Saat Asap Karhutla dan Abu Vulkanik Menghampiri Lampung, Apa yang Terjadi pada Tubuh?
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : bnpb.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Lampung bisa menghadapi persoalan kualitas udara dari dua sumber yang berbeda. Pasalnya ada asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), selain itu akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat membawa abu vulkanik ke wilayah yang berada di sekitar jalur sebarannya.
Keduanya memang bukan bencana yang sama. Asap karhutla berasal dari proses pembakaran, sedangkan abu vulkanik merupakan material yang dikeluarkan gunung api saat erupsi.
Namun, ada satu hal yang membuat keduanya perlu mendapat perhatian, yaitu sama-sama membawa partikel yang dapat masuk ke saluran pernapasan.
Karena itu, ketika asap atau abu mulai terlihat di lingkungan, persoalannya bukan hanya soal pandangan yang menjadi buram atau halaman rumah yang kotor. Udara yang dihirup setiap hari juga perlu diperhatikan.
Tak Hanya Udara Berkabut
Asap karhutla biasanya menjadi masalah ketika kebakaran terjadi cukup luas dan asap terbawa angin menuju permukiman. Di dalam asap terdapat partikel halus serta berbagai hasil pembakaran yang dapat terhirup.
Abu vulkanik mempunyai karakter berbeda. Material yang keluar dari aktivitas gunung api dapat berukuran sangat halus sehingga mudah terbawa angin. Ketika sampai ke permukiman, abu bisa menempel pada kendaraan, atap, jalan, tanaman hingga masuk ke saluran pernapasan.
Itulah sebabnya udara yang dipenuhi asap dan udara yang mengandung abu sama-sama tidak ideal untuk dihirup dalam waktu lama.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa paparan asap karhutla dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama akibat partikel halus yang mampu masuk jauh ke dalam paru-paru. Pada paparan abu vulkanik, keluhan yang dapat muncul antara lain iritasi saluran napas, mata dan kulit.
Apa yang Terjadi Saat Asap atau Abu Terhirup?
Tubuh sebenarnya mempunyai mekanisme untuk menyaring sebagian benda asing yang masuk melalui hidung dan saluran pernapasan. Masalah muncul ketika jumlah partikel yang terhirup cukup banyak atau paparannya berlangsung berulang.
Keluhan awal bisa terasa sederhana, tenggorokan menjadi gatal, hidung terasa tidak nyaman, mata berair atau batuk muncul setelah berada di luar rumah. Sebagian orang mungkin hanya mengalami keluhan ringan dan membaik setelah menjauh dari sumber paparan.
Tetapi pada orang yang lebih sensitif, gangguan bisa terasa lebih berat. Napas dapat menjadi lebih pendek, dada terasa tidak nyaman atau penyakit pernapasan yang sudah ada sebelumnya menjadi lebih mudah kambuh.
Asap karhutla juga perlu mendapat perhatian karena partikel berukuran sangat kecil dapat masuk lebih dalam ke sistem pernapasan. Sementara abu vulkanik yang beterbangan dapat mengiritasi saluran napas, terutama ketika konsentrasinya tinggi.
Jadi, jangan menunggu sampai langit benar-benar gelap untuk mulai mengurangi paparan.
Kalau Asap dan Abu Muncul Bersamaan, Apakah Lebih Berbahaya?
Ini bagian yang sering menimbulkan salah pengertian. Asap karhutla dan abu vulkanik tidak otomatis menjadi satu atau bercampur hanya karena muncul pada waktu yang berdekatan. Keduanya tetap berasal dari sumber yang berbeda.
Namun, jika suatu wilayah pada saat yang sama mengalami paparan asap karhutla dan abu vulkanik, masyarakat menghadapi dua sumber partikulat di lingkungan. Karena masing-masing dapat mengganggu saluran pernapasan, kewaspadaan terhadap kualitas udara menjadi semakin penting.
Untuk menyatakan keduanya telah bercampur atau menghasilkan efek kesehatan tertentu secara khusus, tentu dibutuhkan pengukuran dan kajian kualitas udara. Jadi, informasi yang paling aman bagi masyarakat adalah memperlakukan asap dan abu sebagai dua sumber paparan yang sama-sama perlu dikurangi.
Anak-anak dan Lansia Perlu Lebih Dijaga
Tidak semua orang akan merasakan dampaknya dengan cara yang sama. Anak-anak termasuk kelompok yang perlu diperhatikan karena sistem pernapasan mereka masih berkembang. Mereka juga cenderung lebih aktif dan bisa lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah.
Lansia juga perlu mendapat perhatian, terutama jika memiliki kondisi kesehatan tertentu. Begitu pula orang yang mempunyai asma atau penyakit paru dan jantung. Ketika kualitas udara memburuk, paparan asap maupun partikulat lain dapat membuat keluhan yang sebelumnya terkendali menjadi lebih mudah muncul.
Oleh sebab itu, ketika udara di luar sedang buruk, aktivitas anak-anak di ruang terbuka sebaiknya dikurangi. Orang tua juga perlu memperhatikan apakah muncul batuk, napas berbunyi atau keluhan lain setelah anak berada di luar.
Mata Juga Bisa Menjadi Korban
Gangguan akibat abu vulkanik maupun asap tidak selalu dimulai dari paru-paru dan mata dapat terasa perih, merah dan berair ketika terkena partikel. Kondisi ini sering membuat seseorang refleks mengucek mata, padahal tindakan tersebut justru dapat memperparah iritasi jika masih terdapat partikel di permukaan mata.
Jika mata terkena abu, hindari menguceknya. Bersihkan dengan air bersih dan berikan waktu agar iritasi mereda. Jika rasa sakit atau gangguan penglihatan berlanjut, pemeriksaan medis diperlukan.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Saat Udara Memburuk?
Tidak perlu menunggu adanya larangan resmi untuk mulai mengurangi paparan. Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan dari rumah.
Kurangi aktivitas di luar rumah.
Kalau tidak ada keperluan penting, menunda aktivitas luar ruangan merupakan pilihan paling sederhana. Terlebih jika udara terlihat berasap, berdebu atau abu mulai menempel di berbagai permukaan.
Gunakan masker saat harus keluar.
Masker dapat membantu mengurangi partikel yang masuk ke saluran pernapasan. Untuk kondisi abu vulkanik, perlindungan yang menutup hidung dan mulut dengan baik lebih berguna daripada sekadar menutupi wajah secara longgar.
Jangan olahraga berat di luar ruangan.
Saat berlari atau melakukan aktivitas fisik berat, frekuensi dan kedalaman napas meningkat. Artinya, udara yang masuk ke paru-paru juga lebih banyak. Kalau kualitas udara sedang buruk, olahraga sebaiknya dipindahkan ke ruangan yang udaranya lebih bersih.
Tutup pintu dan jendela ketika asap atau abu masuk.
Rumah dapat menjadi tempat berlindung sementara. Jika udara luar sedang penuh asap atau abu, membatasi masuknya udara dari luar dapat membantu mengurangi paparan di dalam ruangan.
Jangan asal menyapu abu vulkanik.
Abu yang sudah mengendap di halaman atau permukaan rumah bisa kembali beterbangan ketika disapu dalam keadaan kering. Membersihkannya dengan cara yang tidak membuat debu kembali menyebar lebih baik untuk menjaga udara di sekitar rumah.
Jaga kebersihan setelah dari luar.
Setelah beraktivitas di lingkungan yang terkena abu, membersihkan wajah dan tubuh dapat membantu menghilangkan partikel yang menempel. Pakaian yang penuh abu juga sebaiknya segera diganti.
Perhatikan kondisi udara, bukan hanya penampakan langit.
Udara yang terlihat cerah belum tentu berarti bebas dari partikulat. Karena itu, masyarakat sebaiknya mengikuti informasi kualitas udara dan perkembangan kondisi gunung dari sumber resmi seperti BMKG, Badan Geologi dan pemerintah daerah.
Kapan Harus Mulai Khawatir?
Batuk atau mata terasa perih setelah terpapar asap dan abu bisa terjadi. Namun, masyarakat perlu lebih waspada jika keluhan tidak kunjung membaik atau justru semakin berat.
Sesak napas, napas berbunyi, nyeri dada, pusing berat atau kesulitan bernapas merupakan kondisi yang tidak sebaiknya dianggap sebagai gangguan biasa akibat udara kotor.
Apalagi jika keluhan tersebut dialami anak-anak, lansia atau orang yang sebelumnya sudah memiliki masalah pernapasan.
Dalam kondisi seperti itu, mencari pertolongan ke fasilitas kesehatan lebih penting daripada menunggu keadaan membaik sendiri.
Dua Ancaman, Satu Hal yang Harus Dijaga
Asap karhutla dan abu vulkanik Anak Krakatau mempunyai asal-usul yang berbeda. Karhutla menghasilkan asap dari pembakaran, sedangkan aktivitas gunung api menghasilkan abu dan material vulkanik.
Namun, keduanya memiliki satu persamaan yang penting bagi masyarakat, yaitu keduanya dapat membuat kualitas udara menjadi persoalan kesehatan.
Ketika Lampung menghadapi asap karhutla dan pada saat lain wilayahnya terdampak sebaran abu vulkanik, masyarakat tidak perlu panik. Yang lebih penting adalah mengenali sumber paparan, mengurangi waktu berada di udara yang buruk, menggunakan perlindungan yang sesuai dan memperhatikan kelompok yang lebih rentan.
Perlindungan terbaik bukan menunggu sampai gangguan pernapasan muncul. Semakin cepat paparan asap dan abu dikurangi, semakin kecil pula risiko udara buruk mengganggu aktivitas dan kesehatan sehari-hari. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
