Religi

Cik Ujang & KH Anwar Zahid Bikin Sigam Full Jamaah

ist

DESA Sigam, Kecamatan Gelumbang, Minggu (10/5/2026) malam mendadak ramai bukan main. Jalanan penuh kendaraan, warga berdatangan dari berbagai arah, dan suasananya lebih padat dari antrean ambil daging kurban pas Idul Adha.

Bukan konser musik. Bukan pula pasar malam.

Ribuan warga memadati Pengajian Akbar dalam rangka Hari Lahir (Harlah) ke-10 Pondok Pesantren Hidayatullah Mubtadiin Sigam sekaligus Haul Ummi Liliyin ke-4.

Kalau biasanya malam Minggu identik dengan nongkrong di warung kopi sambil debat sepak bola yang tidak pernah selesai, malam itu warga Sigam memilih duduk rapat mendengar tausiyah.

Dan begitu KH Anwar Zahid mulai ceramah, suasana langsung hidup.

Jamaah ketawa.
Ibu-ibu senyum sambil geleng kepala.
Bapak-bapak yang awalnya serius mendadak ikut tertawa.

Begitulah gaya khas KH Anwar Zahid.

Ceramahnya santai, penuh humor, tapi ujung-ujungnya bikin orang diam dan mikir. Jamaah dibuat tertawa dulu, baru sadar kalau dirinya sebenarnya sedang disindir halus.

Kadang memang nasihat paling masuk bukan yang paling keras, tapi yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sebab manusia sekarang aneh juga.
Kalau dinasihati serius sedikit, jawabnya “Jangan menggurui.”

Tapi, kalau sudah dibungkus cerita lucu, tahu-tahu yang ketawa malah dirinya sendiri.

Dalam tausiyahnya, KH Anwar Zahid mengingatkan pentingnya pendidikan agama sejak dini serta menghormati guru dan orang tua.

Pesan sederhana, tapi sekarang justru mulai mahal.

Apalagi hari gini banyak anak hafal password WiFi dibanding hafal nasihat ibunya.
Lebih cepat membalas komentar media sosial daripada menjawab panggilan emak dari dapur.

Di situlah pesantren punya peran besar.

Bukan cuma tempat belajar kitab, tapi tempat belajar adab. Tempat anak-anak diajarkan bahwa pintar saja tidak cukup kalau akhlaknya tertinggal.

Wakil Gubernur Sumatera Selatan, H. Cik Ujang, yang hadir dalam acara itu juga tampak bahagia melihat antusiasme masyarakat yang memadati lokasi pengajian.

Menurutnya, kekompakan masyarakat menjadi modal penting untuk membangun daerah.

“Insya Allah, kalau kita selalu kompak, kita akan terus maju untuk semua,” ujar Cik Ujang di hadapan jamaah.

Dan memang benar juga.

Mana ada kampung maju kalau warganya sibuk saling curiga?
Sedikit-sedikit sindir di status WhatsApp.
Sedikit-sedikit ribut gara-gara beda pilihan.
Padahal besok paginya ketemu lagi di warung beli kopi sachet yang sama.

Kadang masyarakat itu tidak kurang pintar.
Cuma kurang duduk bersama.

Makanya acara seperti pengajian begini terasa penting.
Orang datang bukan cuma mendengar ceramah, tapi juga merasakan bahwa hidup tidak harus dijalani sendirian.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Mubtadiin Sigam, KH Dachlan Salim Zarkasyi, mengungkapkan rasa syukur atas perjalanan 10 tahun pesantren yang dirintisnya dari bawah.

Ia menceritakan bagaimana pesantren berkembang perlahan hingga kini jumlah santri dan santriwati terus bertambah.

Cerita seperti ini yang sering luput dari perhatian.

Orang hanya melihat pesantren yang sudah besar.
Padahal di belakangnya ada perjuangan panjang, doa yang tidak putus, dan orang-orang yang bertahan bahkan saat keadaan belum mudah.

Acara pengajian berlangsung meriah dan khidmat hingga selesai. Ribuan jamaah tetap antusias mengikuti rangkaian acara sampai malam.

Dan dari Sigam malam itu, ada satu pelajaran sederhana yang terasa mengena, ternyata manusia tetap butuh tempat untuk duduk, tertawa, mendengar nasihat, lalu pulang dengan hati yang lebih tenang.

Karena hidup hari ini terlalu ramai oleh suara.
Kadang kita lupa mendengar isi hati sendiri. (***)

To Top