Health, yakni konsep yang menghubungkan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kelestarian lingkungan sebagai satu kesatuan.
Pendekatan ini dinilai penting mengingat munculnya berbagai penyakit baru sering kali dipengaruhi interaksi antara manusia, hewan, dan perubahan lingkungan.
Selain itu, dari sisi perencanaan pembangunan nasional, Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard menambahkan keberhasilan program ini bukan diukur dari banyaknya kegiatan yang dilakukan, melainkan dari kapasitas yang berhasil dibangun untuk Indonesia.
Kemitraan tersebut, paparnya merupakan investasi jangka panjang guna menciptakan sistem kesehatan yang lebih tangguh, sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, organisasi profesi, dunia usaha, hingga mitra pembangunan.
Kepimpinan lokal
Sementara itu, Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia Gita Kamath menilai Indonesia merupakan mitra strategis Australia dalam membangun ketahanan kesehatan di kawasan Indo-Pasifik.
Kedua negara telah bekerja sama selama lebih dari tiga dekade dalam bidang kesehatan, mulai dari penguatan layanan primer, imunisasi, pengendalian penyakit, hingga kesehatan ibu dan anak.
Melalui Program KITA SEHAT, Australia berkomitmen melanjutkan dukungan tersebut dengan memperkuat institusi kesehatan, meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan, memperbaiki sistem pelayanan, dan memperkuat koordinasi lintas sektor agar Indonesia lebih siap menghadapi ancaman kesehatan di masa mendatang.
Sebagai tahap awal, implementasi Program KITA SEHAT akan difokuskan di tingkat nasional serta tiga provinsi percontohan, yakni Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Barat Daya. Ketiga daerah tersebut diharapkan menjadi model penerapan inovasi yang nantinya dapat direplikasi ke berbagai wilayah lain di Indonesia.
Dalam pelaksanaannya, program ini juga mengintegrasikan pendekatan berbasis kepemimpinan lokal (locally led), kesetaraan gender, disabilitas dan inklusi sosial (GEDSI), serta ketahanan iklim sebagai bagian dari upaya mewujudkan target Kesehatan untuk Semua menuju Indonesia Emas 2045. (***)

