Minggu, 27 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Inspirasi » Tahun Baru, ASN Baru, Akhiri Budaya Nyaman di Zona Aman?

Tahun Baru, ASN Baru, Akhiri Budaya Nyaman di Zona Aman?

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Senin, 5 Jan 2026
  • visibility 1.069
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BEGITU bunyi judulnya, jangan kaget kalau tulisan ini mulai bak cerita sore sembari ngopi -ngopi santai ditemani ubi dan pisang goreng masih hangat, apalagi ceritanya sering nyelip banyolan, tapi ujungnya nendang ke hati dan otak.

Pagi itu, Senin, halaman Kantor Bupati Musi Banyuasin terlihat tampak ramai, Barisan ASN berjajar rapi, ada yang berdiri seperti lidi, ada juga yang mirip sate kecap, tegak di pangkal, melengkung di ujung…ini kebiasaan apel usai libur panjang atau tradisi hari Senin (Ehh, liat bayangan sendiri aja di tanah, plis jangan marah.hehehe).

Ini bukan sekadar apel biasam, sebab  apel ini “jam kaget” bagi ASN setelah masa libur panjang, seperti anak kos yang tiba-tiba disuruh bangun Subuh, jantung deg-deg… tapi akhirnya sadar ya ini ujian hidup, dan Bupati Muba, dalam amanatnya, menekan satu hal sederhana tapi monumental “ASN jangan nyaman terus di zona aman.”

Kok, bisa zona aman jadi masalah? coba kalu kita renungkan sendikit, misalnya bekerja seperti mode autopilot, jam 8 datang, jam 12 pulang, jam 1 sampai jam 3 ngemil sambil buka harga di media sosial, seperti TikTok, dan terakhir jam 4 pulang. Rutinitasnya  yang itu-itu aja, kaya sinetron  tayang sebelum adzan magrib, terus tiap hari tanpa klimaks.

Budaya seperti ini disebut “zona nyaman” karena tempat di mana kita merasa aman, tapi sebenarnya berdampak pada pelayanan publik. Bila ASN nyaman terus tanpa tantangan, pelayanan bisa jadi sekadar mode aman, bukan mode responsif dan inovatif.

Pepatah berkata “Air tenang menghanyutkan.” Tenang boleh  tapi jangan sampai bawel pelayanan ikut hanyut tanpa arah!

Oleh karena itu, saat Bupati Toha Tohet menekankan integritas dan profesionalisme, itu bukan sekadar kalimat penyemangat yang asyik dibaca di brosur. Itu panggilan buat seluruh ASN supaya melek terhadap peran mereka sebagai pelayan publik.

Lihat saja contoh dari kota lain Bogor (Jawa Barat), Pemkot Bogor beberapa tahun lalu membuat program One Week Service Challenge, seminggu pelayanan publik dibikin super responsif. Warga kaget dan dokumen selesai lebih cepat! ASN pun kaget… karena ternyata bisa lebih cepat kalau memang fokus! pelajarannya perubahan kecil bisa punya efek besar.

Selain itu Bandar Lampung,  kota ini, walikotanya pernah memimpin langsung blusukan pelayanan. Ia masuk ke kantor-kantor pemerintahan, tanya langsung ke warga yang lagi mengurus. “Butuh apa?” ujarnya. ASN kaget, warga pun bingung  karena jarang pejabat nanya langsung begitu sebab pelayanan itu bukan soal prosedur, tapi empati.

Kita tarik jauh ke Seoul (Korea Selatan), kalau mau lihat contoh yang luar biasa, Seoul menangani keluhan warga lewat aplikasi digital yang super responsif. Warga lapor   dalam hitungan jam dibalas. ASN di sana udah kayak atlet sprint data, cepat dan tepat!. Mereka gunakan teknologi itu sebagai kawan, bukan beban.

Curitiba (Brasil), kota ini terkenal soal sistem transportasi cepat yang efisien, namun yang nggak kalah keren, sistem pelayanan publiknya yang berbasis data dan evaluasi berkala. Tahu apa yang dibutuhkan warga karena mereka rajin nguprek angka dan feedback. Pelajarannya kerja cerdas plus kerja kolektif,  hasil luar biasa.

Wellington (Selandia Baru), kota kecil tapi layanan publiknya terkenal ramah dan cepat. Bedanya? mereka mendengarkan warga sebelum menentukan kebijakan. Bukan sekadar “kami tahu yang terbaik.” Tapi “apa yang kamu butuhkan?” Pelajarannya ASNnya  mendengar dulu, bicara kemudian.

Bukan gerak ditempat

Kalau kita lihat contoh di atas, satu hal penting pelayanan publik bukan soal rutinitas tapi respons terhadap kebutuhan publik, tapi di sisi lain sayangnya, kerap kali apel pagi itu hanya jadi ritual kedisiplinan fisik,  baris, laporan hadir, hormat, dan selesai. ASN pulang ke meja lagi seperti tidak terpengaruh apa pun. Ini ibarat kita ngecas HP, tapi nggak nyalakan data internet,  batere penuh, tapi fungsinya setengah.

ASN itu bukan pegawai “jam kerja” tapi pion pelayanan publik, masyarakat bukan datang cuma untuk gambar cap, tanda tangan, atau prosedur, tapi solusi atas kebutuhan mereka.

Bupati menekankan mutasi dan promosi berbasis kompetensi bukan tanpa alasan. Itu semacam pesan kuat “Kalau kamu pegang posisi, pegang dengan tanggung jawab. Bukan untuk foto-foto dan pin dada besar.”

Seorang ASN pernah bilang ke saya “Kalau pelayanan cepat, warga langsung bilang ‘wah itu luar biasa!.’ Padahal itu memang tugas kami.”

Hehehe… iya. Itu kaya janitor di sekolah yang menyapu lantai lalu siswa bilang “Wah bersih banget ya!”

Padahal kalau lantainya nggak dibersihin, siswa akan bilang juga, tapi versi beda “Kok berdebu, bikin bersin mulu!”

Oleh karena itu, kalau pekerjaan memang bagian dari tugasmu, lakukanlah dengan baik. Jangan baru dipuji sekali, langsung lebay. Jangan dikritik sekali, langsung mundur.

Integritas itu bukan sekadar memakai name tag rapi di saku kiri. Integritas berarti konsistensi antara kata dan tindakan. Bahasa kerennya walk the talk, jalanin apa yang dikatakan. Bukan cuma foto siap-siap!. Dan disiplin? bukan hanya datang pagi dan pulang sore. Disiplin berarti menjaga kualitas kerja sepanjang hari, bukan jamnya doang.

Bupati mengajak ASN untuk introspeksi. Itu bukan ajakan basi. Itu semacam mirror check “Lihat diri kamu di cermin, kamu pelayan publik atau pelayan jam kerja?”

Jadi, kenapa kita perlu keluar dari zona nyaman?

Karena nyaman itu… enak. Tapi nyaman juga bisa bikin malas berkembang. Kayak kita pakai kaos favorit terus hingga lupa baju lain pun tetap layak dipakai.

Oleh karena itu, pelayanan publik di Muba bisa jadi lebih cepat, responsif, kreatif, kalau ASN tidak takut perubahan, berani inovasi, menempatkan masyarakat sebagai fokus utama, dan bekerja bukan untuk berjaga waktu, tapi berjasa pada orang lain.

Dengan demikian diharapkan ASN harus berani keluar dari zona aman, itu bukan zona selamat, tapi zona stagnan. Pelayanan publik bukan sekadar rutinitas, tapi panggilan untuk berdaya lebih.
Mutasi dan promosi adalah momentum, bukan hadiah. Budaya kerja harus bergerak dari ‘cukup’ ke ‘luar biasa.’

Apel perdana ASN Muba bukan sekadar baris-berbaris. Itu panggilan untuk berbenah, bergerak, dan berkarya. Kalau Muba ingin maju lebih cepat, mari ubah budaya aman-aman saja menjadi budaya responsif, inovatif, dan penuh integritas.

Karena pelayanan itu bukan soal hasil jadi rapi,  tapi bagaimana hasil itu memudahkan hidup orang lain, seperti kata kakek saya waktu kecil “Kalau jalan pelan tapi lurus, sampai juga. Asal jangan berhenti.”

Nah! siap nikmati perjalanan 2026? Yuk… keluar dari zona aman!.(***)

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Siapa Saja yang Boleh Mengikuti Program Kartu Prakerja?

    Siapa Saja yang Boleh Mengikuti Program Kartu Prakerja?

    • calendar_month Kamis, 25 Feb 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 768
    • 0Komentar

    PENDAFTARAN Gelombang 12 Program Kartu Prakerja telah dibuka di www.prakerja.go.id, dengan total kuota 600 ribu orang. Untuk dapat mengikuti Program Kartu Prakerja, harus memenuhi syarat seperti merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) yang berusia di atas 18 tahun, serta tidak sedang menempuh pendidikan formal (sekolah/kuliah). Syarat lain yang harus dipenuhi adalah bukan penerima bansos Kementerian Sosial dan program […]

  • Keren, Ibu-ibu TP PKK Muba Gunakan Getah Gambir Untuk Bikin Ini

    Keren, Ibu-ibu TP PKK Muba Gunakan Getah Gambir Untuk Bikin Ini

    • calendar_month Jumat, 13 Sep 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 958
    • 0Komentar

    Selama ini gambir yang kualitas terbaik hanya diproduksi khusus oleh masyarakat Desa Toman, maka dengan keterbatasan hasil gambir ini sedang diatasi, bagaimana semua pemenuhan kebutuhan getah gambir ini, terkhusus limbah gambir agar dapat dimanfaatkan untuk seluruh kecamatan dalam Kabupaten Muba.

  • Kembangkan Destinasi Wisata

    Kembangkan Destinasi Wisata

    • calendar_month Kamis, 3 Des 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.096
    • 0Komentar

    SEPERTI yang sudah diketahui bersama Kabupaten Musi Banyuasin cukup banyak memiliki destinasi wisata baik itu sebagai tempat wisata pendukung maupun permanen. Untuk melakukan pengembangan wilayah terhadap destinasi wisata tersebut,  Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin bersama dengan  OPD terkait membahas Revisi Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) di Ruang Rapat Randik, Selasa (1/12/20). Bupati Musi Banyuasin Dr […]

  • Majukan Balkondes, PT PGN Tbk Kenalkan Gasblock di Desa Karangrejo Borobudur  Magelang Sebagai Ikon Terbaru

    Majukan Balkondes, PT PGN Tbk Kenalkan Gasblock di Desa Karangrejo Borobudur  Magelang Sebagai Ikon Terbaru

    • calendar_month Senin, 7 Mar 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.338
    • 0Komentar

    SUBHOLDING Gas Pertamina, PT PGN Tbk, berkomitmen untuk terus memajukan Balai Ekonomi Desa (Balkondes) di Desa Karangrejo Borobudur Magelang dan mendukung program destinasi super prioritas pemerintah. Terbaru, Balkondes PGN Karangrejo memperkenalkan Gasblock sebagai ikon terbaru dari Balkondes Karangrejo sebagai perwujudan interaksi dan kolaborasi energi baik gas bumi yang ramah lingkungan, serta Desa Energi PGN yang […]

  • Camat di OKI Dikumpulkan, Ada Apa !

    Camat di OKI Dikumpulkan, Ada Apa !

    • calendar_month Rabu, 11 Okt 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 861
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir bersama dengan Forkopimda Provinsi Sumatera Selatan gelar Pengarahan untuk Pengendalian dan Pencegahan Karhutlah di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir. Bupati OKI, H. Iskandar, SE dalam laporannya menyampaikan dalam kurun 2,5 bulan belakang ini potensi Karhutlah jadi perhatian serius untuk segera bisa dikendalikan. “Kabupaten Ogan Komering Ilir telah menetapkan Status […]

  • 57 x Tilang & 23 x Teguran di Operasi Zebra Musi 2019 di Banyuasin Hari ke III, Begini Kesimpulannya Menurut Polres Banyuasin

    57 x Tilang & 23 x Teguran di Operasi Zebra Musi 2019 di Banyuasin Hari ke III, Begini Kesimpulannya Menurut Polres Banyuasin

    • calendar_month Sabtu, 26 Okt 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 798
    • 0Komentar

    JAJARAN Kepolisian Resort [Polres] Kabupaten kemarin melaksanakan Operasi Zebra Musi 2019, dalam operasi tersebut masih banyak ditemukan pelanggaran. Operasi yang diadakan di Jalintim Palembang-Betung Km 12, Kecamatan Talang Kepala, Banyuasin tersebut, Polres melakukan tilang sebanyak 57 kali dan 23 kali teguran. Kanit Turjawali Sat Lantas Banyuasin Iptu Jimmy mengatakan, hasil kegiatan operasi zebra, Jajaran Sat […]

expand_less
WordPress Archive Animated heading addon – widget for Elementor Animated Image Banners for WPBakery Page Builder Animated Infinite Scroll – WordPress Plugin Animated Intro for Elementor Animated Stat Counter Number Showcase Plugin For WordPress Animation CSS3 Effects WordPress Plugin Animo – Creative & Clean Multi-Purpose WordPress Theme Anita | Photography WordPress Theme Anjani – Spa & Beauty Elementor Template Kit Anne Alison – Soft Personal Blog Theme