Yang Dicari Saat Flu Malah Bukan Obatnya, Ini Kata Kemenkes
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 0 menit yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemkes.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Flu mulai banyak dibicarakan, kasus influenza memang mengalami peningkatan di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara sejak Agustus–September 2026.
Namun, ada satu hal yang justru perlu diluruskan, yaitu terkena flu tidak otomatis berarti harus mencari obat antivirus.
Di tengah kekhawatiran masyarakat, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan agar orang tidak buru-buru membeli atau mengonsumsi Oseltamivir tanpa pemeriksaan dokter, pasalnya, sebagian besar influenza dapat sembuh sendiri dengan perawatan suportif.
Jadi, ketika flu menyerang, yang pertama kali perlu dilakukan bukan memburu antivirus, melainkan melihat kondisi tubuh, beristirahat, mencegah penularan, dan mengenali tanda bahaya.
Flu ringan tidak selalu membutuhkan antivirus
Dokter Spesialis Paru RSPI Sulianti Saroso, dr. Pompini Agustina Sitompul, menjelaskan influenza pada umumnya merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri atau self-limiting disease.
“Penyakit ini sebenarnya gejalanya cukup bervariasi dan bisa sembuh sendiri. Penyakit ini baru menjadi berat pada kelompok-kelompok tertentu,” kata Pompini dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (28/9/2026).
Oleh karena itu, Oseltamivir tidak ditujukan untuk semua orang yang mengalami batuk, pilek, atau influenza.
Obat antivirus tersebut terutama dipertimbangkan pada pasien dengan kondisi berat maupun kelompok yang memiliki risiko komplikasi lebih tinggi.
Pompini menjelaskan, salah satu gambaran kondisi berat adalah munculnya batuk dan sesak napas yang sampai membutuhkan bantuan oksigen.
“Pada kasus-kasus berat yang ditandai adanya gejala batuk sesak napas yang memerlukan bantuan oksigen, pada kasus berat itulah baru bisa diberikan Oseltamivir,” ujarnya.
Dengan demikian, batuk pilek biasa bukan alasan untuk langsung mengonsumsi Oseltamivir.
Mengapa tidak boleh asal minum Oseltamivir?
Ada alasan lain mengapa penggunaan antivirus perlu dibatasi, Ahli Farmakologi dr. Dewi Selvina Rosdiana memaparkan hasil meta-analisis terhadap sekitar 2.500 anak rawat jalan dengan influenza tanpa komplikasi.
Hasil penelitian mengambarkan pemberian Oseltamivir hanya memperpendek durasi sakit rata-rata sekitar 18 jam atau kurang dari satu hari dibandingkan plasebo.
Manfaat tersebut juga lebih terlihat pada kondisi tertentu, yakni ketika obat diberikan kurang dari 24 jam sejak gejala awal pada anak di bawah usia 6 tahun tanpa riwayat asma.
Sebaliknya, penggunaan Oseltamivir pada anak juga dikaitkan dengan risiko muntah sekitar 1,6 kali lebih tinggi.
Kemenkes juga mengingatkan penggunaan antivirus secara berlebihan atau tidak tepat dapat meningkatkan risiko resistansi virus terhadap obat, oleh karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan panic buying Oseltamivir.
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes, Lucia Rizka Andalucia, menegaskan obat tersebut bukan untuk diminum sebagai tindakan berjaga-jaga tanpa penilaian medis.
“Oseltamivir bukan obat yang digunakan secara massal atau diminum untuk berjaga-jaga tanpa penilaian medis,” tegas Lucia.
Kalau flu ringan, lalu harus bagaimana?
Inilah bagian yang sering terlewat ketika pembicaraan soal flu berpusat pada obat.
Untuk influenza dengan gejala ringan, masyarakat dapat melakukan perawatan suportif di rumah, terutama cukup istirahat dan memenuhi kebutuhan cairan.
Aktivitas di luar rumah juga sebaiknya dibatasi selama sakit untuk mengurangi risiko menularkan virus kepada orang lain.
Khusus anak yang mengalami batuk dan pilek, Dokter Spesialis Anak RSCM, dr. Mulya Rahma Karyanti, Sp.A(K), menyarankan agar anak tidak masuk sekolah sementara waktu.
“Untuk anak-anak yang lagi batuk pilek, sebaiknya tidak ke sekolah dulu, sebaiknya dia istirahat,” ujar Karyanti.
Menurutnya, membawa anak yang sedang sakit ke sekolah dapat meningkatkan risiko penularan kepada anak-anak lain yang sehat.
Peralatan makan penderita juga sebaiknya dipisahkan.
Etika batuk dan bersin perlu diterapkan, misalnya menutup mulut dan hidung menggunakan siku bagian dalam. Masker juga dapat digunakan ketika sedang sakit atau berada di tempat ramai.
Bukan semua flu bisa dianggap sepele
Meski sebagian besar influenza dapat pulih dengan sendirinya, bukan berarti semua kondisi boleh ditunggu di rumah.
Masyarakat perlu memperhatikan apabila gejala semakin berat, terutama jika muncul gangguan pernapasan atau kondisi yang membutuhkan bantuan oksigen.
Perhatian lebih juga diperlukan pada kelompok yang memiliki risiko komplikasi lebih tinggi.
Kemenkes menyebut kelompok tersebut antara lain balita di bawah 5 tahun, lansia di atas 65 tahun, ibu hamil, penderita penyakit penyerta atau komorbid, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah (immunocompromised).
Pada kelompok rentan, keputusan mengenai penggunaan antivirus perlu berdasarkan pemeriksaan dan pertimbangan dokter.
Lalu bagaimana dengan isu “superflu”?
Di tengah meningkatnya aktivitas influenza, istilah “superflu” ikut ramai diperbincangkan. Namun, Kemenkes menegaskan bahwa “superflu” bukan nomenklatur resmi WHO maupun Kemenkes.
Istilah awam tersebut belakangan dikaitkan dengan influenza A(H3N2) subclade K.
Kemenkes menyatakan temuan subclade K pada 2026 justru lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Berdasarkan surveilans sentinel ILI-SARI, terdapat 166 temuan subclade K sepanjang 2025 dan 22 temuan pada 2026 hingga minggu ke-38.
Tidak ada penambahan kasus baru subclade K sejak April 2026, berdasarkan data yang disampaikan Kemenkes, sehingga masyarakat diminta tidak hanya berpatokan pada istilah yang beredar, tetapi melihat hasil pemeriksaan dan data surveilans.
Flu memang meningkat, tetapi datanya perlu dibaca utuh
Kemenkes mencatat adanya peningkatan aktivitas influenza di Indonesia dan Asia Tenggara. Peningkatan pada Agustus–September 2026 disebut masih sesuai dengan pola musiman yang selama ini terlihat di Indonesia.
Pada minggu ke-38 tahun 2026, surveilans sentinel memeriksa 265 spesimen dan menemukan 148 spesimen positif influenza.
Virus yang dominan adalah influenza A(H1N1)pdm09, dalam pemantauan ILI-SARI yang mencakup pemeriksaan lebih luas, hingga pekan ke-38 terdapat 1.527 spesimen positif dari 8.757 pemeriksaan atau sekitar 17 persen.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode 2025 yang mencapai 24 persen. Perlu dicatat, angka 56 persen yang juga disampaikan Kemenkes berasal dari surveilans sentinel pada minggu ke-38, sehingga tidak dapat dibandingkan langsung dengan angka 17 persen sebagai indikator yang sama. Keduanya berasal dari cakupan pemantauan yang berbeda.
Pada surveilans Puskesmas, aktivitas influenza berada pada kategori sedang (medium), sedangkan pada surveilans rumah sakit masih berada pada kategori rendah (low).
Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menyebut peningkatan kasus saat ini berkaitan dengan pola musiman, termasuk pancaroba dan kemarau panjang. Ia juga menyatakan kapasitas rumah sakit masih aman dan terkendali.
Pemerintah tetap siapkan Oseltamivir
Bukan berarti pemerintah mengabaikan kebutuhan antivirus. Kemenkes telah mendistribusikan Oseltamivir ke 196 rumah sakit dan terus mengupayakan tambahan pasokan.
Pengadaan dilakukan melalui produksi dalam negeri sekaligus jalur importasi khusus untuk mengatasi keterlambatan pasokan dari produsen lokal. Namun, distribusi tersebut bukan berarti semua orang perlu memiliki Oseltamivir di rumah.
Obat tetap diarahkan kepada pasien yang memang membutuhkan berdasarkan penilaian tenaga kesehatan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menekankan penggunaan antivirus harus tepat agar tidak meningkatkan risiko resistansi. “Kita tidak boleh menggunakan antivirus secara berlebihan karena ada risiko resistansi,” kata Budi.
Menurutnya, resistansi dapat mengurangi pilihan obat ketika menghadapi influenza yang lebih berat di masa mendatang.
Yang perlu dilakukan masyarakat
Daripada panik memburu obat, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan ketika flu muncul.
1. Istirahat cukup
Kurangi aktivitas dan beri tubuh waktu untuk memulihkan diri.
2. Penuhi kebutuhan cairan
Pastikan tubuh tetap mendapatkan cukup cairan selama sakit.
3. Batasi aktivitas di luar rumah
Jika sedang batuk atau pilek, hindari sekolah, bekerja di kerumunan, atau aktivitas lain yang meningkatkan risiko penularan.
4. Gunakan masker
Masker dapat digunakan saat sakit atau ketika berada di tempat ramai.
5. Terapkan etika batuk dan bersin
Tutup mulut dan hidung dengan siku bagian dalam ketika batuk atau bersin.
6. Jangan asal minum antivirus atau antibiotik
Oseltamivir memerlukan penilaian medis. Antibiotik juga tidak dianjurkan untuk influenza kecuali terdapat infeksi sekunder yang disebabkan bakteri.
7. Kenali tanda bahaya
Segera periksa jika gejala memburuk, terutama ketika muncul gangguan pernapasan.
8. Perhatikan kelompok rentan
Balita, lansia, ibu hamil, penderita komorbid, dan orang dengan sistem imun lemah memerlukan perhatian lebih.
Untuk pencegahan jangka panjang, Kemenkes juga menganjurkan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), mencuci tangan dengan sabun, etika batuk dan bersin, serta vaksinasi influenza tahunan yang dapat diberikan mulai usia 6 bulan hingga dewasa sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.
Jadi, ketika flu datang, jangan langsung berpikir tentang antivirus.
Kenali dulu gejalanya. Istirahat. Cegah penularan. Perhatikan tanda bahaya.
Sebab, menurut penjelasan Kemenkes dan para ahli, yang paling penting bukan seberapa cepat membeli obat, tetapi seberapa tepat mengenali kondisi dan mendapatkan pertolongan ketika memang diperlukan. (***) sumber : kemkes
- Penulis: Irwan Wahyudi
