Kemenperin Tak Mau IKM Cuma Ikut Pelatihan, Targetnya Jadi Supplier Motor Listrik
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 29 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemenperin.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan IKM motor listrik mampu memenuhi kualifikasi sebagai pemasok, masuk ke rantai pasok industri, dan memperoleh pesanan secara berkelanjutan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pembinaan IKM tidak cukup hanya meningkatkan kemampuan produksi. Pelaku usaha juga harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan industri agar dapat menjadi pemasok.
“Target kami bukan sekadar semakin banyak IKM yang mendapatkan pembinaan, tetapi juga memenuhi persyaratan industri,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Agus mengatakan IKM harus mampu memenuhi kualifikasi sebagai pemasok, masuk ke dalam rantai pasok, dan pada akhirnya memperoleh pesanan secara berkelanjutan.
Upaya tersebut telah menghasilkan keterlibatan dua IKM binaan Kemenperin dalam ekosistem pendukung Motor Listrik Nasional (Molinas). Kedua IKM itu adalah PT Kannindo Metal Industri dan PT Multikon Rekatama Industri.
Keduanya menjadi bagian dari ekosistem Molinas yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 13 Agustus 2026 di Cikarang, Jawa Barat.
PT Kannindo Metal Industri dan PT Multikon Rekatama Industri memproduksi komponen box baterai dan bracket baterai untuk Molinas Alva yang berada di bawah PT Electra Mobilitas Indonesia.
Kemenperin mengembangkan IKM komponen kendaraan listrik melalui sejumlah tahapan, mulai dari identifikasi IKM potensial, peningkatan kemampuan teknologi dan kualitas, pengembangan prototipe, pengujian, sertifikasi, hingga integrasi ke rantai pasok industri kendaraan listrik.
Pengembangan tersebut menggunakan pendekatan supplier development. Kebutuhan industri besar dan original equipment manufacturer (OEM) menjadi dasar pembinaan untuk menyesuaikan kemampuan IKM dengan kebutuhan komponen kendaraan listrik.
IKM yang dinilai potensial kemudian menjalani asesmen kesiapan pemasok. Penilaian mencakup teknologi, kualitas, kapasitas produksi, engineering, sertifikasi, produktivitas, biaya, hingga ketepatan pengiriman.
Agus mengatakan pembinaan harus dimulai dari kebutuhan pasar. OEM dan Tier-1 menyampaikan kebutuhan serta standar komponen yang harus dipenuhi, kemudian pemerintah membantu IKM menutup kesenjangan kemampuan tersebut.
Kemenperin Kejar Komitmen Pembelian
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita mengatakan penguatan kemitraan antara IKM dengan industri besar, OEM, dan Tier-1 menjadi salah satu instrumen untuk mempercepat masuknya IKM ke rantai pasok kendaraan listrik.
Kemenperin juga menyelenggarakan business matching yang mencakup penyampaian spesifikasi komponen, supplier assessment, pengembangan prototipe, pengujian, hingga proses kualifikasi pemasok.
“Orientasi akhirnya adalah terciptanya komitmen pembelian,” ujar Reni.
Menurut Reni, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah IKM yang mengikuti business matching. Kemenperin juga melihat jumlah IKM yang berhasil menjadi qualified supplier dan mendapatkan pesanan industri secara berkelanjutan.
Untuk memperluas keterlibatan IKM, Kemenperin mengembangkan kemampuan produksi sejumlah komponen yang teknologinya telah dikuasai pelaku industri lokal. Komponen tersebut antara lain berbasis logam, plastik, karet, jok, bracket, housing, sheet metal, fastener, dan wiring harness.
IKM dengan kemampuan engineering dan manufaktur lebih tinggi diarahkan untuk memproduksi komponen bernilai tambah lebih besar, seperti battery housing, motor housing, precision machining, komponen kelistrikan, serta komponen pendukung battery pack dan power electronics.
Ditjen IKMA melalui Direktorat IKM Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut juga menjalankan pemetaan kebutuhan komponen dari agen pemegang merek (APM), pemetaan kemampuan IKM dalam memproduksi komponen kendaraan listrik, business matching, serta pelatihan perakitan dan servis kendaraan listrik roda dua dan kendaraan listrik multiguna roda tiga.
Program tersebut menggandeng salah satu APM motor listrik roda dua nasional dan dua APM mobil listrik untuk mempercepat integrasi IKM komponen otomotif ke dalam ekosistem kendaraan bermotor listrik berbasis baterai. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
