Jumat, 14 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kesehatan » “TBC Bukan Takdir, Cuma Tebakan Bodoh Kalau Kita Diam-Diam Saja”

“TBC Bukan Takdir, Cuma Tebakan Bodoh Kalau Kita Diam-Diam Saja”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Selasa, 15 Jul 2025
  • visibility 601
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PERNAH dengar istilah “batuk berdahak lima minggu tapi masih karaokean”? Nah, itu bukan gejala cinta yang tertahan, tapi bisa jadi tanda TBC Tuberkulosis.

Penyakit satu ini emang suka nempel diam-diam, kayak mantan yang masih follow IG tapi nggak pernah like. Padahal, kalau dibiarkan, TBC bisa jadi kayak cicilan online makin lama makin mencekik.

Tapi tenang…., kita bukan mau ngajak panik. Kita mau ngajak mikir dengan gaya warung kopi, tapi isi otaknya setajam seminar internasional. Yuk, kita ngulik TBC dari sisi yang beda penuh ketawa, tapi serius juga. Karena di balik humor, ada hikmah dan di balik batuk, ada… ya, TBC tadi itu.

Waktu Wakil Menteri Kesehatan, Prof. Dante, nyampe ke Desa Sukadami, rasanya kayak Elon Musk nyasar ke bengkel las di situ banyak inovasi, tapi dari rakyat biasa.

Coba kita bayangin aja, desa ini bisa bikin program Masker TB, kader-kader tangguh yang semangatnya ngalahin atlet SEA Games, dan koordinasi lintas sektor yang rapihnya ngalahin jadwal arisan RT.

Penduduknya? Lebih dari 56 ribu jiwa. Tapi jangan bayangin semua ngumpul di balai desa kayak demo. Mereka ini aktif secara struktural dan spiritual. Yang batuk-batuk dicek, yang diam-diam dimotivasi, dan yang ketahuan kontak erat langsung ditangani. Ini bukan sekadar kampanye kesehatan, tapi udah kayak operasi militer: cepat, tepat, dan pakai masker.

Kadang, orang kita mikir TBC itu kayak karma. “Wah, udah takdir” Eh, bukan, Pakde, ini bukan urusan karma, tapi kerja sama.

Contohlah Vietnam, mereka bisa nurunin kasus TBC hampir 30% dalam sepuluh tahun karena konsisten, India, walau masih tinggi, udah gila-gilaan programnya dari pengobatan gratis sampai insentif buat pasien.

Filipina? mereka bikin aplikasi pelacak pasien TBC dan punya hotline buat konsultasi. Di kita? baru rame kalau artis kena atau ada kunjungan menteri.

Dan jangan salah, kita bukan kurang dana, Global Fund ngasih Rp6 triliun buat tiga tahun. Itu cukup buat beli masker satu desa plus wifi gratis kalau dipakai bener.

Tapi ya, kalau yang aktif cuma ibu-ibu kader, sementara kepala desanya sibuk nge-vlog pancing ikan, ya sama aja kayak nonton film horor tapi nutup mata. Nggak dapet ilmunya, cuma dapet jantungan.

Ibu-ibu kader itu kayak superhero tanpa jubah, tapi punya misi, mereka masuk ke rumah-rumah yang kadang lebih serem dari sinetron azab. Diusir, dicuekin, bahkan dianggap bawa kutukan. Tapi tetap maju. Kalau negara ini waras, harusnya mereka dapet Oscar kategori “Aktris Terbaik dalam Menyelamatkan Negeri”.

Sayangnya, peran mereka sering cuma dianggap figuran. Ini seperti nonton sepakbola tapi nyorot kamera ke wasit terus. Harusnya mereka diajak duduk bareng buat bikin kebijakan, karena yang tahu medan bukan yang duduk di ruang ber-AC, tapi yang masuk gang sempit bawa formulir sambil ngos-ngosan.

Ngomongin TBC tanpa ngomongin kemiskinan, ya kayak makan mie instan tanpa bumbunya. TBC itu nemplok paling seneng di tempat padat, gelap, dan minim gizi. Jadi jangan heran kalau kasusnya banyak di kampung-kampung atau perumahan yang ventilasinya lebih sempit dari peluang main film FTV buat orang jelek.

Oleh, sebab itu. maka penting banget, kayak kata Deputi Kantor Presiden, Isra Ramli kesehatan harus nyambung sama pendidikan, ekonomi, dan perlindungan sosial.

Jangan cuma bikin Kampung Siaga, tapi juga Sekolah Rakyat, layanan konsultasi online, dan ya… mungkin karaoke anti-TBC (yang liriknya diedit “Bukan Cinta Biasa” jadi “Bukan Batuk Biasa”).

Kalau cowok adalah kepala keluarga, perempuan itu jantungnya, dan kalau jantung berhenti, ya wassalam. Ibu-ibu kader itu bukan cuma penyuluh kesehatan, tapi juga psikolog, chef, dan guru privat anak-anak. Tapi sayang, di banyak forum, suara mereka kadang tenggelam kayak mic di acara dangdutan.

Maka wajar kalau Wamen PPA bilang perempuan dan anak harus dilibatkan total, karena TBC bukan cuma urusan paru-paru, tapi juga urusan dapur dan ruang tamu.

Anak-anak yang kena TBC nggak cuma butuh antibiotik, tapi juga butuh pelukan. Perempuan yang aktif bukan cuma buat senam pagi, tapi juga buat mendesain masa depan desa.

TBC Bisa Diakhiri

China, India, dan  Vietnam mereka sudah melangkah jauh. Kita? Masih debat soal anggaran dan siapa yang paling banyak selfie pas fogging.

Indonesia bisa kok, tapi butuh Kepala desa yang kayak leader boyband inspiratif dan nggak cuma tampil pas acara, kader yang dihargai, bukan cuma dimintai tolong gratisan. Dana desa yang dialokasikan dengan otak, bukan dengan undian arisan dan masyarakat yang sadar bahwa batuk lama itu bukan hal biasa, apalagi dibanggakan.

Oleh karena itu, jangan tunggu sampai paru-parumu bilang “bye”. TBC itu bisa disembuhkan, tapi nggak bisa diajak kompromi. Pemeriksaan gratis, obat gratis, yang dibutuhkan cuma niat dan sedikit keberanian buat menghadapi kenyataan.

Mari kita jadi bangsa yang batuknya karena tertawa, bukan karena TBC. Negeri ini nggak butuh lagi tambahan drama, cukup sinetron, mari kita akhiri TBC, sebelum TBC yang mengakhiri kita.

Jadi, yuk gerak bareng, jangan cuma jago repost infografis, tapi malas lapor kalau tetangga batuk terus. Jangan tunggu semua sempurna baru mau peduli, karena dunia ini nggak sempurna, tapi kita bisa jadi bagian dari perubahan.

Dan ingat! TBC bukan takdir, cuma tebakan bodoh kalau kita diam-diam saja.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nikmati panorama- keindahan Kota Palembang dari Tower Jembatan Ampera, ESP & Ratu Dewa kagum

    Nikmati panorama- keindahan Kota Palembang dari Tower Jembatan Ampera, ESP & Ratu Dewa kagum

    • calendar_month Kamis, 18 Jan 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 888
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Anggota Komisi V DPR RI Eddy Santana Putra yang juga mantan Walikota Palembang sangat kagum melihat panorama dan keindahan Kota Palembang dari atas tower jembatan Ampera.Ia tak sendiri, karena ditemani Pj. Walikota Palembang Ratu Dewa, kemarin. Ia mengatakan, dirinya bersama Pj Walikota serta pihak balai besar sungai berdiskusi agar ditahun 2024 ini semua pengerjaanya […]

  • Yesayas : Gubernur Sumsel Dinilai Berpontensi Abaikan Instruksi Presiden No.3/2019

    Yesayas : Gubernur Sumsel Dinilai Berpontensi Abaikan Instruksi Presiden No.3/2019

    • calendar_month Jumat, 22 Mar 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 771
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Jakarta –Gubernur Sumsel Herman Deru berpotensi mengabaikan Instruksi Presiden No 3/2019 Tentang Percepatan Pembangunan Persepakbolaan Nasional, terkait tidak keluarnya izin penggunaan Stadion Jakabaring, untuk acara puncak Alex Noerdin Cup 2019, yang menghadirkan pesepakbola dari Brasil Ronaldinho. Seperti diketahui Alex Noerdin Cup 2019 murni pembinaan sepakbola usia dini, di mana 7.000 pesepakbola anak-anak akan mendapatkan […]

  • Seluruh Kecamatan di Muba Salurkan BLT Dana Desa Masyarakat Terdampak Covid-19

    Seluruh Kecamatan di Muba Salurkan BLT Dana Desa Masyarakat Terdampak Covid-19

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 860
    • 0Komentar

    MENJALANI  amanah dan kerja ikhlas terkait Instruksi dari Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid 19 Kabupaten Musi Banyuasin Dr H Dodi Reza Alex Noerdin bersama Jajaran Satuan Gugus Tugas Kabupaten Musi Banyuasin, setiap Kecamatan bersama Forum komunikasi pimpinan kecamatan (Forkopimcam). Tim  bergerak  tepat,  cepat melakukan penyaluran bantuan di saat kondisi pandemi Covid-19. Tim beranggotakan hingga  level […]

  • Urai kemacetan, kata Pj Walikota Palembang

    Urai kemacetan, kata Pj Walikota Palembang

    • calendar_month Selasa, 23 Jul 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 967
    • 0Komentar

    Banyak upaya yang dilakukan Pemerintah Kota Palembang untuk memecah kemacetan di berbagai wilayah di jam-jam sibuk. Diantaranya, diberlakukannya Contaflow di kawasan Jalan Kol. H. Burlian atau lebih tepatnya dari jalan di depan RS Siti Fatimah hingga ke depan Korem.   “Ini masih akan kita kaji ulang keefektifannya,” kata Pj Walikota Palembang Ucok A. Darmenta saat […]

  • Kartu “Merah” untuk Menteri ATR/BPN

    Kartu “Merah” untuk Menteri ATR/BPN

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.074
    • 0Komentar

    AKSI dilakukan Koordinator Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) se-Sumatera, Teuku Rizza Muly mendapat perhatian seluruh yang menyaksikan dialog bersama Menteri Agraria dan Tata Ruang(ATR), Sofyan A. Djalil, VIA Aplikasi Zoom dalam rangka menyambut Hari Tani, kemarin. Rizza saat itu memberikan Kartu “Merah” kepada Menteri ATR sebagai “Alarm” untuk pengingat […]

  • Warga Plaju Doakan Sarimuda Jadi Walikota Palembang

    Alhamdulillah, PKS Usung Sarimuda-Rozak di Pilkada Palembang 2018

    • calendar_month Selasa, 24 Okt 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.425
    • 0Komentar

    “Alhamdulillah PKS mendukung berdasarkan elektabilitas. Memang elektabilitas pak Sarimuda unggul dibanding kandidat lain,”

expand_less
WordPress Archive Mediphar – Pharmacy & Medical Elementor Template Kit MediPharma – Pharmacy & Medical Elementor Template Kit MediPoint – Doctor WordPress Theme mediPress – Health and Doctor Medical WordPress Theme Mediq – Health & Medical Elementor Template Kit Mediron – Dental Medical WordPress Theme Medirus – Medical Health WordPress Theme Medisa – Medical Elementor Template Kit Medisale – Medical Shop Elementor Template Kit MedisCare – Medical Service Elementor Template Kit