ADA tipe orang yang hidupnya tenang karena punya sawah warisan, ada juga yang hidupnya maju karena sekolahnya tinggi. Ya..keduanya sah-saja aja, tapi masalah muncul kalau sawah warisan dipamerkan tiap hari.
Sementara ilmunya tak pernah diasah, kurang lebih, begitulah gambaran pesan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian kepada para kepala daerah kemarin.
Di Batam, saat menutup Rakernas XVII APKASI, Mendagri seperti sedang menasihati “anak-anak daerah” agar tidak terus-menerus menggantungkan hidup pada kiriman orang tua.
Dalam hal ini, orang tua itu bernama Transfer ke Daerah (TKD), sementara warisan yang sering dibanggakan adalah Sumber Daya Alam (SDA).
Masalahnya, warisan bisa habis, namun otak justru sebaliknya, makin dipakai makin tajam.
Kalau daerah dianalogikan sebagai anak kos, maka TKD adalah uang bulanan dari orang tua. Awal bulan hidup mewah, akhir bulan mi instan jadi menu nasional. Boleh-boleh saja sesekali, tapi kalau selamanya begitu, masa depan ya segitu-gitu saja.
Mendagri Tito secara gamblang bilang, jangan bermimpi lompat jauh kalau daerah hanya mengandalkan APBD, apalagi TKD. Bahasa kasarnya jangan berharap jadi raksasa ekonomi kalau masih minta uang jajan.
Logikanya sederhana dan masuk akal sebab APBD itu terbatas. TKD itu tergantung pusat. Yang bisa membuat daerah benar-benar hidup adalah sektor swasta yang bergerak, berinvestasi, dan menciptakan nilai tambah. Tanpa itu, daerah hanya sibuk membagi kue, bukan memanggang kue.
Indonesia itu kaya raya karena tambangnya ada, hutan ada, laut luas. Tapi sejarah membuktikan, banyak negara dengan SDA minim justru melesat.
Tengok contohnya Singapura, negara tetangga Batam ini, tak punya tambang emas, tapi punya tambang otak. Mereka memeras SDM, bukan alamnya.
Sebaliknya, kita sering memeras alam sambil lupa menajamkan pikiran. Padahal alam kalau diperas terus, ya habis dech…tapi jika otak diperas, ya pasti cerdas dan pintar. Inilah yang disebut sebagai paradoks, yaitu negara kaya SDA, tapi masih berkutat dengan kemiskinan.
Presiden Prabowo, kata Tito, membaca masalah ini sejak lama. Maka lahirlah kebijakan yang menempatkan human capital sebagai kunci.
Oleh sebab itu, program seperti Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, Koperasi Merah Putih, hingga swasembada pangan bukanlah pajangan di baliho, karena bukan sekadar spanduk yang kenyang duluan sebelum rakyatnya.
Di sinilah daerah diuji, apakah program nasional hanya dijadikan formalitas laporan, atau benar-benar dimanfaatkan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi lokal?
Kalau MBG hanya berhenti di dapur, itu namanya kita keliru, seharusnya program itu dibuat untuk menggerakkan petani, peternak, UMKM, dan rantai pasok lokal.
Kalau Koperasi Merah Putih cuma papan nama, itu dosa administrasi. Padahal koperasi bisa jadi alat menghidupkan ekonomi desa dari bawah.
Masalah klasik
Banyak daerah terlalu nyaman hidup dari “warisan,” misalnya SDA dikeruk, izin dibagi, pendapatan masuk, lalu selesai. Tidak ada dorongan membangun SDM, tidak ada strategi jangka panjang.
Padahal dunia itu berubah cepat, SDA suatu hari habis, dan SDM yang lemah tak akan mampu beradaptasi sehingga dititik inilah Mendagri berpesan bahkan bukan sekadar imbauan, tapi alarm keras.
Human capital bukan jargon seminar, ia soal pendidikan, kesehatan, gizi, keterampilan, dan etos kerja. Kalau itu kuat, swasta datang dengan sendirinya. Investor bukan cuma cari tanah murah, tapi juga tenaga kerja yang cakap.
Daerah yang swastanya hidup akan punya PAD berkelanjutan. Pajak, retribusi, lapangan kerja, dan perputaran uang terjadi alami. Pemerintah daerah tinggal mengatur, bukan menggendong.
Sebaliknya, daerah yang hanya mengandalkan APBD ibarat toko tanpa pembeli. Uangnya muter di situ-situ saja, sehingga tak heran kalau pertumbuhan melambat, kemiskinan jadi bandel, dan anak mudanya hijrah ke kota lain.
Pesan lagi dari Mendagri Tito, sesungguhnya sederhana berhenti hidup dari warisan, dan mulai hidup dari kemampuan. SDA boleh jadi modal awal, tapi SDM adalah mesin utama serta TKD boleh membantu, tapi swasta yang menggerakkan.
Oleh karena itu, daerah yang ingin maju harus berani keluar dari zona nyaman. Berani mengurus SDM, berani mempermudah investasi, berani berpikir jangka panjang.
Kata pepatah itu “Beri seseorang ikan, ia kenyang sehari, ajari ia memancing, ia kenyang seumur hidup.”
Ya .. bisa di ibaratkan SDA itu ikannya, sementara TKD itu bekal dan SDM adalah kemampuan memancing.
Jadi, kesimpulannya masa depan daerah itu ditentukan bukan oleh seberapa kaya warisannya, melainkan seberapa cerdas cara mengelolanya. (***)