Apa Arti Banting Tulang? Kisah Lucu Menjelaskan Makna Ungkapan Populer
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Sabtu, 25 Jul 2026
- visibility 12
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : Ilustrasi/AI
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Banyak orang sering mendengar ungkapan “banting tulang”, tetapi tidak semua mengetahui arti sebenarnya. Apa arti banting tulang? Mengapa ungkapan ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang bekerja keras? Simak penjelasan lengkap mengenai makna ungkapan tersebut, asal-usulnya, serta kisah lucu yang membuat istilah ini kembali ramai diperbincangkan.
Ucapan ini terlontar secara spontan dari mulut seorang pelanggan di warung Bu Mini. Sebenarnya kalau disadari, tak ada yang merasa kalimat itu aneh. Semua mengangguk sambil menikmati kopi dan gorengan.
Semua, kecuali pemuda bernama Duduk.
Pemuda yang baru datang membeli gula itu justru berdiri mematung. Wajahnya berubah serius seolah baru saja mendengar kabar penting.
“Banting tulang?” batinnya.
Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang sama.
“Memangnya kalau ingin sukses harus membanting tulang? Tulang yang mana dulu? Tangan? Kaki? Apa semuanya?”
Semakin dipikirkan, semakin membuatnya bingung.
Sore harinya, Duduk melihat Pak Sol tengah memperbaiki kandang ayam di belakang rumahnya.
Ia pun menghampiri.
“Pak, boleh saya tanya?”
Pak Sol meletakkan palunya.
“Tentu. Ada apa?”
Duduk menggaruk-garuk kepala.
“Tadi saya dengar orang bilang Bapak termasuk orang yang banting tulang sejak muda.”
Pak Sol tersenyum.
“Ya… begitulah.”
Duduk langsung menatap kedua tangan Pak Sol.
“Lalu… tulangnya sekarang sudah sembuh semua?”
Pak Sol mengernyit.
“Sembuh dari apa?”
“Ya… habis dibanting.”
Beberapa warga yang sedang lewat spontan berhenti. Mereka saling berpandangan, lalu menahan tawa.
Sol melanjutkan dengan wajah yang benar-benar serius.
“Saya penasaran, Pak. Kalau tulang dibanting terus, bukannya malah patah? Kok Bapak masih kuat kerja?”
Kini Pak Sol paham letak salah pahamnya.
Ia tertawa pelan sebelum mengajak Duduk utnuk duduk di bangku bambu depan rumah.
“Duduk, pernah dengar istilah bahasa kiasan?”
Duduk menggeleng.
“Bahasa kiasan itu kalimat yang maknanya tidak sama dengan arti kata per katanya.”
Duduk masih terlihat bingung.
“Jadi… banting tulang bukan membanting tulang?”
“Bukan.”
“Lalu maksudnya?”
“Itu ungkapan untuk orang yang bekerja sangat keras. Bangun pagi, pulang petang, tidak mudah menyerah, dan terus berusaha demi keluarganya.”
Duduk mengangguk pelan.
“Oooh… jadi yang dibanting itu sebenarnya rasa malas?”
Pak Sol tertawa lepas.
“Kalau itu boleh juga.”
Warga yang sejak tadi mendengarkan ikut tertawa.
Duduk pun tersenyum malu.
“Untung saya belum sempat mencoba.”
“Mencoba apa?”
“Tadi saya sempat berpikir mau latihan di rumah. Saya kira ada teknik khusus supaya cepat sukses.”
Pak Sol menggeleng sambil menepuk bahu Duduk.
“Kalau sukses semudah membanting tulang, semua orang pasti sudah kaya.”
Ucapan itu kembali mengundang tawa.
Duduk akhirnya mengerti tidak semua kalimat harus dimaknai secara harfiah. Ada ungkapan yang sengaja digunakan untuk membuat bahasa menjadi lebih hidup.
Dalam perjalanan pulang, ia justru tertawa sendiri mengingat betapa seriusnya ia mencari tahu tulang mana yang harus dibanting.
Sejak hari itu, setiap kali mendengar ungkapan yang terdengar aneh, Duduk memilih bertanya lebih dulu daripada langsung mengambil kesimpulan. (***)
Arti ungkapan
“Banting tulang” merupakan ungkapan dalam bahasa Indonesia yang berarti bekerja sangat keras dengan penuh semangat dan ketekunan demi memenuhi kebutuhan hidup atau meraih cita-cita.
Ungkapan ini termasuk bahasa kiasan, sehingga tidak dimaknai sebagai tindakan membanting tulang secara harfiah.
Contoh penggunaannya, “Ayah banting tulang” setiap hari agar anak-anaknya bisa bersekolah, begitu contoh lainnya Mereka “banting tulang” selama bertahun-tahun hingga usahanya berkembang.
Disclaimer : Cerita ini merupakan karya fiksi yang dibuat semata-mata untuk tujuan hiburan dan edukasi. Seluruh tokoh, nama, tempat, peristiwa, serta dialog merupakan hasil imajinasi penulis. Apabila terdapat kemiripan dengan nama, tokoh, tempat, atau kejadian nyata, hal tersebut terjadi secara tidak sengaja dan bukan merupakan unsur kesengajaan.
- Penulis: Irwan Wahyudi
