Minggu, 9 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » JEDA » Diam Itu Emas, Bicara Seperlunya, Kapan Harus Diam dan Kapan Harus Bicara?

Diam Itu Emas, Bicara Seperlunya, Kapan Harus Diam dan Kapan Harus Bicara?

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month 5 jam yang lalu
  • visibility 7
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SUMSELTERKINI.CO.ID – Diam itu emas, bicara seperlunya, diam seperlunya, dua ungkapan ini sama-sama mengingatkan kita soal satu hal sering kali lebih sulit dilakukan daripada mencari kata-kata tahu kapan harus berbicara dan kapan sebaiknya diam.

Sekilas, keduanya terdengar hampir sama, namun, kalau dicermati, ada perbedaan kecil yang menarik. “Diam itu emas” lebih menekankan nilai menahan ucapan, sedangkan “bicara seperlunya, diam seperlunya” mengajarkan keseimbangan antara berbicara dan diam.

Dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan kecil itu ternyata cukup penting, sebab, tidak semua yang kita pikirkan harus diucapkan, tidak semua yang kita dengar harus dibalas, dan tidak semua percakapan harus dimenangkan. Kadang diam memang lebih baik, kadang bicara justru lebih penting, masalahnya, kita sering baru menyadarinya setelah mulut terlanjur bekerja.

Diam Itu Emas, Bukan Berarti Harus Diam Terus

Ungkapan “diam itu emas” terdengar seperti nasihat sederhana. Maksudnya, diam pada keadaan tertentu bisa lebih berharga daripada banyak bicara. Misalnya ketika seseorang sedang marah, ada banyak hal yang ingin dikatakan, kalimat sudah tersusun di kepala, bahkan mungkin sudah ada versi panjangnya.

Tetapi kalau semuanya dikeluarkan saat emosi sedang tinggi, persoalannya bisa bertambah.

Awalnya cuma kesal, lalu menjadi pertengkaran, kemudian muncul kalimat, “Saya kan cuma mau menjelaskan.”

Lalu orang yang mendengar menjawab, “Menjelaskan apanya? Dari tadi kamu marah-marah.” Akhirnya persoalan awal lupa. Yang diperdebatkan justru cara bicara. Di situ, diam bisa menjadi pilihan yang berharga. Bukan karena orang yang diam selalu benar, bukan pula karena orang yang bicara selalu salah.

Diam menjadi “emas” karena mampu memberi waktu kepada pikiran untuk mengejar emosi, kadang kita memang tidak membutuhkan kalimat baru. Kita hanya membutuhkan beberapa menit agar kalimat yang sudah ada di kepala tidak langsung keluar.

Kalau Diam Terlalu Lama, Masalahnya Bisa Lain

Namun, diam itu emas juga tidak berarti setiap persoalan harus disambut dengan keheningan. Misalnya seseorang ditanya, “Kamu sebenarnya mau apa?” Lantas ia diam, ditanya lagi, diam. Lima menit kemudian masih diam, satu jam kemudian masih diam.

Besoknya baru menjawab, “Terserah.” Nah, ini sudah bukan soal kebijaksanaan dalam diam. Ini bisa jadi orang lain sedang mengikuti ujian kesabaran, karena ada keadaan ketika diam justru membuat persoalan semakin kabur. Kesalahpahaman perlu dijelaskan. pertanyaan perlu dijawab. Perasaan perlu disampaikan, keputusan perlu dibicarakan, dalam keadaan seperti itu, diam bukan emas.

Diam malah bisa membuat sebuah persoalan dibiarkan menggantung, di sinilah ungkapan kedua menjadi menarik.

Bicara Seperlunya, Diam Seperlunya

“Bicara seperlunya, diam seperlunya” mempunyai tekanan makna yang berbeda, ungkapan ini tidak mengatakan bahwa diam selalu lebih baik daripada bicara. Sebaliknya, ia menempatkan keduanya pada tempat masing-masing. Kalau memang perlu bicara, bicaralah, kalau memang lebih baik diam, diamlah.

Sederhanam, tetapi menjalankannya tidak selalu sederhana. Ketika ada kesalahpahaman, bicara diperlukan, ketika seseorang membutuhkan pertolongan, jangan hanya diam.

Ketika harus menyampaikan pendapat, suara diperlukan, tetapi ketika percakapan sudah berubah menjadi saling menyakiti, mungkin diam menjadi pilihan yang lebih bijak. Begitu pula ketika pembicaraan hanya berisi gosip.

Tidak semua informasi harus diteruskan, tidak semua cerita harus diberi komentar, dan tidak semua status di media sosial harus kita balas. Kadang jempol memang perlu diberi pekerjaan lain, misalnya scroll saja.

Bedanya Ada pada Penekanannya

Kalau dibuat sederhana, “diam itu emas” berbicara tentang nilai diam. Sementara “bicara seperlunya, diam seperlunya” berbicara tentang ketepatan menggunakan diam dan bicara. Yang pertama seperti mengingatkan, jangan sembarang bicara.

Yang kedua seperti mengingatkan, tahu kapan bicara dan tahu kapan diam.

Perbedaannya memang tipis, tetapi maknanya penting. “Diam itu emas” cocok menjadi pengingat ketika seseorang sedang menghadapi keadaan yang sebenarnya tidak membutuhkan tanggapan. Sedangkan “bicara seperlunya, diam seperlunya” lebih luas. Ia berlaku dalam komunikasi sehari-hari karena manusia memang membutuhkan keduanya.

Kita membutuhkan bicara untuk menjelaskan.

Kita membutuhkan diam untuk mendengarkan.

Kita membutuhkan bicara untuk menyampaikan perasaan.

Kita membutuhkan diam untuk berpikir.

Kita membutuhkan bicara untuk menyelesaikan masalah.

Kita membutuhkan diam untuk tidak memperbesar masalah.

Jadi, keduanya sebenarnya bukan perumpamaan yang saling bertentangan.

Justru saling melengkapi.

Ketika Mulut Lebih Cepat daripada Pikiran

Persoalan terbesar dalam berbicara sering kali bukan karena kita tidak tahu apa yang harus dikatakan.

Persoalannya karena kita mengatakannya terlalu cepat.

Mulut sudah berangkat, pikiran masih mencari alamat.

Hal seperti ini mudah terjadi ketika sedang kesal.

Satu kalimat keluar.

Lalu kalimat kedua.

Ketiga.

Keempat.

Setelah suasana tenang, baru kita berpikir “Kenapa tadi saya ngomong begitu?”

Sayangnya, ucapan tidak punya tombol undo seperti komputer.

Pesan WhatsApp memang bisa dihapus.

Tetapi orang yang sudah membaca belum tentu ikut lupa.

Oleh karena itu, diam sesaat sebelum berbicara bisa menjadi bentuk pengendalian diri.

Bukan berarti takut.

Bukan berarti kalah.

Bukan pula berarti tidak mempunyai pendapat.

Kita hanya sedang memastikan kata-kata yang keluar memang perlu keluar.

Diam Juga Bisa Menjadi Cara Mendengarkan

Ada satu hal yang sering terlupakan ketika membicarakan diam.

Diam bukan hanya tidak berbicara.

Diam juga bisa berarti memberi kesempatan kepada orang lain untuk berbicara.

Ketika seorang teman sedang bercerita tentang masalahnya, kita tidak selalu membutuhkan jawaban panjang.

Kadang ia hanya ingin didengar.

Namun baru tiga kalimat bercerita, kita sudah memotong:

“Kalau saya sih…”

Cerita orang belum selesai, pengalaman kita sudah satu bab.

Padahal mungkin yang dibutuhkan bukan nasihat.

Cukup seseorang yang mau mendengarkan.

Di sini, diam mempunyai fungsi lain.

Ia bukan hanya menahan kata-kata, tetapi memberikan ruang.

Dan ruang seperti itu kadang jauh lebih berarti daripada nasihat yang panjang.

Ada Saatnya Harus Bicara

Namun, jangan pula menjadikan diam itu emas sebagai alasan untuk selalu menghindari percakapan.

Ada persoalan yang justru hanya bisa selesai kalau dibicarakan.

Kalau salah paham, jelaskan.

Kalau tidak setuju, sampaikan dengan baik.

Kalau keberatan, katakan.

Kalau membutuhkan bantuan, mintalah.

Kalau ada sesuatu yang penting, jangan berharap orang lain bisa membaca pikiran.

Sebab manusia bukan aplikasi.

Tidak ada fitur yang otomatis mengetahui isi kepala orang lain.

Oleh karena itu, komunikasi tetap diperlukan.

Bicara dengan baik bukan berarti banyak bicara.

Justru orang yang mampu menyampaikan sesuatu secara jelas dan seperlunya sering kali lebih mudah dipahami.

Ada Saatnya Tidak Perlu Menjawab

Sebaliknya, ada pula percakapan yang tidak perlu dilayani.

Misalnya seseorang sengaja memancing emosi.

Kita menjawab.

Ia membalas.

Kita menjawab lagi.

Ia mencari celah lain.

Kita menjelaskan lagi.

Sampai akhirnya percakapan berubah menjadi pertandingan siapa yang paling terakhir mengetik.

Kalau sudah begitu, mungkin kemenangan terbaik adalah berhenti.

Tidak semua orang yang mengajak berdebat sedang mencari jawaban.

Ada yang hanya mencari lawan bicara.

Dan kalau kita terus melayani, kita sendiri yang kehabisan tenaga.

Di sinilah diam itu emas terasa masuk akal.

Bukan karena kita tidak mampu membalas.

Tetapi karena kita tahu bahwa tidak semua hal layak diberi energi.

Diam Bukan Selalu Bijaksana, Bicara Bukan Selalu Salah

Ada hal lain yang juga penting.

Diam dan bicara tidak bisa dinilai hanya dari bentuknya.

Diam karena sedang menenangkan diri tentu berbeda dengan diam karena tidak mau bertanggung jawab.

Diam untuk mendengarkan berbeda dengan diam untuk mengabaikan.

Bicara untuk menjelaskan berbeda dengan bicara untuk menyakiti.

Bicara untuk menyelesaikan masalah berbeda dengan bicara hanya untuk memenangkan perdebatan.

Artinya, yang menentukan bukan hanya apa yang kita lakukan, tetapi juga mengapa, kapan, dan bagaimana kita melakukannya.

Di sinilah dua ungkapan tadi bertemu.

Keduanya sama-sama mengajarkan pengendalian diri.

Hanya saja jalannya berbeda.

“Diam itu emas” mengajak kita menahan diri dari ucapan yang tidak diperlukan.

“Bicara seperlunya, diam seperlunya” mengajak kita menggunakan keduanya sesuai keadaan.

Apa Kata KBBI tentang Diam dan Seperlunya?

Bahasa punya cara menarik untuk menyampaikan nasihat.

Kata-kata yang sederhana bisa memiliki makna yang lebih luas ketika digunakan sebagai ungkapan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata diam antara lain bermakna tidak bersuara atau tidak berbicara. Sementara kata seperlunya berkaitan dengan sesuatu yang diperlukan atau secukupnya.

Dari makna dasar tersebut, kita bisa memahami mengapa kedua ungkapan tadi berhubungan dengan cara seseorang menggunakan ucapan.

Namun, “diam itu emas” tidak berarti diam secara harfiah berubah menjadi emas.

Kata “emas” dalam ungkapan tersebut menjadi gambaran sesuatu yang bernilai. Dengan demikian, diam pada keadaan tertentu dipandang lebih baik atau lebih berharga daripada mengeluarkan perkataan yang tidak diperlukan.

Sementara itu, “bicara seperlunya, diam seperlunya” lebih tepat dipahami sebagai nasihat tentang keseimbangan dalam berkomunikasi.

Frasa tersebut menempatkan bicara dan diam sesuai kebutuhan dan keadaan.

Dengan kata lain, tidak semua hal harus dibicarakan.

Tetapi tidak semua hal pula harus didiamkan.

Dari sinilah terlihat perbedaan nuansanya.

“Diam itu emas” lebih menekankan nilai menahan ucapan, sedangkan “bicara seperlunya, diam seperlunya” menekankan kemampuan mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus diam.

Keduanya bukan ungkapan yang saling bertentangan.

Justru, keduanya seperti dua sisi dari kebijaksanaan yang sama: menggunakan kata dengan pertimbangan dan menggunakan diam dengan alasan.

Pada Akhirnya, Keduanya Sama-sama Mengajarkan Jeda

Pada akhirnya, kita tidak sedang memilih apakah harus menjadi orang yang banyak bicara atau banyak diam.

Kita sedang belajar memilih.

Kapan kata perlu keluar.

Kapan kata perlu disimpan.

Kapan kita perlu menjelaskan.

Kapan kita cukup mendengarkan.

Dan kapan kita harus berkata dalam hati “Sudahlah. Tidak semua hal perlu saya komentari.”

Sebab pada akhirnya, diam itu emas ketika diam memang diperlukan. Bicara pun menjadi berharga ketika kata-kata memang dibutuhkan.

Mungkin itu sebabnya kita tidak hanya perlu belajar berbicara.

Kita juga perlu belajar berhenti sebentar.

Memberi jeda.

Karena kadang, sebelum sebuah kata keluar, yang kita perlukan bukan jawaban.

Hanya waktu beberapa detik untuk bertanya kepada diri sendiri “Perlukah saya mengatakan ini?”

Kalau perlu, katakan, kalau tidak, diamlah, bukankah keduanya sama-sama punya tempat? (***)

 

Catatan Redaksi : Artikel ini merupakan tulisan edukatif mengenai makna dan penggunaan ungkapan dalam bahasa Indonesia, disajikan dengan bahasa santai, ringan, mudah dipahami, dan pendekatan storytelling. Penjelasan kata dan makna kebahasaan merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sedangkan uraian ungkapan disajikan berdasarkan konteks penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • “Metropolitan Casting Tournament 2022”

    “Metropolitan Casting Tournament 2022”

    • calendar_month Kamis, 4 Agt 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 555
    • 0Komentar

    Gelaran berbagai event sebagai kontribusi dalam membangkitkan ekonomi masyarakat terus dilakukan berbagai pihak. Salah satunya yang dilakukan Angler Sumsel Fishing Club (ASFC). Dimana dalam waktu dekat, komunitas memancing yang berdomisili di Palembang tersebut dalam waktu dekat akan menggelar lomba mancing ikan gabus dengan tema “Metropolitan Casting Tournament 2022” yang memperebutkan piala Gubernur Sumsel. Gubernur Sumsel […]

  • Saiful Mujani Reaearch Sebut Tingkat Kepuasan Masyarakat Terhadap Walikota Palembang Kalahkan Jokowi

    Akhirnya PAN Pilih Harno – Finda Untuk di Usung Pilkada Palembang 2018-2023

    • calendar_month Senin, 11 Sep 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.267
    • 0Komentar

    Melalui surat keputusan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) yang diserahkan hari ini, Senin (11/9/17), akhirnya Partai Amanat Nasional (PAN) resmi menentukan sikap, untuk mendukung pasangan Harnojoyo dan Fitrianti Agustinda.

  • Kunker Desa Muara Pinang, Begini Harapan Gubernur

    Kunker Desa Muara Pinang, Begini Harapan Gubernur

    • calendar_month Minggu, 27 Sep 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.649
    • 0Komentar

    GUBERNUR Sumsel Herman Deru melakukan kunjungan kerja [kunker] ke Desa Muara Pinang Lama, Kecamatan Muara Pinang, Kabupaten Empat Lawang untuk melakukan Panen Raya bersama warga. Panen raya ini digelar dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Ia mengaku bangga dengan petani dan masyarakat Desa Muara Pinang karena meski masih menggunakan irigasi semi alam namun produksi gabah kering […]

  • Pengembangan Pariwisata Jabar Kedepankan Konsep Kultural & Ecotourism

    Pengembangan Pariwisata Jabar Kedepankan Konsep Kultural & Ecotourism

    • calendar_month Senin, 22 Mar 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.736
    • 0Komentar

    MENTERI Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, menyatakan pihaknya akan mengembangkan sektor pariwisata di Jawa Barat dengan mengedepankan konsep kultural dan ecotourism atau wisata berbasis alam. Dalam pembukaan Jabar Culture and Tourism Festival yang diselenggarakan secara daring, Minggu (21/3/2021), Sandiaga mengatakan Provinsi Jawa Barat memiliki potensi wisata kultural yang […]

  • SMS Blast Perkiraan Gempa Magnitudo 8.5, BMKG: Tidak Benar

    SMS Blast Perkiraan Gempa Magnitudo 8.5, BMKG: Tidak Benar

    • calendar_month Jumat, 28 Mei 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 797
    • 0Komentar

    TERKAIT dengan tersebarnya informasi gempabumi berkekuatan M8,5 dan berpotensi Tsunami yang tersebar melalui saluran komunikasi SMS BMKG-Kominfo pada hari Kamis 27 Mei 2021 sekitar pukul 10.36 WIB, maka dapat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut: BMKG menyatakan bahwa informasi tersebut tidak benar, karena telah terjadi kesalahan pada sistem pengiriman informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami yang melalui […]

  • Tidak Sulit, Ini Syarat Membuat Kartu Indentitas Anak

    Tidak Sulit, Ini Syarat Membuat Kartu Indentitas Anak

    • calendar_month Selasa, 14 Sep 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 712
    • 0Komentar

    PEMBERIAN kartu identitas pada anak mulai diiniasi oleh Presiden Joko Widodo pada 2015 untuk menunjukkan negara hadir memuliakan dan mendorong kemandirian anak. Negara juga memberikan perlakuan non diskriminatif bahwa anak memiliki identitasnya sendiri sebagai seorang WNI. Sebelumnya, kata Dirjen Dukcapil Zudan Arif Fakrulloh, anak-anak hanya diberikan dokumen kependudukan berupa akta kelahiran dan dokumen bersama berupa […]

expand_less
WordPress Archive Zoomy – Lightweight LMS & Education WordPress Theme ZORKA – Wonderful Fashion WooCommerce Theme Zortex – Broadband & Internet Services Elementor Template Kit Zosia – Personal WordPress Blog Theme Zota – Elementor Multi-Purpose WooCommerce Theme Zox News – Professional WordPress News & Magazine Theme Zoya – Lifestyle Blog WordPress Theme Zubaz – SaaS & Startup WordPress Theme Zuka-Agency Creative Portfolio & Agency Template Kit Zuka – Clean, Minimal WooCommerce Theme