Senin, 14 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kebijakan » CCTV, Jaksa & Nasib Nelayan

CCTV, Jaksa & Nasib Nelayan

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Sabtu, 27 Sep 2025
  • visibility 1.103
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PROGRAM Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) tengah dibangun Kementerian Kelautan dan Perikanan di 65 lokasi dengan anggaran Rp 1,34 triliun tentu terdengar ambisius. Fasilitas yang dijanjikan, mulai dari dermaga, cold storage, pabrik es, hingga sentra kuliner, seolah jadi jawaban atas berbagai persoalan klasik sektor perikanan.

Namun, justru mencuri perhatian adalah metode pengawasan, pemasangan CCTV di tiap titik, keterlibatan konsultan pengawas, tim khusus, sampai dukungan Jaksa Agung Muda Intelijen. Pertanyaan pun muncul, mengapa sebuah program pembangunan harus dikawal dengan perangkat seketat itu?. Apakah ini cermin keseriusan menjaga uang rakyat, atau sinyal bahwa sistem pengelolaan masih rapuh sejak awal?.

Cerita ini bisa dilihat seperti sebuah kapal besar yang hendak dilayarkan, kapal telah dirancang megah, namun nakhodanya belum tentu punya peta yang jelas. Pemasangan CCTV dan sinergi dengan penegak hukum ibarat menaruh mercusuar di dek kapal, sangat berguna untuk melihat bahaya dari jauh, tetapi mercusuar tak dapat menggantikan nakhoda yang trampil, awak yang terlatih, atau bahan bakar yang cukup.

Pepatah mengatakan, “lebih baik mencegah daripada mengobati”, dan pengawasan ketat memang wujud pencegahan. Namun pencegahan yang benar haruslah menyertakan desain kelembagaan yang membuat masyarakat pesisir jadi pemilik dan penjaga fasilitas itu bukan sekadar objek yang diawasi.

Ada sisi positif yang tak boleh diabaikan, KKP tak hanya membangun infrastruktur fisik, dermaga, pabrik es, sentra kuliner, tetapi juga membangun bale nelayan dan menerapkan pendekatan social engineering. Itu berarti ada niat untuk meningkatkan kapasitas manusia, bukan hanya menumpukkan beton.

Kalau bale nelayan benar-benar difungsikan sebagai pusat pelatihan, manajemen koperasi, dan pengaktifan ekonomi lokal, maka proyek ini berpotensi mengubah kehidupan ribuan keluarga, program ini diproyeksikan menyerap 7.000 tenaga kerja. Namun hati-hati air tenang menghanyutkan. Tanpa skema pemeliharaan jangka panjang, tanpa dana operasi, tanpa akses pasar yang nyata, fasilitas canggih bisa menjadi monumen mati.

Level Jamintel?

Mengapa sebuah program pembangunan harus diawasi sampai level Jamintel?, jawabannya mungkin sederhana karena proyek bersumber dari APBN dan potensi kebocoran nyata. Tetapi fokus berlebih pada aparat penegak hukum sebagai solusi bisa menyuburkan kultur pengawasan ketimbang budaya kepemilikan.

CCTV membantu transparansi visual memang kunci, tetapi bila hanya dipakai untuk “menangkap” penyimpangan, bukan mencegahnya lewat desain kelembagaan yang baik, hasilnya kurang optimal. Dalam konteks ini pepatah “bagai padi, semakin berisi semakin merunduk” relevan, keberhasilan proyek harus membawa kebijakan yang merendah, mendengar, dan menempatkan nelayan sebagai pelaku utama, bukan objek panggung.

Analisa mendalam menuntut perhatian pada beberapa titik krusial. Pertama, operational expenditure, siapa yang akan mengurus listrik, perawatan mesin, dan operator cold storage di tahun-tahun berikut?, Kedua, skema kepemilikan dan pengelolaan, apakah fasilitas dikelola oleh koperasi nelayan, BUMDes, atau diserahkan pada swasta?, keputusan ini menentukan distribusi manfaat. Ketiga, akses pasar dan rantai dingin, fasilitas tanpa akses ke pembeli yang adil atau kontrak off-taker adalah gudang yang menyimpan potensi kerugian. Keempat, penguatan kelembagaan lokal, pelatihan bukan sekadar sekali harus ada inkubasi bisnis, literasi keuangan, dan asistensi manajerial.

Solusi praktis tidak rumit, alokasikan bagian dari anggaran pembangunan untuk dana pemeliharaan tahunan, tetapkan model pengelolaan berbasis koperasi dengan perjanjian operasional yang jelas, buka portal transparansi publik yang menayangkan progres dan anggaran (CCTV bisa menjadi bagian dari portal itu, bukan alat pengintai tersembunyi), dan rancang program pelatihan berkelanjutan yang menghubungkan nelayan ke pasar modern, misalnya kontrak dengan jaringan ritel atau ekspor.

Media dan masyarakat sipil harus diberi akses untuk menjadi pengawal publik tak kenal maka tak sayang, keterbukaan membangun kepercayaan, dan kepercayaan adalah modal utama pembangunan berkelanjutan.

Oleh sebab itu, KNMP berpotensi menjadi kebangkitan bagi masyarakat pesisir jika pengawasan disandingkan dengan pemberdayaan. CCTV dan keterlibatan penegak hukum menandakan adanya niat kuat untuk mencegah kebocoran anggaran, itu baik. Namun tanpa strategi jangka panjang yang menempatkan nelayan sebagai pemilik, risiko proyek berakhir menjadi monumen yang tak pernah berfungsi akan nyata.

Seperti pepatah, “sedia payung sebelum hujan”, siapkan juga skema pemeliharaan dan kelembagaan sebelum fasilitas selesai dibangun. Pemerintah telah menaruh nama Merah Putih pada proyek ini, biarkan bendera itu bukan sekadar hiasan di papan nama, melainkan lambang kedaulatan ekonomi yang dirasakan di meja makan nelayan.

Jika pemerintah, penegak hukum, media, dan komunitas lokal bergerak bersama, bukan hanya mengawasi tapi mendampingi, maka CCTV akan menjadi saksi kebangkitan, bukan tanda kecurigaan. Dalam soal ini, tindakan sehari-hari lebih bermakna daripada sorotan kamera semata.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ekonomi Syariah Sangat Penting, Menteri BUMN Akan Dorong

    Ekonomi Syariah Sangat Penting, Menteri BUMN Akan Dorong

    • calendar_month Selasa, 23 Mar 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.023
    • 0Komentar

    MENTERI Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi syariah yang efektif melalui Masyarakat Ekonomi Syariah (MES). Ekosistem ini dinilainya bisa menjadi wadah ekonomi syariah bagi seluruh pemangku kepentingan sehingga tidak terjadi dikotomi dengan sektor riil. “Kami mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi syariah yang efektif sehingga tidak perlu terjadi lagi yang namanya dikotomi […]

  • Turunnya Okupansi Hotel Palembang 40 % – Kisah Nyata Pelaku Usaha Bertahan dengan Kreativitas & Sinergi

    Turunnya Okupansi Hotel Palembang 40 % – Kisah Nyata Pelaku Usaha Bertahan dengan Kreativitas & Sinergi

    • calendar_month Selasa, 12 Agt 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 914
    • 0Komentar

    TURUNNYA okupansi hotel Palembang hingga 40 % bukan sekadar statistik kering yang bikin kantong pengusaha cekak. Ini adalah cerita nyata perjuangan para pengelola hotel dan pelaku UMKM yang harus pinter-pinter beradaptasi, ngulik strategi, dan kerja bareng agar bisnis mereka tidak cuma bertahan, tapi juga bangkit di tengah gempuran fluktuasi kunjungan wisatawan. Kalau kamu bayangin hotel-hotel […]

  • Satu Diamankan dan Satu Larikan Diri,  Polisi Temukan 1 Hektare Ladang Ganja Siap Panen di Sungai Penuh Jambi

    Satu Diamankan dan Satu Larikan Diri, Polisi Temukan 1 Hektare Ladang Ganja Siap Panen di Sungai Penuh Jambi

    • calendar_month Sabtu, 23 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 676
    • 0Komentar

    TIM Satresnarkoba Polres Kerinci menemukan ladang ganja seluas satu hektare yang berlokasi di Desa Sungai Ning, Kecamatan Sungai Bungkal, Kota Sungai Penuh. Kapolres Kerinci, AKBP Agung Wahyu Nugroho, S.I.K., M.H., mengatakan, anggota Satresnarkoba awalnya mendapatkan informasi dari warga, ada penemuan ladang ganja pada tanggal Rabu (20/10) lalu, sekira pukul 13.00 WIB di KM 10 Puncak, […]

  • Sarimuda: Selamat Atas Pengukuhan TLCI Chapter Palembang

    Sarimuda: Selamat Atas Pengukuhan TLCI Chapter Palembang

    • calendar_month Senin, 11 Sep 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.471
    • 0Komentar

    Ir. H. Sarimuda, MT menghadiri pengukuhan dan pelantilan pengurus Toyota Land Cruiser Indonesia (TLCI) Chapter Palembang, Sabtu (9/9) malam di Bukit Golf Palembang.

  • Terkait Penyataan DIRUT SOM, Masyarakat Peduli SFC Protes Keras

    Terkait Penyataan DIRUT SOM, Masyarakat Peduli SFC Protes Keras

    • calendar_month Rabu, 12 Sep 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 870
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, PALEMBANG –  Nasib Sriwijaya FC untuk terus berprestasi di Kasta tertinggi di Indonesia sepertinya banyak rintangan, pasalnya pernyataan Direktur Utama PT Sriwijaya Optimistis Mandiri (SOM) yang menyatakan bahwa Elang Andalas sesungguhnya bukan milik Pemerintah Provinsi Sumsel mengundang protes keras oleh Masyarakat Peduli SFC. Menurut Ketua Tim Advokasi Masyarakat Sumatera Selatan Peduli Sriwijaya FC, Muhammad […]

  • Besok Komisioner KPU dan Bawaslu Dilantik

    Besok Komisioner KPU dan Bawaslu Dilantik

    • calendar_month Senin, 11 Apr 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.192
    • 0Komentar

    PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) akan melantik Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) periode masa jabatan 2022-2027 di Istana Negara, DKI Jakarta, Selasa (12/4). Para komisioner yang akan dilantik oleh Presiden itu akan menjadi pilar utama dalam penyelenggaraan pesta demokrasi pemilihan pimpinan tingkat nasional dan daerah. Para tokoh itu terpilih dari seleksi […]

expand_less
WordPress Archive Towigo – Emergency Towing Services Elementor Template Kit Towngov – City Government WordPress Theme TownPress – Municipality & Town Government WordPress Theme Toyshop Storefront WooCommerce Theme Toyup – Kids Toys Store WooCommerce WordPress Theme Tozen – Personal WordPress Blog Theme tPlayer – Audio Player for WordPress TrackAlyzer – Analytics & Custom Tracking Code for WooCommerce TrackTruck – Freight Brokerage and Logistics Company WordPress theme Tractor – Industrial & Manufacturing WordPress Theme